<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911</id><updated>2011-09-06T05:30:54.998-07:00</updated><title type='text'>E-TAFAKKUR: The Column On Global Affairs</title><subtitle type='html'>This blog [e-tafakkur] contains my works. And this is my column on global affairs. Thank you Blogger.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-2325674607793704186</id><published>2011-08-17T22:48:00.000-07:00</published><updated>2011-08-17T23:54:21.721-07:00</updated><title type='text'>Berbagi Kegembiraan Melalui Zakat Fitrah</title><content type='html'>Oleh: Zamhasari J. Naimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAULAH ibadah puasa Ramadhan ini diibaratkan dengan suatu aktivitas pendakian gunung, maka setelah kita melewati separuh dari perjalanan ibadah puasa itu, berarti kita sudah sampai menuju puncak gunung itu dan saat ini kita sedang dalam perjalanan pulang lagi. Apakah kita termasuk kedalam orang yang sukses melakukan aktivitas pendakian gunung ini atau tidak, hasilnya nanti akan kita tengok bila kita sudah sampai ke titik tempat kita mulai bertolak kemaren. Tentu, bila kita sampai dengan selamat, tidak sakit, tidak terluka, tidak lemah dan loyo, namun membawa segudang ilmu pengetahuan dan pengalaman, maka inilah orang yang sukses melakukan aktivitas pendakian tersebut. Dengan kata lain, bila kita berhasil menunaikan ibadah puasa Ramadhan ini sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah SWT, maka inilah kelompok yang berhasil dalam ibadah puasanya. Mudah-mudahan kita termasuk kedalammnya, Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ibadah puasa ini merupakan ibadah yang hanya ditunaikan selama satu bulan dalam setahun, maka pada bulan Ramadha ini pula ada ibadah yang juga tak kalah pentingnya disisi Allah SWT yang hanya dilakukan satu kali saja dalam setahun. Ibadah tersebut adalah ibadah zakat fitrah. Dan zakat fitrah ini merupakan ibadah yang saling berkaitan dengan ibadah puasa Ramadhan. Maksudnya, berpuasa tanpa mengeluarkan zakat fitrah ibarat jasad manusia tanpa busana, dan membayar zakat fitrah saja tanpa berpuasa Ramadhan ibarat ada busana, tapi tak ada orang yang memakainya. Jadi, kedua-duanya itu harus saling melengkapi yang tujuannya adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pengertian Zakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah zakat ini dapat berarti "tumbuh", "berkembang", "menyucikan", atau "membersihkan". Sedangkan menurut syari'ah Islam, zakat merupakan suatu aktivitas yang berbentuk pemberian atau memberikan sebagian harta yang diamanahkan dan dititipkan oleh Allah SWT kepada kita dalam jumlah dan hitungan tertentu untuk diserahkan kepada orang-orang tertentu sebagaimana yang telah diatur oleh Allah SWT sesuai dengan petunjukNya didalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pengertian zakat didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia bahwa zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak (syari’at Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk diperhatikan juga, jika rukun Islam yang pertama yaitu mengucapkan kalimat Syahadataini merupakan bentuk pengakuan yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati, rukun Islam yang kedua yaitu mendirikan sholat merupakan ibadah yang berbentuk bacaan-bacaan dalam gerakan, maka rukun Islam yang ketiga yaitu membayar zakat merupakan ibadah yang berkaitan dengan harta. Tanpa adanya harta, maka ibadah zakat ini rasanya mustahil untuk dapat dilaksanakan, sebab bila harta tak ada, apa yang yang harus dizakati? Karena itu, kewajiban zakat hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki harta. Kecuali zakat fitrah yang harus dibayarkan oleh siapapun dia yang mengaku beragama Islam. Adapun rukun Islam yang keempat yaitu bepuasa Ramadhan merupakan ibadah yang berbentuk menahan diri dan hawa nafsu, dan rukun Islam yang kelima yaitu mengerjakan haji merupakan ibadah yang berkaitan dengan kemampuan fisik dan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, Allah SWT hanya memerintahkan umat Islam untuk bersedekah, yaitu pemberian yang sifatnya bebas dan tidak diwajibkan. Namun, pada kemudian hari, umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat. Zakat menjadi wajib hukumnya sejak tahun 662 M dan zakat fitrah diwajibkan pada tahun kedua hijrah, yaitu tahun diwajibkannya berpuasa pada bulan Ramadhan yang salah satu tujuan daripada zakat fitrah tersebut adalah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya, untuk memberi makanan pada orang-orang miskin dan mencukupkan kebutuhan mereka supaya tidak meminta-minta pada hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ukuran Zakat Fitrah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kewajiban membayar zakat fitrah ini, dapat kita tengok didalam Kitab Bulughul Maraam yang disusun oleh Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Ashqalani Bab tentang Zakat Fitrah, ada Hadits Rasulullah SAW dari Ibnu Umar, katanya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau gandum atas tiap orang-orang merdeka maupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun orang dewasa yang beragama Islam. Dan Baginda Rasulullah SAW menyuruh untuk membayar zakat fitrah itu sebelum orang-orang keluar rumah melaksanakan shalat Id atau shalat Hari Raya.”&lt;/span&gt; (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan kata lain, sebaiknya zakat fitrah ini kita bayar sehari atau dua hari sebelum Hari Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits  adalah sebesar satu sha' (1 sha'=4 mud, 1 mud=675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab Syafi'i dan Maliki). Jika terdapat pada suatu negeri yang makanan pokoknya bukan gandum maka dapat dikiaskan dengan gandum, seperti padi di Indonesia, ukurannya dapat disamakan dengan gandum menjadi seukuran 2,5 kg seperti yang sudah umum di masyarakat. Satu sha' gandum menurut Imam Abu Nawawi adalah seberat 1862,18 gr, satu sha' beras putih adalah seberat 2719,19  gr, dan satu sha' menurut Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Maliki adalah 188,712 lt / kubus berukuran lebih kurang 14,65 cm. Masih menurut Imam Nawawi, “Telah menjadi sulit membuat batasan satu sha’ dengan timbangan, karena satu sha’ yang dikeluarkan di zaman Rasululloh SAW adalah takaran yang diketahui, dan berbeda-beda ukuran timbangannya, karena perbedaan benda yang dikeluarkannya, seperti biji-bijian, kacang-kacangan dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penerima Zakat Fitrah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT telah menentukan bahwa yang berhak menerima zakat tersebut, termasuk juga zakat fitrah ini sebagaimana yang ditetapkan di dalam QS. At-Taubah ayat ke-6 bahwa ada delapan pihak yang berhak menerimanya, yakni: (1) Fakir, yaitu mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup; (2) Miskin, yaitu mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup; (3) Amil, yaitu mereka yang bertugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat; (4) Mu'allaf, yaitu mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya; (5) Hamba sahaya, yaitu mereka yang ingin memerdekakan dirinya dari tuannya; (6) Gharimin, yaitu mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya; (7) Fi sabilillah, yaitu mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb); dan (8) Ibnu  sabil, yaitu mereka yang kehabisan biaya di perjalanan, perjalanan untuk menegakkan kalimat Allah SWT tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan yang sangat sederhana ini, penulis hanya sekedar mengingatkan kita semua bahwa sesungguhnya zakat itu bukanlah urusan ibadah semata, karena itu, dilebihkan takarannya dari takaran umum yang sudah ditentukan adalah tidak mengakibatkan dosa, bahkan merupakan perbuatan terpuji. Mudah-mudahan melalui media zakat fitrah ini kita dapat berbagi kegembiraan dalam rangka menyambut kefitrahan diri kita selepas menjalankan ibadah puasa Ramadhan seraya menyonsong hari raya Idul Fitri tahun ini. Wallahu a’lam. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penulis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; adalah Alumni Pascasarjana Aligarh Muslim University, India; Berasal dari Kecamatan Kubu, Rokan Hilir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-2325674607793704186?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/2325674607793704186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=2325674607793704186' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/2325674607793704186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/2325674607793704186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2011/08/berbagi-kegembiraan-melalui-zakat.html' title='Berbagi Kegembiraan Melalui Zakat Fitrah'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-6057409990622479508</id><published>2011-08-16T21:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T22:08:23.400-07:00</updated><title type='text'>Berlomba Mencapai Derajat Taqwa</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmadi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmadi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cmadi%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;xml style="font-family: verdana;"&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-family:"Arial Baltic","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Oleh Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;IBADAH puasa merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT bagi orang-orang yang beriman dan mampu untuk melaksanakannya, yaitu menahan diri dari segala macam bentuk makan dan minum sejak dari masa imsak atau mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sekali lagi, kewajiban berpuasa ini hanya berlaku bagi mereka yang mampu dan tentunya dilaksanakan pada bulan Ramadhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;setiap tahunnya. Nah, bagi orang yang sudah tua atau yang sudah uzur dan tidak mampu lagi untuk berpuasa, maka baginya boleh tidak berpuasa dengan catatan harus menggantinya dengan memberi makan satu orang fakir atau miskin setiap hari sejumlah puasa yang ditinggalkan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Didalam Kitab Bulughul Maraam yang disusun oleh Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Ashqalani Bab tentang Berpuasa disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang persoalan orang tua yang boleh meninggalkan puasa ini. &lt;i&gt;“Dari Ibnu Abbas yang diridhoi oleh Allah SWT, ia berkata, “Telah diberi kemudahan bagi orang tua yang sudah lanjut usia untuk berbuka (tidak berpuasa), akan tetapi wajib baginya untuk memberi makan seorang fakir miskin setiap hari dan kepadanya tidak ada kewajiban untuk mengqadha atau mengganti puasanya.”&lt;/i&gt; (HR. Imam Dar Quthni dan Imam Hakim. Kedua Imam ini menyatakan bahwa hadits Rasululllah SAW ini derajatnya Shahih atau benar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Ibadah Puasa ini rupanya tidak hanya diwajibkan dan diberlakukan oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW semata, tetapi sudah pernah diwajibkan dan diberlakukan juga kepada semua umat Nabi-Nabi terdahulu yang tujuan akhirnya adalah untuk mengetahui orang-orang yang benar-benar bertaqwa disisi Allah SWT. Puasa ini memang merupakan sarana yang sudah dirancang oleh Allah SWT bagi kita supaya kita bisa mendekatkan diri kita kepadaNya. Puasa dirancang oleh Allah sedemikian rupa sehingga kita mampu mengelola hawa nafsu kita yang semula mungkin kita selalu berlebihan dalam hal makan dan minum, kini melalui puasa Allah SWT membatasi dan mengatur jarak makan dan minum kita. Pula, melalui puasa ini juga kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk ikut merasakan bagaimana keras, pedih dan perihnya kehidupan saudara-saudara kita yang masih bersusah payah untuk mendapatkan makan dan minum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Puasa yang diinginkan Allah SWT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Telah berkembang pemahaman ditengah-tengah lingkungan masyarakat kita bahwa puasa itu hanya sebatas menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Itu benar, tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah puasa kita ini sudah sesuai dengan “harapan” Allah SWT atau belum. Ingatlah bahwa berpuasa ini harus dilandasi dengan penuh keyakinan dan keimanan, sebab puasa ini merupakan sebuah teken kontrak antara kita dengan Allah SWT. Artinya, kita yang berpuasa dan Allah langsung yang akan menilai dan memberinya pahala. Dan tujuan akhir dari puasa ini diharapkan adanya hasil, yaitu pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Jadi belum termasuk kedalam kategori orang yang berpuasa bila selama menahan diri untuk tidak makan dan minum sejak waktu imsak hingga terbit fajar tersebut ia masih saja melakukan hal-hal yang tidak benar, seperti mengunjing orang, menyebar fitnah, mencaci-maki, berkelahi, tidak bertegur sapa dengan orang lain karena kebencian, mengisi hari-hari dan malam-malam Ramadhan hanya dengan bunyian petasan, asmara subuh, jalan-jalan sore yang tidak jelas tujuannya kemana, kumpul-kumpul di perempatan dan persimpangan jalan dan lain sebagainya. Mereka ini belum termasuk kedalam kategori orang yang berpuasa yang sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah SWT sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Tanpa terasa hari ini kita sudah melawati sepuluh pertama dari bulan Ramadhan, dan sekarang kita sedang berada di sepuluh kedua bulan Ramadhan itu. Sepuluh kedua ini merupakan masa dimana Allah SWT akan memberikan pengampunan kepada hambaNya yang berpuasa dan selalu menyibukkan diri untuk meminta ampun kepadaNya atas semua dosa dan salah yang pernah dilakukan. Ada baiknya kita mengenang sejenak tentang sepuluh hari pertama yang sudah berlalu, apakah kita sudah memaksimalkannya untuk memohon rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT? Karena memang sepuluh hari pertama bulan Ramadhan itu, Allah SWT telah menyediakan rahmat dan kasih sayangNya bagi mereka yang telah meminta dan mengaharapkannya. Bila kita tak memintanya, maka kita telah termasuk kedalam kelompok orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang sudah disediakan oleh Allah SWT tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Bulan Ramadhan ini menjadi istimewa dan terhormat karena pada bulan ini pulalah Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT. Kita tahu bahwa Al-Qur’an ini merupakan Kitab Suci dan Undang-undang bagi umat Islam, sebuah kitab yang berisi tentang panduan dan tata cara menjalani hidup dan kehidupan bagi umat manusia di permukaan bumi ini. Dan malam peristiwa penurunan Al-Qur’an ini disebut dengan malam Qadar atau Lailatul Qadar. Qadar disini berarti ketetapan. Yaitu, ketetapan Allah SWT terhadap “Pedoman Hidup Manusia”, yaitu Al-Qur’an itu tadi. Sehingga Allah SWT menjadikan malam Qadar ini sebagai malam yang sangat teristimewa bagiNya bahkan Allah menyatakan bahwa malam tersebut jauh lebih baik, lebih mulia, lebih istimewa dari seribu bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Para sahabat Rasulullah SAW pernah bermimpi bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada hari ketujuh dari sepuluh terakhir Ramadhan (malam ke-27 Ramadhan). Lalu Rasulullah SAW bersabda, &lt;i&gt;“Aku telah melihat kebenaran mimpi kamu semua, yaitu tepat pada hari ketujuh sepuluh terakhir itu. Oleh karena itu, barang siapa yang menginginkan Lailatul Qadar, maka carilah pada hari ketujuh yang terakhir dari bulan Ramadhan itu.”&lt;/i&gt; (Hadits ini disepakati oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim). Kemudian istri Rasulullah SAW, Saidati Aisyah yang diridhoi oleh Allah SWT pernah bertanya kepada Rasulullah SAW begini: &lt;i&gt;“Bagaimana bila aku mengetahui Lailatul Qadar itu, lalu apa yang harus kuuucapkan?” Rasulullah SAW menjawab, bacalah, “Allahumma ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”.&lt;/i&gt; (Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang maha Pemaaf, Engkaulah yang berhak memaafkan, maka maafkanlah kesalahan-kesalahanku.”). Kedua hadits terakhir ini juga dapat dilihat didalam Kitab Bulughul Maraam yang disusun oleh Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Ashqalani Bab tentang Berpuasa juga. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Mengakhiri tulisan sederhana yang singkat ini, penulis mengajak kita semua, pembaca setia Harian Pagi Pos Metro Rohil ini untuk mengenang kembali tentang hari-hari puasa yang sudah kita lewati dengan harapan tentunya agar kita dapat lebih memperbaiki diri dan lebih maksimal lagi dalam mengisi hari-hari Ramadhan kedepan dengan hal-hal yang lebih baik dan tentunya dengan perbuatan dan amaliyah sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah SWT. Pada akhirnya nanti, segala kebaikan yang kita lakukan ini, manfaatnya akan kembali kepada masing-masing diri kita juga. Untuk itu, marilah kita berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam mencapai dan meraih keridhoan Allah SWT, Rabbul Izzati wa Rabbul Jalili.[Dimuat di Posmetro Rohil, Jum'at, 12 Agustus 2011]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Penulis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-family: arial;"&gt; &lt;i&gt;adalah Alumni Pascasarjana Aligarh Muslim University, India; Berasal dari Kecamatan Kubu, Rokan Hilir.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-6057409990622479508?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/6057409990622479508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=6057409990622479508' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/6057409990622479508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/6057409990622479508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2011/08/berlomba-mencapai-derajat-taqwa.html' title='Berlomba Mencapai Derajat Taqwa'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-1377841074990591057</id><published>2008-05-31T14:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-31T15:11:48.242-07:00</updated><title type='text'>Mengapa Ada Konflik di Timur Tengah?</title><content type='html'>Oleh: Zamhasari J. Naimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA masa kerajaan Romawi (27 BC – 1453 AD) yang menganut agama Kristen itu berkuasa, orang-orang Yahudi yang berada di Timur Tengah banyak yang pindah ke Amerika dan Eropa. Kepindahan orang-orang Yahudi itu dikarenakan oleh rasa ketidaksukaan orang-orang Romawi yang beragama Kristen terhadap orang-orang Israel yang beragama Yahudi. Peristiwa itu terus berlangsung hingga kawasan Timur Tengah dikuasai oleh Pemerintahan Islam Kerajaan Turki Utsmani (1299–1923).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Timur Tengah ini dikuasai oleh Kerajaan Utsmani, para pemimpin Islam kala itu memberikan jaminan kepada orang-orang Israel yang beragama Yahudi tersebut untuk menetap di wilayah kepemimpinan Islam. Dan jaminan itu juga turut membuka peluang bagi orang-orang Israel yang berada di negara-negara Eropa dan Amerika untuk kembali lagi ke Timur Tengah, terutama ke wilayah Palestina. Kepulangan mereka ini tentu saja sangat wajar karena memang Timur Tengah ini adalah tanah tumpah darah mereka juga. Faktor lain yang membuat orang-orang Israel banyak yang "pulang kampung" dari Eropa ke Palestina adalah karena penguasa Jerman kala itu Adolf Hitler melakukan pembunuhan secara besar-besaran kepada seluruh bangsa yang berdarah Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejak masa Nabiullah Musa Alaihissalam, orang-orang Israel (Bani Israel) ini dikenal sebagai bangsa yang banyak tanya (Melayu: nyenyel). Selain itu, bangsa Israel juga dikenal sebagai bangsa yang lihai bersilat lidah dan mengadu-domba (konspirasi). Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan supaya berhati-hatilah bila membuat perjanjian dengan orang-orang Israel, karena memang orang-orang Israel ini pintar bersilat lidah dan mengadu-domba. Keberadaan orang-orang Israel yang ada di Eropa tersebut juga banyak yang menimbulkan masalah. Dan ini memang sesuai dengan naluri Israel itu sendiri, naluri konspirasi. Kembalinya orang-orang Israel dari Eropa ke Timur Tengah itu juga menciptakan permasalahan baru. Lagi-lagi, memang begitulah adanya Israel, yaitu suka mencari-cari masalah. Terbukti, pada saat jumlah orang-orang Israel yang berada di tanah Palestina sudah cukup banyak, maka muncul pulalah hasrat mereka untuk memiliki wilayah khusus yang sah. Dan mereka, dengan segala cara berusaha sekuat mungkin untuk merealisasikan hasratnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang pembentukan negara Israel semakin terbuka mana kala kerajaan Islam Turki Utsmani mengakhiri sejarahnya di Timur Tengah. Bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Islam itu, wilayah Timur Tengah dikuasai oleh negara-negara besar seperti Amerika, Inggris dan Perancis, dimana pada waktu itu wilayah Syiria dan Lebanon sekarang berada dalam cengkaraman Prancis, sedangkan Palestina dan wilayah Arab lainnya berada dalam genggaman Inggris. Hal itu tentu saja mempengaruhi segala kebijakan dan peraturan yang berlaku di Palestina yang mengharuskan untuk tunduk kepada selera dan keinginan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris, sebagai mana Amerika dan Prancis yang bernafsu besar untuk menguasai Timur Tengah akan melakukan apa saja demi tercapainya keinginan mereka.Perlu untuk digarisbawahi bahwa Inggris, Prancis dan Amerika bersatu padu untuk menguasai wilayah yang mayoritasnya berpenduduk Islam itu. Disini, bangsa Romawi yang dulu beragama Kristen sangat benci dan memusuhi orang-orang Israel yang beragama Yahudi berubah menjadi "teman akrab" untuk memusuhi orang-orang Islam, dengan satu tujuan utama: menguasai Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Israel yang berada di Amerika dan Eropa banyak yang memegang peranan penting dalam pemerintahan, sehingga keberadaan mereka ini tentu saja akan mempengaruhi kebijakan negara yang bersangkutan, seperti di Amerika, misalnya. Dalam rangka memuluskan "perjalanan" mereka untuk menguasai Timur Tengah ini, akhirnya Amerika dan Eropa, khususnya Inggris mengabulkan permohonan orang-orang Isarel untuk memperoleh wilayah khusus di tengah-tengah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim itu. Pembentukan negara Isarel ini benar-benar mendapat dukungan penuh dari Amerika dan negara-negara Eropa terutama Inggris. Dan dengan bantuan Amerika dan Inggris pula, maka lahirlah negara Israel berdasarkan Resolusi PBB No.181 (Rencana Pembagian Palestina) tanggal 29 Nopember 1947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Resolusi PBB No. 181 tersebut, maka Palestina dibagi menjadi (1) Negara Israel yang meliputi 56.47% wilayah kekuasaan Palestina (termasuk wilayah Yerussalem) dengan jumlah penduduk 498.000 jiwa orang Yahudi dan 325.000 jiwa orang Arab. (2) Negara Arab yang meliputi 43.53% wilayah Palestina dengan jumlah penduduk 807.000 jiwa penduduk tetap Arab dan 10.000 jiwa penduduk tetap Yahudi. (3) Wilayah tanggung jawab internasional di Yerussalem, dimana jumlah penduduknya ada 100.000 jiwa orang Yahudi dan 105.000 jiwa orang Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rebutan Negara-Negara Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak faktor yang membuat kawasan Timur Tengah ini menjadi rebutan bangsa-bangsa besar seperti Amerika, Inggris dan Prancis. Kawasan Timur Tengah, sebagai mana yang kita ketahui, adalah sebuah kawasan yang memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, Timur Tengah adalah kawasan yang kaya minyak. Minyak adalah darah bagi sebuah negara teknologi. Tanpa minyak, negara teknologi akan mati. Dan minyak ini pulalah yang menjadi faktor sangat penting sehingga negara-negara industri seperti Amerika, Perancis, Inggris menjadi tergila-gila untuk menguasai kawasan ini dengan segala cara walau mengorbankan nyawa orang-orang yang tak berdosa sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Timur Tengah adalah wilayah yang menjadi "jembatan strategis" untuk menghubungkan ke tiga benua: Asia, Afrika, Eropa. Nah, negara-negara Eropa yang sangat bergantung kepada minyak, tentu saja menjadikan laut Timur Tengah tersebut sebagai jalan pintas untuk mengangkut minyak dari Timur Tengah itu ke benua Eropa. Sebab, pengangkuan minyak itu dilakukan via laut dan tidak mungkin untuk diangkut via darat ataupun udara. Ketiga, Timur Tengah adalah negeri dimana diturunkannya tiga agama besar, yaitu Yahudi, Nasrani (Kristen) dan Islam. Faktor agama ini juga membuat orang-orang Yahudi merasa memiliki terhadap wilayah Timur Tengah, khususnya Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Perangsang Amerika Serikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Amerika untuk menguasai Timur Tengah ini baru mulai terlihat secara terang-terangan setelah Perang Dunia II (1941-1945). Diantara faktor yang mendorong Amerika untuk menguasai Timur Tengah ini antara lain: Pertama, untuk menguasai minyak yang berlimpah ruah di Timur Tengah, terutama di kawasan Arab Saudi dan Irak. Sebagaimana yang saya sebut di awal tadi, minyak ini merupakan darah bagi negara teknologi, seperti Amerika. Mutu dan kualitas minyak yang terbaik akan digunakan untuk pesawat terbang, sisanya barulah digunakan untuk menghidupkan kompor dan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk mempermudah memantau gerak-gerik negara-negara yang ada di Asia, Afrika dan Eropa. Dengan menguasai Timur Tengah maka Amerika akan memiliki akses yang cukup luas untuk mengontrol perkembangan yang terjadi di tiga benua itu secara lebih dekat. Bila sekiranya ada gerak-gerik negara-negara di tiga benua itu yang mengancam kepentingan Amerika, maka Amerika akan lebih mudah dan cepat untuk mengatasi dan mengantisipasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengamankan Israel. Israel ini adalah "anak emas" Amerika, dan Amerika akan melakukan apa saja demi terpenuhi kepentingan Israel tersebut. Hal ini bisa terjadi karena memang orang-orang Yahudi di Amerika banyak yang memegang posisi penting di lembaga pemerintahan dan perusahaan-perusahaan raksasa di Amerika juga banyak yang dikendalikan oleh orang-orang Yahudi. Lembaga seperti AIPAC &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(The American Israel Public Affairs Committee)&lt;/span&gt; di Amerika juga memainkan peranan yang cukup besar dalam mengendalikan kebijakan luar negeri Amerika terutama yang menyangkut kepentingan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mengantisipasi perkembangan komunisme di Timur Tengah yang disebarluaskan oleh Uni Soviet, saingan Amerika. Komunisme mengajarkan prinsip ekonomi sosialis, dimana setiap individu masyarakat memiliki hak penuh terhadap hasil kekayaannya tanpa perlu dikontrol oleh pemerintah. Tentu saja, ajaran ini memberikan kesempatan yang sangat besar kepada masyarakat Timur Tengah untuk mengembangkan usaha mereka dan pada saat yang sama hal tersebut akan mengancam kepetingan Amerika di Timur Tengah, sebab bila Timur Tengah dilepas begitu saja untuk mengendalikan ekonominya, maka Uni Soviet sudah bisa dipastikan akan memperoleh suplai minyak dari Timur Tengah lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Perang Dingin (1946-1991), yaitu perang yang tidak menggunakan senjata secara langsung, tapi munculnya ketegangan antara dua negara adi kuasa, Uni Soviet di Timur dan Amerika di Barat karena berbeda pandangan terhadap ekonomi, politik dan ideologi, Uni Soviet secara tidak langsung telah menanamkan ideologi komunisme di Timur Tengah. Duta Besar Amerika di Uni Soviet kala itu, tepatnya pada tahun 1952, George F. Kennan melihat secara langsung proses penyebaran ideologi komunisme di Timur Tengah itu. Dan untuk menghalangi penyebaran ideologi komunisme ini, George F. Kennan akhirnya memperkenalkan suatu kebijakan yang bertujuan untuk membendung pengaruh Uni Soviet ini di Timur Tengah yang disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Containment Policy."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, saya kira cukup sampai disini dulu sepenggal kisah mengenai Timur Tengah, terutama antara Arab dan Israel. Insya Allah, persoalan-persoalan tentang Mengapa Tidak Ada Kemerdekaan Bagi Palestina? dan Bilakah Timur Tengah Akan Damai? akan saya diskusikan lagi dilain waktu. Persoalan Timur Tengah ini memang rumit, dan tidak cukup 3-4 halaman untuk menuliskan kisah-kisah yang bergejolak di tanah kelahiran para Nabi ini.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zamhasari J. Naimah,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alumnus Pondok Pesantren Darul Hikmah (PPDH) Pekanbaru. Mahasiswa Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, India.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-1377841074990591057?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/1377841074990591057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=1377841074990591057' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/1377841074990591057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/1377841074990591057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2008/05/mengapa-ada-konflik-di-timur-tengah.html' title='Mengapa Ada Konflik di Timur Tengah?'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-115909570797390292</id><published>2006-09-24T03:54:00.000-07:00</published><updated>2006-09-25T00:33:51.046-07:00</updated><title type='text'>Belajar di Perguruan Tinggi India</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;SEBELUM tahun 1976, pendidikan di India sama sekali merupakan tanggung jawab Negara-Negara Bagian (Pemerintah Daerah), sedangkan Pemerintah Pusat hanya mengurus bagian-bagian tertentu seperti koordinasi, penentuan standar pendidikan teknik dan menengah dan sebagainya. Pada tahun 1976, melalui suatu Amandemen UUD, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Negara-Negara Bagian. Akan tetapi tanggung jawab utama tetap berada di tangan Negara Bagian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kebijakan Pendidikan Nasional tahun 1968 telah diterima sebagai suatu kerangka kebijakan nasional untuk pengembangan pendidikan pada semua tingkat dan didukung oleh garis-garis besar pendidikan yang termaktub dalam Repelita VI.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Program-program yang tercantum dalam Kebijakan Pendidikan Nasional tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Negara-Negara Bagian dengan modifikasi dan penyesuaian disana-sini sesuai dengan perubahan zaman. Yang terpenting dari program-program itu ialah usaha-usaha untuk menguniversalisasikan pendidikan dasar dan pemberantasan buta huruf pada orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perencanaan pendidikan dilakukan bersama-sama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Negara Bagian. Dalam lima Repelita sebelumnya, pendidikan lebih banyak ditujukan sebagai suatu dinas sosial dan bukan untuk membantu menunjang gerak pembangunan. Perubahan dilakukan pada Repelita VI dimana pendidikan dianggap sebagai suatu hal yang penting untuk menunjang pembangunan ekonomi dan sosial melalui pengembangan sumber daya manusia. Dalam Repelita VI tersebut, pendidikan untuk golongan masyarakat lemah dan penduduk suku-suku terasing dan kasta rendah juga diberikan prioritas. Prioritas juga diberikan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan teknis dan menengah, vokasiolisasi pendidikan, pengembangan bahasa-bahasa daerah, evaluasi hasil-hasil yang dicapai dan menciptakan hubungan yang dinamis antara program pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial dan penciptaan lapangan kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Prioritas tertinggi diberikan untuk pemerataan pendidikan dasar. Di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Pemerintah dan sekolah-sekolah yang dikelola oleh badan pendidikan setempat, pendidikan diberikan secara gratis mulai dari kelas I sampai kelas VIII (mulai dari kelas I SD sampai kelas I SMA di Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan gratis juga diberikan Pemerintah sampai tingkat Menengah Pertama (kelas X). Di beberapa Negara Bagian, Pemerintah setempat juga memberikan pendidikan gratis untuk tingkat Menengah Atas (kelas XI dan kelas XII).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Di India terdapat 182 universitas dan sejumlah lembaga-lembaga perguruan tinggi yang berstatus disamakan dengan universitas. Semua universitas dan lembaga tersebut berada dibawah &lt;em&gt;University Grants Commission&lt;/em&gt; yang didirikan tahun 1953 untuk memajukan dan mengkoordinir pendidikan di perguruan tinggi, menentukan standar pengajaran, ujian-ujian dan riset. Komisi ini juga mempunyai wewenang untuk menetapkan anggaran dan bantuan keuangan bagi semua universitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penyediaan buku-buku teks untuk sekolah-sekolah dan universitas dan buku-buku bacaan yang bermanfaat dengan harga yang relatif murah diurus oleh suatu badan yang disebut dengan &lt;em&gt;National Book Trust (NTB)&lt;/em&gt; yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 1957. Badan ini juga menerbitkan buku-buku dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa daerah di India. Sebagai salah satu usaha untuk menyediakan buku-buku dengan harga murah, khususnya buku ilmu pengetahuan, pendidikan dan teknik, Pemerintah India membebaskan buku-buku tersebut dari lisensi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Informasi Umum Belajar di Perguruan Tinggi India&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Secara umum lama masa belajar di India untuk program S-1 (Bachelor Degree) hanya ditempuh dalam waktu 3 tahun kecuali jurusan Hukum dan Arsitektur selama 5 tahun (10 semester), jurusan Engineering dan Teknologi, jurusan Seni Lukis dan jurusan Kedokteran Gigi selama 4 tahun. Bagi anda yang mengikuti program S-1 pada jurusan-jurusan ilmu sosial, humaniora dan eksakta tidak dibebani dengan penulisan skripsi. Adapun untuk program S-2 (Master Degree) ditempuh dalam waktu 2 tahun. Sedangkan untuk program S-3 lamanya maksimal 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebelum masuk ke Perguruan Tinggi di India, terlebih dahulu anda harus mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh pihak universitas dan melampirkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, kemudian anda harus mengikuti ujian masuk atau &lt;em&gt;Entrance Test&lt;/em&gt; (tulisan dan wawancara) yang diadakan oleh pihak universitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Permasalahannya, untuk mengikuti ujian masuk ini, Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan biasanya tidak mengeluarkan Visa Pelajar (Student Visa) kepada calon pelajar asing yang akan mengikuti ujian masuk ini sebelum anda tercatat menjadi mahasiswa di salah-satu Perguruan Tinggi di India. Karena itu bila anda datang ke India dengan menggunakan Visa Masuk (Entry Visa) hanya untuk mengikuti ujian masuk saja, dan kemudian dinyatakan lulus dan diterima untuk belajar di universitas di India, maka anda harus kembali lagi ke Indonesia untuk memperoleh Visa Pelajar (Student Visa) dari Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar-mengajar di Perguruan Tinggi India adalah bahasa Inggris, Hindi, Urdu, dan bahasa Arab bagi anda yang mengambil jurusan Bahasa Arab. Karena itu, we are - foreigners - assumed to have sufficient knowledge and skill in English, if not, it'll be on our own risk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Kualifikasi Yang Dibutuhkan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila anda bermaksud untuk melamar program S-1, maka anda sudah harus lulus dan memiliki ijazah SMA atau sederajat yang sah dan diakui oleh Pemerintah Indonesia. Dan anda juga sudah harus lulus dan memiliki ijazah S-1 dari universitas atau Perguruan Tinggi yang sah dan diakui oleh Pemerintah Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;untuk memenuhi persyaratan melamar S-2 di Perguruan Tinggi India.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anda juga harus mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh pihak universitas yang bersangkutan dilengkapi dengan Ijazah, referensi transkrip nilai akademik, Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari pihak universitas, Akte Kelahiran (semua dokumen tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris), foto kopi paspor dan pas photo ukuran 4x6 sebanyak 12 lembar dan biaya administrasi pendaftaran lebih kurang USD $ 75/- (sekitar Rp. 750.000/-). Perlu diingat bahwa masing-masing universitas menetapkan biaya administrasi pendaftaran yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Waktu Mengajukan Pendaftaran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pembukaan pendaftaran belajar di universitas-universitas di India biasanya dimulai pada pertengahan bulan Maret dan ditutup pada bulan Mei setiap tahunnya, dengan demikian anda harus mengikuti perkembangan informasi tentang pembukaan dan penutupan pendaftaran untuk masing-masing universitas yang dapat anda peroleh melalui situs-situs atau website universitas yang bersangkutan. Catat baik-baik tanggal batas akhir penutupan pendaftaran itu supaya anda tidak terlambat untuk mengajukan lamaran. Untuk mendapatkan alamat situs atau website universitas di India, anda saya sarankan untuk meng-google-nya melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Cara Pendaftaran Bagi Mahasiswa Asing&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setiap universitas memiliki prosedur yang berbeda-beda dalam menerima mahasiswa asing. Sebagian besar universitas-universitas di India mensyaratkan adanya ujian masuk bagi mahasiswa asing yang hendak belajar di universitas tersebut. Namun ada juga beberapa universitas yang tidak mensyaratkan adanya ujian masuk ini, seperti University of Delhi di New Delhi dan Aligarh Muslim University di Aligarh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa universitas juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa asing untuk belajar di universitas tersebut tanpa harus mengikuti ujian masuk baik tulisan maupun wawancara. Seperti contoh, Jamia Millia Islamia di New Delhi menyebutnya dengan kategori "Supernumerary Seats" dan Jawaharlal Nehru University di New Delhi menyebutnya dengan kategori "Absentia".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anda boleh menulis surat ke universitas yang menawarkan program studi yang diminati dan kemudian meminta formulir pendaftaran tersebut melalui Admissin Section atau Foreign Students Adviser universitas yang anda tuju. Formulir pendaftaran juga dapat anda download dari situs atau website universitas. Isi formulir pendaftaran tersebut secara benar dan lengkapi dengan persyaratan-persyaratan seperti yang tertera diatas tadi, kemudian kirimkan kembali ke Admissin Section atau Foreign Students Adviser universitas yang anda lamar itu sebelum batas akhir penutupan pendaftaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila anda sudah memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan dan dinyatakan lulus untuk mengikuti program pendidikan di India, maka pihak universitas akan mengirimkan surat "Provisional Admission" kepada anda dan surat inilah yang harus anda bawa ke Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan untuk memperoleh Visa Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cara lain untuk melamar pendidikan di India adalah dengan mengirimkan semua dokumen-dokumen anda dan biaya administrasi pendaftaran lebih kurang USD $ 75/- (sekitar Rp. 750.000/-) kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India pada bulan Januari dan Pebruari (sebelum masa pembukaan pedaftaran) setiap tahunnya dan PPI India akan meneruskan lamaran anda ke universitas yang dituju. Jangan lupa untuk menyebutkan nama orang tua dan pekerjaan orang tua, alamat rumah dan alamat korespondensi serta nomor telepon dan alamat email. Informasi mengenai apakah anda diterima atau tidak oleh pihak universitas akan disampaikan oleh PPI India kepada anda pada bulan Juli dan Agustus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Biaya Pendidikan di India - Biaya Sendiri &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Masing-masing universitas menetapkan biaya pendidikan yang berbeda-beda. Secara umum, mahasiswa asing yang mengambil program S-1 dan S-2 pada jurusan-jurusan ilmu sosial dan humaniora hanya dikenai biaya pendidikan sebesar USD $ 500/- atau sekitar Rp. 5.000.000/- per tahun. Sedangkan untuk jurusan-jurusan professional di Aligarh Muslim University berkisar antara USD $ 1.000/- hingga USD $ 2.000/- per tahun. Jawaharlal Nehru University menetapkan USD $ 750/- per semester bagi mahasiswa asing yang mengambil jurusan-jurusan ilmu sosial dan USD $ 850/- bagi mereka yang mengambil jurusan-jurusan professional.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Beasiswa Pemerintah India&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemerintah India juga memberikan beasiswa melalui program Indian Council for Cultural Relation (ICCR), dan beasiswa ini diberikan kepada seluruh pelajar yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia. Adapun cara untuk memperoleh beasiswa ini, terlebih dahulu anda harus mendapatkan formulir beasiswa yang tersedia pada Atase Pendidikan dan Informasi, Kedutaan Besar Republik India di Jakarta dan di Konsulat Jenderal Republik India di Medan. Pembukaan pendaftaran beasiswa tersebut biasanya di mulai dari bulan Januari hingga pertengahan Pebruari setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila anda belajar di India disponsori oleh Pemerintah India, maka semua biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah India kecuali biaya transportasi anda dari Indonesia ke India dan biaya transportasi dari India kembali ke tanah air. []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India; Alumni Ponpes Dar El Hikmah, Pekanbaru.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-115909570797390292?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/115909570797390292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=115909570797390292' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115909570797390292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115909570797390292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/09/belajar-di-perguruan-tinggi-india.html' title='Belajar di Perguruan Tinggi India'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-115909521687003115</id><published>2006-09-24T03:49:00.000-07:00</published><updated>2006-09-25T00:37:26.016-07:00</updated><title type='text'>Sinar Islam dari "Ufuk India"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;KALAU kita mau berpikir sejenak saja, kita akan mendapatkan bahwa setiap negara pasti mempunyai sebuah landasan hukum yang disebut dengan konstitusi. Konsitusi tersebut merupakan hasil ciptaan manusia yang bisa berubah sesuai dengan selera manusia yang menciptakannya. Perubahan terhadap konsitusi itu, dalam ilmu hukum dan politik disebut dengan amandemen. Nah, bila konstitusi itu mengalami amandemen, maka secara otomatis landasan hukum negara yang digunakan adalah konsitusi yang baru tersebut, sedangkan konsitusi yang lama gugur dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula halnya dengan agama. Setiap agama juga mempunyai landasan hukum yang kita kenal dengan Kitab Suci. Dan ayat-ayat yang terkandung didalam Kitab Suci tersebut merupakan firman-firman Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui Rasul-RasulNya sebagai pedoman hidup bagi manusia yang berakal. Nah, bila kita percaya bahwa konstitusi suatu negara bisa mengalami perubahan, maka Tuhanpun juga berhak untuk mengamandemen firman-firmanNya yang ada dalam Kitab Suci tersebut. Karena itu, bila Tuhan telah mengamandemen firman-firmanNya yang terdapat dalam Kitab SuciNya yang terdahulu itu, maka selanjutnya kita sebagai manusia yang berakal sehat dituntut untuk menegakkan dan menjalankan firman-firmanNya yang terdapat dalam Kitab SuciNya yang terbaru. Dengan demikian, firman-firman Tuhan yang terkandung dalam Kitab SuciNya yang terdahulu tersebut gugur pula dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang sarat dengan peraturan-peraturan global bagi kehidupan. Dan peraturan-peraturan itu terungkap dalam al-Qur’an. Kalaulah boleh saya berkata, saya hendak mengatakan bahwa al-Qur’an itu merupakan "hasil amandemen" dari firman-firman Tuhan yang sebahagian dari hukum-hukumnya sudah pernah ada dalam Kitab Suci-Kitab SuciNya sebelum al-Qur’an diturunkan. Untuk itu, adalah sangat tidak pantas sekali bila kita masih "berhukumkan" dengan firman-firmanNya yang masih terkandung dalam Kitab Suci-Kitab Suci sebelum al-Qur’an. Sebab, bagaimana mungkin pada waktu yang sama kita sebagai warga negara yang berdaulat berani beralih kepada konstitusi yang baru, yang merupakan hasil daripada konstitusi yang lama. Padahal, sudah sangat jelas bagi kita bahwa konstitusi itu datangnya juga dari manusia, sedangkan Kitab Suci itu adalah firman Tuhan. Lantas, kesombongan apakah yang membuat kita terlalu lancang untuk mengingkari firmanNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita kembali berbicara mengenai peraturan-peraturan global yang terdapat dalam al-Qur’an, maka mempelajari ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an itu tidak cukup hanya sekali dan sepintas saja. Mempelajari al-Qur’an hendaknya dilakukan dengan sabar dan ikhlas serta dilakukan secara terus-menerus dan istiqamah. Bila tidak, maka kita akan menjumpai sejumlah intelektual Muslim dan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang banyak mengenai Islam, namun pola pemikiran mereka tersebut hanyalah akan mengacau-balaukan pola pemahaman masyarakat awam yang masih merangkak dan baru memulai untuk mempelajari al-Qur’an dan Islam itu sendiri. Itulah sebabnya, seorang yang mempelajari al-Qur’an itu dituntut ber&lt;em&gt;talaqqi&lt;/em&gt; atau bertemu langsung kepada &lt;em&gt;Masyaikhul Qurra&lt;/em&gt;, yaitu orang-orang yang benar ahli dalam bidang ilmu al-Qur’an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDIA adalah negara sekuler yang mayoritas penduduknya adalah beragama Hindu. Menurut Registrar General (Census Information) tahun 2000, 81.3% masyarakat India beragama Hindu, sedangkan masyarakat Islam ada 12%, Kristen 2.3%, Sikh 1.9%, lain-lain (termasuk Budha, Jain dan Parsi) ada 2.5%. Dan etnis masyarakat India meliputi Indo-Aryan 72%, Dravidian 25%, Mongoloid dan lain-lain 3%. India menguasai hampir seluruh anak benua India di Asia Selatan tersebut. Sebelah utara, India berbatasan dengan Cina, sebelah barat berbatasan dengan Pakistan, Nepal dan Bhutan. Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Burma dan Bangladesh. Disini saya tidak akan membahas tentang kapan Islam masuk ke India, tapi saya ingin memberikan gambaran sederhana mengenai kehidupan masyarakat Muslim di India. Masyarakat Muslim India tidaklah "diikat" dengan peraturan-peraturan syariat Islam seketat yang diberlakukan oleh Pemerintah Arab Saudi, namun tidak jua "dilepas" sebebas masyarakat Muslim di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tingkat kelas sosial, mayoritas masyarakat Muslim India berada pada posisi kelas menengah ke bawah. Namun demikian, kondisi ekonomi masyarakat India yang "belum beruntung" itu tidaklah membuat kaum Muslim India terus berpangku tangan sembari menunggu berkah yang turun dari langit. Kondisi yang demikian itu, tidak pula menghalangi mereka untuk menggapai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu sempit rasanya ruangan ini untuk melukiskan kontribusi para ulama, tokoh intelektual dan filosuf Muslim India terhadap kajian keislaman, baik dari segi sosial, politik, ekonomi maupun budaya dan sebagainya. Tidak kalah pentingnya, Prof. Aktarul Wasey, Direktur Zakir Hussain Institute of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi menulis dalam artikelnya &lt;em&gt;"Indian Muslims Yesterday, Today &amp;amp; Tomorrow"&lt;/em&gt; dimana "masyarakat Muslim sudah menjadi komponen yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari bangsa India itu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sangat perlu untuk kita ketahui bersama adalah bahwa kesungguhan masyarakat Muslim India untuk menumbuhkembangkan semangat "berislam" itu telah dimulai sejak anak-anak mereka masih berusia dini. Mereka benar-benar mencurahkan perhatian dan pemikiran mereka hanyalah untuk kepentingan Islam semata. Apakah mereka ini miskin dari segi harta? Tidak. Mereka adalah ulama-ulama yang kreatif dan visioner, ulama-ulama yang mampu meneropong kehidupan jauh ke masa depan. Mereka memiliki usaha-usaha yang sah dan halal untuk menghidupi diri dan keluarga mereka sehingga mereka tak perlu membebani para siswa atau santri yang belajar di lembaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran dan penjagaan terhadap firman-firman Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an tersebut boleh dikata berlangsung hampir di semua sekolah-sekolah Islam atau madrasah-madrasah mulai dari tingkat Ibtidaiyyah (Sekolah Dasar) hingga ke tingkat Perguruan Tinggi. Sebut saja, misalnya, Institut Agama Islam Nadwatul Ulama, Lucknow dan Institut Agama Islam Darul Ulum, Doeband. Kedua perguruan tinggi Islam ini tidak hanya masyhur di dalam negeri saja, tapi juga di Timur Tengah, Afrika dan Eropa. Nadwatul Ulama memfokuskan kajiannya dalam bidang ilmu bahasa Arab dan ilmu Hadits. Sedangkan Darul Ulum, Doeband memusatkan kajiannya dalam bidang ilmu Hadits dan Fiqh. Kedua institut ini sudah banyak melahirkan ulama kenamaan yang keilmuan mereka tidak hanya diakui dan dikonsumsi oleh masyarakat Muslim India saja, tapi juga melebar ke&lt;br /&gt;berbagai negara, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tradisi keilmuan yang dimiliki oleh ulama India saat ini mampu diwariskan kepada generasi berikutnya secara ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah SWT semata sebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama India terdahulu, maka kelak kita akan menyaksikan sinar Islam yang akan muncul dari "Ufuk India" ini. Semoga saja, Insya Allah! []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;anggota General Education Center, Aligarh Muslim University, India. Alumni Pondok Pesantren Dar El Hikmah, Pekanbaru.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-115909521687003115?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/115909521687003115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=115909521687003115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115909521687003115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115909521687003115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/09/sinar-islam-dari-ufuk-india.html' title='Sinar Islam dari &quot;Ufuk India&quot;'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-115118037041927884</id><published>2006-06-24T13:11:00.000-07:00</published><updated>2006-06-24T13:38:12.016-07:00</updated><title type='text'>Memilih Pemimpin Yang Ideal</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI SUATU siang yang sangat cerah dan panas, seorang rekanita saya, Disa Ayudian P. mengirim sms ke alfibret saya dalam bahasa asing yang dalam bahasa Indonesia artinya begini, “Beberapa malam terakhir ini aku menjadi orang yang sulit tidur dan pada siang harinya aku lebih banyak mengurung diri di rumah. Kemudian aku bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, apakah aku ini sedang jatuh cinta?” Tuhan menjawab, “Idiot, sekarang ini cuacanya sangat panas.” Ooo, begitu, gumamku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca yang sangat panas ini bukan hanya membuat saya menjadi sulit tidur dan malas bepergian seperti halnya rekanita yang mengirimkan sms tersebut, tapi juga banyak mengubah aktivitas saya sehari-hari, terutama membaca buku dan duduk santai di kantin Aligarh Muslim University (AMU), Aligarh. Seperti biasa, ruang baca perpustakaan utama AMU yang mampu menampung ribuan pelajar itu penuh selama 24 jam, apalagi pada masa-masa ujian tahunan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena di ruang baca perpustakaan utama AMU itu tak menyisakan satu tempat dudukpun, maka saya hijrah ke ruang baca fakultas teologi, AMU. Sengaja saya memilih ruang baca fakultas teologi ini, karena di sini saya bisa juga meminjam dan membaca buku-buku keagamaan, seperti &lt;em&gt;“Al-fiqhu al-Islami wa adillatuhu”,&lt;/em&gt; sebuah kitab fiqh kontemporer terdiri dari sebelas jilid yang disusun oleh Dr. Wahbah Zuhaili. Sedangkan di ruang baca perpustakaan departemen ilmu politik hanya memuat buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan politik, hukum internasional, hak azasi manusia, ketatanegaraan, filsafat politik dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, sambil menikmati hembusan-hembusan lembut semilir angin malam diiringi putaran kaset dakwah KH. Zainuddin MZ, saya ingin merajut kata merangkai kalimat, menulis sebuah risalah yang saya sendiri belum bisa menentukan dimanakah risalah ini akan berakhir. Yang jelas, saya akan terus merajut kata-kata ini untuk dirangkai menjadi untaian-untaian kalimat dengan harapan semoga risalah kecil ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika saya sedang asik mengikuti irama alunan jari-jemari saya di atas keyboard komputer ini, saya teringat dengan pesan Rasulullah SAW yang berbunyi begini, &lt;em&gt;“Idza wusida al-amru ila ghairi ahlihi fantahziri as-sa’atu.”&lt;/em&gt; Artinya, “Apabila suatu urusan (termasuk negara, institusi, organisasi) diurus oleh orang yang bukan ahlinya (tidak profesional), maka tunggulah kehancurannya.” Hadist Rasulullah SAW tersebut tentu saja sangat erat kaitannya dengan mereka yang ingin memegang suatu jabatan tertentu dengan berlandaskan kepada ambisi-ambisi politik sesaat, kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak mendasar dan bukan didasari atas semangat profesionalisme dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, organisasi kemahasiswaan kita di India ini sedang dilanda oleh musibah besar, yaitu krisis figur atau krisis kepemimpinan. Sedangkan krisis-krisis yang lain, seperti krisis keuangan, krisis kegiatan, krisis silaturrahmi, semuanya itu berpunca dari krisis kepemimpinan itu tadi. Kalaulah organisasi kemahasiswaan di India ini memiliki figur pemimpin yang visioner, memiliki semangat kerja profesionalisme yang mantap, peka terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh organisasi itu sendiri (problematika internal) dan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan dunia luar (problematika eksternal), maka krisis-krisis yang lain itu akan mudah untuk diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang muncul pertanyaan, mengapa kita dihadapkan pada krisis kepemimpinan? Karena kita sedang diuji oleh Allah SWT, dan tentu saja ujian ini merupakan salah satu bukti bahwa Allah SWT masih sayang dan cinta kepada kita semua. Rasulullah SAW pernah bersabda, &lt;em&gt;“Innallaha idza ahabba ‘abdan ibtala-a.”&lt;/em&gt; Artinya, “Sesungguhnya Allah SWT, jika mencinta hambaNya, diujiNya hambaNya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini Allah SWT akan melihat apakah kita sabar dan bisa sukses dalam menghadapi ujian ini? Kalaulah kita sabar dan sukses dalam ujian ini, tentu saja kita akan naik tingkat atau naik ke derajat yang lebih tinggi. Sabar disini berarti kita benar-benar mampu menemukan figur-figur pemimpin ideal yang akan menjamin kesuksesan bagi masa depan organisasi kemahasiswaan kita. Untuk itu, hendaknya kita memilih calon-calon pemimpin itu bukan atas dasar nafsu belaka, tapi harus benar-benar berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh calon yang kita pilih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apakah pemimpin yang ideal itu? Saya ingin mengajak pembaca untuk meneropong ritual ibadah sholat berjamaah sesaat saja. Di dalam sholat berjamaah, ada yang disebut dengan imam (pemimpin) dan ada pula yang disebut dengan makmum (jamaah atau rakyat). Dan dalam sholat berjamaah ini, fiqh (undang-undang hukum Islam) tak pernah mempertanyakan siapa yang jadi makmum. Siapa saja boleh jadi makmum, tapi fiqh sangat ketat dalam memilih imam. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan kita, siapa saja boleh jadi anggota, tapi tidak sama halnya untuk menjadi seorang pemimpin organisasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata fiqh, seorang imam itu haruslah orang yang paling ‘alim (pandai) diantara kamu, ini syarat yang pertama. Imam itu haruslah orang yang betul-betul paham dan mengerti agama, terutama mengenai sholat. Begitu pula dalam sebuah organisasi, hendaknya seorang pemimpin itu adalah orang yang tahu problematika internal organisasi dan problematika eksternal yang sedang dihadapi oleh rakyat dan dunia luar serta tahu pula mencari jalan keluar untuk menyelesaikan problematika-problematika tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat kedua, kata fiqh, seorang imam itu haruslah memiliki bacaan yang bagus dan indah. Imam tidak boleh orang belo. Didalam sebuah organisasi, ini dapat kita artikan bahwa seorang pemimpin itu hendaknya memiliki kemampuan orasi yang cantik, kemampuan untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan dan aspirasi-aspirasi anggota dan masyarakat ramai. Itu sebabnya seorang pemimpin dituntut untuk memiliki &lt;em&gt;sense of politics&lt;/em&gt; yang kuat terhadap anggota yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dua ciri pemimpin ideal diatas ditemukan pada banyak figur, maka syarat untuk menjadi imam yang ketiga, kata fiqh, hendaklah kamu memilih orang yang lebih tua umurnya. Jika kita komparasikan syarat untuk menjadi imam yang ketiga ini dengan seorang pemimpin organisasi, maka hendaknya kita utamakan yang lebih senior (dari segi usia) untuk menduduki jabatan pemimpin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tiga ciri pemimpin ideal diatas ada pada beberapa orang figur atau calon, maka syarat keempat untuk menjadi imam itu, kata fiqh, hendaklah kamu memilih orang yang paling dulu atau paling lama tinggal di daerah itu. Bila kita kembali membandingkan syarat keempat ini dengan ciri pemimpin ideal untuk sebuah organisasi, maka hendaklah kita memilih orang yang paling lama tinggal di India ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sudah menemukan pemimpin ideal yang pada dirinya ditemukan syarat-syarat yang disebutkan diatas, maka selanjutnya seorang pemimpin ideal itu hendaklah: Pertama, memiliki jiwa yang lapang, terutama dalam menerima perbedaan pendapat, teguran dan kritikan. Jika anda adalah pemimpin yang ideal, maka anda harus berani untuk menerima masukan, berani untuk introspeksi diri, tahu diri ketika ditegur dan berani untuk memperbaiki kinerja anda ketika dikritisi. Seorang pemimpin ideal tak perlu mengkambinghitamkan orang lain bila kepemimpinan dan kinerjanya ditegur dan dikritisi oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululullah SAW pernah mengatakan, &lt;em&gt;“Thuba liman syagholahu ‘aibuhu ‘an ‘uyubinnaas.”&lt;/em&gt; Artinya, “Beruntunglah orang-orang yang karena kekurangan pada dirinya, membuat ia lupa pada kekurangan-kekurangan yang ada pada diri orang lain.” Untuk itu, sekali lagi saya katakan, lebih baik memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kepemimpinan dan kinerja anda daripada sibuk menyalahkan orang lain. Dan kita sebagai anggota juga jauh lebih baik memperbaiki kinerja dan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita daripada sibuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada diri orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pemimpin ideal itu hendaknya memiliki visi yang jauh ke depan dan semangat kerja profesionalisme yang tinggi. Seorang pemimpin ideal harus tahu kemana arah dan haluan organisasi yang sedang ia pimpin itu harus dibawa. Bila dalam menentukan arah dan haluan organisasi ini muncul perbedaan pendapat antara para elit organisasi, maka disinilah seorang pemimpin ideal itu harus mampu memperlihatkan semangat profesionalismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat profesionalisme ini diperlihatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya, &lt;em&gt;“Fa-idzaa ikhtalaftum fa’alaikum bish-showatil a’zhom ma’al haqqie wa ahlihi.”&lt;/em&gt; Artinya, “Apabila kamu berbeda pendapat, maka ikutilah suara yang terbanyak dan disampaikan oleh ahlinya.” Disini, seorang pemimpin ideal dituntut untuk memutuskan suatu perkara itu secara professional. Bila terjadi perbedaan pendapat, maka ikutilah suara yang terbanyak, dan tentu saja suara yang terbanyak itu disampaikan oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Pemimpin ideal bukanlah pemimpin yang memaksakan kehendak sesuka hati-perutnya saja kepada para anggota atau rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, semangat silaturrahmi harus dimiliki oleh pemimpin ideal. Dengan bersilaturrahmi, pemimpin tersebut akan mengetahui secara langsung kondisi sebenarnya yang dihadapi oleh anggota atau rakyatnya. Pemimpin yang tidak memiliki semangat silaturrahmi atau kurang pergaulan, -&lt;em&gt;associateless&lt;/em&gt;, dalam bahasa Melayunya- hanyalah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang sok tahu dan sok perhatian terhadap orang lain. Rasulullah SAW mengingatkan, &lt;em&gt;“’Alaika biljama’ah fa-innama yakkulu ad-dzikbu minal ghanamil ghasiyah.”&lt;/em&gt; Artinya, “Hendaklah kamu tetap berjamaah (menjaga silaturrahmi), karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang bercerai dari kelompoknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang &lt;em&gt;associateless&lt;/em&gt; hanyalah akan menjadi mangsa perasaannya sendiri dikarenakan minimnya semangat bersilaturrahmi yang ada pada dirinya itu. Setidaknya ia akan merasa bahwa jabatan pemimpin yang disandangnya tersebut hanya terasa sebagai beban belaka dalam hidupnya. Ia tak mampu menjadikan jabatannya sebagai pemimpin itu untuk berbuat yang terbaik dan berbuat lebih banyak lagi demi kemajuan organisasi yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, pemimpin ideal dituntut untuk memiliki sikap gotong-royong dalam kebersamaan dan toleransi dalam perbedaan. Kerjasama yang kokoh antara pemimpin dengan yang dipimpin merupakan modal dasar dalam menyukseskan segala program kerja-program kerja organisasi. Sebuah organisasi juga tidak akan berjalan sempurna bila pemimpinnya bekerja sendiri dan tidak dibantu oleh pengurus (para elit) organisasi itu sendiri. Oleh karena itu, pemimpin ideal tak perlu cepat naik pitam atau naik darah bila melihat wajah-wajah yang berseberangan pendapat dengannya, karena itu hanyalah merupakan ciri seorang pemimpin yang cengeng. Disinilah tempatnya seorang pemimpin ideal itu harus mengembangkan sikap toleransi dalam menghadapi perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa begitu cepat waktu berlalu, dan saya harus segera mengakhiri untaian-untaian kalimat ini. Saya berpesan kepada diri saya pribadi dan para pembaca untuk senantiasa memperkuat sandaran vertikal kita kepada Allah SWT sebagai bukti bahwa kita bukanlah bangsa yang sombong, bangsa yang sudah tidak memerlukan bantuan dan pertolonganNya dalam menemukan pemimpin-pemimpin ideal untuk organisasi kemahasiswaan kita. Kita juga bukan bangsa yang berjiwa "agar-agar" yang mudah goyah dan terombang-ambing diterpa oleh badai dan krisis yang berkesinambungan. Kita bukan pula bangsa yang seperti ayam kena sampar, &lt;em&gt;la yahya wa la yamutu,&lt;/em&gt; hidup segan mati tak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di India ini adalah singa-singa tidur yang harus segera dibangunkan. Jiwa-jiwa kemahasiswaan kita yang sedang mengalami mati suri harus segera dihidupkan kembali. Dengan semangat optimisme yang tinggi, bersama kita berlayar menuju Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India yang cemerlang di masa depan. Karena itu, hiduplah dan bangunlah wahai singa-singa yang mati suri. Menariknya, ketika saya akan menyudahi risalah ini, alfibret saya berdering kembali dan ketika saya angkat, terdengar suara Nidya menyapa dan mau curhat seperti biasa, “Kak, Nidya bingung nih, mau memilih siapa?” Sayapun berpesan kepada Nidya, “Pilihlah yang ideal buat neng. Dan pilihan neng itukan hanya ada dua, kalau nggak mas Sa’i, ya kakak.” []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India; Asal Riau.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-115118037041927884?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/115118037041927884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=115118037041927884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115118037041927884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/115118037041927884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/06/memilih-pemimpin-yang-ideal.html' title='Memilih Pemimpin Yang Ideal'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-114535469251629832</id><published>2006-04-18T02:52:00.000-07:00</published><updated>2006-04-18T03:04:52.876-07:00</updated><title type='text'>Permudah Orang, Bukan Dipersulit</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;DALAM sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu kali Rasulullah SAW didatangi oleh seorang pemuda yang hendak masuk Islam. Maka bertemulah pemuda tersebut dengan Rasulullah SAW. Sebelum pemuda itu menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW, terlebih dahulu terjadi percakapan antara pemuda tersebut dengan Rasulullah SAW. Untuk mempermudah pemahaman kita, maka percakapan itu dapat saya gambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda : Ya Rasul, saya ingin masuk Islam.&lt;br /&gt;Rasul  : Bagus, bagus sekali.&lt;br /&gt;Pemuda : Tapi, Rasul ... ??!&lt;br /&gt;Rasul  : Yap, tapi apa?&lt;br /&gt;pemuda : Saya itu suka minum minuman keras, saya suka main cewek    (berzina), dan saya hobi main judi, ya Rasul. Dan saya belum bisa meninggalkan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban yang sangat jujur dan polos ini, Rasul hanya tersenyum sambil meneruskan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul : Tidak apa-apa anak muda.&lt;br /&gt;Pemuda : Thank you, Rasul.&lt;br /&gt;Rasul : Saya hanya berpesan kepadamu, wahai anak muda, untuk selalu berkata jujur dan meninggalkan bohong (berkata dusta).&lt;br /&gt;Pemuda : Okey Rasul, sure, saya berjanji untuk tidak berkata dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pemuda itu lantas mengucapkan kalimat syahadatain, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah". Pemuda itupun masuk Islam secara sah, baik secara syar'i maupun secara konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, pemuda itu bergumam, "Alangkah mulianya sifat Rasul tersebut, dan agama Islam itu memang benar-benar indah. Saya sudah menyatakan secara terang-terangan bahwa saya suka minum, saya suka berzina, suka main judi, tapi yang diminta dari saya adalah untuk selalu berkata jujur yang sudah menjadi kebiasaan saya selama ini. Dan yang dilarang adalah kebiasaan yang selama ini memang saya sendiri sangat membencinya (baca: berkata dusta), pribadimu memang tak ada duanya. I Love you, Rasul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setiap kali Rasul bertemu dengan pemuda itu, Rasul tak lupa untuk selalu bertanya, "Wahai anak muda, apakah kamu masih minum, main cewek dan berjudi." Dengan jujur pemuda itu menjawab, "Masih, ya Rasul." Hebatnya, Rasul tak pernah marah mendengar jawaban ini, bahkan Rasul hanya tersenyum saja. Begitulah, setiap Rasul bersua dengan pemuda itu, Rasul selalu mengajukan pertanyaan yang serupa kepada pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang kesekian kalinya, ketika Rasul mengajukan pertanyaan yang serupa, maka pemuda itu lantas mengatakan, "Mulai hari ini, saya akan meninggalkan semua hal-hal yang dilarang dalam Islam itu, ya Rasul." Rasulpun tersenyum gembira mendengar ucapan anak muda yang sangat-sangat bersahaja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasul berpisah dengan anak muda tersebut, kembali anak muda itu bergumam, "Memang ampuh betullah permintaan Rasul dahulu itu. Permintaan untuk selalu berkata jujur ternyata mampu "meruntuhkan" tiga kesenangan dunia yang tak bisa saya tinggalkan selama ini." Akhirnya anak muda itu menyadari juga bahwa selaku seorang Muslim ia berkewajiban untuk meninggalkan hal-hal yang memang sudah dilarang oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang hendak saya sampaikan melalui risalah (tulisan) singkat ini adalah: sungguh benar sekali bahwa tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelah Rasulullah Muhammad SAW, karena memang Allah SWT sudah menegaskan di dalam Al-Quran bahwa Muhammad SAW itu adalah nabi terakhir dan sekaligus penutup para nabi dan rasul. Hanya kita harus sadar bahwa nilai-nilai kenabian dan kerasulan (prophetic's values) itulah yang mesti kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat yang juga mendeklarasikan bahwa kita adalah umat yang beragama (beragama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kita sebagai mahasiswa/i yang merupakan "lembaga" pemegang amanah untuk memelihara agama, bangsa dan negara dimasa mendatang, tentu saja penerapan "prophetic's values" dalam kehidupan kita sehari-hari menjadi sesuatu yang tak boleh diabaikan begitu saja. Diantara sekian banyak "prophetic's values" yang perlu kita ingat adalah pesan (sabda) Rasulullah SAW yang berbunyi, "Yassiruu, wa la tu'assiruu. Basysyiruu, wa la tunadzdziruu". Artinya, permudah urusan orang, jangan dipersulit. Gembirakan (hati) orang, jangan (pula) ditakut-takuti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Rasulullah SAW diatas perlu mendapatkan tempat yang layak terutama bagi mereka yang saat ini sedang memegang anamah untuk melayani masyarakat banyak. Muhammad Yamin, guru saya yang sangat saya kagumi ketika belajar di Pesantren dulu pernah mengingatkan saya bahwa "Amanah is amanah", suatu pesan sederhana namun memiliki makna yang sangat luas. Kita harus ingat, apapun jabatan yang kita sandang saat ini, suatu saat akan diambil kembali oleh Dzat Hakiki yang memberikan amanah itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sangat sombong sekali mereka yang memegang amanah itu namun masih tetap berani menzhalimi orang banyak dengan alasan yang membuat orang "tertawa geli" mendengar alasan-alasan yang disodorkan tersebut. Sangat banyak contoh orang-orang yang terlalu membusungkan dada dengan jabatannya, namun berakhir tragis dan menyedihkan diakhir masa jabatannya. Apakah itu belum cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita? Ingatlah bahwa do'a orang yang dizhalimi adalah diijabah (didengar dan diterima) oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tak akan pernah tahu dari mulut siapa do'a diijabah itu langsung diterima oleh Allah SWT. Ada kalimat arab yang berbunyi begini (apakah syair atau hadist, saya lupa): "Iktsiruu bidu'ail khairi, fa innaka la tadri min ayyi faahin tuqbalu.". Artinya, perbanyak minta do'a yang baik dari orang lain, karena sesungguhnya engkau tak akan pernah tahu dari mulut siapa do'a yang maqbul itu diterima (oleh Allah SWT)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, untuk tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ust. Muchlis Zamzami, saya ingin mengulang hadist Rasulullah SAW yang berbunyi, "Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu .... dst." Sentilan saya dalam risalah sederhana ini, tentu saja, merupakan usaha saya dalam memerangi "kemungkaran" dimana saya memahami tangan disitu, salah satunya sebagai kemampuan dalam memerangi kemungkaran melalui tulisan dimana tangan memegang peranan yang sangat strategis dalam melahirkan sentilan ini. Wallahua'lamu ma fi qalbil 'amiiqi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;pelajar lulusan Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-114535469251629832?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/114535469251629832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=114535469251629832' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/114535469251629832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/114535469251629832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/04/permudah-orang-bukan-dipersulit.html' title='Permudah Orang, Bukan Dipersulit'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-114292219720847623</id><published>2006-03-20T22:18:00.000-08:00</published><updated>2006-04-03T02:53:20.036-07:00</updated><title type='text'>Naluri Diskusi Yang Kering</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;HAL menarik yang saya temukan di Aligarh Muslim University (AMU), Aligarh adalah dimana setiap hari saya bisa mengikuti berbagai seminar, diskusi ilmiah, simposium atau workshop dan sebagainya. Saya tinggal memilih topik yang menarik bagi saya. Bila topik yang dibahas tidak menarik perhatian saya, maka saya tetap berusaha untuk hadir -walau sekejap saja- hanya sekedar mengetahui siapa yang menjadi pembicara, pemakalah ataupun narasumber pada acara itu. Bagi saya, menghadiri beragam kegiatan yang disebut diatas merupakan salah satu proses pengayaan database keilmuan kita sendiri selain dari apa yang sudah kita dapatkan dari dosen-dosen kita di ruang kuliah. Selain dari itu, hadir dalam berbagai seminar, diskusi dan sebagainya, menurut saya, juga menjadi sarana untuk memantapkan bacaan kita selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya kagum dengan kenekadan AMU Students' Union (AMUSU) yang kerap menyelenggarakan seminar, diskusi, simposium yang berskala nasional dengan menghadirkan tokoh-tokoh kenamaan India: anggota parlemen, menteri, pemuka agama, birokrat, politisi dan sebagainya di AMU. Dan kita tahu bahwa mereka yang duduk menjabat sebagai pengurus AMUSU tersebut adalah mahasiswa dan mahasiswi yang seangkatan dan sebaya dengan kita yang juga berstatus sebagai mahasiswa dan mahasiswi di India ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Saya menjadi sering berkhayal: sekiranya mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di India ini juga nekad melakukan hal serupa seperti yang diselenggrakan oleh AMUSU, maka alangkah indahnya kehidupan keilmuan kita di India ini, sehingga perasaan bingung untuk mengaplikasikan keilmuan yang telah kita peroleh selama belajar di India ini secara lambat laun akan sirna. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa teman-teman yang belajar di India ini telah mumpuni dalam bidang kajian yang digelutinya selama ini, dan hal ini dapat dibuktikan -misalnya- dengan nilai yang bagus dalam setiap ujian. Tapi, bila kita berhadapan dengan masyarakat sosial yang lebih luas, kita kerap menemukan kegamangan dalam mengaplikasikan keilmuan yang kita peroleh di bangku kuliah selama ini. Hal ini terjadi, saya kira, karena rutinitas belajar yang kita lakukan di India tak berbeda jauh dengan apa yang kita lakukan ketika di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dahulu: masuk pagi, pulang petang. Sampai dirumah, kita makan, terus menyelesaikan assingments (PR) dan kemudian tidur sambil menunggu pagi. Begitulah perputaran kehidupan kita selama menjadi pelajar di India ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita yang belajar di India ini, saya yakin mampu melakukan kegiatan seperti yang diselenggarakan oleh AMUSU tersebut. Tentu saja, dengan membawa "bendera" organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India. Namun, sebuah alasan klasik selalu saja menghantui kita untuk meniadakan penyelenggaraan acara semacam itu: kita disibukkan oleh jam kuliah yang begitu padat. Kemudian, alasan yang lebih "nakal" lagi adalah: jumlah kita terlalu sedikit. Nah, kalau ini yang terus kita jadikan alasan, bukankah hari Sabtu (misalnya, di Jamia Millia Islamia), termasuk hari yang diliburkan? Begitu pula, bila kita terus menanti dan menanti jumlah yang banyak, maka sampai kapankah kita harus menunggu? Saya menjadi ragu, jangan-jangan setelah jumlah kita banyak di India ini, keberadaan kita tak jauh berbeda dengan buih di lautan: tak punya identitas kemandirian dan mudah diombang-ambing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada tahun 2002, bersamaan dengan pelakasanaan Musyawarah Tahunan Anggota (MTA) V - PPI India, kita pernah mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dengan menghadirkan Prof. Dr. Uton Mukhtar Rafe'i, Regional Director of WHO, Southeast Asia dan Dr. Zafarul Islam Khan, Editor-in-Chief of Milligazette News, New Delhi. Pelaksanaan LDK tersebut mendapat kritikan dari Bpk. Saifuddin Syukur (saat itu masih kandidat doktor Hukum di Delhi University) dimana beliau menilai bahwa kegiatan LDK itu belumlah memenuhi standar LDK yang benar. Sebagai Ketua Pelaksana LDK dan MTA V, saya mengakui kekurangan-kekurangan tersebut. Tapi kegiatan itu setidaknya mampu menjadi batu loncatan bagi PPI India, dimana sebenarnya kita mampu menghadirkan orang-orang yang berskala nasional bahkan internasional sekalipun. Riuhnya ruang LDK dengan pertanyaan dua bahasa (Arab dan Inggris) kala Zafarul Islam Khan membuka pertanyaan masih terngiang merdu di telinga saya, apalagi KH. Rizqan Khamami, yang menjadi moderator juga memperlihatkan kefasihannya dalam menggunakan bahasa Arab a la Iraqi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemudian pada MTA VII tahun 2004, PPI India juga mengadakan diskusi dengan menghadirkan Bapak Dalton Sembiring dan Bapak Kol. I wayan Midhio sebagai pembicara. Dan pada MTA VIII tahun 2005 lalu, PPI India menghadirkan Bapak Dr. Saifuddin Sykur dan Dr. Khairuddin Siregar sebagai pembicara dalam diskusi kala itu. Sayangnya, kegiatan-kegiatan semacam itu hanya "berani" kita adakan bersamaan dengan perhelatan MTA. Kita tak pernah melakukan hal serupa setelah kepengurusan PPI India terbentuk dan tersusun dengan sempurna. Mengapa kita tak "berani" mengadakan kegiatan tersebut? Alasannya, ya, apalagi kalau bukan seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu kali saya pernah mendapat bisikan dari diplomat KBRI New Delhi begini, "Sebenarnya KBRI itu siap membantu PPI India secara finasial, tapi dalam bentuk kerja sama. Misalnya, PPI India bekerjasama dengan KBRI menyelenggarakan seminar atau diskusi. PPI India sebagai pantia pelaksana dan KBRI sebagai penyokong dana. Sebab dana untuk kegiatan semacam itu memang ada." Nah, kalau bisikan ini adalah bisikan yang jujur dan bukan sekedar penyejuk hati, maka PPI India masih punya waktu untuk membuktikan suara bisikan tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Adalah sangat disesalkan sekali, bila dari MTA ke MTA, dan dari PPI India periode sekian ke periode selanjutnya, kegiatan PPI India dalam bidang keilmuan ini selalu kering tanpa makna. Kita begitu antusias menghadirkan seni-budaya Indonesia dalam berbagai festival, dan kita juga begitu bergairah ketika menghadirkan "masakan Indonesia" dalam setiap bazar dan food festival. Tapi kita telah terjerembat ke dalam "alergi" yang tak beralasan bila sudah berurusan dengan keilmuan. Jika antusiasme dan gairah yang mampu kita hadirkan dalam berbagai festival atau bazar tersebut tak mampu kita tularkan dalam kegiatan-kegiatan yang menunjang dan sekaligus memantapkan keilmuan kita sendiri, maka benarlah anggapan saya selama ini: naluri diskusi kita sudah mengering. Bila hal ini yang terjadi, maka pelaksanaan MTA dan keberadaan PPI India tak ubahnya seperti "ritual teatrikal" belaka, sebuah tontonan yang akan terus terjadi dan terjadi tanpa adanya perubahan pasca layar monitor itu kita tutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;erakhir, saya mohon maaf bila dalam tulisan singkat ini ditemukan kalimat yang tak berkenan di hati pembaca. Saya tak memiliki maksud lain menulis risalah singkat ini selain mengharapkan adanya kemajuan yang berarti bagi PPI India dari zaman ke zaman. Bagaimana dengan Tasar Karimuddin, Irwansyah Yahya, Tylla Subiantoro dan Yunita Ramadhana: apakah anda sudah benar-benar siap bersaing untuk menjadi Ketua Umum PPI India? Come on!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India; berasal dari Provinsi Riau.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-114292219720847623?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/114292219720847623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=114292219720847623' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/114292219720847623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/114292219720847623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/03/naluri-diskusi-yang-kering.html' title='Naluri Diskusi Yang Kering'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113946718520265715</id><published>2006-02-08T22:33:00.000-08:00</published><updated>2006-02-08T22:39:45.863-08:00</updated><title type='text'>Mempertahankan Status Minoritas dan Reservasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;ALIGARH Muslim University (AMU) merupakan sebuah institusi akademis yang cukup ternama tidak hanya di India saja, tapi di seluruh dunia. AMU sebagaimana pernah ditulis oleh harian nasional &lt;em&gt;Times of India&lt;/em&gt; sebagai Oxford-nya Asia tersebut terletak di wilayah utara India, tepatnya di Negara Bagian Uttar Paradesh (UP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri AMU Sir Syed Ahmad Khan, seorang tokoh reformis pada masanya merasa perlu untuk mendirikan sebuah institusi akademis yang modern. Ia memulai usahanya tersebut dengan mendirikan sebuah sekolah yang kemudian pada tahun 1875 sekolah tersebut menjelma menjadi sebuah kolej yang bernama "Mohammadan Anglo-Oriental (MAO) College". Dalam perkembangan selanjutnya MAO ini pulalah yang menjadi cikal bakal lahirnya AMU, tepatnya pada tahun 1920.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, AMU menjadi sebuah institusi yang memiliki reputasi internasional menyediakan 12 fakultas modern dan tradisional. Disamping memiliki 12 fakultas, AMU juga memiliki 6 kolej, 2 politeknik, beberapa institut, pusat kajian dan penelitian serta 15 asrama mahasiswa dan mahasiswi. AMU juga memiliki 7 Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Pada tahun ajaran 2005 – 2006 tercatat lebih dari 27.000 mahasiswa dan mahasiswi yang belajar di universitas ini. Mahasiswa dan mahasiswi tersebut tidak hanya berasal dari seluruh penjuru India, tapi juga berasal dari negara-negara luar, khususnya dari Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMU terbuka untuk semua golongan, kasta, warna kulit dan jenis kelamin. Menariknya lagi, di AMU ini kita akan menemukan adanya keseimbangan antara suasana kehidupan tradisional dan modern. Mutu dan kualitas program studi yang tinggi serta kenyamanan lingkungan sosial kampus yang ditawarkan oleh AMU dan nilai-nilai kebudayaan tradisional masyarakat India yang masih terpelihara membuat AMU menjadi pilihan yang sangat tepat bagi siapa saja yang ingin belajar dan mempertajam keilmuannya sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah universitas terpandang dan ternama yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Muslim India, tentu saja, universitas yang merupakan simbol keislaman dan berada di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tersebut senantiasa berupaya keras untuk mempertahankan haknya sebagai universitas yang berstatus "minoritas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya status minoritas yang melekat pada AMU tersebut, diharapkan para pelajar Muslim India memperoleh quota dan reservasi yang lebih besar untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi terutama pada jurusan-jurusan profesional, seperti Kedokteran, Administrasi Bisnis serta Informasi dan Teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya AMU untuk mempertahankan status minoritas ini muncul disebabkan oleh kenyataan yang ada bahwa para pelajar Muslim India masih tertinggal jauh bila dibandingkan dengan para pelajar Hindu. Lagi pula, banyak diantara para pelajar Muslim India yang terkena bias diskriminasi pada saat mendaftar dan masuk ke universitas-universitas di India. Itulah sebabnya AMU tetap berupaya keras untuk mempertahankan status minoritas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam menanggapi "status minoritas" ini, Pengadilan Tinggi Allahabad &lt;em&gt;(AHC: Allahabad High Court)&lt;/em&gt; menyatakan bahwa "status minoritas" yang melekat pada AMU serta reservasi 50% untuk masyarakat Muslim India tersebut adalah ilegal dan tidak dapat dibenarkan. AHC beralasan bahwa seluruh anak bangsa India harus mendapatkan kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan sesuai dengan perundang-undangan atau konstitusi yang berlaku di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan mengenai "status minoritas" antara AMU dan AHC ini tidak hanya menjadi fokus perhatian AMU dan AHC saja, tapi juga melibatkan para politisi Muslim seluruh India, tokoh pemikir dan intelektual serta ulama-ulama India, mengingat kegagalan mempertahankan status minoritas ini merupakan kegagalan umat Islam India dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas para pelajar Muslim di bidang keilmuan profesional seperti yang disebutkan di muka tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, Pemerintah Pusat India melalui Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia &lt;em&gt;(Ministry of Human Resource Development (HRD), Government of India)&lt;/em&gt; mengatakan bahwa status minoritas yang melekat pada AMU adalah sah. Lebih dari itu, Pemerintah India yang berkuasa saat ini, tak hanya mengakui status minoritas pada universitas yang berdasarkan agama saja, tapi juga minoritas berdasarkan bahasa daerah, kasta dan ras. Dan sepanjang tahun 2005 lalu, boleh dikata berbagai Seminar dan Konferensi yang menuntut status minoritas ini diselenggarakan di AMU dan di beberapa wilayah Negara Bagian di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disebutkan juga bahwa sikap Pemerintah India yang berkuasa saat ini atau lebih dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;United Alliance Progresive (UPA) Government&lt;/em&gt; (Pemerintahan Aliansi Progresif Bersatu) mendapat tanggapan sebaliknya dari mantan Menteri HRD saat Partai Bharatia Janata &lt;em&gt;(BJP: Bharatia Janata Party)&lt;/em&gt; berkuasa, Murli Manohar Joshi. Ia meminta Menteri HRD saat ini, Arjun Singh untuk bertanggung jawab terhadap "minoritisme" yang dibenarkan oleh UPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Joshi juga mempertanyakan pembentukan Komisi Nasional Institusi Pendidikan Minoritas &lt;em&gt;(NCMEI: National Commission for Minority Educational Institutions)&lt;/em&gt;. Menurutnya, pembentukan NCMEI ini telah meruntuhkan kredibilitas &lt;em&gt;All India Council and Technical Education (AICTE) &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; University Grants Commission (UGC)&lt;/em&gt;. "Apakah UGC dan AICTE tak dapat dipercaya untuk menangani lembaga-lembaga minoritas?", tanyanya. Ia juga mengatakan bahwa politik "mayoritas-minoritas" inilah yang membuat perpecahan negera ini. Anggapan pendidikan yang penuh prasangka tersebut juga akan menciptakan sikap saling curiga antara sesama generasi muda bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai status minoritas ini telah diundangkan dalam Konstitusi India pasal 29 (Perlindungan terhadap kepentingan kelompok minoritas) dan pasal 30 (Hak-hak kelompok minoritas untuk mendirikan dan mengatur lembaga-lembaga pendidikan). Sungguhpun demikian, dalam Konstitusi pasal 29 ayat 2 disebutkan, &lt;em&gt;"No citizen shall be denied admission into any educational institution maintained by the State or receiving and out of State funds only on grounds of religion, race, caste, language or any of them"&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, Perhimpunan Dosen-Dosen AMU &lt;em&gt;(AMUTA: AMU Teachers’ Association)&lt;/em&gt; menyambut positif pembentukan departemen baru, yaitu Departemen Urusan Minoritas &lt;em&gt;(Ministry for Minority Affairs)&lt;/em&gt;. Karena itu, AMUTA mendorong semua partai untuk menyamakan platform mengenai jaminan status minoritas terhadap universitas. Kemudian pada tanggal 3 Pebruari 2006 lalu, delegasi AMUTA mengadakan pertemuan dengan Menteri Urusan Minoritas, AR Antulay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizwan Khan, Sekretaris AMUTA menyatakan bahwa pembentukan departemen yang baru tersebut merupakan langkah positif dan ia mengungkapkan harapannya semoga semua partai dan tokoh-tokoh politik mematuhi kebijakan transparansi terhadap isu-isu sensitif yang berkaitan dengan minoritas. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pelejar asal Riau pada Department of Political Science, Aligarh Muslim University, India.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113946718520265715?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113946718520265715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113946718520265715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113946718520265715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113946718520265715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2006/02/mempertahankan-status-minoritas-dan.html' title='Mempertahankan Status Minoritas dan Reservasi'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113483510961955584</id><published>2005-12-17T07:48:00.000-08:00</published><updated>2005-12-19T06:58:22.166-08:00</updated><title type='text'>Presiden dan Wapres Inkari Amanah Konsekwensi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG TUA saya selalu mengingatkan begini, "Nak, semakin tinggi pohon itu, semakin kencang angin yang dihadapinya. Dan bila kau takut dengan hembusan yang kencang itu, maka jadilah rumput yang rendah. Sebab dengan menjadi rumput yang rendah itu, engkau tak kena hembusan angin memang, tapi kau akan diinjak-injak orang." Ungkapan orang tua saya tersebut memperlihatkan bahwa amanah konsekwensi harus kita hadapi dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Artinya, semakin besar dan tinggi jabatan yang disandang oleh seseorang, sebagai konsekwensinya adalah semakin besar pula amanah dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuah yang disampaikan oleh orang tua saya tersebut sangat tepat untuk mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf kalla (JK) yang telah memperlihatkan sikap kekanak-kanakan mereka dalam menghadapi kritikan yang dihembuskan oleh rakyat Indonesia beberapa bulan terakhir ini. Tengoklah sikap Wapres JK dalam menanggapi kritikan yang disampaikan melalui untaian bait-bait puisi yang dibacakan oleh Prof. Dr. Winarno Surachmad dalam memperingati HUT PGRI Ke-60 di Solo beberapa pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang masih segar dalam ingatan kami sebagai pelajar yang sedang mengikuti pendidikan di berbagai Perguruan Tinggi India ini adalah dalam menghadapi kenyataan yang diperlihatkan oleh Presiden SBY pada saat acara silaturrahmi dengan masyarakat Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi tanggal 24 Nopember lalu, dimana acara silaturrahmi tersebut juga merupakan salah satu agenda resmi Presiden SBY pada saat mengadakan kunjungan resmi kenegaraan ke India dari tanggal 21-24 Nopember 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara silaturrahmi tersebut, salah seorang teman kami, menyampaikan masukan dan kritikan mengenai pendidikan di Indonesia. Teman tersebut membuat perbandingan antara mutu dan kualitas pendidikan India yang jauh lebih unggul dengan mutu dan pendidikan di Indonesia yang semakin suram, padahal Indonesia dan India adalah sama-sama negara yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi masukan dan kritikan ini, Presiden SBY beranggapan bahwa kami telah merendahkan Indonesia secara langsung dihadapannya. Presiden SBY telah memperlihatkan ketidakridhoannya pada saat kami menyatakan bahwa mutu dan kualitas pendidikan di India jauh lebih unggul bila dibandingkan dengan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Padahal, seperti yang diakui oleh Ibu Niniek Kun Naryatie, Kepala Bidang Ekonomi di KBRI New Delhi melalui komentarnya di mailing list ppi-india at yahoogroups.com bahwa data-data yang diangkat oleh teman tersebut cukup valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY sebaliknya menyerang bahwa teman kami yang bertanya tersebut seolah-olah gagap perubahan sehingga Presiden SBY mengatakan bahwa beliau sendiri juga pernah merasakan pendidikan di luar negeri, tapi beliau tidak mengagung-agungkan negara tempat ia mengikuti pendidikan tersebut yang kemudian berani pula melecehkan bangsa sendiri. Presiden SBY menganggap kami yang telah belajar di India telah berani melecehkan Indonesia dihadapannya selaku Kepala Negara RI saat ini. Padahal, masukan dan kritikan yang disampaikan tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian kami mengenai masa depan pendidikan di tanah air kami yang tercinta, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakridhoan Presiden SBY terhadap kritikan yang disampaikan oleh teman tersebut juga dapat disimak dalam pernyataan Presiden SBY di Istana Negara, Kamis (8/12). Beliau mengatakan, ”Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji-muji luar negeri. Orang itu bicara di depan saya. Saya menyesalkan.” (KOMPAS, Jumat, 09 Desember 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut diketahui oleh bangsa Indonesia adalah bahwa kunjungan resmi kenegaraan yang dilakukan oleh presiden RI mulai dari Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri hingga Presiden SBY tak banyak diliput dan diberitakan oleh media-media India. Ini pertanda kunjungan resmi kenegaraan yang dilakukan oleh RI bukanlah topik yang hangat untuk diketengahkan di khalayak ramai masyarakat India. Pemandangan ini akan sangat berbeda bila yang melakukan kunjungan resmi kenegaraan adalah presiden atau perdana menteri (PM) dari negara-negara lain dikawasan Asia, Singapura, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan sebelum kunjungan PM Singapura ke India, media-media India telah ramai memuat pemberitaan mengenai rencana kunjungan, kemajuan-kemajuan, perkembangan dan hasil-hasil kesepakatan yang telah dicapai oleh kedua negara tersebut. Pemberitaan yang disampaikan oleh media-media tersebut berhasil menciptakan dan membangun kedekatan emosional masyarakat antar kedua negara itu, sehingga tak heran bila masyarakat India lebih mengenal Singapura daripada Indonesia. Padahal, wilayah Indonesia jauh lebih besar bila dibandingkan dengan wilayah Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, ketidaktertarikan media-media India untuk meliput kunjungan Presiden RI tersebut merupakan konsekwensi dari sikap arogansi pemerintah Indonesia di era Presiden Soeharto. Presiden Soeharto, yaitu presiden dari kawasan Asia yang paling disegani oleh dunia kala itu, telah memandang rendah terhadap India. Dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto inilah, pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia memandang India hanyalah sebagai negara miskin dan terbelakang di dunia, sehingga Indonesia tak pernah menjadikan India sebagai patner dalam menggapai pembangunan yang lebih maju lagi. Adalah sangat wajar bila kunjungan Presiden SBY tersebut jadi tak istimewa bagi media dan masyarakat India. Itu semua merupakan konsekwensi dari sikap pemerintah Indonesia pada era Presiden Soeharto dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, mayoritas masyarakat India hanya mengenal Bali yang merupakan destinasi wisata serta Aceh yang merupakan wilayah konflik yang kemudian dihantam oleh badai tsunami. Mereka tak mengenal Indonesia, padahal kedua wilayah di atas (Bali dan Aceh) merupakan bagian dari Negara Kesatuan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suramnya wajah pendidikan di Indonesia juga merupakan konsekwensi dari hasil pendidikan yang diterima oleh menteri pendidikan beserta pengelola pendidikan pada era Presiden Soeharto dulu. Dan kusutnya muka Indonesia di panggung internasional saat ini juga merupakan konsekwensi dari pendidikan yang diraih oleh Presiden SBY dan Wapres JK pada duapuluh tahun atau tigapuluh tahun yang lalu. Kalaulah seandainya pendidikan di Indonesia sudah mapan sejak duapuluh tahun atau tigapuluh tahun yang lalu, bisa dipastikan bahwa Indonesia yang saat ini dinahodai oleh Presiden SBY dan Wapres JK sudah menjulang tinggi, dan Indonesia tak perlu lagi meminta-minta bantuan kesana-kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk disebutkan disini bahwa Presiden India, Dr. APJ. Abdul Kalam dalam setiap kesempatan selalu mengungkapkan kepada rakyatnya akan pentingnya arti pendidikan bagi anak-anak yang saat ini masih pada usia Sekolah Dasar (SD). Abdul Kalam sadar betul bahwa wajah India duapuluh tahun atau tigapuluh tahun mendatang berada di pundak anak-anak yang saat ini masih pada usia SD tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Abdul Kalam adalah seorang ilmuan yang memiliki visi yang tajam dan jauh kedepan. Ia berasal dan dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin. Tak heran bila seluruh hari-harinya ia curahkan untuk memajukan bangsa dan negaranya. Menurut Abdul Kalam, pendidikan adalah sarana yang paling ampuh dan paling jitu untuk memperbaiki kehidupan. Walaupun India masih dianggap miskin materi, tapi India harus kaya sumber daya manusia (SDM) yang bisa dipertanggungjawabkan. Bila masyarakat suatu bangsa sudah memiliki SDM yang mantap, maka kekayaan materi itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Presiden SBY atau Wapres JK yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang sudah mapan, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah pada zaman orde baru (Orba) yang memanjakan bangsa Indonesia dengan pembangunan infrastruktur, akan tetapi tidak diimbangi dengan pembangunan SDM yang kokoh, hingga akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin Indonesia yang cengeng dalam menghadapi kritikan, walaupun kritikan yang disampaikan itu didukung oleh data-data yang valid dan realita yang terjadi di tengah-tengah rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY dan Wapres JK tak perlu menangisi berbagai kritikan yang disampaikan tersebut, karena kritikan rakyat itu juga merupakan salah satu agenda pemerintah RI yang harus diselesaikan. Semestinya Presiden SBY dan Wapres JK harus menerima kritikan dari rakyat Indonesia dengan lapang dada dan dengan tangan terbuka. Kritikan atau masukan -apapun bentuknya- merupakan salah satu konsekwensi dari tingginya jabatan yang SBY dan JK sandang saat ini. Bila Presiden SBY dan Wapres JK tak siap diterpa badai kritikan yang dihembuskan oleh rakyat Indonesia, itu artinya Presiden SBY dan Wapres JK telah menginkari amanah konsekwensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu saya mengingatkan Presiden SBY dan Wapres JK, daripada mengingkari amanah konsekwensi, lebih baik Presiden SBY dan Wapres JK kembali menjadi rumput bersama-sama dengan kami. Dengan menjadi rumput yang rendah ini (baca: rakyat), niscaya Presiden SBY dan Wapres JK tak lagi diterpa badai kritikan. Hanya saja, kita harus siap dan tahan untuk diinjak-injak orang. Kritikan atau injakan orang lain, kedua-duanya adalah sebuah konsekwensi sekaligus sekuntum bunga yang menemani perjalanan kita dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia yang hanya sementara dan fana ini. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh India; berasal dari Riau.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113483510961955584?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113483510961955584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113483510961955584' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113483510961955584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113483510961955584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/12/presiden-dan-wapres-inkari-amanah.html' title='Presiden dan Wapres Inkari Amanah Konsekwensi'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113282152161841919</id><published>2005-11-24T00:26:00.000-08:00</published><updated>2005-12-06T07:25:01.780-08:00</updated><title type='text'>Jendela Indonesia, Ujung Lidah Negara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT mengikuti mata kuliah Hukum Internasional di Department of Political Science, Aligarh Muslim University, India, saya ditanya oleh dosen tentang bagaimana seharusnya proses perekrutan seorang calon diplomat yang akan ditugaskan di lembaga perwakilan di luar negeri. Jawaban saya ketika itu, &lt;em&gt;“The recruitment of representative should be on the basis of his ability not of a “recommendation”, also the recruitment itself has to be conducted transparently”&lt;/em&gt;. Dosen saya tersebut langsung tersenyum sambil bilang, &lt;em&gt;“It seems the recruitment of the representative of diplomatic agency in your country run not transparent and the value of a letter of recommendation is still high”.&lt;/em&gt; Saya tersipu malu karena saya telah membongkar aib negara sendiri. Tapi memang begitulah kenyataan yang terpampang di depan mata kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Membaca berita tentang tindakan kejahatan korupsi yang dilakukan oleh pejabat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Stockholm, Swedia yang dimuat oleh Gatra Nomor 50 edisi 24 Oktober 2005, bagi saya bukanlah hal yang aneh. Sebab saya melihat bahwa peluang untuk melakukan korupsi itu memang terbuka lebar, mengingat letak dan posisi KBRI memang berada di luar negeri, dan media massa kita juga sangat jarang memuat berita mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di KBRI atau lembaga perwakilan RI di luar negeri itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Minimnya pengetahuan mayoritas masyarakat kita mengenai urusan atau hal-hal yang berkenaan dengan kebijakan luar negeri Indonesia menyebabkan media massa kita sepertinya menganggap bahwa urusan yang berkaitan dengan KBRI bukanlah issue atau topik yang menarik untuk diketengahkan di khalayak ramai. Dan kesempatan ini pulalah yang menurut saya sangat berperan sekali dalam membuka kran peluang untuk melakukan tindakan kejahatan yang bernama korupsi di KBRI tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bila kita berbicara mengenai KBRI, berarti kita juga sedang membicarakan diplomat. Sebelum melangkah lebih jauh perkenankan saya memberikan pengertian mengenai diplomat ini. Mungkin ada diantara kita yang bertanya, siapakah diplomat itu? Diplomat itu adalah duta negara atau utusan negara yang ditugaskan ke negara lain sebagai representatif atau untuk merepresentasikan negara yang telah mengutusnya. Seorang diplomat tak hanya dituntut untuk menjalin kerjasama yang baik dengan negara dimana ia ditugaskan, akan tetapi seorang diplomat tersebut juga memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk membangun hubungan yang baik dengan para duta dari negara lain yang ditempatkan di negara yang sama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kata diplomat itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘diploma’ yang maknanya adalah &lt;em&gt;“a letter folded double”&lt;/em&gt; atau utusan negara yang mengemban tugas ganda. Dan diplomat itu sendiri merupakan pelaku diplomasi. Sedangkan diplomasi tersebut merupakan sebuah seni negosiasi atau suatu bentuk manajemen hubungan internasional yang ditempuh melalui jalur negosiasi. Berdasarkan Perjanjian Vienna (Vienna Convention) tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik dimana didalam pembukaannya disebutkan mengenai keharusan untuk menjalankan perjanjian internasional tentang hubungan diplomatik ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;ara diplomat memperoleh hak istimewa dan kebebasan yang nantinya diharapkan dapat membuahkan hubungan yang baik antara kedua negara dimana konstitusi dan kondisi sosial masyarakat kedua negara tersebut berbeda. Berbagai hak istimewa dan kebebasan serta kemudahan yang diberikan kepada para diplomat tersebut adalah untuk melancarkan tugasnya dalam menjalankan fungsi dan misi diplomatik sebagai utusan negara, bukan hanya sekedar untuk meraup kepentingan pribadinya semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kongres Vienna tahun 1815 telah memutuskan bahwa representatif diplomatik dibagi kedalam tiga tingkatan. Namun pada Kongres Aix-lachapelle tahun 1818 ditambahkan satu tingkatan lagi. Berdasarkan tingkatan jabatan senioritas, diplomat tersebut dapat diurut sebagai berikut: &lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Ambassadors &lt;/em&gt;(Duta Besar),&lt;em&gt; Papal Legates and Nuncios.&lt;/em&gt; – Mereka ini merupakan representatif kepala negara yang telah mengangkatnya dan kepadanya dianugerahi kehormatan khusus. Setelah tiba di negara tempat mereka ditugaskan, mereka ini akan menyerahkan Surat Kepercayaan yang diberikan kepada mereka tersebut kepada negara tempat mereka ditugaskan. Mereka memiliki hak istimewa untuk berkomunikasi langsung dengan kepala negara atau kepala pemerintahan setempat. Kepada mereka ini juga dianugerahi gelar &lt;em&gt;“Excellency”.&lt;/em&gt; Adapun duta atau diplomat yang diutus oleh Holy See dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;Papal Legates &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt; Nuncios.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Ministers Plenipotentiary and Envoys Extraordinary&lt;/em&gt; atau Duta Berkuasa Penuh dan Utusan Luar Biasa. – Mereka ini bukan merepresentasikan atau mewakili kepala negara. Mereka ini memperoleh kesempatan untuk melakukan pertemuan pribadi dengan kepala negara setempat pada saat mereka menyerahkan Surat Kepercayaan dari Negara yang mengutusnya begitu tiba di negara tempat mereka ditugaskan. Mereka menerima gelar &lt;em&gt;“Excellency”&lt;/em&gt; hanya sebagai bentuk penghormatan saja. &lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Ministers Resident&lt;/em&gt;. – Mereka ini juga diberi tugas sebagai duta negara. Dan posisinya berada dibawah &lt;em&gt;Ministers Plenipotentiary and Envoys Extraordinary&lt;/em&gt;. Mereka tidak berhak menyandang gelar &lt;em&gt;“Excellency”&lt;/em&gt; meskipun hanya sebagai bentuk penghormatan. Tingkatan yang ketiga ini ditambahkan pada tahun 1818.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Keempat,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Charges d’Affaires.&lt;/em&gt; – Mereka ini tidak dilantik atau diangkat oleh kepala negara yang kemudian akan bertemu pula dengan kepala negara tempat ia ditugaskan. Mereka ini diangkat oleh Menteri Luar Negeri (Menlu), dan mendapat kesempatan untuk melakukan pertemuan dengan Menlu setempat pada saat mereka menyerahkan Surat Kepercayaan dari Menlu yang mengangkatnya atau melantiknya pada saat mereka tiba di negara tempat mereka ditugaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sebagai duta negara, seorang diplomat dituntut untuk menjalankan fungsinya sebagai ujung lidah negara, ia memiliki hak untuk memberikan interpretasi mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh negaranya. Diplomat juga harus selalu menyampaikan informasi seputar perkembangan mutakhir yang terjadi di belahan dunia kepada negaranya asalnya. Diplomat berkewajiban untuk membangun dan menciptakan hubungan yang baik antara negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan, menciptakan dan membangun imej positif negara sehingga negara tersebut berhak untuk dihormati oleh negara lain. Pada dasarnya, fungsi dan tugas diplomat itu ada empat: &lt;em&gt;pertama,&lt;/em&gt; sebagai representatif; &lt;em&gt;kedua,&lt;/em&gt; sebagai negosiator; &lt;em&gt;ketiga,&lt;/em&gt; sebagai informan; &lt;em&gt;keempat,&lt;/em&gt; melindungi negara atau menjaga nama baik negaranya sekaligus melindungi dan menjaga warga negaranya yang berada di luar negeri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Hanya saja kenyataan yang sering saya lihat di lembaga perwakilan RI di negara tempat saya belajar saat ini, dan kemungkinan besar juga terjadi di seluruh lembaga perwakilan RI yang lain bahwa diplomat kita sangat jarang yang saya temukan mampu mengkounter pemberitaan miring mengenai Indonesia. Bahkan yang membuat saya tak habis berpikir adalah mengapa di lingkungan lembaga perwakilan RI ini, pembangunan tiada henti-hentinya. Tak jarang pula saya mendengar bahwa di lingkungan lembaga perwakilan RI itu juga sering terjadi pergantian perangkat atau peralatan yang sebenarnya belum perlu untuk diganti dan masih pantas untuk digunakan. Sudah jelas, dalam setiap pengeluaran dana yang dikeluarkan oleh lembaga perwakilan RI itu &lt;em&gt;mark-up&lt;/em&gt; terjadi. Dan &lt;em&gt;mark-up&lt;/em&gt; anggaranpun akan terjadi secara besar-besaran pula. Apakah pemandangan yang semacam ini sudah lazim terjadi di semua lembaga perwakilan RI kita tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Disisi lain, suatu kalimat yang sering terdengar di lingkungan mahasiswa dan mahasiswi kita adalah bahwa pekerjaan diplomat yang ada di lembaga perwakilan tersebut hanyalah menggunting kertas saja. Maksudnya adalah diplomat kita tidak pernah memperlihatkan interestnya untuk bersosialiasi ke lembaga-lembaga terkait di negara tempat ia ditugaskan sesuai dengan jabatannya di lembaga perwakilan itu. Sedangkan para stafnya hanya memilah-milah berita yang ada di koran-koran dan selanjutnya dijadikan sebagai bahan laporan ke Jakarta. Karena itu, pekerjaan diplomat yang kita ketahui hanyalah menggunting kertas semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kita menginginkan seorang diplomat yang aktif dan kreatif. Sebagai contoh, seorang diplomat yang membidangi pendidikan hendaknya bisa membangun hubungan yang baik dan kerjasama pendidikan dengan setiap lembaga pendidikan yang ada di negara tempat ia ditugaskan itu. Atau, diplomat tersebut minimal bisa membangun hubungan yang baik dengan setiap lembaga pendidikan yang disitu terdapat mahasiswa dan mahasiswi Indonesia. Karena dengan demikian apapun persoalan yang dihadapi oleh para pelajar kita di lembaga pendidikan tersebut, tentunya persoalan itu akan cepat dapat diatasi. Begitu pula dengan diplomat yang membidangi bagian-bagian lainnya. Kiranya mereka mampu meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan antar negara yang mengutusnya dengan negara tempat ia ditugaskan, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi-informasi, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kita semua sudah sama-sama memaklumi bahwa lembaga perwakilan RI itu merupakan cermin bagi negara dan masyarakat dimana lembaga perwakilan RI itu berada untuk melihat Indonesia secara dekat. Sebagai contoh, bila seseorang itu mau merasakan masakan Indonesia, maka datanglah ke restoran Indonesia atau ke kantin Indonesia. Atau bila seseorang itu ingin mendengarkan bahasa Indonesia, maka datanglah ke lembaga perwakilan RI. Begitu juga jika ingin melihat lingkungan Indonesia, maka kunjungilah lembaga perwakilan RI. Bersih atau tidaknya lingkungan Indonesia, bisa dilihat dari lingkungan lembaga perwakilan RI. Karena memang lembaga perwakilan RI merupakan cermin untuk melihat wajah Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Keberadaan lembaga perwakilan RI itu sangat penting sekali. Oleh karena itu, seorang diplomat yang ditugaskan juga haruslah diplomat yang bertanggungjawab. Untuk mendapatkan diplomat yang bertanggung jawab terhadap tugas dan fungsinya, maka Depertemen Luar Negeri (Deplu) harus melakukan penerimaan calon diplomat secara transparan. Penerimanan tersebut juga harus berdasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh calon diplomat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Sudah bukan masanya lagi menerima seorang calon diplomat itu berdasarkan sepucuk “surat ajaib” atau selembar surat rekomendasi. Seseorang yang diterima disebuah instansi atau lembaga berdasarkan “surat ajaib” biasanya merasa kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan fungsinya. Hal ini bisa terjadi karena yang memberikan rekomendasi tentunya seorang pejabat yang juga berpengaruh di lingkungan instansi atau lembaga tersebut. Karena itu, di Deplu jangan sampai terjadi jabatan diplomat dijadikan sebagai warisan turun-temurun. Deplu juga harus bisa memilih dan menerima calon diplomat yang visioner. Selanjutnya Deplu bertanggungjawab untuk memberikan pendidikan yang benar-benar menyentuh dengan keperluan dan kebutuhan diplomat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Disisi lain Deplu juga dituntut tegas untuk menarik kembali diplomat yang tidak berkompeten dan tidak menjalankan tugas dan fungsinya secara profesional. Deplu harus memantau langsung kinerja para diplomat di lembaga perwakilan RI tersebut. Jadi, Deplu tidak hanya menunggu laporan saja. Tak kalah pentingnya, media massa juga memiliki peranan yang cukup besar dalam menciptakan lembaga perwakilan RI yang bersih dari tindakan korupsi serta menjadikan lembaga perwakilan yang benar-benar bisa menjadi jendela Indonesia serta ujung lidah negara. []&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India; Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113282152161841919?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113282152161841919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113282152161841919' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113282152161841919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113282152161841919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/11/jendela-indonesia-ujung-lidah-negara.html' title='Jendela Indonesia, Ujung Lidah Negara'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113281825302489104</id><published>2005-11-23T23:29:00.000-08:00</published><updated>2005-11-23T23:44:22.180-08:00</updated><title type='text'>Menolak Kritikan: Pengkhianatan Intelektualitas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA tulisan saudara Lukman Nul Hakim, yang selanjutnya saya singkat LNH "Memberi Kritik" yang dimuatnya di milis [ppi-india] pada tanggal 19/11/2005, di satu sisi saya sepakat dengan apa yang telah disampaikannya tersebut, namun di sisi lain saya juga tidak sepaham dengan opini yang ditawarkan oleh LNH ini. Kesepakatan saya tersebut bisa dilihat pada pernyataan LNH bahwa &lt;em&gt;"sahabat yang baik seharusnya tidak membiarkan kawannya berjalan dijalur yang salah"&lt;/em&gt;. Di sini saya sangat sepaham sekali. Bahkan menurut saya, seseorang itu belum bisa disebut sebagai kawan sejati bila ia hanya terus-menerus memberikan pujian tapi tak pernah memberikan kritikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam tulisannya, LNH telah memberikan beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam memberikan kritikan. Tujuan dari langkah-langkah yang telah ditawarkan itu tentunya untuk menghindari &lt;em&gt;miscalculation &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; misunderstanding&lt;/em&gt; antara yang menerima kritikan dan yang memberikan kritikan. Bagi si pengkritik, tujuannya menyampaikan kritikan itu mungkin "suci", yaitu agar yang dikritisi itu berubah, tentunya berubah menuju ke arah yang lebih baik lagi. Hanya saja, berapa banyak hubungan antara pengkritik dengan yang dikritisi menjadi retak, hanya karena kesalahan si pengkritik yang tidak memandang tempat dan waktu ketika menyampaikan kritikannya serta yang lebih berbahaya lagi, yaitu karena ketidaksiapan yang dikritisi dalam menerima kritikan itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang ditawarkan oleh LNH , yaitu agar &lt;em&gt;'memberikan pujian didepan banyak orang, tetapi memberi kritikan ketika tidak ada orang'&lt;/em&gt; dalam pandangan saya hanya berlaku untuk seorang " kawan sejati" saja, tapi kiat ini tentunya sudah tak berlaku lagi bila " kawan sejati" tadi telah menjelma menjadi seorang public figur. Sebagai contoh, saudara adalah kawan sejati saya. Kemudian saudara menjadi seorang ketua organisasi. Saat anda masih berstatus kawan sejati saya, saya biasa mengkritisi "kepribadian saudara" secara &lt;em&gt;face to face&lt;/em&gt;. Di sini anda masih bisa menerima kritikan dari saya. Nah, setelah saudara menjadi seorang ketua organisasi, tentunya saudara bukan hanya menjadi kawan sejati saya saja, tapi saudara juga sudah menjadi kawan sejati banyak orang dan status saudarapun berubah menjadi public figur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala saudara menjadi seorang public figur dan saya tetap harus menyampaikan kritikan saya mengenai "kepemimpinan saudara", maka dalam kondisi seperti ini, saya harus menyampaikan kritikan itu secara terbuka. Hal ini saya lakukan karena kesempatan kita untuk saling bersua secara &lt;em&gt;face to face&lt;/em&gt; seperti saat kita masih ber" kawan sejati" itu sudah berkurang atau bahkan sudah tidak ada lagi. Hal penting yang harus saudara ingat dan saudara pahami adalah bahwa pada saat kita berkawan sejati dulu yang saya kritisi adalah "kepribadian saudara", dan pada saat saudara sudah menjelma menjadi seorang public figur, maka yang saya kritisi adalah "kepemimpinan saudara". Kenyataan yang sering terjadi di tengah-tengah kehidupan dan lingkungan sekitar kita memperlihatkan bahwa cukup banyak pemimpin kita, ketua organisasi kita, tokoh atau public figur di negara kita ini yang tidak siap menerima kritikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kita menyampaikan kritikan mengenai gaya atau sikap kepemimpinan seorang ketua yang telah berubah menjadi seorang public figur itu, kritikan tersebut masih dikira dan dianggap menyerang kepribadiannya. Jiwa kepemimpinan seorang tokoh atau ketua yang semacam ini saya sebut sebagai "Jiwa Agar-agar". Saya yakin saudara pernah mendengar nama kue agar-agar ini. Rasanya enak, tapi sulit untuk digenggam. Seorang pemimpin yang memiliki "jiwa aga-agar" enak diajak berbicara, tapi sulit untuk diajak untuk berkomunikasi serta bertukarpikiran. Pemimpin atau ketua yang "berjiwa agar-agar" sulit untuk menerima masukan serta kritikan dari orang lain, sebab pemimpin atau ketua tersebut merasa bahwa ia memiliki otoritas penuh untuk mengeluarkan suatu kebijakan atau peraturan tanpa pernah memandang aspirasi dari pihak lain yang merupakan bawahannya atau anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada langkah yang kedua, LNH menulis, &lt;em&gt;"Ingat selalu rumus '3 - 1'. Jika anda ingin mengkritik orang maka berilah ia pujian 3 kali, baru kemudian kritik satu kali".&lt;/em&gt; Pada poin ini, saya juga tidak sepakat sepenuhnya dengan tawaran LNH tersebut. Menurut saya, hanya seorang yang “berjiwa agar-agar” saja yang bisa menerima dan sepakat dengan langkah kedua yang diketengahkan oleh LNH itu. Bila kita membaca sejarah orang-orang besar, F.W. Taylor, seorang pakar Public Administrasi, misalnya, dimana pendapatnya yang mengatakan bahwa "manusia itu pada dasarnya dilahirkan dengan membawa sifat malas dan itu alami adanya" dikritisi oleh pihak lain, apakah Taylor marah dan kemudian menjadikan Taylor "berjiwa agar-agar?" Tidak, Taylor bukanlah orang yang "berjiwa agar-agar". Taylor memperlihatkan bahwa ia adalah orang yang berjiwa tegar dan berjiwa besar dalam menerima kritikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain tak usah jauh-jauh, bila kita selalu membaca dan mau memperhatikan "Mukaddimah" sebuah buku, biasanya penulis buku tersebut mengakhiri Mukaddimahnya dengan meminta saran dan kritikan dari para pembaca demi peningkatan mutu dan kualitas tulisannya pada terbitan berikutnya. Ini artinya, hanya orang-orang yang berjiwa besar yang berani meminta dan siap menerima kritikan itu, apapun bentuknya. Sampai hari ini, saya belum pernah menemukan ada penulis sebuah buku yang meminta dipuja dan dipuji mengenai hasil karyanya itu. Hanya mereka yang berjiwa besarlah yang siap menerima kritikan. Dan memang "orang besar" selalu memiliki "jiwa besar", bukan memiliki "jiwa agar-agar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian tak selamanya menjadikan pihak yang dipuji itu menjadi maju dan berkembang, dan bahkan bagi mereka yang "belum siap" untuk dipuji, bisa membuat pujian itu sebagai jurang menuju ke lembah kemunduran bagi yang dipuji. Dan begitu pula, tak selamanya kritikan itu membuat yang dikritisi menjadi hina dan wibawanya hilang karena kritikan itu tadi. Sebab bagi sebagian orang, tentunya bagi mereka yang hendak menjadi "orang besar", kritikan adalah cambuk sekaligus jembatan atau titian menuju ke puncak kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada langkah ketiga, LNH menulis&lt;em&gt; "Katakan dengan bahasa yang tidak menyakitkan hati. Katakan dengan bahasa yang tidak menghakimi, halus dan sopan".&lt;/em&gt; Disini lagi-lagi saya ingin menyampaikan bahwa poin ini hanya berlaku untuk " kawan sejati" serta bagi mereka yang "berjiwa agar-agar". Bagi seorang yang berjiwa besar, apapun bentuk kritikan tersebut akan diterimanya dengan lapang dada. Saudara mungkin masih ingat bagaimana sikap Megawati Sukarno Putri pada saat menjadi presiden dan sebagai bentuk kritikan terhadap pemerintahannya, gambar Megawati yang masih "manis" itu dibakar oleh mahasiswa. Megawati tak bisa menerima kenyataan itu. Tapi pernahkan saudara tahu bagaimana sikap Sonia Gandhi ketika gambarnya dibakar dan diinjak-injak oleh kaumnya? Sonia Gandhi tak pernah memperlihatkan sikap kekecewaannya, namun sebaliknya Sonia Gandhi terus menata dan memperbaiki kepemimpinannya sekaligus membawa masyarakatnya untuk bersama-sama mencapai "India Shining" di pentas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada langkah keempat dari tawaran LNH tersebut, saya jadi teringat dengan salah satu bait lagu Nawal Al-Zoughbi yang artinya begini, "Introspeksi diri anda dulu sebelum anda mengintrospeksi diri orang lain". Saudara LNH mungkin lupa dengan ayat Allah SWT yang mengajarkan manusia ini untuk saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam berbuat kesabaran. Kalimat "saling menasehati" bagi saya dapat diimplementasikan dalam bentuk saling mengkritisi. Bila saudara melihat sesuatu yang perlu saudara kritisi tentang kepribadian atau kepemimpinan saya, silakan saudara kritisi. Dan begitu pula sebaliknya, saya akan mengkritisi kepribadian atau kepemimpinan saudara kalau itu memang perlu untuk dikritisi. Sebab tanpa pernah dikritisi oleh orang lain, kita akan selalu merasa benar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada langkah terakhir LNH menulis, &lt;em&gt;"Beberapa individu atau beberapa orang dari daerah tertentu cenderung terbiasa dengan kata-kata yang halus, pilihan kata yang menurut kita 'biasa' untuk orang dari komunitas kita belum tentu biasa untuk orang lain&lt;/em&gt;". Pada poin ini, lagi-lagi saya ingin menyatakan bahwa langkah ini hanya berlaku untuk "kawan sejati" saja. Bila ia sudah menjadi seorang pemimpin atau public figur, maka ia harus bisa menerima segala macam bentuk kritikan. Sebab seorang pemimpin atau seorang ketua harus memahami bahwa orang yang sedang dipimpinnya itu berasal dari beragam suku dan budaya. Dengan demikian, cara penyampaian kritikan pun nantinya akan beraneka dan beragam pula. Itulah sebabnya seorang pemimpin dituntut untuk tidak "berjiwa agar-agar", tapi harus berjiwa besar dan selalu berlapang dada. Pernahkah kita menyadari bahwa Rasulullah SAW dikagumi oleh makhluk di langit dan di bumi, tentunya tidak lain dan tidak bukan karena kebesaran jiwa dan sikapnya yang selalu berlapang dada dalam menerima hinaan, cobaan, kritikan baik dari kawan maupun dari lawannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan ini, saya menyampaikan terima kasih kepada saudara Lukman Nul Hakim, mahasiswa pascasarjana Psikologi di Jamia Millia Islamia, New Delhi, atas langkah-langkah dalam memberikan kritikan yang telah saudara paparkan. Dan saya hanya ingin mengatakan bahwa langkah-langkah itu sudah benar, tapi "kebenarannya" masih berada dalam "sub-folder" kebenaran, bukan berada pada "main folder" kebenaran. Sebagai Ustadz Dinamis, saya ingin menyampaikan bahwa tak ada gunanya kita membiarkan "jiwa agar-agar" tersebut bersemayam indah didalam diri kita. Saya juga menghimbau mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang merupakan insan akademis dan juga merupakan kaum intelektual untuk mampu memperlihatkan kebesaran jiwa kita dalam menerima berbagai kritikan dari orang lain. Mahasiswa dan mahasiswi itu adalah singa. Dan sudah bukan masanya lagi singa itu tidur dan cengeng bila dikritisi. Jadikan kritikan itu sebagai jembatan dan titian dalam menggapai kemajuan, sebab bila kita menolak kritikan, berarti kita telah melakukan pengkhianatan intelektualitas. Karena itu, bangunlah dan mengaumlah wahai singa-singa yang masih bermalas-malasan.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil&lt;/strong&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Pelajar asal Riau pada Department of Political Science di Aligarh Muslim University, India.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113281825302489104?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113281825302489104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113281825302489104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113281825302489104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113281825302489104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/11/menolak-kritikan-pengkhianatan.html' title='Menolak Kritikan: Pengkhianatan Intelektualitas'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113153070835637939</id><published>2005-11-09T01:57:00.000-08:00</published><updated>2005-11-09T02:07:37.373-08:00</updated><title type='text'>Apakah Kamu Tak Berpikir?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;BULAN Ramadhan sebagai bulan yang diagungkan oleh seluruh umat Islam dibelahan bumi manapun berakhir sudah. Ramadhan akan selalu datang setiap tahunnya, dan kemudian iapun akan kembali pergi meninggalkan kita. Ia datang kehadapan kita sembari menghidangkan rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan “belanga” ‘itqun min an-naar (pembebasan dari api neraka) dari Allah Ta’ala. Seluruh umat Islam yang sadar akan nikmatnya hidangan tersebut akan berlomba-lomba untuk menikmatinya. Dalam setiap khutbah, ceramah dan kuliah yang disampaikan oleh muballigh-muballighat dalam rangka menyambut kehadiran bulan Ramadhan selalu disampaikan tentang berbagai kenikmatan yang ada di bulan Ramadhan tersebut. Nikmatnya hidangan Ramadhan dapat kita rasakan manakala kita menyadari betul betapa besarnya kasih sayang Allah Ta’ala kepada hambaNya sehingga ia mendatangkan Ramadhan dengan berbagai hidangan yang tak disediakan di bulan-bulan yang lain selain di bulan Ramadhan ini. Apakah kamu tak pernah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bulan Ramadhan 1426 H ini adalah bulan Ramadhan yang kelima bagi penulis selama di India. Dan sudah duapuluh enam kali pula Ramadhan yang penulis lalui sejak penulis dilahirkan pada Jum’at, 22 Dzulhijjah 1400 H. Penulis merasakan banyak perubahan dari tahun ke tahun dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan itu. Dulu, manakala penulis masih berumur 5 tahun, kedua orang tua serta kakek dan nenek penulis telah mengajarkan penulis untuk berpuasa yang dimulai sejak waktu Imsak hingga pukul 12.00 siang. Mungkin kedengaran aneh, tapi begitulah keluarga penulis mengajarkan penulis untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Dan didikan tersebut begitu terkesan bagi penulis hingga saat ini, apalagi di malam-malam bulan Ramadhan bapak selalu mengajak penulis untuk bersama-sama melaksanakan sholat tarawih yang kemudian diteruskan dengan tadarrus Al-qur’an di mesjid yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah penulis. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari ini sudah tak sama lagi dengan hari-hari penulis dua puluh tahun yang lalu, dimana saat ini urusan belajar sholat serta belajar membaca Al-quran sudah tak dipandang perlu lagi. Seorang anak akan dianggap ketinggalan zaman bila tak sukses dalam belajar ilmu matematika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu fisika serta tak menguasai bahasa asing seperti bahasa inggris. Tapi dianggap biasa saja bila si anak tak bisa sholat, tak bisa membaca Al-quran. Sayangnya banyak diantara orang tua si anak juga beranggapan sama, yaitu merasa tak perlu dengan urusan yang terakhir ini. Ada yang merasa perlu, tapi perasaan perlu tersebut dikalahkan pula oleh perasaan malu untuk belajar dan bertanya. Akhirnya, sampai kapanpun si anak tak akan pernah bisa untuk bisa sholat dan membaca Al-quran secara sempurna. Kesempatan untuk belajar dan bertanya itu ada, tapi sangat jarang diantara kita yang mampu menggunakan kesempatan itu. Ketahuilah bahwa kesempatan tak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Apakah kamu tak pernah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Perubahan-perubahan yang terjadi dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan itu terjadi karena memang penghayatan kita terhadap tingginya nilai dan keistimewaan bulan Ramadhan tersebut telah berkurang. Bagaimana mungkin kita merasa nikmat melaksanakan sholat sedangkan kita sendiri tak menguasai bacaan dan tata cara sholat secara benar? Bagaimana mungkin kita betah bertahan di mesjid atau di musholla, duduk bersama-sama bertadarrus Al-quran sedangkan kita tak bisa membaca Al-quran? Tak heran, bila mesjid hanya diisi oleh generasi-generasi ‘tempoe doeloe’ yang notabene mereka adalah orang-orang yang masih menyadari bahwa hidup ini harus seimbang, yaitu antara hidup di dunia dan hidup di akhirat kelak. Muncul pertanyaan, apakah generasi sekarang tidak menyadari tentang pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat? Penulis hanya ingin mengatakan bahwa setiap pribadi manusia sudah diberikan akal pikiran, apakah kamu tak pernah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pemandangan yang terjadi hari ini adalah tak jarang kita merasa resah dan gelisah ketika akan memasuki bulan Ramadhan. Kita selalu bertanya tentang apa yang harus menjadi perbukaan puasa kita hari ini, hari besok dan seterusnya. Sebaliknya kita benar-benar mencurahkan rasa kebahagiaan kita manakala bulan Ramadhan pergi meninggalkan kita yang kemudian disusul dengan tibanya bulan Syawal, bulan Idul Fitri atau hari-hari lebaran. Sebagai contoh dapat dilihat betapa seringnya kita bertanya tentang pakaian baru yang mana yang kira-kira pas untuk kita kenakan pada saat sholat Idul Fitri, saat bertamu ke rumah fulan dan ke rumah fulan. Kita sering terjebak kedalam kesalahan yang tanpa kita sadari dalam menempatkan rasa kebahagiaan. Tidakkah kita pernah membaca sejarah bagaimana para sahabat Rasulullah SAW, para ulama serta orang-orang shalih terdahulu itu begitu bahagianya menyambut kedatangan bulan Ramadhan dan begitu sedihnya mereka manakala bulan Ramadhan berakhir. Hal itu bisa terjadi karena mereka memang benar-benar merasakan nikmatnya hidangan yang tersedia di bulan Ramadhan itu. Apakah kamu tak pernah berpikir? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu kali penulis ditanya, “Setelah sekian lama anda merantau, apakah anda tak merasa rindu untuk berpuasa bersama-sama dengan keluarga anda?” Air mata penulis menetes tanpa disadari menghadapi pertanyaan ini. Yang membuat penulis merasa sedih adalah karena pertanyaan ini telah membuka kembali ingatan penulis tentang bagaimana indahnya masa-masa kecil penulis ketika memasuki bulan Ramadhan. Masa itu, sebelum bulan Ramadhan tiba, penulis bersama-sama dengan teman-teman sebaya sudah mempersiapkan mercun bambu serta lampu colok sebagai ciri khas tibanya bulan Ramadhan. Dan lentuman suara mercun bambu ini akan terdengar saling sahut-sahutan serta gemerlapnya cahaya lampu colok ini akan lebih meriah lagi terutama di malam tujuh liku atau malam keduapuluh tujuh Ramadhan. Sungguhpun demikian, sholat tarawih dan tadarrus Al-quran tetap tak ditinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hari ini anak-anak sudah tak tertarik lagi untuk beramai-ramai ke mesjid atau ke musholla untuk melaksanakan sholat tarawih, apalagi bertadarrus Al-quran. Bahkan sering pula ditemukan orang tua yang beranggapan bahwa kehadiran anak-anak ke mesjid hanyalah mengganggu ketenangan orang-orang yang sedang melaksanakan sholat. Padahal disinilah fungsi orang tua untuk menenangkan si anak bila si anak bermain-main manakala ibadah sholat sedang didirikan. Orang tua harus memberikan pemahaman kepada si anak bahwa tatkala sedang sholat, maka seluruh kegiatan bermain-main harus ditinggalkan terlebih dahulu. Kalaupun mereka bermain-main, itu adalah wajar, namanya juga anak-anak. Apakah kamu tak pernah berpikir?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Satu hal yang membuat penulis bersedih kembali setelah Ramadhan 1426 H ini berlalu adalah manakala penulis ditanya oleh salah seorang anak yang masih polos tentang mengapa penulis tak pernah lagi hadir untuk mengajarkan Iqra’ kepada mereka. Pertanyaan ini muncul tentunya karena didasari oleh minat mereka yang begitu kuat untuk bisa membaca Al-quran secara benar tentunya. Penulis merasa bahwa tanggung jawab penulis belum selesai. Penulis berdoa dan berharap kepada Allah Ta’ala semoga niat tulus mereka untuk mempelajari Al-quran tetap terus membara dan tak surut serta larut dibuai oleh gemerlapnya dunia yang begitu menggoda dan menggiurkan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Penulis berpesan kepada adik-adikku yang sudah memulai untuk belajar membaca Al-quran melalui Iqra’ agar tetap meneruskannya. Adik-adik tidak akan pernah rugi bila adik-adik mampu mengetahui tata cara sholat secara benar, adik-adik tak akan pernah rugi bila adik-adik mampu membaca Al-quran secara sempurna. Ingatlah bahwa penyesalan itu datangnya bukan hari ini, tapi besok lusa. Berapa banyak orang-orang yang ada di sekitar kita yang merasa malu untuk belajar kembali setelah tiba masa tua. Sebenarnya tak ada yang perlu dimalukan untuk belajar dan bertanya tentang hal-hal baik yang memang belum kita ketahui. Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan kita bahwa masa untuk belajar itu adalah sejak dari buaian hingga ke liang lahad. Adik-adik kita telah memperlihatkan minatnya untuk belajar tata cara sholat dan membaca Al-quran secara benar dan sempurna. Sekarang, bagaimana kita meresponnya? Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita supaya kita mempelajari Al-quran dan mengajarkannya kepada orang lain bila kita sudah mampu mengajarkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menjadikan adik-adik kita, anak-anak kita mampu mengetahui tata cara sholat serta membaca Al-quran secara benar bukan hanya menjadi tanggung jawab para guru agama, para ustadz, para kiyai, tapi ia merupakan tanggung jawab kita semua yang memang sudah mampu untuk mengajarkannya. Peranan serta respon positif kedua orang tua dalam menanggapi dan memenuhi keinginan anaknya tersebut sangat menentukan keberhasilan si anak dalam mempelajari ilmu Al-quran. Hati siapa yang tak bahagia melihat seorang anak mampu membaca Al-quran secara tepat. Kerinduan penulis terhadap masa-masa kecil penulispun turut terobati manakala penulis mendengarkan suara anak-anak melantunkan ayat-ayat Allah Ta’ala yang maha mulia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Akhirnya, dipertengahan malam yang sunyi sepi ini, penulis bermunajat kepada Allah Ta’ala semoga Allah Ta’ala mempertemukan penulis dengan seorang wanita yang dengannya dapat menjadikan penulis bersamanya mampu menjadi seorang ayah dan ibu  yang sadar akan tanggung jawabnya serta dapat menghantarkan kami dalam meraih ridhoNya. Ingatlah bahwa anak merupakan titipan Allah Ta’ala kepada kedua orang tua yang kelak di hari kiamat akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah kamu tak pernah berpikir? []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Alumnus Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi. Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113153070835637939?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113153070835637939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113153070835637939' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113153070835637939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113153070835637939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/11/apakah-kamu-tak-berpikir.html' title='Apakah Kamu Tak Berpikir?'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-113057028400194789</id><published>2005-10-28T23:19:00.000-07:00</published><updated>2005-10-29T00:18:04.036-07:00</updated><title type='text'>Hukum Itu Perawan Dan Tunanetra</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;BERBAGAI berita yang ada di tanah air saat ini cukup menyesakkan dada. Mulai dari kasus korupsi di lingkungan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung serta mafia peradilan dan jual beli perkara yang sudah menjadi rahasia bersama, naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) disaat masyarakat kita belum siap untuk menerimanya, meletusnya bom Bali jilid kedua, semuanya menandakan bahwa negara kita adalah negara yang tak bertuan dan tak memiliki pemimpin yang bisa diharapkan mampu membawa bangsa ini dalam menggapai kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dipilih oleh rakyat secara langsung setahun yang lalu, tanpaknya lebih cenderung untuk selalu meningkatkan popularitas serta membangung citra positif dirinya sendiri hingga akhirnya SBY terkesan sebagai figur kepala negara yang lamban dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Tak heran bila Jusuf Kalla (JK) sebagai Wakil Presiden terkesan selalu melangkahi berbagai keputusan yang seharusnya dikeluarkan oleh Presiden.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam sebuah wawancara langsung dengan salah satu stasiun Radio di Jakarta, saya ditanyai mengenai masalah mafia peradilan. Sebagai seorang mahasiswa ilmu politik, tentunya topik ini sangat menarik sekali bagi saya sebagai "pemain baru" di bidang atau di jurusan ilmu politik ini. Berbicara tentang peradilan berarti kita juga membicarakan masalah hukum. Pada saat wawancara itu berlangsung, saya mengatakan secara tegas bahwa hukum itu adalah perawan dan hukum itu juga buta atau tunanetra, artinya hukum itu tidak memiliki mata dan tidak bisa melihat, memilih dan memilah sebagaimana halnya manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebelum melangkan lebih jauh, saya ingin menyampaikan bahwa hukum itu adalah sejumlah aturan atau norma yang bisa diterima oleh masyarakat yang waras atau masyarakat yang sadar. Hukum juga merupakan suatu badan yang dikendalikan oleh manusia dan sekaligus sebagai tali pengikat antara satu sama lainnya dan sekaligus mencakup hubungan antar sesama manusia di dunia ini. Begitulah semestinya keberadaan hukum di negeri ini. Tapi untuk saat ini hukum hanya tinggal nama saja. Pelaksanaan dan penegakan hukum di negeri ini hanya gurauan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Terkuaknya kasus korupsi di lingkungan Mahkamah Agug baru-baru ini yang melibatkan nama ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan membuktikan bahwa hukum di negara kita sudah tak bisa lagi dijamin keabsahannya. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa hukum di Indonesia telah diperkosa dan dinodai oleh orang-orang yang seharusnya menjaga keperawanan hukum itu sendiri. Tapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, hukum telah ditelanjangi dan diperkosa oleh orang-orang hebat dan orang-orang berpangkat di negeri ini. Sungguh menjijikkan memang, tapi itulah kenyataan yang harus kita terima.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ketidakperawanan hukum di Indonesia itulah yang menyebabkan semua orang ingin merasakan untuk turut menodai hukum tersebut. Apabila para elit kita belum mampu menegakkan hukum itu secara benar, menjaga kemurnian hukum itu tanpa pernah menodainya, maka kita sebagai masyarakat awam tak bisa berharap banyak untuk merasakan tegaknya hukum di Indonesia secara sempurna. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan hukum itu tegak dan berjalan secara sempurna, sedangkan para pembuat hukum itu sendiri bersama para elit di negeri ini masih tetap saja melacuri hukum tersebut. Adalah wajar bila hukum memandang sama antara pejabat dan penjahat. Sebuah hukum yang sudak tak perawan lagi, tak akan bisa tegak dan berjalan secara sempurna.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selain hukum yang sudah tidak perawan lagi, hukum di Indonesia juga memiliki mata seperti manusia. Seperti yang saya katakan di muka tadi, bahwa seharusnya hukum itu tetap tunanetra atau buta. Sampai kapanpun hukum tak akan pernah bisa melihat sebagaimana manusia. Akan tetapi hukum di Indonesia memiliki mata, sehingga hukum tersebut bisa melihat serta memilah-milah mana pejabat dan mana yang bukan pejabat. Hukum di negeri kita mampu membedakan mana orang berduit dan mana orang yang tak berduit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Maraknya mafia peradilan karena hukum di Indonesia ini bisa melihat, sehingga bagi mereka yang memiliki uang yang banyak, mereka tak akan segan-segan untuk mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan perkaranya di lembaga peradilan. Mereka tak segan-segan untuk mengucurkan sejumlah uangnya hanya demi memuluskan perkaranya di lembaga peradilan itu. Praktek menyuap-disuap inilah yang kemudian menjadikan keputusan di lembaga peradilan itu menjadi tak otentik dan tak bisa dijadikan pedoman lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hukum yang sudah tidak perawan dan hukum yang sudah bisa melihat ini menjadikan masyarakat kelas bawah dan tidak memegang kekuasaan secuilpun semakin hari semakin tertindas. Bayangkan, seorang koruptor kelas berat yang sudah jelas-jelas menyengsarakan bangsa ini bebas-bebas saja berkeliaran di negeri ini. Bukan berarti mereka tak pernah masuk ke lembaga peradilan, namun karena koruptor kelas berat di negeri ini sudah bermain mata dengan mereka yang ada di lembaga peradilan tadi, maka jadilah koruptor itu kembali bebas seperti semula. Uang telah menjadikan para penegak hukum menjadi buta dan tuli. Ia buta karena tak bisa membedakan mana pejabat dan mana penjahat. Ia tuli karena tak bisa lagi mendengarkan mana yang benar dan mana salah, mana yang hak dan mana yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Untuk mengembalikan keperawanan hukum itu serta menjadikan hukum itu tetap tunanetra, kita membutuhkan pemimpin yang berani memulai untuk tidak menodai hukum tersebut. Kemudian, kita juga membutuhkan orang-orang yang berani mempertaruhkan jabatan dan nyawanya dalam mengungkap segala macam bentuk pelangggaran terhadap hukum. Sebagai contoh, kita harus tetap memberikan dukungan kepada Khairiansyah Salman yang pada akhirnya menyeret ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Nazaruddin Syamsuddin dan anggotanya ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kita juga memerlukan orang-orang yang berani memberangus segala macam bentuk pelanggaran terhadap hukum tanpa pernah menjadikan hukum itu seperti manusia yang mampu melihat. Dalam hal ini, ketua KPK, Taufiqurrahman Ruki dapat kita jadikan sebagai contoh yang patut untuk diikuti dalam rangka memberangus tindakan korupsi. Sebagai bangsa Indonesia yang sedang dilanda berbagai kesulitan hidup yang begitu kompleks, hukum yang sudah tidak lagi tegak dan berjalan secara sempurna, meningkatnya harga BBM yang menyebabkan meningkatnya harga kebutuhan primer yang lainnya, peledakan bom yang tiada henti-hentinya, serta muramnya wajah Indonesia di panggung internasional, sudah semestinya kita dapat memetik hikmah dan pelajaran dari beraneka ragam kejadian yang pernah terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bangsa Indonesia pernah memiliki presiden Suharto, Bapak Pembangun KKN di Indonesia, bangsa Indonesia juga memiliki orang cerdik seperti Akbar Tandjung, bangsa Indonesia juga memiliki orang terdidik seperti Nazaruddin Syamsuddin, meskipun pada awalnya mereka ini disanjung-sanjung, tapi pada akhirnya masyarakat Indonesia tidak akan pernah puas melihat tindakan mereka sampai (sepertinya) mereka ini menerima hukuman gantung. Disisi lain, bangsa Indonesia juga memiliki Taufiqurrahman Ruki yang berani memberangus korupsi bahkan di level atas sekalipun, bangsa Indonesia juga memiliki Khairiansyah Salman, seorang manusia biasa yang berani meletakkan jabatannya dan menyerahkan nyawanya kalau memang itu yang diminta kepadanya demi menegakkan kebenaran. Kita tinggal memilih, siapakah yang pantas untuk kita tiru dalam menegakkan hukum di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menjadikan penjahat sebagai idola dalam hidup kita, berarti kita membantu meruntuhkan dan mencemari hukum di negeri kita sendiri. Namun, bila kita menjadikan orang-orang yang berani dalam mengungkapkan kebenaran sebagai idola dalam hidup kita berarti kita telah membantu menjaga keperawanan hukum di Indonesia dan juga turut menjadikan hukum untuk akan tetap tunanetra selamanya. Sebagai bangsa Indonesia, pada hakikatnya kita adalah sama dan setara. Hukum tak boleh membeda-bedakannya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-113057028400194789?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/113057028400194789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=113057028400194789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113057028400194789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/113057028400194789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/10/hukum-itu-perawan-dan-tunanetra.html' title='Hukum Itu Perawan Dan Tunanetra'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-112194756838814555</id><published>2005-07-21T04:50:00.000-07:00</published><updated>2005-08-05T08:04:32.216-07:00</updated><title type='text'>Personal Agenda of Riau’s Student</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; born on Friday, 22 Dzulhijjah 1400 H was awarded a B.A (Hons.) degree in Islamic Studies from the University of Jamia Millia Islamia, New Delhi in 2004. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Before leaving home for India in 2001, I was completed my Senior Secondary School at Pondok Pesantren Dar El-Hikmah, Pekanbaru and my Junior High School at MTs. Mu’allimin and my Elementary School at SDN No.024 Rantau Panjang Kiri. The last both still in Kecamatan Kubu, my homevillage in the Province of Riau. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;On 15 August 2002, I was elected as a president of Indonesian Students’ Association in India for period 2002-2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My agenda launched and released below is dedicated to my beloved one who wants to know more about myself personally. The source of answers in the interview is truly based on from the deeply of my heart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here, everyone are welcoming to visit all the corners of my personal blog at www.e-tafakkur.blogspot.com. And then have a nice journey for reading my personal agenda … … …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;What is your idea of perfect happiness?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;I do what I love and I love what I do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;The most impressive moment of your life?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;My first sight to twin minars of Masjidil Haram and Ka’bah in the bright night of Friday respectively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;What is your greatest extravagance?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Books, mostly religious books. Once in my early days in India, I spent about Rs.5.000 (now about Rp.1.000.000) in one day at a bookshop in New Delhi. I also have spent RSA. 814 (about Rp.3.000.000) for books in a bookshop “Maktabah Islami al-Asadi” in Mekkah Al-Mukarromah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;In one line, describe your self …&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Arrogant, ambitious, humorous and sensitive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Your life’s mantra …&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;I love and care to whom who has a sense of loving and caring to the childs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Your life’s motto …&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;I am coming to take on, going back to bring out then being a companion in my life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;People/things closest to your heart?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;My beloved mom, my dad, my grandmas and my grandfas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;If you could change one thing about your self, what would that be?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;My Shaggy’s hair and I would like to be more organised and focused.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;If you could change one thing about your family, what would that be?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;To reunite all my families who have separated by our different professions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Your ideal woman?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Someone who is romantique and to whom I can share a good idea, laugh and love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Where do you see yourself five years down the line?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hopefully, I would be a Ph.D candidate and teaching at university. Have my own home and have a perfect wife.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Who would you like to be born as next from your wife?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;A normal baby who grows up to become the ‘qari and or qori’ah’ and an intelect person.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;If you have someone’s messege to you and then you want to share, what would that be?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Once my teacher told me that Imam Syafi’i came and reported to his teacher, Imam Waki’, that Imam Syafi’i facing a hard to memorize. Then Imam Waki’ asked Imam Syafi’i to stop from any kind of sins. Imam Waki’ also reported him that knowledge is a bright light. And the bright light of Almighty Allah will not be given to the sinner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;If you marooned on a desert island, who or what would you like to have as your companion?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;My family and my ideal woman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;What is your favourite place and you have ever dreamt to visit?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Eiffel tower in Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;What is the first thing you do when you get up in the morning?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Open my eyes, reading a remembrance of getting up and sitting on the bed for a while.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;And the last thing before going to bed?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Taking ablution, reading a remembrance to sleep and then smile.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-112194756838814555?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/112194756838814555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=112194756838814555' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/112194756838814555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/112194756838814555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/07/personal-agenda-of-riaus-student.html' title='Personal Agenda of Riau’s Student'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-112125887306603769</id><published>2005-07-13T05:46:00.000-07:00</published><updated>2005-07-13T05:47:53.076-07:00</updated><title type='text'>Mungkinkah Meniru Pendidikan India?</title><content type='html'>&lt;div style="styleDocument: [object]"&gt;&lt;span style="styleDocument: [object];font-family:verdana;" &gt;Oleh Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU hari Imam Syafi'i datang menghadap dan mengadu kepada gurunya, Imam Waki', bahwa beliau (baca: Imam Syafi'i) menghadapi persoalan berupa sulit menghafal pelajaran. Kemudian Imam Waki' menyarankan kepada Imam Syafi'i untuk meninggalkan maksiat dan perbuatan yang tak bermanfaat. Imam Waki' juga memberitahu Imam Syafi'i bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah itu tak akan diberikan kepada mereka yang suka berbuat maksiat dan mengerjakan hal-hal yang tak bermanfaat. Demikian ingatan saya langsung menerawang tatkala membaca berita-berita mengenai siswa-siswi yang gagal dalam ujian nasional tahun 2005 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, manakala tercatat sudah 815.527 siswa dinyatakan tidak lulus ujian nasional, SMA Al-Falah Surabaya malah memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengelola pendidikan yang pada akhirnya menghasilkan 60% lulusannya mampu meraih angka 10 untuk bidang studi Matematika, bidang studi yang selalu ditakuti oleh para siswa dan siswi hampir di semua sekolah di Indonesia (Media Indonesia, Jum'at, 01 Juli 2005).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan SMA Al-Falah Surabaya ini rupanya juga tak terlepas dari peran aktif guru-gurunya dalam membina murid-muridnya. Fenomena yang berkembang di lingkungan siswa-siswi yang lulus SMP atau SMA akhir-akhir ini adalah merayakan kelulusan itu dengan corat-coret pakaian seragam, konvoi di jalan-jalan atau kebut-kebutan di jalanan rupanya tak berlaku di SMA Al Falah ini. Bahkan seperti yang diungkapkan oleh Kepala SMA Al Falah, Rooswandi Hidayat kepada Media Indonesia, para siswa-siswi diminta untuk mengingat-ingat kesalahannya dengan orang tua, guru dan teman. Sesuatu yang jarang terdengar dilakukan oleh sekolah-sekolah yang lain. Tak heran, bila guru mampu memahami kondisi dan bisa mengadakan pendekatan psikologis dengan siswa dan siswinya, maka semua pelajaran itu akhirnya akan mudah dicerna dan diterima oleh murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat bahwa merosotnya mutu pendidikan di Indonesia adalah disebabkan oleh tidak ketidakpiawaian Departemen Pendidikan Nasional dalam mengelola pendidikan. Banyak diantara pengelola pendidikan selalu mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuan. Kita bisa lihat, berapa banyak yayasan pendidikan yang didirikan, tapi semuanya itu hanyalah dijadikan sebagai sarana untuk mengejar kekayaan pribadi tanpa pernah mempertimbangkan mutu dan hasil lulusan dari lembaga itu. Kenyataan yang sering kita hadapi di lapangan bahwa lembaga pendidikan hanya dijadikan tunggangan untuk meraih kekayaan dan meraup uang secara instan. Kita tengok saja imej yang berkembang di masyarakat kita bahwa semakin tinggi biaya pendidikan pada sebuah sekolah atau lembaga pendidikan, maka semakin bagus mutu pendidikan di sekolah tersebut. Padahal, belum tentu sekolah yang memungut biaya pendidikan yang sangat mahal itu mampu menjamin mutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah saya melihat adanya perbedaan tujuan dan cara pandang para pengelola pendidikan di negara kita Indonesia dengan India. Di India, masing-masing lembaga pendidikan diberikan otonomi untuk mengelola pendidikannya yang tentunya tidak menyalahi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Lembaga pendidikan tersebut tentunya juga harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Satu hal yang perlu kita kagumi adalah bahwa semua lembaga pendidikan pemerintah mendapat dukungan finansial yang cukup dari negara. Karena itu, tak aneh, bila India dikenal sebagai negara yang miskin, tapi bila ditinjau dari segi mutu pendidikannya, India jauh lebih unggul dari Indonesia, terutama di bidang Informasi dan Teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa India bisa maju di bidang pendidikan? Tentu banyak faktor yang mendukung keberhasilan pendidikan di India. Selain lembaga pendidikan tersebut mendapatkan dukungan finasial yang cukup dari negara, tenaga pendidik juga memiliki perhatian yang cukup serius dengan pekerjaan yang digelutinya, sehingga pekerjaan sebagai guru atau dosen yang hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan tak akan pernah ditemui di India. Pemandangan ini tentu sangat bertolak belakang dengan fenomena yang terjadi di Indonesia dimana pekerjaan sebagai guru atau dosen hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan dan untuk mengangkat derajat serta status sosial dalam masyarakat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor diatas, biaya pendidikan di India sungguh sangat murah sekali, sehingga kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat India sungguh sangat terbuka lebar. Mungkin masyarakat Indonesia tak percaya bila universitas seperti Jamia Millia Islamia, New Delhi hanya memungut sebesar 2.500 rupees (senilai Rp. 500.000) per tahun dari setiap mahasiswa atau mahasiswinya. Atau yang lebih mengagumkan lagi, Jawaharlal Nehru University, New Delhi memungut Rs.250 (senilai Rp. 50.000) dari setiap mahasiswa dan mahasiswinya per tahun. Bagaimana dengan biaya pendidikan untuk mahasiswa asing? Secara umum universitas-universitas di India hanya memungut lebih kurang sebesar 500 dolar Amerika per tahun. Sedangkan Jawaharlal Nehru University adalah pengecualian. Universitas ini memungut 750 dolar Amerika per semester. Hanya saja yang perlu kita ketahui adalah bahwa biaya kuliah sebagai mahasiswa asing di India sama dengan atau bahkan lebih murah dari biaya kuliah di tanah air sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan pemerintah India terhadap dunia pendidikan yang sangat besar dan ditambah dengan perhatian tenaga pendidik yang sangat tinggi untuk memajukan pendidikan bangsanya, kemudian ditunjang oleh biaya yang sangat terjangkau bagi masyarakat India, akhirnya mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang bisa dipertanggungjawabkan kepiawaiannya dalam bidang studi atau keilmuan yang digelutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita telah menyaksikan sampai dimana bobot dan mutu pendidikan siswa-siswi kita di Indonesia. 815.527 siswa dan siswi yang tidak lulus unas bukanlah jumlah yang kecil. Kenyataan ini hendaknya bisa merangsang Departemen Pendidikan Nasional untuk mengelola dan membuat kebijakan-kebijakan yang benar-benar memahami kondisi ril lembaga dan dunia pendidikan kita di lapangan, bukan hanya didasarkan pada laporan-laporan yang tak bertanggung jawab yang disampaikan oleh pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, dalam hal ini kepada Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya mempertanyakan kunjungan-kunjungan studi banding yang digelar oleh Departemen Pendidikan Nasional ke beberapa negara termasuk ke India pada bulan Agustus 2004 lalu. Saya jadi terkenang kembali tentang acara Dialog dan Silaturrahmi antara sejumlah rombongan dari Departemen Pendidikan Nasional RI bersama para pejabat KBRI, mahasiswa-mahasiswi Indonesia dan masyarakat Indonesia di India pada Kamis malam (26/8/2004), dimana dalam kesempatan itu saya juga mengkritik pendidikan Indonesia terutama mengenai sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia. Fenomena yang terjadi selama ini adalah bila berganti menteri pendidikan, boleh dikata berganti pulalah sistem pendidikan kita. Dari sistem semesteran ke sistem catur wulan dan sebaliknya. Bila sistem berubah maka buku-buku pelajaran juga berubah. Padahal tidak ada perubahan yang signifikan dalam buku pegangan siswa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Mardiah, salah seorang rombongan dari Departemen Pendidikan Nasional RI itu menjelaskan bahwa sebenarnya Departemen Pendidikan Nasional tidak pernah mewajibkan untuk membeli buku pegangan tersebut. Dan perubahan buku itu hanya dibuat oleh para penerbit yang saat ini bagaikan kecambah di musim hujan. Penerbit ini pulalah yang memasarkan langsung buku-buku tersebut ke sekolah, sehingga akhirnya sekolahpun menjadi pasar buku. Bagi saya jawaban Ibu Mardiah ini masih bisa diperdebatkan, tapi secara diplomatis, pembawa acara menunda dulu acara tanya jawab ini yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara tersebut, saya juga mempersoalkan gelar-gelar akademik yang banyak di jual di "pasaran" dan apa saja tindakan dari Departemen Pendidikan Nasional terhadap masalah ini. Saya yang duduk satu meja dengan Bapak Muslikh, S.H, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional, Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-undangan mengatakan bahwa saat ini sudah ada UU yang mengatur tentang lembaga yang berhak memberikan gelar akademik tersebut. Bila ada lembaga yang tidak diakui oleh Departemen Pendidikan Nasional yang mengeluarkan gelar akademik, maka penyelenggara pendidikan itu akan dikenai denda kurungan penjara selama 5 tahun atau denda bayaran sebesar 500 juta rupiah. Saya hanya menggaruk-garuk dagu saja mendengar sangsi ini, sebab entah berjalan atau tidaknya UU ini, itu wallahu a'lam. Hanya saja, bila Indonesia ingin meningkatkan mutu pendidikannya, maka bercerminlah dengan India. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India.  &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-112125887306603769?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/112125887306603769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=112125887306603769' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/112125887306603769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/112125887306603769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/07/mungkinkah-meniru-pendidikan-india.html' title='Mungkinkah Meniru Pendidikan India?'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111782001578938614</id><published>2005-06-03T10:24:00.000-07:00</published><updated>2005-06-03T10:40:52.480-07:00</updated><title type='text'>Edisi Khusus: REFORMULASI SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MODERN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; font-family: arial;"&gt;&lt;b&gt;SEMINAR NASIONAL&lt;br /&gt;IKATAN KELUARGA ALUMNI PON-PES DAREL HIKMAH PEKAN BARU CABANG JAKARTA&lt;br /&gt;“REFORMULASI SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MODERN”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Berangkat dari sebuah keyakinan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat yang bermoral&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan pengetahuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hal yang sangat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penting dan utama khussunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam menghadapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;modernisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan globalisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang berkembang pesat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada saat ini. Tantangan dan persaingan global yang semakin ketat ini sangat tergantung pada kehandalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan kualitas sumber daya manusia (SDM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pondok pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan salah satu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;upaya untuk menciptakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kader-kader&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Islam yang mempunyai jiwa mandiri,berpengetahuan,berakhlak mulia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan bertakwa kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan Yang Maha Esa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta cinta terhadap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bangsa dan Negara. DPD/DPR RI &lt;b&gt;&lt;i&gt;Drs. Sumardi Taher&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; menyatakan bahwa sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menjadikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bangsa ini ruwet adalah masalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral dan pondok pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Modern&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah satu lembaga pendidikan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;formulasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pembentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;moral dan Intelektual, dan inilah yang di pandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beliau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ternyata pondok pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kontribusi penting di bangsa ini. Hal ini senada di ungkapkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dr. Rusdi Zakaria M.ed &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;(pengamat pendidikan)&lt;b&gt;,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; beliau menyampaikan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lembaga pendidikan pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memainkan peran sentral dalam menjaga dan memelihara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesinambungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keberagamaan masyarakat. Penidikan pesantren dan Madrasah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan tetap memainkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peran penting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anak bangsa bahkan saya semakin yakin begitu kalau menambahkan bahwa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pendidikan pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Madrasah akan menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan alternatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di masa yang akan datang . Jika pesantren-pesanten&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu berbenah diri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan siap mereformasi dirinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehingga pendidikannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu melahirkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;out put yang siap hidup dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan yang sangat kompotitif di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun realitas yang kita rasakan ternyata pesantren kurang mampu dalam mewujudkan semua harapan ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dr. H&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; &lt;b&gt;Hidayat Nurwahid&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;M.A &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;memberikan contoh konkrit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa ketika di umumkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;4 orang anak bangsa yang menag dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Olimpiade&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fisika, yang di adakan pada tanggal 2 Mei di Pekanbaru Riau tidak satu pun dari mereka yang berasal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari pendidikan Islam apalagi dari pondok pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;modern Islam. Beliau menambahkan bahwa data yang di peroleh dari Depertemen Pendidikan Nasional&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menyebutkan dari 40 sekolah unggulan di Jakarta, ternyata tidak satu pun dari pendidikan Islam apalagi dari pondok pesantren modern. Sementara di tingkat Asia tahun 2000 Indonesia memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lembaga pendidikan perguruan tinggi yang duduk di peringkat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;65, 68, 73 yaitu UI, UGM dan, UNDIP tetapi tahun 2004 tidak satupun dari mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mampu bertahan di tingkat 63 bahkan dalam kontek dunia tidak satupun Universitas di Indonesia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu bertengger pada tingkat 500 sekalipun, apalagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari pendidikan Islam. Contoh konkrit yang juga di sampaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh wakil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepala Dirjen PK Pontren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Drs. Rohadi, MA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Bahwa ternyata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;para santri dari Pondok pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih banyak yang tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu menjawab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;soal-soal ujian akhir yang mana soal itu di pandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat mudah untuk di jawab oleh seorang santri, seperti ketika ada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;satu soal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang memerintahkan untuk menulis ayat kursi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beserta sakalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tenyata tidak mampu di jawab dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa kualitasnya yang di keluarkan oleh pondok pesantren masih rendah. Oleh sebab itu beliau menambahkan pemerintah dalam hal ini Depag sudah membuat aturan-aturan bertujuan untuk meningkatkan kualitas para santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu kenyataan yang kita hadapi soal ini. Sehingga menimbulkan satu pertanyaan besarkenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa pondok pesantren khususnya pondok pesantren modern sudah sangat jauh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari apa yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di harapkan bahkan semakin hari semakin jauh tertinggal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari lembaga-lembaga pendidikan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jawaban sekaligus solusi yang di sampaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dr. Rusdi Zakaria M. ed &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(pengamat pendidikan)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa untuk mengembangkan pendidikan pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus ada satu rencana . Strategi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beliau menyampaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah pesantren harus memiliki VISIR untuk menjadi lembaga pendidikan dengan keunggulan global kompetitif, iman dan takwa /moral spritualisme yang tinggi, pluralisme dan multikulturalisme, nasionalisme baru di samping untuk juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus memiliki misi sebagai penyelenggara pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyiapan global kompetitif, Keseimbngan hidup yang selektif, Tantangan global, pluralis dan multicultural, membangun nasionalisme baru yang bertujuan untuk. Mencetak Muslim terpelajar dengan kualitas inteletual dan yang emosional kuat;memeiliki prilaku moral dan spiritual dengan keseimbangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selektif; berwatak pluralitas, multikulturaldan nasioanalisme progressive serta mampu bersaing dalam tantangan kehidupan global yang kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan visi dan misi dan tujuan dari sebuah pesantren&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus di buat sebuah strategi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yakni mengembangkan pendidikan Islam yang berbasis: kompetesi global, fungsionalisasi agama, multikultitural, nasionalisme baru, kemandirian Profetik dengan di dukung sebuah program pendidikan Islam yang bersifat: Pendidikan Global kompetitif, pendidikan agama yang transformative, pendidikan multicultural, pendidikan demokratik, pendidikan kemandirian pofetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketua MPR RI Dr.H Hidayat Nur Wahid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; berpendapat bahwa pondok pesanten modern seharusnya melihat wahyu yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini iqra’bismirobbika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ladi khalaq&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena jika hanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iqra saja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka ini akan melahirkan suatu system&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan leberalistik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan sekuleristik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan apabila hanya bismirobbika lazi khalaq&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saja maka pendidikan hanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan beroreintasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada keakhiratan rohani dan bahkan bisa mengabaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;modernisasi inilah yang seharusnya di reformulasikan dalam system pendidikan yang namanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pondok pesantren modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan kualitas pondok pesantren modern baik itu menyangkut pola pembinaan dan pengembangan masalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sumber daya manusia maupun hal-hal yang ada adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat mungkin kita tinjau kembali. Hal ini mutlak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di lakukan dalam upaya meningkatkan kembali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;system pondok pesantren modern yang professional terarah dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terencana sehingga mampu mencetak generasi-generasi muda yang handal berakhak dan mampu bersaing dikancah persaingan dimasa mendatang untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas Pondok pesantren modern&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka perlu adanya perhatian dari pemerintah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pemerintahan harus memandang sama antara pendidikan Islam dan umum untuk menghilangkan image bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan Islam selalu termajinalkan tidak terkecuali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Pemerintah&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Riau &lt;/b&gt;harus lebih memperhatikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di &lt;b&gt;Riau&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk kedepannya . Demikian Drs. Sumardi Taher menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar Nasional yang bertemakan “&lt;b&gt;Reformulasi Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Modern&lt;/b&gt;” diadakan di Jakarta (Kampus UIN Jakarta), kamis 2 juni 2005 tepat pukul 8.30 Wib . Di hadiri kurang lebih 550 orang yang berasal dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbagai utusan pesantren (an-Najah, Darunnajah, as-Sidiqiyah,Darussalam gontor dan lain-lain)          &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Dengan pembicara:&lt;br /&gt;1.&lt;span style=";font-size:7;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Dr. H. Hidayat Nur Wahid, MA (Ketua MPR RI)&lt;br /&gt;2.&lt;span style=";font-size:7;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Dr. Rusli Zakaria M. ed (Pengamat Pendidikan)&lt;br /&gt;3.&lt;span style=";font-size:7;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Drs. Rohadi, MA (Wakil Kepala Dirjen PK. Pontren Pusat)&lt;br /&gt;4.&lt;span style=";font-size:7;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Drs. Sumardi Taher (DPD/DPR RI Riau)&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;            &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;Dengan Moderator: Ahmad Syarifudin, M.Ag.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;Dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Dar- EL Hikmah Drs. KH. T.G.Mukhtarullah&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;    &lt;/div&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;b&gt;Kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bapak Saidul Tombang&lt;br /&gt;Dari&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Panitia Seminar “reformulasi system pendidikan pondok pesantren modern” (Ikatan Kelurga Alumni Ponpes Darel Hikmah ).&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;b&gt;Ketua IKAPDH Jakarta&lt;br /&gt;Ilham Saputra&lt;br /&gt;(08179931174)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:12;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111782001578938614?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111782001578938614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111782001578938614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111782001578938614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111782001578938614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/06/edisi-khusus-reformulasi-sistem.html' title='Edisi Khusus: REFORMULASI SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN MODERN'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111640815208878308</id><published>2005-05-18T02:19:00.000-07:00</published><updated>2005-05-26T21:03:48.563-07:00</updated><title type='text'>Antara Gelar Akademik Dan Keilmuan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG aktor tak hanya dituntut memiliki good image, tampang kren, hidung mancung, alis mata bak semut beriringan dan dagu menjuntai ibarat sarang lebah, akan tetapi lebih dari pada itu seorang aktor juga harus memiliki good human emotion. Sehingga walapun secara fisik aktor tersebut telah memiliki good image , namun disisi lain ia tak memiliki good human emotion, maka harapan untuk menjadi seorang aktor ternama akan menjadi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan seorang yang berprediket sebagai mahasiswa dan mahasiswi. Ia tak hanya dituntut untuk memiliki gelar yang berderet. Namun yang lebih penting ia mampu mempertanggungjawabkan keilmuannya tersebut berdasarkan gelar yang sudah ia peroleh tadi. Banyak diantara kita beranggapan bahwa untuk menulis atau berbicara yang baik adalah dengan banyak menggunakan istilah-istilah populer yang diambil dari bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sehingga tak heran, bila semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin sulit kita memahami bahasa yang digunakannya. Karena memang ia menganggap bahwa dengan banyak menggunakan istilah-istilah asing tadi, orang-orang di sekelilingnya menjadi yakin dengan ilmu yang dimilikinya setara dengan gelar yang disandangnya. Ini anggapan yang tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, berbicara atau menulis yang baik adalah mampu menjadikan para pendengar atau pembacanya paham terhadap maksud yang ingin disampaikan, sehingga tujuan dari pembicaraan atau tulisan yang kita paparkan tersebut menjadi tercapai. Sayangnya, penulis melihat banyak diantara kita yang sering salah dalam mengguunakan istilah-istilah asing tadi, sehingga kesalahan tersebut menjadi tanda tanya tentang keilmuan yang dimiliki dengan gelar berderet yang disandangnya. Didalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Microcosmographia Academica,&lt;/span&gt; F. M. Cornford menyebutkan bahwa 'Principle of the Dangerous Precedent' itu adalah &lt;em&gt;"Every public action, which is not customary, either is wrong, or, if it is right, is a dangerous precedent. It follows that nothing should ever be done for the first time".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Rosanna Sornicola ketika menghadiri Konferensi Capri yang bertajuk 'Linguistics for international communication' beberapa pekan lalu menyampaikan bahwa &lt;em&gt;"In a 'global' society international communication is essential and linguistics can play an important role in the study of international communicative processes and the understanding of internationalisation itself".&lt;/em&gt; Bill Kirkman, seorang Emeritus Fellow di Wolfson College, Cambridge, UK yang juga ikut mempresentasikan makalahnya pada konferensi tersebut juga mengutip kata-kata Prof. Rosanna Sornicola ini di dalam kolomnya "Cambridge Letter", harian The Hindu berjudul "Communicating internationally".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat femonema yang terjadi di lingkungan mahasiswa dan mahasiswi kita yang belajar di negeri pawang ular ini, penulis jadi bertanya kepada diri sendiri, mengapa nuansa ilmiah yang menjadi ciri khas seorang insan akademik itu kurang terasa di lingkungan kita di sini? Kegundahan ini, rasanya wajar, bila penulis tuangkan dalam tulisan edisi ini, mengingat kita tak akan selamanya berada di negeri ini, dan kelak kita juga akan kembali ke tanah air. Namun, bila kita masih berkutik dengan gaya hidup kita yang terus-menerus begini saja, tanpa ada perubahan menuju ke arah yang lebih maju, maka penulis menjadi pesimis, lulusan India mampu bersaing dengan lulusan-lulusan dari negara lainnya. Tak usah jauh-jauh, dengan lulusan tanah air saja, kita belum tentu ada apa-apanya. Kalau perasaan pesimis penulis ini nantinya menjadi kenyataan, maka lulusan kita hanya menang dalam mengumpulkan sertifikat sebanyak-banyaknya, namun bila diuji dari segi keilmuan, tak ada isinya. Naudzubillah tsumma naudzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melihat bahwa beberapa tahun belakangan ini, sebagian kecil rekan-rekan kita sudah ada yang mencoba untuk menghiasai media-media tanah air, dan ini tentunya perlu untuk diteruskan dan dibiasakan guna membangun image positif tentang keilmuan seseorang. Dan jangan salah, bahwa kecintaan untuk selalu membagi ilmu dengan orang banyak melalui media ini juga menumbuhkan kepercayaan orang lain terhadap keilmuan lulusan-lulusan dari negeri pawang ular ini tentunya. Walaupun demikian, kita yang belum berbuat apa-apa juga dituntut memiliki kewajiban moral untuk mempertanggungjawabkan keilmuan kita berdasarkan gelar yang telah kita raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasarnya, jangan sampai orang lain telah membangun image positif tentang lulusan India, namun disisi lain kita meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap keilmuan yang kita miliki. Contoh kecilnya, tatkala kita menggunakan bahasa atau istilah-istilah populer dalam percakapan kita, disana terdapat kesalahan dalam penempatan istilah-istilah tersebut. Sudah bukan waktunya lagi kita mempertahankan sikap malu bertanya, karena sikap malu bertanya hanyalah akan merugikan diri kita sendiri. Atau manakala kita dituntut untuk menjawab suatu persoalan yang berkenaan dengan kajian kita sendiri, namun, jawaban yang kita berikan tak mencapai target dan tujuan yang ditanyakan, maka secara tidak langsung, kita telah meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap keilmuan kita melalui tangan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah-tengah "kesibukan" penulis berchatting-ria dan berfriendster-ria, penulis tetap berusaha meluangkan waktu untuk membaca koran dan majalah dalam dan luar negeri yang tidak bisa diakses edisi cetaknya, juga mengikuti berbagai diskusi di beberapa mailing list. Meski penulis tak ikut memberikan komentar, tapi paling tidak, disana kita masih bisa melihat dan membaca hasil-hasil diskusi peserta mailing list tersebut. Tak jarang diskusi-diskusi di mailing list-mailing list tersebut berbentuk diskusi lintas agama, budaya, latar pendidikan, status sosial dan asal daerah. Bila dalam diskusi tersebut kita juga mampu memberikan sumbangan pemikiran, maka secara tidak langsung kita telah mengasah dan mempertajam keilmuan kita sendiri. Bila kita mampu menyikapi perbedaan pendapat yang ada di mailing list tersebut, yang tidak lain hanyalah sebatas diskusi maya, kelak pada diskusi-diskusi nyata, kita sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat itu. Bukan malah membuat jantung kita berdetak kencang bila pendapat kita berseberangan dengan pendapat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, pemandangan lain yang diperlihatkan oleh rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi kita adalah menyibukkan diri dengan mengupas dan meneliti serta mengkaji media-media luar negeri edisi cetak secara berkelanjutan. Suatu cara untuk menambah wawasan secara otodidak yang perlu juga untuk diiru dan diikuti. Banyak hal positif yang akan diperoleh dari kegiatan semacam ini. Diantaranya, menambah pengetahuan kita mengenai isu-isu terbaru yang terjadi di belahan dunia ini, dan juga secara bersamaan akan menambah perbendaharaan kata kita, dalam hal ini perbendaharaan kata Inggris. Karena itu, sungguh sangat disayangkan bila kita yang setiap harinya disuguhi koran-koran yang berbahasa Inggris, namun tak pernah disentuh dan dibaca. Sehingga koran beralih fungsi sebagai alas tidur dan alas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengejar ketertinggalan, bagi penulis sendiri tak ada kata terlambat. Idealnya, bila kita memang merasa ketinggalan, maka kita harus memunculkan rasa tuntutan dari dalam diri kita sendiri untuk mengejar ketertinggalan kita itu. Sebab, berubah atau tidaknya diri kita ini tergantung kepada diri kita sendiri juga. Orang lain hanya bisa mengarahkan, namun pribadi kita sendirilah yang sangat menentukan. Penulis juga sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa tak ada gunanya kita mempertahankan keegoan kita, bila itu akan merugikan kita sendiri. Tak ada salahnya kita bertanya kepada mereka yang dari segi usia jauh lebih muda dari kita. Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa "Orang yang memiliki ilmu pengetahuan itu adalah seorang besar, walaupun dari segi usia ia masih muda belia, sedangkan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan itu adalah kecil walaupun dari segi usia ia sudah tua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengajak para pembaca yang budiman, mari kita saling mengisi kekurangan diantara kita, guna memantapkan keilmuan yang kita miliki supaya seimbang dengan gelar akademik yang sudah kita raih. Dan catatan ini juga penulis persembahkan kepada para pembaca sebagai bentuk &lt;em&gt;"Ta'awanu 'alal birri"&lt;/em&gt; atau bekerjasama  dalam kebaikan sekaligus &lt;em&gt;"Tawashou bil haqqi"&lt;/em&gt; atau saling mengingatkan dalam kebenaran. Semoga Allah SWT mendengarkan niat tulus penulis yang hina ini dan kepadaNya jualah diri yang tak berdaya ini penulis persembahkan. Amien ya Robbal 'alamien. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;a Riau's student who was awarded a B.A. degree in Islamic Studies from Jamia Millia Islamia, New Delhi, India in the year 2004.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111640815208878308?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111640815208878308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111640815208878308' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111640815208878308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111640815208878308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/05/antara-gelar-akademik-dan-keilmuan_18.html' title='Antara Gelar Akademik Dan Keilmuan'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111424685133182659</id><published>2005-04-23T01:54:00.000-07:00</published><updated>2005-04-26T10:06:57.360-07:00</updated><title type='text'>Rasulullah SAW: Model Pemimpin Sepanjang Zaman</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANTANGAN paling berat yang dihadapi oleh umat manusia saat ini adalah membina hubungan baik antar sesama manusia itu sendiri. Penyakit sosial, mental, lingkungan, bahkan sampai kepada persoalan-persoalan spritualpun di era modern ini telah merambah ke seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Kita harus belajar lebih banyak lagi untuk membentengi diri kita dari segala macam bentuk penyakit tersebut. Dan itu merupakan persoalan yang tidak mudah. Tatkala Allah SWT memberikan kita kemampuan untuk memimpin suatu bangsa, di saat yang sama, Allah SWT juga memberikan kesempatan kepada kita untuk saling mengenal satu sama lainnya. Apapun tugas, pangkat dan jabatan yang kita sandang, kita akan menemukan bahwa kita membutuhkan penyesuaian dengan lingkungan itu. Artinya, penyesuaian tersebut harus didasarkan pada rasa cinta, saling menghargai, saling percaya yang itu semua merupakan karakteristik seorang pemimpin Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersempena dengan peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1426 H bertepatan dengan tahun 2005 ini, penulis ingin menegaskan bahwa kita sebagai seorang Muslim senantiasa diminta untuk mencintai Rasulullah SAW. Bila kita sudah memiliki perasaan cinta terhadap Rasulullah SAW, tentunya kita akan selalu membayangkan bahwa Rasulullah SAW yang kita cintai tersebut selalu terasa dekat, memperhatikan dan senantiasa membimbing serta mengarahkan kita dengan menjadikan kehidupannya sebagai acuan hidup kita. Manakala kita mampu menghadirkan perasaan cinta kepada Rasulullah SAW ini dalam kehidupan kita, maka sifat-sifat kenabian itu akan dengan mudah meresap ke dalam pribadi kita. Rasulullah SAW terkenal dengan sifat jujur, sabar, toleransi. Bila kita mampu menghormatinya, maka dengan sendirinya kita akan percaya terhadap segala yang disampaikannya. Dan bila kita sudah percaya dengan segala yang disampaikannya itu, maka kita pun akan senantiasa mengikuti ajaran yang dibawanya itu, Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, artinya: &lt;em&gt;"Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah SWT, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang". (QS. Ali 'Imran: 31)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari mengikuti ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW., masih ada satu hal lagi yang mesti kita laksanakan, yaitu kita dituntut untuk senantiasa berbuat sesuatu atau menghasilkan suatu karya yang bisa bermanfaat bagi orang banyak. Kita dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat kita dari waktu ke waktu yang kita lalui dalam hidup ini. Sifat amanah, memegang janji terhadap tugas yang diamanatkan kepada kita, adalah suatu tanggung jawab yang dipercayakan oleh Allah SWT kepada kita. Salah satu bentuk tugas yang diembankan oleh Allah SWT tersebut adalah tugas kepemimpinan. Paling tidak, kita bertanggung jawab untuk menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan inipun memiliki dimensi global dan kolektif. Allah SWT telah menjelaskan kepada kita sebagaimana yang tertera di dalam kitabNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: &lt;em&gt;"Hendaklah ada diantara kamu yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh hal-hal yang ma'ruf dan baik, serta melarang hal-hal yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang menang". (QS. Ali 'Imran: 104)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Setiap Muslim memiliki tanggung jawab kepemimpinan, seperti seorang ayah, guru, menejer di sebuah perusahaan, pimpinan organisasi, buruh atau karyawan bahkan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Islam adalah "A way of life" yang tidak hanya terfokus pada persoalan ibadah semata, tapi Islam juga berkaitan dengan semua urusan kehidupan manusia. Menjadi seorang pemimpin tak hanya mengerti terhadap tugas dan tanggung jawab saja, namun lebih dari itu, sebagai seorang pemimpin kita juga dituntut untuk memiliki adab dan memberikan contoh kehidupan seorang pemimpin yang layak dan patut untuk ditiru oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW telah memberikan gambaran yang sangat rinci bagaimana beliau bersikap sebagai seorang pemimpin; tidak pamer kemewahan dan tidak pula angkuh dengan jabatan yang beliau sandang. Sebaliknya Rasulullah SAW senantiasa menampilkan sikap keramahannya kepada umatnya, menyebarkan salam, menyantuni yang kecil, menghormati yang tua, peduli pada sesama dan selalu tunduk dan takut kepada Allah SWT. Dzat yang telah memberikan tugas dan tanggung jawab ke pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip kepemimpinan apa saja yang dapat kita tiru dari contoh kepemimpinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada kita? Kalau kita sudah mengakui prinsip-prinsip kepemimpinan Rasulullah SAW., selanjutnya kriteria apa saja yang dapat kita gunakan untuk menguji sudah sejauh mana kita mampu meniru gaya kepemimpinan Rasulullah SAW tersebut? Setiap masa kita selalu mendambakan seseorang yang menjadi panutan yang paling ideal bagi kita. Kita masih perlu belajar untuk mengevaluasi sudah sejauh mana kita mampu mengikuti jejak tokoh yang menjadi panutan kita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, penulis ingin mengetengahkan beberapa prinsip kepemimpinan dalam Islam sekaligus menyertakan beberapa kriteria sebagai bahan evaluasi bagi para pemimpin. Penulis hanya akan membatasi pada lima prinsip saja mengingat keterbatasan waktu dan ruang. Tentunya, yang menjadi sandaran penulis dalam mengangkat prinsip-prinsip kepemimpin ini dengan mengacu kepada kepemimpinan Muhammad Rasulullah SAW. Prinsip kepemimpinan Rasulullah SAW tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bertanggung jawab. Rasulullah SAW senantiasa berpegang kepada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Segala sesuatu yang beliau lakukan hanyalah karena Allah SWT semata. Tugas, pangkat dan jabatan tersebut datangnya jua dari Allah SWT, maka kepada Allah SWT pulalah kita mempertanggungjawabkannya. Tatkala suatu perintah dari Allah datang kepada Muhammad SAW, maka beliaupun segera menjalankan perintah tersebut sekaligus menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Inilah yang disebut dengan bentuk pengabdian seorang hamba yang paling tinggi. Beliau tak pernah menunda-nunda dalam urusan mengerjakan perintah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu pula bahwa tingkat kepatuhan seorang hamba yang paling rendah itu adalah dengan menunda-nunda pekerjaan yang diberikan kepadanya. Tingkatan kedua adalah mengerjakan perintah Allah SWT tersebut, tapi masih diikuti oleh rasa ragu-ragu. Dan Rasulullah SAW terhindar dari dua sikap yang terakhir ini. Sekali lagi, tingkat kepatuhan seorang hamba itu akan terlihat manakala ia mengerjakan perintah Allah SWT tersebut dengan hati yang gembira, dan kegembiraan itu muncul dari dalam hatinya sendiri. Kita harus bercita-cita dan berusaha untuk meraih tingkat kepatuhan kepada Allah SWT dengan tingkat kapatuhan yang paling tinggi sebagaimana yang telah diraih oleh Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rendah hati. Para pemimpin saat ini cenderung memperlihatkan perhatiannya terhadap kekuasaan dan kakayaan dari pada memperhatikan etika dan moral, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan, tak terkecuali pemimpin Muslim, semuanya sama saja. Pada kenyataannya, banyak diantara pemimpin Muslim itu yang angkuh, sombong dan tak tahu diri. Sungguh sangat naif sekali bagi para pemimpin yang berfikir semacam ini. Rasulullah SAW membuat standar kepemimpinan tersebut berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan pada hasrat atau keinginan untuk meraih sebuah status, pangkat atau jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh diatas tadi, kita dapat mengevaluasi gaya kepemimpinan kita. Baik sebagai pemimpin di masyarakat sekitar atau pemimpin suatu bangsa. Adakah kepemimpinan kita tersebut seimbang antara kemauan yang kita miliki dan kemampuan yang ada pada diri kita? Bila kita merasa tak mampu, maka berikanlah kesempatan kepada mereka yang lebih mampu untuk menjadi pemimpin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, senantiasa mencari dan berbagi ilmu. Rasulullah SAW tidak pernah berhenti dan menyerah dalam mencari dan menuntut ilmu. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa ilmu tersebut harus senantiasa dikejar dan dicari. Bagaimana kita bisa mengaplikasikan kriteria ini dalam kepemimpinan modern sekarang? Salah satu bentuk ilmu pengetahuan yang sangat berkembang dengan pesatnya saat ini adalah teknologi dan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang Muslim, kita harus menyadari adanya revolusi teknologi ini. Masyarakat Muslim saat ini boleh dibilang masyarat yang gagap teknologi. Dalam menyikapi persoalan masyarakat Muslim yang dinilai gagap teknologi ini, muncul beberapa perbedaan pandangan di tengah masyarakat baik secara individu, kelompok, organisasi atau institusi. Disini perlu dialog yang membangun untuk bisa saling bertukar ilmu pengetahuan, menumbuhkan sikap saling menghargai dari berbagai sudut pandang yang bervarisi, menentukan agenda kerja yang jelas serta bekerja sama secara sehat dalam rangka memahami risalah yang telah diembankan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat jarang sekali diantara kita yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan tentang Islam secara mendalam. Karena itu alangkah indahnya bila kita mau berbagi ilmu dalam area yang lebih spesifik lagi, misalnya dalam perkara yang berkaitan langsung sesama manusia, seperti, bagaimana pendekatan seorang Muslim dalam masalah transaski keuangan. Kriteria lain yang akan muncul adalah bagaimana kita mendemonstrasikan Islam ketika kita berhubungan dengan orang lain. Entah itu dengan bawahan atau atasan kita, klien kita, tetangga dan sebagainya. Barangkali salah satu cara yang paling baik untuk berbagi ilmu tersebut adalah dengan mengekspresikannya melalui profesi kita masing-masing, baik sebagai seorang dokter di rumah sakit atau seorang peneliti di laboratorium dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mau mendengarkan dan tanggap situasi. Kita lihat bagaimana Rasulullah SAW bersikap dalam mengambil sebuah keputusan. Banyak orang yang datang kepada Rasulullah SAW untuk mengadu. Namun sebelum beliau mengeluarkan suatu keputusan, terlebih dahulu beliau mencari informasi yang lebih banyak lagi. Keputusan dari Rasulullah SAW baru akan keluar setelah beliau merasa cukup dan memahami persoalan dan situasi yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mau mendengarkan orang lain, dan memahami apa yang didengar serta mengeluarkan keputusan tersebut sesuai dengan ketetapan Alquran dan syari'ah, merupakan kriteria yang telah diterapkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupannya. Dan tanggap situasi tidak selamanya berati memberikan solusi terhadap suatu persoalan pada saat itu juga. Akan tetapi, memberikan solusi atau mengeluarkan keputusan setelah mengumpulkan beberapa informasi yang cukup terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, membangkitkan semangat orang lain. Salah satu kualitas Rasulullah SAW yang paling indah adalah sikap lemah lembut dan kehalusan budi pekertinya serta komitmennya untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Pokok ajaran Islam itu universal dan diakui bahkan oleh kalangan non-Muslim sekalipun. Dalam Islam, untuk menjadi seorang yang mampu mengendalikan roda kehidupan masyarakat, haruslah berasal dari perasaan cinta dan kerinduan. Kita akan tahu bahwa kita adalah pemimpin yang efektif bilamana masyarakat sudah percaya dengan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat kita berdecak kagum dengan kepemimpinan Rasulullah SAW tersebut adalah dimana saat ini tidak ada pemimpin yang mampu meniru gaya kepemimpinan Rasulullah SAW itu. Pada saat yang sama, Rasul itu adalah seorang pakar sosiologi, pemimpin perang, pemimpin bertaraf internasional, seorang menejer, kepala negara, ahli fisafat dan seorang visioner, hanya untuk menyebutkan beberapa keahlian yang dimiliki Rasulullah SAW, dan masih banyak lagi yang tak dapat penulis sebutkan satu per satu. Melalui Rasulullah ini jualah, kita bisa melihat bahwa Islam adalah agama yang komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kami mohon cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu, serta kami mohon bimbinganMu dalam mengerjakan sesuatu yang menghantarkan kami mencapai cintaMu. Ya Allah teteskanlah seberkas cahayaMu pada hati kami karena tanpa bantuanMu jua mustahil kami dapat mensyukuri nikmatMu. &lt;em&gt;Fa'tabiruu ya ulil abshar, la'allakum turhamuun.&lt;/em&gt; []&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa lulusan dari Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;This article has presented on the occasion of Jum'at sermon in Baiturrahman Mosque, New Delh, India on May 22, 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111424685133182659?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111424685133182659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111424685133182659' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111424685133182659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111424685133182659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/rasulullah-saw-model-pemimpin.html' title='Rasulullah SAW: Model Pemimpin Sepanjang Zaman'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111364437346819557</id><published>2005-04-16T02:32:00.000-07:00</published><updated>2005-06-02T21:08:38.996-07:00</updated><title type='text'>Jawaban Untuk Masuk Ke Perguruan Tinggi India</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Assalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Salam sejahtera kami sampaikan semoga saudara/i senantiasa dalam keadaan sehat wal'afiat dan sukses dalam menjalankan segala aktifitas sehari-hari. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai Belajar dan Kuliah di India, kami sampaikan bahwa secara umum lama masa belajar di India, untuk jenjang Bachelor Degree (S-1) hanya ditempuh dalam waktu 3 tahun dan tanpa dibebani dengan penulisan skripsi (untuk jurusan ilmu sosial dan humanities), akan tetapi untuk jurusan kedokteran dan ilmu hukum ditempuh selama 5 tahun. Adapun untuk jenjang Master Degree (S-2) ditempuh dalam waktu 2 tahun. Dan untuk program Doktor (Ph.D) bisa memakan waktu selama 4-5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masuk ke Perguruan Tinggi di India, saudara/i harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dengan mengisi formulir yang disediakan oleh instituti yang bersangkutan. Kemudian saudara/i juga harus mengikuti ujian test masuk. Ada juga beberapa universitas di India yang tidak mengharuskan ujian/test masuk dikarenakan adanya quota untuk mahasiswa asing seperti Aligarh Muslim University &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.amu.ac.in/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;www.amu.ac.in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, Delhi University &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.du.ac.in/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;www.du.ac.in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, Jamia Millia Islamia &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.jmi.ac.in/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;www.jmi.ac.in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya, bagi universitas-universitas yang mewajibkan tes masuk ini, Kedutaan Besar India di Jakarta biasanya tidak mengeluarkan Visa Pelajar (Student Visa) sebelum saudara/i tercatat menjadi mahasiswa/i di salah-satu Perguruan Tinggi di India. Sehingga jika saudara/i datang ke India dengan menggunakan Visa Masuk (Entry Visa) hanya untuk mengikuti ujian masuk, dan kemudian saudara/i dinyatakan lulus, maka saudara/i harus kembali lagi ke Indonesia untuk memperoleh Visa Pelajar (Student Visa) dari Kedutaan India di Jakarta atau di Konsulat Jenderal India yang ada di daerah seperti di Medan, Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Universitas-universitas yang tidak mensyaratkan ujian/test masuk, seperti Aligarh Muslim University (AMU) atau beberapa universitas lainnya, maka saudara/i harus memenuhi beberapa hal dibawah ini guna mempermudah kami untuk mendaftarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Terjemahan Ijazah dan Nilai Akhir dalam Bhs. Inggris 1 Lembar.&lt;br /&gt;2. Foto copy Ijazah dan Nilai Akhir yang Asli dan sudah dilegalisir 1 Lembar.&lt;br /&gt;3. Pas Photo ukuran 4x6 sebanyak 12 Lembar.&lt;br /&gt;4. Melampirkan sepucuk surat yang menjelaskan tentang jurusan yang saudara/i kehendaki minimal 3 jurusan dan nama universitas yang Saudara/i inginkan.&lt;br /&gt;5. Menuliskan nama ayah dan ibu serta alamat lengkap dan nomor telephone di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas merupakan syarat-syarat penting jika saudara/i ingin kami daftarkan langsung ke Perguruan Tinggi. Dan saudara/i juga harus mengirimkan biaya formulir dan pendaftaran ini lebih kurang sebesar USD $ 50. Pendaftaran mahasiswa baru akan dimulai pada bulan Maret hingga akhir Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh data-data mengenai universitas di India dapat saudara lihat di website -website berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.education.nic.in/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.education.nic.in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://dir.123india.com/education/colleges_and_universities/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://dir.123india.com/education/colleges_and_universities/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.educationaddress.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.educationaddress.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;4). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.educationinfoindia.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.educationinfoindia.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;5). &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.egurucool.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.egurucool.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah India juga memberikan beasiswa melalui program Indian Council for Cultural Relation (ICCR), dan beasiswa ini diberikan kepada seluruh mahasiswa/i yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia. Adapun cara untuk memperoleh beasiswa ini, terlebih dahulu saudara harus mendapatkan formulir beasiswa yang tersedia di Kedutaan India Jakarta, di Atase Pendidikan dan Informasi, Mr. Shri Kaisar Alam, nomor telp. 021-021-5204168. Atau saudara juga boleh mengecek langsung di website berikut: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.embassyofindiajakarta.org/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.embassyofindiajakarta.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.eoijakarta.or.id/EOfficials.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.eoijakarta.or.id/EOfficials.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran untuk memperoleh beasiswa tersebut biasanya di mulai dari bulan Januari hingga pertengahan Pebruari. Scheme yang ditawarkan itu adalah GCSS, silakan buka link ini: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.embassyofindiajakarta.org/content.php?sid=54#GCSS"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.embassyofindiajakarta.org/content.php?sid=54#GCSS&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Formulir beasiswa tersebut juga dapat saudara download dari website:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.embassyofindiajakarta.org/pdf/app_iccr.pdf"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.embassyofindiajakarta.org/pdf/app_iccr.pdf&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Formulir beasiswa tersebut berjumlah 11 halaman, dan formulir tersebut harus diisi sesuai dengan data-data saudara/i secara benar dengan mengikuti petunjuk yang tersedia, Setelah diisi dengan benar, maka kirimkan Formulir beasiswa tersebut ke Kedutaan India di Jakarta. Sertakan juga bersama formulir tersebut terjemahan berbahasa Inggris Ijazah dan Nilai Akhir sebanyak 7 rangkap dan silabus pelajaran saudara dari pihak sekolah terakhir saudara sebanyak 2 rangkap, kemudian surat rekomendasi tentang kemampuan Bahasa Inggris saudara dari 2 orang yang benar-benar mengakui kemampuan bahasa Inggris saudara seperti guru Bahasa Inggris saudara dan sepucuk surat permohonan dari saudara untuk mengikuti pendidikan di India dengan memperoleh beasiswa dari ICCR yang ditujukan kepada Mr. Shri Kaisar Alam (Attache Education and Information), Embassy of India, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris, Hindi, Urdu, dan bahasa Arab bagi yang mengambil jurusan bahasa Arab. Karena itu, we are - foreigners - assumed to have sufficient knowledge in english, if not, it'll be on our own risk. Mengenai biaya kuliah bagi yang self finacial dapat dilihat di arsip mailing list PPI India [&lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:ppiindia@yahoogroups.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ppiindia@yahoogroups.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;] berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://geocities.com/arsip_nasional/beasiswa/beasiswa5.htm"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://geocities.com/arsip_nasional/beasiswa/beasiswa5.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun universitas yang menjadi tempat konsentrasi belajar mahasiswa/i Indonesia selama ini adalah: Delhi University di New Delhi, Jawaharlal Nehru University di New Delhi, Jamia Millia Islamia di New Delhi, Jamia Hamdard di New Delhi, Aligarh Muslim University, Aligarh di Uttar Paradesh (UP), Lucknow University di Uttar Paradesh (UP), Agra University di Agra, Bangalore University di Bangalore, Hyderabad University di Hyderabad, Pune University di Pune dan di Indian Istitute of Technology (IIT) Roorkee di Roorkee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian surat ini kami sampaikan semoga bisa membantu saudara/i. Bila masih ada yang ingin ditanyakan, silakan hubungi kami di email &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:ppi.india@gmail.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ppi.india@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;,  &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:ppiindiya@yahoo.co.in"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ppiindiya@yahoo.co.in&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; Kunjungi website PPI India di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ppi-india.org/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.ppi-india.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Selamat belajar dan semoga sukses. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;New Delhi, 16 April 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;TTD.,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil, &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India Periode 2002-2003; Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111364437346819557?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111364437346819557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111364437346819557' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111364437346819557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111364437346819557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/jawaban-untuk-masuk-ke-perguruan.html' title='Jawaban Untuk Masuk Ke Perguruan Tinggi India'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111290066800107448</id><published>2005-04-07T12:00:00.000-07:00</published><updated>2005-04-07T12:06:11.106-07:00</updated><title type='text'>Mencari Kebahagiaan Yang Hakiki</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK orang yang sering salah dalam memaknai arti kebahagiaan. Mereka mengartikan kebahagian sebagai sesuatu yang diinginkan dan kemudian keinginannya tersebut terpenuhi. Bila keinginannya tersebut sudah terpenuhi, maka ia akan menemukan kebahagiaan itu tadi. Namun sebaliknya, bila sesuatu yang diinginkannya tersebut tak terpenuhi, maka ia akan kecewa dan putus asa. Mereka tak menyadari dan tak mau pula memahami sesuatu yang paling sederhana bahwa untuk mencapai kebahagiaan tersebut, hendaklah ia menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meraih kebahagiaan ini sepenuhnya menjadi urusan masing-masing, urusan personal. Sekarang ini, banyak diantara masyarakat kita yang beranggapan bahwa seseorang yang mampu mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya berarti hanya dialah yang mampu merasakan kebahagiaan itu. Bagi seorang anak yang selalu dimanja, atau seorang yang kaya, sesuatu yang berbentuk materi itu memang dapat dicapai secara mudah. Begitu pula dengan seorang pemenang berbagai penghargaan, seorang jenius, intelektual bahkan seorang pekerja keras pun kebahagian itu tetap bisa ia raih dan ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak yang berpakaian compang-camping, seorang anak yatim-piatu, seorang yang memiliki gangguan kejiwaan, mereka semua bisa merasakan kebahagiaan ini. Mereka akan lebih bahagia lagi manakala kita bisa membagi kebahagiaan kita kepada mereka. Hanya saja, yang perlu dipertanyakan adalah apakah kita mau membagi kebahagiaan kita kepada mereka? Khusus kepada mereka ini, saya mengajak kita semua untuk bisa membagi kebahagiaan kita kepada mereka. Tanamkan dalam diri anda bahwa kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan anda juga. Dulu, ketika saya masih di Pondok Pesantren (Ponpes) Dar El-Hikmah, Pekanbaru, seorang guru yang telah mengakhiri masa pengabdiannya di Ponpes tersebut menulis sepucuk surat untuk saya dimana salah satu pesannya berbunyi begini, "Anakku Izam, kesuksesanmu adalah kebahagian saya juga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak mengenang masa-masa silam saya ketika masih belajar di Ponpes Dar El Hikmah, Pekanbaru, dimana guru saya Ust. Rahmat Wahyudin pernah mengajarkan sebuah untaian syair Arab yang berbunyi, "Laitsal fataa man yaquulu hadza abii, walaakinnal fata man yaquulu haa ana dza". Kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya begini, "Bukanlah seorang pemuda atau pemudi, yang selalu mengatakan inilah bapakku, tapi seorang pemuda atau pemudi adalah yang selalu mengatakan bahwa inilah Aku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kaitan antara syair Arab ini dengan kebahagian ini? Saya menginterpretasikan ungkapan yang tertuang dalam syair Arab tersebut bahwa untuk mencapai yang namanya kebahagian itu, seseorang tersebut tak mesti menyandarkan dirinya kepada orang lain. Ia bisa mendapatkan kebahagian itu dengan menjadi dirinya sendiri. Apakah ia seorang yang katakanlah -financially- merasa sebagai seorang yang kaya atau miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagian tak mesti harus selalu berada di hotel berbintang, tidur di kasur empuk berbantalkan kapas halus berbalut sutra. Akan tetapi kebahagian dapat dirasakan di sebuah gubuk tua, tidur di atas lantai tanpa alas dan berbantalkan lengan saja. Kebahagian ada dimana saja dan kapan saja, yang penting seseorang itu merasa puas dengan apa yang dirasakannya saat itu. Itulah arti dari sebuah kebahagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah acara santai bersama rekan-rekan di sebuah kafe, malam itu, saya ditanya oleh seorang rekan begini, “Kak, orang tua kakak kerjanya apaan?” Saya tak menjawab pertanyaan ini. Saya langsung mengambil koran yang ada di depan saya dan kemudian kopi hangat yang memang sudah tersedia itu saya minum walau rasanya telah berubah tak seperti rasa aslinya. Saya sedih bukan karena saya ditanya, tapi saya sedih karena saya beranggapan bahwa rekan ini -- jangan-jangan -- untuk berteman dengan seseorang itu harus melihat dulu siapa orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali karena rekan ini merasa bahwa saya tidak senang untuk ditanyai semacam itu, maka iapun berujar, "Kak, I am sorry for asking your private matter. Siapapun kakak, kakak tetap teman kami". Mendengar ucapannya ini, saya sempat menitikkan air mata, hanya saja ketiga orang rekan yang hadir di kafe malam itu tak mengetahuinya. Bagi saya pribadi, inilah dia orang yang mandiri, percaya dengan dirinya sendiri, berteman dengan siapapun bukan karena melihat siapa orang tuanya, tapi ia berteman dengan siapapun murni karena niat tulusnya untuk berteman. Ia berteman bukan karena seseorang itu anak seorang konglomengrat, bukan pula karena ia seorang anak yang melarat. Sangkaan awal saya yang menganggapnya tidak mandiri dan tidak percaya menjadi dirinya sendiri ternyata salah, karena itu kakak mohon maaf. Sekali lagi, kakak mohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun oleh seorang rekan lain, ia menerangkan apa pekerjaan orang tua saya. Terlepas dari segala kekuranganya, saya merasa bersyukur karena untuk pertanyaan yang tak saya jawab tadi, saya tak harus mengeluarkan energi untuk menjawabnya. Rekan yang satu ini dalam padangan saya, memang belum bisa untuk menjadi dirinya sendiri. Karena memang dalam setiap kesempatan ia lebih banyak "berfatwa" tentang orang lain, yaitu ayah, ibu, pakcik atau makciknya. Dan ia sepertinya merasa bahagia untuk menceritakan semua itu kepada orang lain. Tak jarang dalam kesempatan-kesempatan tertentu, sikap "elit"nya muncul ke permukaan yang menyebabkan orang lain yang melihatnya menjadi bertanya, "Hemmm...., beginilah anak A dan anak B itu". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pemandangan yang demikian itu, biasanya ungkapan syair Arab diatas tadi sering melintas dalam pikiran saya. Ia merasa lebih bahagia menjadi anak A atau keponakan B. Rupanya ia belum bisa merasa bahagia untuk menjadi dirinya sendiri. Adalah wajar saja baginya untuk meraih kebahagian ini, ia harus bersandar dulu kepada orang lain. Entah itu kepada ayah, ibu, pakcik atau makciknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisan ini juga saya ingin mengetengahkan sebuah kisah yang berkaitan dengan kebahagiaan ini. Suatu hari, seorang bisnismen menghabiskan akhir pekannya di tepi pantai. Di tepi pantai tersebut ia menemukan seorang pencari ikan atau seorang nelayan yang sedang duduk-duduk santai di dalam sebuah perahu kecilnya sambil menghisap sebatang rokok daun dan secangkir teh panas. Matanya jauh menerawang seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu. Karena penasaran, maka bisnismen ini datang menghampirinya dan berkata, "Wahai jiwa yang tenang, mengapa anda tak menangkap ikan?". Nelayan itu menjawab spontan, "Saya sudah menangkapnya". Lantas bisnismen itu meneruskan pertanyaannya, "Terus, mengapa anda tidak menangkapnya lagi?" Nelayan itu pun menjawab, "Buat apa saya harus menangkapnya lagi, saya sudah merasa cukup dengan beberapa ekor yang saya dapatkan hari ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa aneh, maka bisnismen itu kembali meneruskan kata-katanya, "Betul, tapi bukankah bila anda bisa memperoleh ikan yang lebih banyak lagi, nantinya ikan tersebut bisa anda jual". Dengan yakin nelayan itu juga memberikan alasannya, "Anda benar, tapi nanti duit hasil ikan yang saya jual itu harus saya apakan?" Bisnismen inipun merasa inilah kesempatannya untuk mematahkan argumen nelayan ini, ia pun berkata, "Nah itu dia, nanti duitnya bisa anda gunakan untuk membeli ini dan membeli itu, anda juga bisa bersantai ria. Yakinlah, dengan demikian anda pasti akan merasa bahagia seperti saya ini". Dengan tersenyum manis, nelayan ini berkata, "Apakan anda mengira saya yang seperti ini tidak merasa bahagia?" Mendengar jawaban dari nelayan ini, maka bisnismen itu diam dan tak terdengar lagi sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kebahagiaan. Siapapun bisa mendapatkannya. Kebahagian tak pernah pilih kasih untuk menemui siapa saja. kebahagian ada dihati seorang kaya, dan kebahagian itu juga ada dihati seorang miskin. Hanya saja yang perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah sudah sejauh mana kita memahami arti kebahagian ini. Lihatlah kisah diatas tadi, apakah nelayan tersebut merasa tidak bahagia? Dia merasakan tidak ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Kebahagiaan itu akan muncul tatkala kita menyenangi sesuatu yang sedang kita kerjakan dan kita juga mengerjakan sesuatu itu karena kita merasa senang. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia University, New Delhi, India; Alumni Ponpes Dar El-Hikmah, Pekanbaru, Riau.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111290066800107448?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111290066800107448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111290066800107448' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111290066800107448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111290066800107448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/mencari-kebahagiaan-yang-hakiki.html' title='Mencari Kebahagiaan Yang Hakiki'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111271543218961012</id><published>2005-04-05T08:35:00.000-07:00</published><updated>2005-04-07T11:56:01.696-07:00</updated><title type='text'>Orang Berilmu Belajar Tiadalah Jemu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KOLOM opini harian The Hindu, salah satu harian nasional terkemuka di India, Alexander Downer, Menteri Luar Negeri Australia melalui tulisannya “The threat of transnasional terrorism” (Kamis, 29 Juli 2004) mengatakan bahwa Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri Indonesia dan dirinya (baca: Alexander Downer) telah bersepakat untuk membentuk “Inter-faith dialogue” yang juga akan melibatkan tokoh-tokoh agama dari kedua negara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pribadi yang berkebangsaan Indonesia, saya menyetujui usaha-usaha yang dilakukan oleh kedua negara –Indonesia dan Australia– untuk membasmi segala macam bentuk terorisme dari permukaan bumi ini. Tapi di lain sisi, saya yang juga sebagai seorang Muslim tidak sepakat bila tindakan terorisme tersebut hanya dilabeli kepada umat Islam semata. Sebab, bila kita mau menilik secara cermat tentang ideologi semua agama yang ada, tak satupun agama di dunia ini yang mengajarkan untuk berbuat sesuatu yang sifatnya merusak seperti tindakan terorisme itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang muncul ke permukaan saat ini selalu beranggapan bahwa semua bentuk terorisme tersebut dilakukan hanyalah oleh kelompok Islam semata, sehingga akhirnya muncullah apa yang disebut sebagai kelompok Islam ekstrim, kelompok Islam mainstream dan atau kelompok Islam fundamentalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabelan bahwa Islam identik dengan kekerasan atau terorisme juga berimbas terhadap mahasiswa atau calon mahasiswa Indonesia yang hendak belajar ke luar negeri. Padahal belajar ke luar negeri boleh dikata merupakan impian yang tak tertulis setiap pelajar atau mahasiswa yang memang ingin memperdalam dan mempertajam kemampuannya terhadap bidang ilmu yang digeluti oleh masing-masing pelajar atau mahasiswa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing universitas di setiap negara menawarkan sistem pendidikan yang berbeda serta jurusan-jurusan tertentu yang menjadi andalannya. Universitas-universitas di Amerika dan Eropa mengandalkan disiplin ilmu eksakta dan ilmu sosial misalnya, sedangkan universitas-universitas di China atau Jepang lebih mengutamakan jurusan atau disiplin ilmu yang berkaitan dengan Teknologi. Untuk mempelajari ilmu agama Islam atau studi keislaman, banyak yang menjadikan universitas-universitas di negara Timur Tengah sebagai sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Pakistan, suatu negara yang telah menyebut dirinya sebagai “Islamic Country”. Artinya, jika kita cermati kata Islamic country tersebut, maka jelaslah bahwa Pakistan adalah negara Islam yang menerapkan hukum atau syari’at Islam sebagai landasan negaranya. Ini berbeda dengan Indonesia, karena Indonesia bukanlah Islamic country, tetapi Indonesia itu hanya Muslim country. Disini Indonesia tidak menjadikan hukum atau syariat Islam sebagai landasan negaranya, melainkan di Indonesia itu hanya mayoritas  penduduknya yang beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakistan boleh dikatakan sebagai “Mesir”nya Asia. Sebab kebanyakan dari anak-anak negeri ini datang ke Pakistan hanya untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama Islam. Karena jika dilihat dari sejarahnya, Pakistan banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama, tokoh-tokoh intelektual yang ketokohannya bukan saja diakui oleh negaranya sendiri, tapi juga diakui oleh negara-negara lain. Dan hasil cipta karya baik berupa buku-buku maupun tulisan mereka pun sudah banyak yang dapat kita nikmati terjemahan-terjemahannya didalam bahasa Indonesia. Hanya saja yang penting kita ingat, bahwa setiap negara itu juga memiliki undang-undang atau peraturan-peraturan yang bukan saja harus dipatuhi oleh warganya, akan tetapi juga harus dipatuhi oleh warga negara asing yang berada di dalam wilayah negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasuki suatu negara, kita harus memiliki visa resmi dan masih berlaku sesuai dengan tujuan kita datang ke negara tersebut. Jika kita ingin tour ke suatu negara, maka tentunya kita harus mendapatkan visa turis dari perwakilan negara yang akan kita kunjugi itu di negara kita (Jakarta) atau Konsulat Jenderalnya. Begitu pula kalau kedatangan kita untuk belajar, maka seyogyanya kita memperoleh visa pelajar pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan India yang saat ini terkenal dengan informasi dan tekonloginya. Barangkali sebahagian diantara kita masyarakat Indonesia hanya mengenal India sebagai negara yang penuh dengan tarian, nyanyian dan tangisan. Jika mengenal India hanya sebatas “luar”nya saja, maka hal itu tidaklah cukup. Sebab anggapan seperti ini muncul karena memang setiap tayangan film-film India yang selalu menghiasi TV kita selalu memperlihatkan film-film India yang tidak pernah terlepas dari cerita cinta. Dan nyanyian, tarian serta tangisan sudah merupakan sesuatu yang tak bisa terpisahkan dari setiap film-film India tersebut. Patut untuk kita kagumi pula bahwa India adalah salah satu negara terbesar dalam memproduksi film, dan hampir semua film tersebut selalu memperlihatkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mungkin telah luput dari pengetahuan kita bahwa India adalah negara yang cukup maju dalam bidang pendidikan, dan masalah mutu pendidikan ini sudah mampu untuk bersaing dengan mutu pendidikan di negara Amerika dan Eropa. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya alumni-alumni Perguruan Tinggi di India yang direkrut untuk menjadi tenaga pengajar atau tenaga ahli di luar negeri, baik ke Amerika maupun Eropa. Lebih-lebih lagi dalam bidang Information and Technology (IT), karena saat ini India memang cukup terkenal dalam bidang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai pendidikan di India, saya ingin mengatakan bahwa sistem pendidikan yang ditawarkan oleh India adalah benar-benar berbeda dengan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia. Lebih menariknya lagi bahwa setiap universitas memiliki otonomi dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berlaku di masing-masing universitasnya. Sehingga dalam masalah ujian misalnya, ada yang menggunakan sistem semester, dan ada pula yang menggunakan sistem tahunan. Adapun lama masa studi untuk S1 selama 3 tahun, S2 selama 2 tahun dan S3 maksimal selama 5 tahun. Untuk meraih gelar S1, mahasiswa tidak dibebani dengan penulisan skripsi, sedangkan untuk meraih gelar S2, itu tergantung dari ketentuan yang berlaku di universitas yang bersangkutan, adapun untuk meraih gelar S3, penulisan thesis memang sudah merupakan suatu kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan nasib pendidikan di Indonesia? Mengkaji masalah pendidikan di Indonesia memang merupakan suatu hal yang menarik sekali, mengingat dari dulu sampai sekarang masalah pendidikan di Indonesia ini selalu saja menjadi perbincangan yang tak ada ujungnya. Bagaimana tidak, ketika negara-negara berkembang lainnya, diantaranya India, sudah memetik hasil dari pendidikan yang berlaku di negaranya, kita bangsa Indonesia masih saja memikirkan tentang sistem dan metode yang dianggap paling efektik bagi anak didik Indonesia. Fenomena yang masih sering terjadi di negeri kita ini adalah tidak adanya ketentuan baku tentang sistem pendidikan itu sendiri, sehingga tidak mengherankan ketika adanya pergantian tampuk kepemimpinan dalam urusan pendidikan ini, maka sistem pendidikan pun sudah bisa dipastikan berubah pula.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak sudah berita-berita yang kita dengar atau kita baca baik melalui media elektronika maupun media cetak tentang nasib anak-anak negeri ini yang putus sekolah bahkan ada yang sampai nekad  bunuh diri akibat dari “ada-ada saja” uang yang selalu dipungut dari sekolah yang bersangkutan. Kita tidak bisa menyalahkan sekolah begitu saja, karena di satu sisi pihak sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan bagi para lulusannya, akan tetapi di pihak lain, sekolah tersebut juga tidak mendapatkan bantuan yang selayaknya dari pemerintah. Maka segala bentuk pembiayaan yang berkaitan dengan pendidikan tersebut selalu dilimpahkan kepada siswa. Sehingga bagi siswa yang kurang mampu akan terjadi bentrokan mental, ia diharapkan untuk membayar iuran tambahan tadi sekian rupiah, tapi di sisi lain ia juga dituntut untuk mendapatkan uang tersebut. Maka bagi siswa yang merasa putus asa, ia tidak akan segan-segan untuk memilih putus sekolah atau bahkan sampai membunuh dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun ceritanya, saya tetap bangga dengan berbagai macam prestasi anak negeri ini, baik di panggung nasional maupun di panggung internasional. Memang, Untuk mempersiapkan generasi yang baik tidak akan cukup dan sempurna bila tidak diikuti dengan membekalinya dengan pendidikan yang baik pula. Raja Ali Haji di dalam  “Gurindam Dua Belas”, pasal ke-5 menyebutkan bahwa “Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia. Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu.” Manakla kita mau mambaca dan memikirkan makna yang terselubung dibalik ayat tersebut, disana kita akan menemui jalan terbentang luas yang akan memenuhi kebutuhan kita dalam mencari format pendidikan yang benar. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111271543218961012?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111271543218961012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111271543218961012' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111271543218961012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111271543218961012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/orang-berilmu-belajar-tiadalah-jemu.html' title='Orang Berilmu Belajar Tiadalah Jemu'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111261969411417605</id><published>2005-04-04T05:44:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T06:01:34.120-07:00</updated><title type='text'>Johanes Paulus II, Simbol Perdamaian Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU Pagi, 2 April 4, 2005, halaman St. Peter, Vatikan, Roma penuh disesaki oleh puluhan ribu manusia. Lilin-lilin dinyalakan, dan memang sejak Jum’at malam itu, telah banyak pengikut-pengikut Paus Johanes Paulus II yang melewati waktu malamnya di halaman St. Peter, Vatikan tersebut. Pandangan mereka hanya tertuju pada satu arah, jendela apartemen pribadi Paus Johanes Paulus II. Suasana hening menghiasi St. Peter kala itu. Tak ada suara selain doa-doalah yang terdengar dari setiap bibir para pengikut Paus Johanes Paulus II yang berhadir di tengah suasana yang penuh keheningan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Johanes Paulus II meninggal pada Sabtu malam pukul 21.37 waktu setempat bertepatan dengan pukul 02.37 dini hari waktu Indonesia di apartemen pribadinya. Meninggalnya Paus Johanes Paulus II tak hanya menitikkan air mata dan menyesakkan dada umat kristiani khususnya umat katolik mulai dari Polandia sampai ke Amerika, dari Afrika sampai ke Asia saja, tapi seluruh jiwa di dunia ini yang menganggapnya sebagai simbol perdamaian turut merasakan kehilangan atas berpulangnya Paus Johanes Paulus II ini. Ia meninggal setelah dua hari Terri Ann Schiavo meninggalkan dunia yang fana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan fisik Paus Johanes Paulus II ini telah kelihatan melemah dan lesu sekali tatkala ia hadir di muka umum melalui jendela apartemennya pada hari Rabu pekan lalu. Rupanya, kehadirannya tersebut merupakan kehadirannya yang terakhir di depan khalayak ramai. Saat itu, ia memang sudah tak sanggup lagi untuk mengucapkan kata-kata, padahal Paus Johanes Paulus II ini dikenal sebagai komunikator yang mampu bersuara lantang. Ia hanya melambaikan tangannya, dimana saya menginterpretasikan lambaian tangannya itu sebagai pesan perdamaian kepada seluruh umat katolik khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karol Jozef Wojtyla dilahirkan di Wadowice, dekat Krakow, Polandia pada tanggal 18 Mei 1920. Gelarnya berubah menjadi Johanes Paulus II setelah ia terpilih sebagai Uskup di Roma, dan bertambah yakin tentang “takdir baiknya” itu bukan setelah ia terpilh sebagai Paus pada tanggal 16 Oktober 1978 menggantikan posisi Paus Johanes Paulus I yang meninggal secara mendadak, tapi setelah sebuah peluru gagal melukai “kehidupannya” pada tanggal 13 Mei 1981. Mehmet Ali Agca, seorang berkebangsaan Turki telah menjalankan niat busuknya, namun Paus Johanes Paulus II dengan segala kerendahan hatinya datang mengunjungi Mehmet Ali Agca ini yang berada di rumah tahanan dan sekaligus memaafkannya. Peristiwa ini terjadi ada tahun 1983. Dan pada tahun 1998, ia secara terbuka juga memaafkan umat katolik yang gagal membantu kaum Yahudi di Holocaust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Johanes Paulus II merupakan seorang tokoh yang mampu “menemui” massa melalui berbagai media, menghidupkan tradisi dan nuansa silaturrahmi kepada seluruh bawahannya selama di Vatikan. Ia selalu menyampaikan pesan-pesan perdamaian kepada umat manusia di 129 negara yang pernah ia kunjungi. Para pemimpin dunia melabelinya sebagai figur utama di abad 21 dan sekaligus sebagai pejuang kebebasan, perdamaian dan keadilan. Ia seorang pemimpin agama terkemuka dan bahkan merupakan seorang figur yang bisa diterima oleh semua kalangan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia telah kehilangan pejuang kebebasan manusia dan Tuhan telah memanggil pelayan kebaikan dan keimanan itu untuk kembali kepadaNya. Paus Johanes Paulus II merupakan sumber inspirasi bagi rakyat Amerika dan juga bagi jutaan manusia di dunia”, kata Presiden Amerika, George W. Bush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karol Jozef Wojtyla merupakan uskup pertama non-Itali selama lebih dari seperempat abad silam dan ia sekaligus merupakan penerus kepemimpinan atau uskup agung yang ke-263 setelah St. Peter – salah seorang murid Yesus – sebagai uskup agung di Roma. Karol Jozef Wojtyla terpilih sebagai Paus pada tahun 1978 dan ketika itu ia sudah berusia 58 tahun. Dan kini ia telah menutup usianya pada umur 84 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Johanes Paulus II merupakan Paus kedua atau ketiga yang terlama selama kurun waktu 2.000 tahun dalam sejarah kepausan. Ia dikaruniai kharismatik yang tinggi dan kemampuan intelektual yang tak perlu disangsikan. Ia menyampaikan pesan-pesan kepausan melalui berbagai media, terutama melalui layar televisi. Pesan-pesan perdamaian, bahaya perang dan hak-hak untuk hidup adalah topik yang tak pernah luput untuk selalu ia sampaikan. Meski ia sudah tak mampu lagi untuk berdiri dan mengharuskan ia untuk duduk di kursi roda, namun ia tetap tegar dan bersemangat dalam menyerukan petuah perdamaian kepada seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mampu menembus sekat-sekat agama, berjuang menegakkan HAM dan ikut bertarung dalam kancah politik sekaligus mengimbau pengikut-pengikutnya untuk menolak komunisme. Beberapa sejarawan menyebutkan bahwa Paus Johanes Paulus II memiliki andil yang sangat besar terhadap jatuhnya Uni Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Johanes Paulus II akan selalu dikenang oleh dunia karena kepiawaiannya dalam berdialog lintas agama. Seruannya untuk terus membudayakan perdamaian serta keberaniannya untuk bersuara menolak segala macam bentuk peperangan dan penindasan. Pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas mengatakan, “Kita telah kehilangan figur agamawan yang sangat penting dimana ia telah mempersembahkan kehidupannya demi perdamaian dan keadilan bagi semua orang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan meninggalnya Paus Johanes Paulus II, maka kepemimpinan sementara di Vatikan diserahkan kepada pejabat senior yang dikenal dengan “Kardinal Camerlengo”. Posisi kepemimpinan sementara itu dipegang oleh Kardinal Eduardo Martinez Somalo. Pemimpin sementara ini berkewajiban untuk melengkapi semua kebutuhan Vatikan yang sangat luar biasa itu. Selain itu, ia juga harus membuat undangan kepada seluruh pejabat tinggi gereja secepat mungkin guna mengatur hal-hal yang berkenaan dengan acara pemakaman jenazah Paus Johanes Paulus II tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal Eduardo Martinez Somalo juga harus mengatur waktu yang berkenaan dengan pelaksanaan pemilihan pengganti Paus Johanes Paulus II tersebut. Acara pemakaman jenazah Paus Johanes Paulus II ini nantinya akan diselenggarkan setelah empat atau sampai enam hari setelah Paus Johanes Paulus II dinyatakan telah menghembuskan nafas terakhirnya. Delegasi resmi dari seluruh dunia dipastikan akan hadir dalam acara pemakaman tersebut yang akan dipimpin langsung oleh pejabat tinggi gereja atau kardinal yang paling sepuh, yaitu Kardinal Bernardin Gantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Paus Johanes Paulus yang baru sudah harus dilaksanakan paling tidak 15 hari atau tidak lebih dari 20 hari sejak kematian Paus Johanes Paulus II ini. Dan Kardinal Martinez Somalo, pemimpin sementara tadi akan mengambil alih segala urusan administrasi di Vatikan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karol Jozef Wojtyla merupakan uskup pertama yang menulis buku dan bukunya tersebut diberi judul &lt;em&gt;“Crossing the Threshold of Hope”,&lt;/em&gt; sebuah buku yan masuk dalam kategori bestseller juga. Perlu diketahui pula bahwa Paus Johanes Paulus II juga menuai kritikan dari tokoh-tokoh liberal katolik, kritikan itu muncul karena pendiriannya yang teguh untuk menolak aborsi, homoseksual dan penggunaan alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Johanes Paulus II merupakan Paus pertama yang menginjakkan kakinya di gereja kaum Yahudi di Roma pada tahun 1986, begitu pula di Mesjid, Damaskus, Syria pada tahun 2001. Ia juga merupakan orang pertama yang memimpin pertemuan akbar tokoh-tokoh agama besar di dunia dalam acara “A day of prayer for peace” di Asisi tahun 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia telah kehilangan pemimpin gereja dan seorang negarawan yang seluruh kehidupannya dipersembahkan untuk mengangkat martabat manusia, kebebasan dan kemerdekaan bagi orang-orang yang membutuhkan dan teraniaya”, kata A.P.J. Abdul Kalam, Presiden India. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111261969411417605?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111261969411417605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111261969411417605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111261969411417605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111261969411417605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/johanes-paulus-ii-simbol-perdamaian.html' title='Johanes Paulus II, Simbol Perdamaian Dunia'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111246391135576751</id><published>2005-04-02T09:43:00.000-08:00</published><updated>2005-04-02T09:45:11.356-08:00</updated><title type='text'>Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [5]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITU tiba di Mina, kamipun segera mendirikan sholat Maghrib dan Isya jama’ taqdim. Namun karena aku masih merasa belum puas bila tidak berdiam diri di Mudzalifah, maka pada pukul 20.15, aku dan rekanku Wahyu Ismail kembali lagi ke Mudzalifah dan bermalam disana hingga pukul 00.03. Kala itu sudah terlihat antrian jamaah haji dari berbagai negara yang sangat panjang memenuhi semua jalan-jalan di Mudzalifah yang akan masuk menuju Mina. Antrian itupun mengingatkan aku tentang antrian manusia pada saat dihisab di hari akhir zaman nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum waktu sholat Subuh tiba pada tanggal 10 Dzulhijjah itu, akupun melempar jumroh Aqabah. Satu hal yang sangat-sangat sulit untuk dimaknai tentang ritual melempar jumroh ini. Yang jelas ritual ini memiliki sejarah yang sangat jelas dan panjang. Yaitu, bagaimana usaha Sayyidatuna Hajar, seorang isteri tercinta Nabiullah Ibrahim Khalilullah dan ibunda tercinta Nabiullah Isma’il ‘Alaihi as-Salam tatkala melempar iblis yang berupaya mengahalanginya dalam menjalankan syari’at Allah SWT. Pada tanggal 10 Dzulhijjah 1425 itu, suasana di Mina sangat-sangat mengharukan. Jutaan umat Islam berkumpul di tempat yang sama, dan akan melemparkan tujuh butir batu pada satu tujuan yang sama, yaitu jumroh ‘Aqobah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 11 Dzulhijjah 1425, semua ritual haji masih berjalan dengan lancar. Dinginnya malam dan panasnya siang tidaklah membuat jamaah haji dari manapun lentur dalam menghadapi suasana tersebut. Mina yang penuh dengan jutaan jamaah haji tersebut adalah pemandangan yang selama ini belum pernah ku saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tanggal 12 Dzulhijjah 1425 itu, barulah terjadi puncak keramaian. Suatu peristiwa bersejarah berupa hujan lebat dan tiupan angin yang begitu kencang akan senantiasa menjadi catatan penting dalam diary dan ingatan siapa saja yang melaksanakan ibadah haji pada tahun 1425 H bertepatan dengan awal tahun 2005 Masehi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, sesaat setelah masuk waktu sholat Dzuhur, tiba-tiba suasana di atas Mina mendung. Anginpun berhembus dengan kencangnya. Gunung-gunung yang menjulang tinggi mengeliligi Mina tampak diselimuti oleh awan-awan tebal yang kian menghitam. Kertas-kertas plastik pun naik beterbangan. Aku hanya bisa menyaksikan kekuasaan Allah SWT yang akan menurunkan hujan di hari itu. Tak ada seorangpun dan satu alat canggihpun yang mampu menolak kekuasaan Allah SWT. Semuanya berproses dengan sangat cepat. Gerimispun turun, tiupan angin juga bertambah kencang dengan hebatnya. Masing-masing jamaah haji tampak berlari kesana-kemari mencari perlindungan. Ditengah-tengah kebingungan itu, sesekali gemuruh dan kilat turut menghiasi suasana tersebut. Wilayah Mina terutama di sekitar tempat pelemparan jumroh yang sangat begitu luas penuh disesaki oleh jamaah dalam waktu sesaat saja sepi dari jamaah. Boleh dikata semua jamaah yang berada di sisi kanan dan kiri jembatan pelemparan jumroh pada akhirnya menyatu berteduh di bawah jembatan pelemparan jumroh tersebut. Di sini Allah SWT kembali memperlihatkan kekuasaanNya, bahwa Mina juga tak ubahnya rahim seorang ibu, Mina mampu menampung berapun besarnya kuantitas jamaah haji yang masuk ke dalam wilayah Mina itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras itu turun dengan hebatnya kira-kira pada pukul 16.15 was dan baru mulai reda pada pukul 17.05 was. Perubahan di Mina terjadi begitu cepatnya. Suasana yang pada awalnya begitu mencemaskan karena sesak oleh jutaan manusia tiba-tiba berubah menjadi lengang dari manusia. Aku sebut mencemaskan karena pada hari itu setiap jamaah saling berusaha untuk bisa melempar jamarat dan kemudian segera keluar meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Hal tersebut mereka lakukan karena sebagian besar jamaah haji tersebut ingin mengambil nafar awal. Sebab bila jamaah tersebut masih berada di Mina sampai matahari terbenam, itu artinya mereka harus mengambil nafar tsani, dimana mereka harus melempar jamarat lagi pada hari berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini aku yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT Maha tahu tentang hamba-hambaNya. Angin, gemuruh, kilat dan hujan yang Dia turunkan adalah merupakan rahmatNya jua. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi bila saat itu Allah SWT tak mendatangkan rahmatNya dengan segera. Aku benar-benar menyaksikan dengan mataku sendiri bahwa betapun besarnya jumlah kekuatan manusia untuk mengatur jamaah haji sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk menertibkan jamaah yang jumlahnya jutaan tersebut. Sekitar pukul 16.45 was, pos penjagaan ku tinggalkan. Semula aku berikrar untuk tetap bertahan di tengah hujan yang deras dan angin yang bertiup hebat itu. Namun setelah aku memikirkan kesehatanku, akhirnya aku memilih untuk kembali ke posko jamarat. Air mengalir dengan derasnya mencari kawasan yang lebih rendah. Rupanya posko jamaratpun sudah habis berantakan. Semua koper dan tas-tas rekan-rekanku sudah habis basah lebih dulu sebelum sempat diselamatkan. [bersambung …] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;alumnus Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111246391135576751?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111246391135576751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111246391135576751' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246391135576751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246391135576751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/risalah-wisata-berhaji-mem_111246391135576751.html' title='Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [5]'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111246368112619633</id><published>2005-04-02T09:38:00.000-08:00</published><updated>2005-04-02T09:41:21.130-08:00</updated><title type='text'>Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [4]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA hari Selasa, 8 Dzulhijjah 1425 bertepatan dengan 25 Januari 2005, semua Petugas Haji Indonesia Daker Madinah al-Munawwarah yang ditugaskan untuk wilayah Mina meninggalkan wisma Aziziyah langsung menuju padang Arafah tepat pada pukul 16.00 was. Dengan menggunakan pakaian ihram, akupun berangkat bersama rekan-rekan sesama petugas lainnya menuju padang Arafah. Hatiku menangis, bagaimana tidak, sunnahnya sebagaimana yang aku ketahui bahwa pada tanggal 8 Dzulhijjah itu aku harus menuju Mina dan bermalam di sana hingga tiba waktu sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijjah. Namun, mengingat bahwa saat itu aku adalah salah satu dari 3.000an Petugas Haji Indonesia, maka aku harus meninggalkan perkara sunnah yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di padang Arafah, kami pun langsung melaksanakan sholat Maghrib jama’ taqdim qashar dengan Isya di mesjid Misi Haji Indonesia, Arafah. Seusai sholat, aku langsung masuk ke kemah dan istirahat malam. Suasana dingin yang menusuk tulang ketika aku bermalam di padang Arafah ini kembali mengingatkan aku bagaimana situasi dan kondisi pada saat Rasulullah dan sahabat ketika berhaji pada masa itu. Hembusan angin Arafah sangat ku yakini akan membawa rahmat bagi siapa saja yang berwukuf benar-benar mengaharap ridho Allah SWT semata. Di padang Arafah ini aku melihat jutaan kemah yang memutih diisi oleh tamu-tamu Allah yang berhajat melakukan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di padang Arafah pada hari yang sama dan dalam waktu yang sama pula. Tak ada yang dicari dan yang diharapkan lagi selain hanya memenuhi panggilah Allah SWT semata.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang Arafah yang laksana rahim seorang ibu dapat menampung berapapun besarnya jumlah umat Islam yang melaksanakan ibadah haji. Gunung-gunung yang mengelilingi seluruh padang Arafah tersebut juga mengingatkan aku suasana perjumpaan Nabiullah Adam ‘Alaihi as-Salam dengan Sayyidatuna Hawa. Tentunya mereka juga melintasi gunung-gunung yang menjulang tinggi tersebut. Maha suci Allah, perasaan cinta rupanya mampu menghancurkan semua sekat-sekat dalam menuju cinta itu sendiri. Batu-batu yang begitu kekarnya dan kemudian menjelma menjadi gunung tersebut duduk bersimpuh sambil bertasbih, bertahmid dan bertahlil kepada Tuhannya. Ya Allah, tak akan ada hentinya aku menulis nikmatmu, aku tetap merindui untuk dapat bersua dengan padang ArafahMu di masa-masa mendatang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi tanggal 9 Dzulhijjah 1425 tersebut, aku juga menemui jamaah haji Indonesia asal Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Suasana yang penuh dengan nuansa kekeluargaan muncul di sana. Mereka juga menyediakan makanan ringan untukku, namun aku menolaknya. Mereka tetap memaksaku untuk mengambil makanan itu karena rupanya makanan itu adalah makanan khas Melayu yang tak ada di tempat lain. Salah seorang diantara mereka berujar, “Iko udah sampailah kito di padang Arafah ko”. Takjub dan terharu terpancar menghiasi wajah-wajah jamaah ini dalam menyaksikan padang Arafah yang begitu luasnya. Sebagian dari mereka juga mengatakan bahwa kehadiran mereka di padang Arafah ini bak mimpi yang menjadi kenyataan. Selepas bertemu dengan jamaah ini, aku pun kembali ke posko. Kemudian pada pukul 11.30 was khutbah Arafah pun disampaikan oleh KH. Mohd. Tholhah Hasan. Seusai khutbah ini, sholat Dzhuhurpun didirikan. Gema takbirpun menghiasi semua perkemahan jamaah haji di padang Arafah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di padang Arafah ini pula, aku bertemu dengan teman lamaku, Rasyadi al-Makky, ia adalah temanku semasa menjadi santri di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran, Bogor, dan saat ini ia sedang belajar di International Africa Islamic University, Sudan. Tak banyak do’a yang bisa ku minta kepada Allah SWT tatkala berwukuf di padang Arafah ini, padahal aku yakin seyakin-yakinnya bahwa segala do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT ketika berwukuf tersebut akan dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah duduk sesaat di dalam mesjid Misi Haji Indonesia, Arafah, aku pun langsung masuk kembali ke kemah. Baru beberapa menit di dalam kemah, mengudaralah imbauan kepada seluruh Petugas Haji Indonesia yang ditugaskan untuk wilayah Mina agar segera menuju bus karena pada saat itu juga harus berangkat ke Mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kerelaan, padang Arafah pun ku tinggalkan. Sedih dan menyesal melimuti perasaanku kala itu. Bagaimana tidak, pertama, sepengetahuanku seorang yang sedang berhaji seharusnya berwukuf di padang Arafah itu hingga terbenam matahari. Tapi saat itu baru sekitar pukul 16.00, aku sudah keluar meninggakan padang Arafah. Kedua, belum sempat aku berbuat apa-apa dalam menggapai RidhoNya di saat-saat yang mulia tersebut, akupun dituntut untuk segera berpisah dengan Arafah. Ketiga, kerinduanku untuk bersama-sama dengan Arafah belum terobati hanya dengan berada di Arafah sehari semalam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal penting yang tak mungkin untuk ku lupakan adalah bahwa semua jamaah haji dengan pakaian ihramnya dan kemudian berada di padang Arafah menerawangkan hayalanku tentang mayit-mayit kita pada akhir zaman kelak. Semuanya mengenakan kain putih bak kain kafan. Tak ada lagi perhiasan dunia yang ditampilkan. Di sini pulalah semua prediket dan status sosial ditinggalkan. Ya Allah, kini aku telah menyaksikan bahwa segala bentuk pujian, kenikmatan dan kekuasaan itu hanyalah untuk Engkau semata. Innal hamda wanni’mata, laka wal mulku, la syarika laka. Ya Allah, tiada sesuatupun yang pantas untuk disekutukan denganMu. Subhanallah. Sungguh besar nian keagunganMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Arafah kamipun langsung menuju Mudzalifah. Di Mudzalifah ini, kami hanya singgah sebentar untuk mengambil batu. Kemudian dari Mudzalifah ini, bus yang kami tumpangipun melaju menuju Mina. Lagi-lagi aku harus bersedih, sepengetahuanku seorang yang sedang berhaji seharusnya berada di Mudzalifah ini agar segera mendirikan sholat Maghrib dan bermalam di sana hingga tiba waktu sholat Subuh. Nah, sedangkan aku hanya singgah sesaat saja. Jangankan mau melaksanakan sholat Maghrib, waktu untuk sholat Maghribpun belum tiba. La haula wala quwwata illah billah. Hanya kepada Allahlah ku serahkan semua peribatan hajiku. [bersambung …]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;alumnus Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111246368112619633?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111246368112619633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111246368112619633' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246368112619633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246368112619633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/risalah-wisata-berhaji-mem_111246368112619633.html' title='Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [4]'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111246344202995986</id><published>2005-04-02T09:32:00.000-08:00</published><updated>2005-04-02T09:37:22.036-08:00</updated><title type='text'>Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [3]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU kali ada jamaah yang ketahuan oleh pihak kepolisian bandara membawa azimat, dan ketika ditanya oleh pihak kepolisian bandara, jamaah yang bersangkutan langsung gagap untuk memberikan keterangan, apalagi jamaah tersebut juga tidak mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab. Sedangkan isterinya menangis tersedu-sedu menyesali kejadian yang menimpa suaminya tersebut. Setelah kita tanyakan kepada jamaah yang bersangkutan mengenai alasannya membawa azimat, jamaah tersebut menjawab bahwa azimat yang berupa kepala keris, batu-batuan dan rajah yang sudah dibungkus rapi itu ia bawa karena mengikuti perintah almarhum ayahnya agar kepala keris tersebut dimandikan dengan air zam-zam. Sayangnya, setelah kita memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, jamaah tersebut tetap saja dikenai hukuman ditahan selama sehari semalam di bandara. Sungguh suatu peristiwa yang patut disesalkan, dimana seharusnya waktu sehari semalam itu bisa digunakan oleh pembawa azimat itu untuk melaksanakan sholat lima waktu di Mesjid Nabawi, akan tetapi karena ulahnya sendiri jualah yang menyebabkan ia harus ditahan di bandara Madinah al-Munawwarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok terbang (kloter) lainnya juga ditemukan seorang jamaah yang membawa azimat. Ayahnya yang juga turut berhaji dan aku yakin bahwa ia merupakan seorang kiyai besar itu berusaha untuk memberikan pengertian kepada pihak kepolisian bandara. Sang ayah berkata, “Hadza waladi (Ini anakku)”. Dalam hatiku hanya bergumam, “Mau ‘waladi’ atau bukan ‘waladi’ tetap saja azimat yang dipakai oleh anaknya yang berambut gondrong itu tidak boleh digunakan oleh seorang Muslim. Azimat yang dibawa ternyata telah menyulitkan si pembawanya saja. Padahal sebelum mereka memasuki proses keimigrasian, aku dan rekan-rekan petugas haji lainnya sudah menyampaikan agar mereka yang membawa azimat supaya melepaskan azimatnya dan menitipkannya kepada petugas haji Indonesia yang ditugaskan di bandara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga jamaah yang bersedia untuk menitipkan azimatnya kepada petugas, diantaranya jamaah embarkasi Batam. Jamaah asal Riaukah mereka? Kepada mereka, aku sampaikan bahwa nanti ketika mereka hendak pulang ke tanah air, kiranya mereka menghubungiku kembali untuk mengambil azimatnya tersebut. Namun, hingga berakhirnya kepulangan jamaah haji Indonesia, jamaah yang azimatnya aku simpan itu, tak pernah menghubungiku. Lagi pula, mereka tersebut juga pulang melalui bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Dengan demikian, aku mohon maaf beribu-ribu maaf karena azimat tersebut telah aku tinggalkan di wisma haji Indonesia, Jeddah. Sekali lagi, aku mohon untuk dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini terlihat dengan jelas bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang. Dan tak dapat dipungkiri bahwa “akal sehat” jamaah yang dibawa dari Indonesia menjadi “sedikit berkurang” begitu mereka tiba di bandara Malik Abdul Aziz Madinah al-Munawwarah. Sehingga tak heran bila banyak jamaah yang bertanya tanpa memperdulikan siapa lawannya berbicara dengan menggunakan bahasa daerahnya. Ada yang bertanya dengan menggunakan bahasa Indonesia kepada petugas orang Arab. Wajar bila petugas bandara orang Arab tersebut tersenyum saja. Dalam hatiku kembali berguman, “Siapapun namanya dan darimanapun daerah asalnya, mereka ini tetaplah orang yang sebangsa denganku”. Dan aku juga tak bisa menerima laqab “Siti Rahmah” bagi jamaah haji Indonesia. Bagiku laqab tersebut merupakan laqab murahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal (maaf, aku lupa) adalah hari terakhir kami menerima jamaah di bandara Malik Abdul Aziz, Madinah al-Munawwarah. Selanjutnya aku dan rekan-rekan sesama petugas bandara Madinah al-Munawwarah istirahat total sambil menunggu keberangkatan ke Mekkah al-Mukarromah pada hari Rabu, 12 Januari 2005. Dalam masa penantian keberangkatan ke Mekkah al-Mukarromah tersebut, kami juga ditugasi sebagai sektor keliling yang penugasan itu terkesan dibuat-buat oleh pihak Daker. Akhirnya sektor keliling itu juga tidak berfungsi dengan baik karena pada kenyataannya hanya membuang-buang waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ahad, 2 Januari 2005, kami petugas haji Indonesia di bandara Malik Abdul Aziz Madinah al-Munawwarah mengadakan acara ziarah. Ziarah yang pertama adalah ke makam syuhada Uhud dan jabal Uhud serta bukit Rumat. Kemudian acara ziarah dilanjutkan ke komplek Percetakan Alquran al-Karim. Kemudian, lawatan tersebut diteruskan ke Mesjid Qiblatain. Dari Mesjid Qiblatain, kami meneruskan acara ziarah ke Mesjid Tujuh. Di sini kami hanya singgah sebentar saja dan tidak masuk kedalam mesjid tersebut. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan menuju Mesjid Quba dan sholat zhuhur secara berjamaah di Mesjid Quba ini. Karena kelamaan berdiam diri di dalam Mesjid Quba, akhirnya aku dan rekan-rekan petugas lainnya harus berpisah. Atau dengan kata lain, aku ketinggalan di mesjid ini. Akhirnya aku pulang sendirian ke wisma haji Indonesia, Ijabah dengan menumpang taksi dan turun di Mesjid Nabawi. Ongkos taksi tersebut cukup ‘asyaroh (sepuluh) riyal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tanggal 12 Januari 2005, semua petugas haji Indonesia Daker Madinah al-Munawwarah berangkat menuju Mekkah al-Mukarromah. Singgah sebentar di Bir Ali dan melaksanakan sholat sunnah dua raka’at. Sebagian rekan-rekan yang belum melaksanakan umroh langsung berniat umroh dengan memulai miqat dari Bir Ali ini. Pengecekan dan pembagian buah kurma selama di perjalanan dari Madinah al-Munawwarah menuju Mekkah al-Mukarromah ini merupakan romantika perjalanan yang paling mengasyikkan. Pemandangan di sepanjang jalan hanya dikelilingi oleh gunung-gunung berjejer yang sangat indah dan rapi sekali. Rerumputan pun saling berlomba untuk tumbuh di atas hamparan tanah gersang dan bercampur bebatuan itu walau hanya mengandung kelembaban yang sangat minim sekali. Tanah yang lembab itupun menurutku hanya merupakan berkah embun malam di padang sahara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung-gunung yang kekar dan menjulang tinggi itu langsung mengingatkan aku bagaimana berat dan pedihnya perjuangan Rasulullullah semasa dulu ketika melintasi wilayah ini. Dalam perjalanan ini pula, dari balik kaca jendela bus yang aku tumpangi, nun jauh di tengah-tengah padang sahara juga terlihat pengembala dengan kambing atau dombanya. Sesekali juga terlihat onta-onta yang berjalan dengan santainya sembari mencari makanan di padang luas yang panas dan berangin. Angin berhembus dengan kencangnya. Bayangan dan hayalanku kembali menerawang ke masa Rasulullah dahulu kala. [bersambung …]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;alumnus Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111246344202995986?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111246344202995986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111246344202995986' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246344202995986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246344202995986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/risalah-wisata-berhaji-mem_111246344202995986.html' title='Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [3]'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111246310117966560</id><published>2005-04-02T09:30:00.000-08:00</published><updated>2005-04-02T09:31:41.183-08:00</updated><title type='text'>Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [2]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEPAT pukul 23.00 waktu Arab Saudi, Madinatul Hujjaj ku tinggalkan. Malam yang dingin telah menemani perjalanan kami yang menumpagi taksi hingga ke perbatasan Jeddah-Mekkah. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan dengan menggunakan mini bus menuju Mekkah al-Mukarromah di malam itu. Lebih kurang satu jam perjalanan, tibalah aku di depan Mesjidil Haram, Mekkah al-Mukarromah. Indah dan sejuknya Mesjidil Haram sungguh tak dapat ku lukiskan dan ku ungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menuju pintu ‘Babussalam’, dari luar mesjid, mataku sesekali juga mengintip dan mencuri-curi pandang ke arah Ka’bah. Malam itu, aku seolah-olah berada di alam mimpi nyata yang sebelumnya tak pernah ku duga dan ku bayangkan bahwa aku akan bisa sampai kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di depan pintu ‘Babussalam’, akupun membaca do’a memasuki Mesjidil Haram. Bismillah, dengan mendahulukan kaki kanan, akupun masuk kedalam Mesjidil Haram. Dari dalam Mesjid, ku tatap Ka’bah sambil membaca do’a ketika memandang Ka’bah, kiblat seluruh umat Islam di dunia. Kemudian aku langsung menuju ke sudut yang sejajar dengan Hajarul Aswad untuk memulai thawaf, Bismillah, Allahu Akbar, thawaf ku mulai. Di malam Jum’at itu, adalah kali yang pertama bagiku untuk bertemu dengan Ka’bah, Baitullahil ‘Atiqi. Setelah selesai melaksanakan umroh di malam itu, kamipun kembali lagi ke Jeddah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at pagi, setelah sarapan pagi di Madinatul Hujjaj, semua petugas haji baik yang berasal dari Indonesia, mahasiswa maupun mukimin, sama-sama mempersiapkan diri menuju Daker masing-masing. Sebelum berangkat menuju Daker tersebut, petugas haji dari unsur mahasiswa dan mukimin terlebih dahulu mengambil jacket dan rompi sebagai pakaian seragam petugas haji Indonesia. Selepas itu, semua petugaspun menaiki bus sesuai dengan arah dan tujuan bus yang sudah ditetapkan, yaitu ke Mekkah al-Mukarromah dan ke Madinah al-Munawwarah. Dan aku ditempatkan di Daker Madinah al-Munawwarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pukul 10.00 pagi, aku dan Bahrum sebagai mahasiswa asal India bersama-sama dengan petugas haji asal Indonesia meninggalkan Madinatul Hujjaj, Jeddah menuju kota Madinah al-Munawwarah. Di tengah perjalanan, tanpa diduga sebelumnya, bus yang kami naiki mengalami kerusakan yang mengakibatkan bus tersebut tidak bisa meneruskan perjalanananya menuju kota Madinah al-Munawwarah. Didalam kebingungan di tengah-tengah padang sahara yang hanya dikeliligi oleh gunung-gunung dan tidak ada tetumbuhan sepohonpun, akhirnya tibalah mobil Coster dan mobil Ambulance milik Kedutaan Besar RI, kami pun menaikinya dan seterusnya kembali meneruskan perjalanan menuju Madinah al-Munawwarah. Mengenai barang bawaan kami seperti koper yang berisi dengan pakaian-pakaian kami diurus dan dibawa oleh petugs haji yang masih menetap di tempat bus yang rusak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at petang, aku dan rekan-rekan petugas haji tadi tiba di Daker Madinah al-Munawwarah. Setelah menunggu beberapa jam di kantor Daker Madinah al-Munawwarah dan kemudian mengambil koper yang sampainya di Daker Madinah al-Munawwarah belakangan, kemudian Bahrum menemaniku menuju wisma haji Indonesia, Ijabah, wisma tempat tinggalku selama bertugas sebagai pelayan haji Indonesia di wilayah Daker Madinah al-Munawwarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan di dalam wilayah kota Madinah al-Munawwarah tadi, mataku asyik menyaksikan pemandangan di sekitar kota Madinah al-Munawwarah yang tertata dengan sangat rapi sekali. Di kiri-kanan jalan juga dihiasi dengan pepohonan yang sangat indah serta pohon-pohon kurma yang menghijau, tumbuh dengan suburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jum’at malam itu juga diadakan pertemuan di Daker Madinah al-Munawwarah. Dan pada hari Sabtunya, barulah aku bisa melaksanakan sholat Ashar berjamaah di Mesjid Nabawi. Aku seakan-akan tak percaya begitu melihat Mesjid Nabawi yang begitu besar, luas dan sangat indah sekali. Memukau setiap mata umat Islam yang menyaksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari-hari pertamaku di Madinah al-Munawwarah, Mesjid Nabawi belumlah begitu penuh, sehingga aku masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan salam di samping makam Rasulullah SAW sekaligus mengunjungi taman Raudhahnya. Ya Allah, nama RasulMu yang sebelumnya hanya pernah ku dengar dan ku ucapkan dengan lisanku, kini makam pemilik gelar Al-Amin tersebut telah berada di depan mataku, Subhanallah. Ya Allah, ku rindui untuk bersua dengan RasulMu di lain kesempatan dan di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh umat Islam dari berbagai negara saling berlomba untuk menziarahi makam Rasulullah SAW sekaligus mengunjungi taman Raudhahnya. Aku juga menggunakan waktuku untuk melaksanakan sholat sunnah dan berdo’a di taman Raudhahnya. Wahai Rasulullah, ku rindui jejak langkahmu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 19 Desember 2004 adalah hari pertama aku dan teman-teman di sektor V (Bandara Malik Abdul Aziz) Madinah menerima ketibaan jamaah haji Indonesia asal Sumatera Utara embarkasi Medan. Kepala BUH, Prof. Dr. Muslim Nasution dan Kepala Daerah Kerja Madinah, H. Hasbu Marzuki, Lc., M.Pd. berserta seluruh Waka. Daker dan sejumlah Tim Kesehatan Daker Madinah turut hadir di Bandara MAA, Madinah al-Munawwarah untuk mengucapkan selamat datang kepada jamaah asal Sumatera Utara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik keletihan yang terlihat di wajah para jamaah juga tersimpan sejumlah keceriaan dimana pada detik itu mereka sudah benar-benar berada di Madinah al-Munawwarah. Beberapa jamaah juga ada yang langsung melaksanakan sujud syukur. Pemandangan yang semacam ini sering diperlihatkan oleh jamaah haji Indonesia begitu mereka tiba dan berada di dalam bandara Malik Abdul Aziz, Madinah al-Munawwarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinginnya malam yang diselingi dengan tiupan angin kencang dan panasnya siang tidaklah melunturkan semangat kami sebagai pelayan tamu Allah untuk menyambut ketibaan jamaah haji Indonesia. Karakter jamaah haji juga berbeda-beda sesuai dengan tingkat pendidikan dan asal daerah mereka. Tidak jarang jamaah haji Indonesia ditemukan membawa barang-barang terlarang seperti benda-benda tajam dan azimat. Dan kita selaku pelayan haji yang ditugaskan di bandara tersebut selalu memberikan peringatan kepada jamaah agar sebelum mereka memasuki imigrasi supaya mengeluarkan benda-benda tajam dan melepaskan azimat yang mereka bawa. Meski demikian, tetap ada saja jamaah yang enggan untuk mendengarkan peringatan dari kita itu. [bersambung …]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;alumnus Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111246310117966560?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111246310117966560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111246310117966560' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246310117966560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246310117966560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/risalah-wisata-berhaji-membuktikan_02.html' title='Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [2]'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111246280971416231</id><published>2005-04-02T09:21:00.000-08:00</published><updated>2005-04-02T09:26:49.716-08:00</updated><title type='text'>Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [1]</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AHAD malam atau lebih tepatnya Senin pagi, 13 Desember 2004, aku masih bingung, entah pakaian mana yang harus kubawa, namun sambil mengingat pesan ibu Niniek agar aku membawa semua pakaian yang memang dianggap perlu, maka di malam itu juga aku sibuk sendiri mengemas pakaianku dan kemudian ku masukkan kedalam koperku. Satu hal yang memang cukup menarik adalah tatkala aku mengemas pakaianku tersebut, bang "Pujangga Madura" membuat masakan yang mantap sekali. Setelah aku selesai mengemas pakaianku tersebut, kamipun makan, entah makan apa namanya di malam itu, tapi kami biasa menyebutnya dengan 'makan besar'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tidur lagi, setelah aku selesai melaksanakan sholat sunnah safar, handphoneku berdering, tepat pukul 05.00 pagi, ternyata taksi yang sudah dipesan sejak Ahad sore itu siap mengantarkan kami ke Indira Ghandi International Airport (IGIA), New Delhi. Sebelum taksi tersebut singgah di kediamanku, taksi tersebut terlebih dahulu meluncur ke kediaman Wisnu Setiawan dan Ramlan Efendi, karena memang mereka juga sama seperti aku, Temus (Tenaga Musim) atau lebih dikenal dengan Petugas Haji Indonesia. Sebelum bilik kediamanku tersebut ku tinggalkan, handphoneku berdering lagi, rupanya kak Nita turut menyampaikan ucapan selamat jalan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju bandara IGI tersebut, kabut tebal masih menyelimuti New Delhi, jarak pandang hanya berkisar lebih kurang lima meter, lebih-lebih lagi setelah mendekat ke arena bandara IGI. Taksi yang kami tumpangi itu juga sempat bersenggolan dengan mobil lain. Imam Warmansyah dan bang Daud Zakaria yang turut mengantar kami ke bandara tak henti-hentinya membaca wirid dan hidzib-hidzibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 06.05 wnd (Waktu New Delhi) kamipun masuk ke bandara IGI. Rupanya peswat yang dijadwalkan akan terbang pada pukul 08.30 wnd tersebut didelay hingga pukul 11.30 wnd. Sambil mondar-mandir didalam bandara IGI, tenyata ada informasi yang menyatakan bahwa pesawat didelay lagi hingga batas waktu yang tidak pasti. Alhamdulillah, setelah menunggu dengan sabar dan juga dibumbui dengan sedikit perasaan gelisah, pukul 17.00 wnd, pesawat Boeing 747 Syrian Arab Airlines mendarat di bandara IGI New Delhi. Kini, tibalah giliran kami memasuki pesawat Syrian Arab Airlines dan selanjutnya terbang menuju ke Sharjah International Airport. Setelah setengah jam berada di Sharjah International Airport, pesawat yang kami tumpangi itu meneruskan perjalanannya menuju Syria. Dan pesawat Syrian Arab Airlines ini mendarat di Damascus International Airport tepat pada pukul 21.15 waktu Syria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Syria, rupanya sedang musim dingin juga. Aku, Yusuf dan Bahrum juga sempat menikmati kopi pahit Turki terlebih dahulu di salah satu restoran yang ada didalam bandara itu. Sedangkan Mulyadi Ibrahim, Ramlan Efendi dan Wisnu Setiawan mengisi waktu transit di bandara itu untuk melihat berbagai jenis pakaian yang ada di supermarket yang ada di bandara Syria tersebut. Yang tak kalah pentingnya, Muchlis Zamzami dan Asnadi Hasan memilih untuk tidur mengingat waktu transit di Syria ini cukup lama. Bagiku, menikmati kopi pahit Turki di Syria ini memang sesuatu yang tak mungkin untuk dilewatkan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah pada pukul 06.30 waktu Syria, kami meneruskan perjalanan kami menuju  International King Abdul Aziz Airport, Jeddah. Dalam perjalanan itu, dari dalam pesawat, ku saksikan gunung-gunung dan bukit-bukit di bumi Syria yang penuh diselimuti oleh salju yang berwarna putih, bersih dan mengkilap, apalagi terkena sinar matahari, Subhanallah, indah nian ciptaanMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian, pesawat Syrian Arab Airlines 727 itupun akhirnya mendarat di International King Abdul Aziz Airport, Jeddah, tepatnya pukul 11.30 was (Waktu Arab Saudi). Kami juga sempat menunggu hingga lebih kurang lima jam di dalam bandara ini karena petugas imigrasi di International King Abdul Aziz Airport, Jeddah merasa aneh melihat jenis visa kami, Bi'tsah al-hujjah Indonesi yang dikeluarkan oleh Kedutaan Arab Saudi di New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada pukul 16.00 was kami berhasil juga keluar dari dalam bandara. Dan salah seorang petugas haji dari Bidang Urusan haji (BUH) Jeddah datang ke bandara untuk menjemput kami semua. Setelah itu kami dibawa ke tempat persinggahan sementara untuk pindah mobil, dan kemudian dari situ barulah kami diantar ke kantor BUH Jeddah. Di kantor BUH ini, kamipun mengisi formulir kedatangan dan paspor kita juga ditinggal disana. Kita hanya memegang foto kopi paspor saja yang sudah distempel oleh BUH. Di kantor BUH ini juga, kita makan sore terlebih dahulu dan setelah itu barulah kita menerima dua stel pakaian atau uniform Temus. Dan dari kantor BUH ini, kemudian kita diantar melanjutkan perjalanan ke Madinatul Hujjaj, Jeddah. Di Madinatul Hujjaj ini, aku dan rekan-rekan sesama asal India mengambil kamar di lantai II, kamar no. 204. Setelah makan malam, barulah aku mandi dan kemudian istirahat malam. Good nite baby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Rabu tanggal 15 Desember 2004, setelah sarapan pagi di Madinatul Hujjaj, tepat pada pukul 08.30 acara pembukaan pelatihan Temus pun dibuka oleh KUAI Jeddah, kemudian diteruskan dengan acara briefing Temus. Pada saat itu, Bapak Prof. Muslim Nasution, Kepala Bidang Urusan Haji (BUH) menyampaikan bahwa Temus haji dari unsur Mahasiswa tahun 1425 H ini terdiri dari 16 negara dengan jumlah Temus sebanyak 194 orang ditambah dengan Temus mukimin sebanyak 286 orang. Adapun jumlah keseluruhan Petugas Haji Indonesia tahun 1425 H sebanyak 3.228 orang. Termasuk diantaranya Panita Pelaksana Ibadah Haji (PPIH), petugas kloter dan non-kloter serta petugas haji baik dari unsur mahasiswa maupun mukimin Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada hari Kamis pagi tanggal 16 Desember 2004, kami sudah berkumpul sesuai dengan pembagian Daerah Kerja (Daker) masing-masing. Dan malamnya, diadakan penutupan pelatihan Temus. Aku tidak bisa mengikuti acara tersebut, karena saat itu, aku harus pergi ke Baladiyyah untuk membeli pakaian ihram bersama Wisnu Setiawan dan Sori Monang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam Jum'at itu pula, aku bersama Sori Monang berangkat ke Mekkah al-Mukarromah untuk melaksanakan umrah atau thawaf qudum. Sebelum berangkat, terlebih dahulu aku mandi sunnah ihram, kemudian akupun mengenakan pakaian ihramku. Akupun masih menggunakan waktu sebelum berangkat menuju Mekkah al-Mukkaromah tersebut untuk membaca buku-buku yang berkaitan dengan umrah. Perasaan haru dan cemas berbaur menjadi satu. [bersambung …]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;alumnus Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India. &lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111246280971416231?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111246280971416231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111246280971416231' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246280971416231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111246280971416231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/04/risalah-wisata-berhaji-membuktikan.html' title='Risalah Wisata: Berhaji Membuktikan KeagunganNya [1]'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-111151640119312811</id><published>2005-03-22T10:27:00.000-08:00</published><updated>2005-03-24T12:13:03.746-08:00</updated><title type='text'>Temanku Yang Syuhada</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ku ingat tragedi tahun 1998 tanggal 12 Mei&lt;br /&gt;air mataku jatuh berderai&lt;br /&gt;ku kenang teman-temanku berdemo&lt;br /&gt;hingga berakhir mundurnya Soeharto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temanku berteriak reformasi&lt;br /&gt;tapi kini reformasi dikhianati&lt;br /&gt;ada Habibie yang ingin memperbaiki&lt;br /&gt;tapi Gusdur dan Megawati telah mengingkari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman ..., kau mati syahid demi Indonesia&lt;br /&gt;sekarang teman-temanmu di dunia berteriak sama&lt;br /&gt;untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan bangsa&lt;br /&gt;kiranya Surgalah balasan buat anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ...&lt;br /&gt;militer akan kembali berkuasa&lt;br /&gt;para kiyai-kiyai NU pun juga gila kuasa&lt;br /&gt;aksi demo terus bergejolak&lt;br /&gt;bukan hanya reformasi yang diperjuangkan&lt;br /&gt;tapi bom sudah meledak-ledak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku ingin mengatakan&lt;br /&gt;Indonesia sudah merasakan pimpinan militer&lt;br /&gt;Indonesia juga sudah berpresidenkan Ilmuan&lt;br /&gt;Indonesiapun pernah memiliki presiden kiyai&lt;br /&gt;Indonesia kini bahkan berpresidenkan wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku&lt;br /&gt;kemanakah otakmu&lt;br /&gt;gunakanlah secara bijak akal sehatmu&lt;br /&gt;ku yakin kau mengetahui&lt;br /&gt;bahwa akulah yang belum pernah maju&lt;br /&gt;untuk memimpin negeri pertiwi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tulis kegondokanku ini&lt;br /&gt;dari sudut kota New Delhi yang sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New Delhi, 15 Mei 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZJ -&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-111151640119312811?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/111151640119312811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=111151640119312811' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111151640119312811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/111151640119312811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2005/03/temanku-yang-syuhada.html' title='Temanku Yang Syuhada'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110278616417510703</id><published>2004-12-11T09:28:00.000-08:00</published><updated>2004-12-12T02:07:07.000-08:00</updated><title type='text'>Dari Ta'aruf Menuju Toleransi Umat Beragama</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAIMANA yang termaktub didalam al-Qur'an al-Karim, bahwa Allah SWT berfirman: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan (bapak dan ibu), dan menjadikan kamu beragam suku dan bangsa supaya kamu saling berkenalan. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha sangat mengetahui. (QS. Al-Hujurat: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata, walaupun semua agama tersebut memiliki nilai-nilai filsafat yang tinggi, etika moral, misi mistik yang brilian dan wahyu-wahyu yang keistimewaan dan kelebihannya tak akan pernah tertandingi oleh akal sempurna manusia, tapi pada kenyataannya kita tak akan pernah lupa bahwa sejarah agama-agama tersebut senantiasa "dinodai" dengan banyak pengorbanan darah dan nyawa. Dengan mengatasnamakan agama pulalah peperangan, eksploitasi kekerasan dan kekejaman, penindasan, perampasan hak azasi manusia dan sebagainya tersebut dilakukan. Agama sering didominasi oleh institusi-institusi yang menamakan dirinya sebagai seorang kiyai, pendeta dan sejenisnya. Di dalam setiap kuil Hindu, misalnya, yang didewakan itu biasanya selalu dilengkapi dan dilingkari dengan karangan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama cenderung memamerkan keagungannya dan itulah sebabnya agama tersebut selalu memandang remeh terhadap agama lain. Penganut agama tersebut dengan angkuhnya percaya dan sangat yakin bahwa hanya agama merekalah yang paling benar. Agama yang paling benar dan yang sebenar-benarnya agama. Sikap yang semacam ini hanyalah akan menuntun penganutnya kepada sikap arogansi, angkuh dan bahkan tak jarang berakhir dengan perseteruan. Sikap yang semacam ini hanyalah akan menghambat perkembangan agama itu sendiri dan membuat orang lain senantiasa mengadakan penyelidikan terhadap kebenaran agama yang telah diklaim itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab suci agama-agama sangatlah penting dan kitab suci dalam semua agama itu merupakan sesuatu yang sangat sakral. Sebab setiap kitab suci tersebut adalah warisan untuk umat manusia. Kitab suci tersebut juga merupakan wahyu Tuhan yang diekspresikan dalam bentuk kata-kata, dibacakan turun-temurun melalui lisan kemudian ditulis dan bahkan selanjutnya diterjemahkan ke dalam beraneka ragam bahasa yang pada akhirnya bisa dipahami dan dimengerti oleh seluruh lapisan umat. Namun, perlu pula dicatat bahwa kebenaran yang sebenarnya itu tidak akan pernah sempurna untuk diekspresikan hanya dengan sebatas kata-kata saja. Persentase yang cukup signifikan menunjukkan bahwa para penganut agama dari berbagai agama dan keyakinan cenderung memperlihatkan bahwa hanya Tuhan merekalah yang sebenar-benarnya Tuhan, hanya agama merekalah yang sebenar-benarnya agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup dalam dunia yang pluralistik dan inter-dependen. Hal ini pernah disinggung oleh Camus dalam ungkapannnya, "We are condemned to live together - Kita dihukum dengan harus hidup bersama". Meski dalam setiap agama itu terdapat beberapa aliran, tapi tak jarang juga mereka saling berselisih satu sama lainnya yang tak tahu kapan berakhirnya. Setiap kita dituntut untuk memahami dengan benar ajaran agama yang kita anut. Dan ini merupakan tantangan yang sangat besar. Setiap kita dituntut memiliki keberanian dan keteguhan hati untuk melihat mana yang hak dan mana yang bathil, mana hal-hal yang penting dan membawa manfaat serta mana yang tidak penting dan sia-sia belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kita boleh dikata beragama sesuai dengan agama asal orang tua kita. Itulah sebabnya bisa dipastikan tidak semua orang yang beragama itu memahami agamanya secara tepat. Seseorang bisa saja disebut sebagai Muslim atau Hindu, tapi belum tentu ia mengenal ajaran agamanya secara sempurna. Agama seringkali terjebak kedalam ritual-ritual yang memberatkan dan tak membawa arti atau sia-sia semata. Agama sering pula menjadi sumber penghalang terhadap perkembangan dan kebebasan manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jangan sampai pernah lupa bahwa pada kenyataannya dunia ini semakin singkat dan semakin singkat saja. Suatu saat ia akan menjadi bak suatu kampung kecil. Dengan demikian, dunia yang didalamnya terdapat multi-agama serta pluralisme agama akan lebih terasa lagi dari apa yang kita rasakan pada saat ini. Mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan yang semacam ini dan kita juga dituntut untuk mempersiapkan diri kita supaya lebih arif lagi dalam menghadapi masyarakat yang tidak seagama dan seideologi dengan kita. Kita sebagai umat manusia yang berasal dari beraneka agama dan aliran kepercayaan harus bergandengan tangan dalam menuntaskan problema yang sedang didahapi oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan kita. Agama memiliki dua dimensi, yaitu pertumbuhan spritual dari dalam dan bentuk aksi sosial, satu sama lainnya saling memiliki keterkaitan dan ketergantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan modern dan teknologi yang menggemparkan dunia ini sebenarnya telah dimulai sejak abad XVI. Saat ini dunia sudah dapat diakses melalui kecanggihan teknologi itu tadi. Ilmu pengetahuan nampaknya telah memperkuat pencerahan terhadap agama itu sendiri. Agama harus mampu menjadi bagian dalam mencari solusi dan bukan menjadi bagian yang dapat menimbulkan permasalahan. Dukungan dalam rangka meningkatkan semangat beragama tersebut saat ini semakin terasa. Masyarakat secara spontan akan menjadikan agama sebagai alat untuk mencari jawaban dari setiap persoalan. Adapun yang perlu diperhatikan saat ini adalah agar setiap pemeluk agama tersebut mau mendalami dan memahami ajaran agama yang dianutnya secara lebih baik lagi sehingga mampu membangun kemesraan dan hubungan yang lebih arif dan bijaksana menuju kebersamaan dalam keberanekaragaman. Saling bekerja sama dam bahu-membahu dalam menjamin kebebasan, akan tetapi saling mengingatkan sehingga tak sampai kepada kebablasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;India merupakan salah satu negara yang banyak "melahirkan" agama-agama. Menurut Biro Informasi Sensus India, 81.3% dari jumlah populasi India adalah Hindu, sedangkan Islam 12%, Kristen 2.3%, Sikh 1.9%, lain-lain (termasuk Budha, Jain, and Parsi) 2.5%. Adapun etnik India terdiri dari Indo-Aryan 72%, Dravidian 25%, Mongoloid dan lain-lain 3% (2000). Republik India berbatasan dengan Cina di bagian Timur Laut. Tetangga lainnya adalah Pakistan di bagian Barat, Nepal dan Bhutan di bagian Utara, serta Burma dan Bangladesh di bagian Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keberadaan agama Islam di India? Sejarah telah mencatat bahwa kebudayaan Islam yang dibawa oleh orang-orang Arab ke India memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan Islam di India. Dan pengaruh dari kebudaayaan Islam ini tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat Muslim India semenjak awal kedatangan Islam di negeri sub kontinen itu. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Islam yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan perputaran waktu dari masa ke masa. Di India, kita akan melihat masyarakat Muslim yang benar-benar menikmati kehidupan yang sangat sementara ini dengan penuh gairah dan semangat yang tinggi. Salah-satu faktor yang ikut memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan Islam di India adalah adanya kesadaran kolektif masyarakat Muslim untuk meningkatkan citra positif kehidupan masyarakat Muslim itu sendiri dalam segala bidang. Bahkan para pemikir ulung di India ini juga sudah melihat adanya perkembangan yang begitu cepat dalam agama Islam tersebut. Hal itu dapat dilihat dari adanya perkembangan baik dari segi budaya, kehidupan sosial bermasyarakat, ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam Islam juga tidak mengenal adanya sesembahan khusus dengan prediket yang paling tinggi, seperti Dewa Brahma dalam agama Hindu (Albaas el-Islami Magazine, Vol. 48 No. 8 Juli 2003). Islam hanya mengenal satu Tuhan saja yaitu Allah SWT, maka Muslim apapun dia, dari golongan Islam mana saja, dan dari kelas, gelar atau jabatan apapun yang disandangnya, tetap menyembah Tuhan yang sama yaitu Allah SWT. Karena itu masyarakat Muslim India menganggap bahwa semua umat yang beragama Islam adalah bersaudara. Yang patut kita ketahui juga bahwa orang-orang non-Muslim di India juga memiliki sikap toleransi yang cukup tinggi, dan sikap toleransi ini juga hanya dimiliki oleh mereka yang memang telah mengetahui Islam itu secara benar. Melalui sikap toleransi ini pula, maka perselisihan antar suku, golongan atau agama dapat dihindari, terlebih lagi menghindari prasangka buruk yang ada dibenak orang-orang yang non- Muslim, khususnya bagi mereka yang beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyebar di India sejak dibawa oleh Muhammad bin Qasim as-Tsaqfi dibagian Selatan India pada tahun 92 H. (711 M.). Dan penyebaran Islam semakin meluas dibawah kesultanan Mahmud al-Ghaznawi. Penyebaran Islam semakin berkembang dengan pesat karena didukung oleh sifat keberanian sultan-sultan Delhi, dan diantara sultan tersebut adalah Sultan Fairuz Shah (752-790 H/351-1388 M). Diantara faktor lain yang juga sangat mempengaruhi perkembangan Islam di India adalah setelah Shah Rukh as-Shairazi mengadakan penyebaran Islam di wilayah Kalikut (tahun 1441 M). Dan yang lebih istimewanya lagi, pada masa Sultan Shah Rukh as-Shairazi ini penduduknya terkenal dengan ketaqwaaannya, sikap wara' dan senang untuk berbuat kebaikan. Inilah yang membuat orang-orang semakin banyak yang mendapat hidayah untuk menerima Islam. Faktor lain juga yang sangat mendukung perkembangan Islam di India adalah bahwa umat Islam India tidak mengenal adanya kasta-kasta pemisah, sebagaimana yang terjadi dalam agama mayoritas di India yaitu agama Hindu. Meskipun didalam masyarakat Muslim India kita menjumpai masyarakat yang bergelar Sayyid, Khan, Faruqi, Ansari dll., akan tetapi gelar-gelar tersebut tidaklah menyebabkan renggangnya hubungan mereka sesama Muslim. Dan di India ini juga, hubungan antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah boleh dikata cukup harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Saat ini 88% dari jumlah penduduk Indonesia adalah Muslim, sedangkan Protestan 5%, Katholik 3%, Hindu 2%, Budha 1%, lain-lain 1%. Disini penulis ingin menegaskan bahwa pada dasarnya nilai-nila etika dan moral yang diadopsi oleh umat Islam, umat Kristiani, Hindu dan Budha adalah sama, yaitu sama-sama menolak segala bentuk kekerasan dan secara bersamaan pula juga tidak menerima sikap dan perlakuan yang sangat kasar dan tidak adil. Karena itu, pesan Allah SWT yang menyuruh kita untuk saling berkenalan (Ta'aruf) tersebut harus mendapatkan tempat dan ruang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan budaya Ta'aruf yang kaya dengan nilai-nilai spritual tersebut merupakan fondasi utama dalam menciptakan suasana yang saling menghormati dan menghargai antar sesama umat manusia ciptaan-Nya. Sebaliknya, sikap saling mencurigai dan saling mematai yang sudah jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama tadi sudah saatnya untuk dibungkus rapat-rapat, sehingga tidak ada lagi celah yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kemuliaan ajaran agama yang telah tertata rapi dan dibina dengan baik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat merealisasikan pesan Ta'aruf ini secara langsung, penulis mencoba menawarkan ide agar kita generasi muda membentuk suatu forum yang mengorganisir pertemuan remaja antar agama dalam rangka meluruskan imej-imej streotipikal negatif terhadap suatu agama di luar agama yang kita anut, dan dari sini diharapkan pula akan dapat melahirkan imej-imej positif secara objektif mengenai agama-agama di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya. Kiranya pula di forum yang semacam ini generasi muda yang selama ini kurang mendapatkan informasi mengenai ketinggian nilai-nilai moral atau etika dan spritual yang diajarkan dalam setiap agama bisa memperoleh pengarahan dan penjelasan secara baik, benar dan tepat. Salah-satu fondasi masyarakat Islam adalah saling menghargai dan memiliki sikap keterbukaan. Islam mengakui bahwa perbedaan bahasa, budaya, suku bangsa dan perbedaan agama didalam masyarakat adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Elemen-elemen budaya dan tradisi Islam dibentuk dan dikembangkan berdasarkan keharmonisan agama. Artinya pemisahan antara agama Islam dengan budaya Islam hanyalah akan meruntuhkan identitas budaya dan sekaligus mencabut akar-akar spritual ajaran agama Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap jujur adalah merupakan modal dasar dalam setiap agama dan aliran kepercayaan. Baik atau buruknya hubungan antar sesama manusia dan bangsa hanya dapat dibangun diatas sikap Ta'aruf atau saling mengenal dan bukan melalui sikap Tajassus atau saling curiga. Sikap Ta'aruf ini akan mengarahkan kita kepada sikap saling pengertian, saling bekerja sama dan saling menghargai (mutual understanding, cooperation and respect). Namun praktek Tajassus hanyalah akan menjerumuskan kita ke jurang kebencian, permusuhan dan saling mencari kesalahan (to animosity and mutual attempts of elimination). Menariknya, Islam sendiri menekankan sikap yang pertama tadi. Karena disinilah letak dasar Ta'aruf tersebut. Penulis berharap, hendaknya Ta'aruf ini dapat menjadi kunci utama dalam merapatkan barisan masyarakat yang selama ini berjarak lebih-lebih lagi karena sentimen agama sekaligus sebagai kunci dalam membuka kran pembangunan manusia seutuhnya, membantu menegakkan hak azasi manusiam (HAM) dan menjaga kestabilan dan perdamaian dunia secara universal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; adalah mahasiswa asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia - A Central University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110278616417510703?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110278616417510703/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110278616417510703' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110278616417510703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110278616417510703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/12/dari-taaruf-menuju-toleransi-umat.html' title='Dari Ta&apos;aruf Menuju Toleransi Umat Beragama'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110278454603450028</id><published>2004-12-11T08:45:00.000-08:00</published><updated>2005-03-24T11:55:00.016-08:00</updated><title type='text'>India Is "My Second Country"</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;By Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ON JULY 20, 2001 I arrived in India for further education of Islamic Studies in Jamia Millia Islamia, New Delhi under Indian Council for Cultural Relation (ICCR) scholarship scheme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the early days in Jamia Millia Islamia, my teacher Dr. Syed Shahid Ali and some of my classmates and other friends asked me, "Why do you come to Jamia Millia Islamia with the subject of Islamic Studies?" Toward this question, I replied simply, "The history of the spread of Islam all over Indonesia especially and in Southeast Asia generally are co-terminus with the history of Gujarati Muslim traders who came to the concerned country not only for the trading bussiness but also for spreading the Islamic messages. Thereby, I have to come to India for the subject that I have chosen before I am going to the city of Mecca where the religion of Islam is cradled."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As we have known, Indonesia is an archipelago in Southeast Asia consisting of 17,000 islands (6,000 inhabited) and straddling the equator. The largest islands are Sumatra, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, the Nusa Tenggara islands, the Moluccas Islands, and Irian Jaya (also called West Papua), the western part of New Guinea. Its neighbor to the north is Malaysia and to the east is Papua New Guinea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The 17,000 islands that make up Indonesia were home to a diversity of cultures and indigenous beliefs when the islands came under the influence of Hindu priests and traders in the first and second centuries A.D. Muslim influences began in the 13th century, and most of the archipelago had embraced to Islam by the 15th century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia has the world's largest Muslim population. And today 88% of Indonesians are Muslims, while Protestant 5%, Roman Catholic 3%, Hindu 2%, Buddhist 1%, other 1%. Ethnically it is highly diverse, with more than 300 local languages. The people range from stone-age hunter-gatherers to a modern urban elite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As my Indian friends, some of my Indonesian friends is also no less astonished with my choice of the subject, i.e. Islamic studies. While India today is well-known with the Information Technology. Besides, India also is very famous among Indonesian young generations as one of the leading film-making countries in the world. There are too many Indian movies are aired by Indonesian private TV stations. Therefore, there are some shining stars like Dilip Kumar, Shahrukh Khan, Aamir Khan, Salman Khan, Amitab Bachan, Sridevi, Aishwarya Ray, Prity Zinta, Rani Mukherji, Kajol etc. who are well-known in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my view, India is also a cradle of religions. Today, according to Registrar General (Census Information), 81.3% of Indian are Hindus, while Islam 12%, Christian 2.3%, Sikh 1.9%, other (including Buddhists, Jains, and Parsis) 2.5%. And ethnicity of Indian contains Indo-Aryan 72%, Dravidian 25%, Mongoloid and other 3% (2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Republic of India occupies most of the subcontinent of India in southern Asia. It borders on China in the northeast. Other neighbors are Pakistan on the west, Nepal and Bhutan on the north, and Burma and Bangladesh on the east.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The country can be divided into three distinct geographic regions: the Himalayan region in the north, which contains some of the highest mountains in the world, the Gangetic Plain, and the plateau region in the south and central part. Its three great river systems have extensive deltas and all rise in the Himalayas: the Ganges, the Indus, and the Brahmaputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The great Moghul empire was founded by Muslim disseminators in 1526 and centered on Delhi, which lasted, at least in name, until 1857. Akbar the Great (1542–1605) strengthened and consolidated this empire. The long reign of his great-grandson, Aurangzeb (1618–1707) represents the greatest extent of the Mogul empire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although India is the second largest country of Muslim population in the world, but their presence also can be seen in the remarkable contribution to the economic, socio-cultural and political life of the country. No less siginificant is as Prof. Aktarul Wasey, Director of Zakir Hussain Institute of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi wrote in his article "Indian Muslims Yesterday, Today &amp;amp; Tomorrow" that "Muslim community has become a vital and inalienable component of Indian nation. As part of the global Islamic ummah they have set an example of peaceful and honourable co-existence with a non-Muslim majority while making significant contributions to the study of Islamic principles and sciences."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, I would like to express my sincere thanks and gratitude to H.E. Vice-Chancellor, Foreign Students' Advisor, Faculty of Humanities and Languages of Jamia Millia Islamia, Indian Council for Cultural Relation (ICCR) New Delhi and Embassy of The Republic of India, Jakarta. I also wish to express my great indebtedness to my distinguished teachers in the Department of Islamic Studies, my teacher in the Department of English, my teacher in the Department of Urdu, my teachers in the Department of Arabic and my teachers in the Department of Political Science of Jamia Millia Islamia, New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am happy to welcome all Jamia Millia Islamia Family to my home country Indonesia. And my permanent address is Jalan Sidodadi No. 01 Rantau Panjang Kiri RT. 14/04 Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau - Indonesia 28991. Please e-mail me at &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:izamsh@yahoo.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;izamsh@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;The writer is an Indonesian student of the Department of Islamic Studies, Jamia Millia Islamia, New Delhi. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110278454603450028?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110278454603450028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110278454603450028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110278454603450028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110278454603450028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/12/india-is-my-second-country.html' title='India Is &quot;My Second Country&quot;'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110139280332261529</id><published>2004-11-25T06:24:00.000-08:00</published><updated>2004-11-26T10:17:01.476-08:00</updated><title type='text'>Bangsa Bernama Bangsa Berakhlak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM pantun Melayu dengan sebuah syair Arab gubahan Syauqi Bey disebutkan begini: &lt;em&gt;"Wa innamal umamul akhlaqu maa baqiat, Wa in hummu dzahabat akhlaquhum dzahabuu."&lt;/em&gt; Dalam bahasa kita, kira-kira artinya begini: "Suatu bangsa terkenal lantaran budinya. Kalau budinya telah hilang, maka nama bangsa itupun ikut hilang pula." Kalimat tersebut pertama sekali saya dengar tatkala saya masih menjadi santri pada madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Dar el-Hikmah Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, guru saya yang bernama Rahmat Wahyudin menerangkan secara panjang lebar tentang makna yang terselubung dibalik syair gubahan Syauqi Bey tersebut. Karena begitu pentingnya peranan akhlak ini dalam suatu bangsa, maka ia sempat berpesan bahwa bila antum (baca: santri-santri) menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih positif mestilah dimulai dari diri antum terlebih dahulu, apalagi bila antum sebagai pimpinan tertinggi pada suatu lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya tersebut juga mencontohkan, bila ingin membersihkan rumah, maka mulailah dengan membersihkan bagian atasnya, kemudian fentilasi, jendela, dinding, pintu dan kemudian barulah membersihkan lantainya. Memang, pada masa saya masih sebagai santri di Ponpes Dar el-Hikmah tersebut, saya tak begitu ambil perhatian terhadap untaian syair yang disampikan oleh guru saya itu. Saya memandang, apalah artinya sebuah syair. Namun hari, bulan dan tahun pun berlalu. Saya mulai menemukan makna dari kalimat syair diatas tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia sebelum ditimpa musibah krisis pada tahun 1997 silam, kita bangga memiliki Soeharto, Presiden yang mengklaim dirinya sebagai Bapak Pembangunan. Soeharto ketika itu benar-benar menjadi tokoh yang paling disegani di Asia. Tak heran, nama Indonesia mencuat merambah dunia internasional laksana mercusuar yang menjulang tinggi. Karamah-tamahan Indonesia laku dijual dimana-mana. Bisa dipastikan, ketika kita berpapasan dengan seseorang di jalan, kemudian ia tersenyum, nah ini dia, orang Indonesia. Akhlak suatu bangsa memiliki andil yang cukup besar dalam meningkatkan derajat dan citra positif bangsa tersebut dihadapan bangsa-bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena dan pemandangan yang seperti itu sudah tak tinggal dan membekas lagi pada saat ini. Indonesia bak sebuah "negara murahan" yang tak lagi memiliki cakar untuk menghujam dalam ke perut bumi. Asumsi yang berkembang di dunia internasional yang menyatakan Indonesia sebagai kentong teroris di Asia yang kemudian diperkuat dengan berbagai aksi pengeboman yang terjadi selama tiga tahun belakangan ini telah memperkuat keyakinan dunia internasional bahwa benarlah Indonesia tersebut sebagai pusat dan sarang teroris. Indonesia -sejauh yang saya tahu- belum pernah membuat sanggahan terhadap stigma yang ditempelkan pada wajah Indonesia tersebut. Bahkan sebagian kalangan di Indonesia "mengamini" pelabelan tersebut yang dibuktikan dengan ikut menyikat beberapa tokoh-tokoh masyarakat tanpa ada bukti-bukti yang jelas. Ini pertanda bahwa bangsa kita tak lagi berwibawa di mata dunia internasional. Mengekor ke bangsa lain, tanpa memiliki perasaan malu kepada bangsa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan di Indonesia silih berganti. Sejak 20 September 2004 lalu, Indonesia resmi memiliki Presiden keenam, beliau adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang didampingi oleh Yusuf Kalla sebagai wakilnya. Kita akan terus menunggu dan menyaksikan, apakah SBY akan berbuat sama seperti pendahulu-pendahulunya? Yaitu mengurus diri sendiri dan melupakan tugas utamanya yaitu memperbaiki rakyat dan bangsa. Soeharto dijatuhkan dari singgasananya karena keasyikan memperkaya diri sendiri dan keluarga semata. Dan Soeharto jugalah yang berhasil memupuk dan mengembangbiakkan praktik-praktik KKN yang sudah mengakar jauh pada bangsa kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Prof. Habibie, dan tentang Habibie ini, saya menjadi teringat dengan ceramah yang disampaikan oleh Prof. AM Syaifuddin di Mesjid Al-Furqan, Leuwiliang, Bogor pada tahun 2001 silam. Ketika itu, AM Syaifuddin mengatakan bahwa sesaat setelah Prof. Habibie dilantik menjadi Presiden menggantikan posisi Soeharto, Prof. AM Syaifuddin membisikkan ke telinga isteri Habibie supaya nama Habibie dirubah menjadi Habibuna. Habibie, dalam bahasa Arab bermakna "kekasihku" dan Habibuna berarti "kekasih kami". Ketika Habibie sudah menjadi Presiden, itu artinya Habibie bukan lagi menjadi milik isteri semata, tapi sudah menjadi milik bersama. Akan tetapi karena nama Habibie tak pernah berubah menjadi Habibuna, maka umur kepresidenan Habibie pun cukup setahun saja. Demikian Prof. AM Syaifuddin memberi alasan mengapa Habibie tak bertahan lama di singgana Presiden tersebut. Saya cuma menganggukkan kepala saja mendengarkan alasan humorik yang dibuat oleh Prof. AM Syaifuddin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula di era Gusdur, Presiden berdarah santri yang keasyikan melawat dan melancong. Ia juga lupa terhadap persoalan yang ada di dalam negerinya sendiri. Tak ayal, ia pun "tersungkur" di tengah jalan. Megawati pun akhirnya naik ke singgana menggantikan posisi Gusdur, tapi sayang, dalam istilah Arab, keberadaan Megawati ini dikenal dengan "Wujuduha ka 'adamiha". Artinya: "Ia ada, tapi keberadaannya seolah-olah tak dilihat orang." Harkat dan martabat bangsa kita menjadi pupus bersamaan dengan pupusnya harkat dan martabat para pemimpin bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah tidak menyadari, Indonesia saat ini sedang menyembah Amerika. Padahal seperti yang kita saksikan bahwa Amerika telah mencabik-cabik perdamaian di tanah Islam umumnya dan bumi Arab khususnya, seperti di Iraq dan Palestina hanya dengan berdalihkan "demokrasi" sebagai pembalut luka yang teramat pedih itu. Sifat manusia yang selalu ingin menguasai dan menjajah itu adalah alami adanya. Qabil, anak pertama nabi Adam rela mengakhiri hayat saudara kandungnya sendiri, Habil, lantaran nafsu telah menguasai jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediktatoran seorang pemimpin di negara Muslim atau di negara yang mayorits penduduknya adalah Muslim dijadikan alasan yang paling empuk bagi Amerika dalam usaha membumihanguskan dunia Islam. Sayangnya, masih banyak diantara pemimpin dunia dimana mayoritas penduduknya adalah Muslim masih saja mau mengakui dan mengamini semua keinginan AS tersebut. Indonesia adalah salah satu contohnya. Fenomena yang semacam ini bisa terjadi lantaran Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap AS dalam berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS akan tetap berupaya untuk menempatkan tentara-tentaranya di segala penjuru dunia. Alasan untuk menjaga stabilitas perdamaian dunia dari ancaman teroris akan dibuat sebagai dalih untuk mencapai tujuan ini. Kalimat perdamaian dunia internasional dan demokrasi akan tetap didengungkan oleh AS dalam rangka menghambat usaha perdamaian yang sebenarnya di tanah Palestina. Amerika dengan segala metode dan strateginya akan selalu menjadikan Israel sebagai alatnya. Dan Israel, bak lembu yang ditusuk batang hidungnya tersebut senatiasa akan tetap mengikuti segala yang diinginkan Amerika, mengingat Israel merupakan “anak angkat” AS itu sendiri, khususnya dalam menghadapi dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap masyarakat Muslim yang menelan bulat-bulat kalimat perdamaian dunia internasional dan demokrasi yang didengungkan oleh AS telah menimbulkan misinterpretasi dan miskonsepsi terhadap makna demokrasi yang sebenarnya. Yang demikian itu sebagai pertanda bahwa AS telah berhasil menanamkan strategi dan taktik jitunya dalam menguasai dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden AS George W. Bush yang telah membangun "danau darah" di tanah Iraq dan di bumi Palestina melalui tangan Israel tersebut akan memperdalam kolam air mata kaum Muslimin di seluruh dunia. Tindakan biadab yang tidak beralasan tersebut akan tetap terukir dalam catatan sejarah perjalanan demokrasi di dunia ini. AS telah menjatuhkan bom-bom buatannya sendiri bak menghempaskan "batu domino" di meja kaca kaum Muslimim dengan sombongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin masih ingat dengan tokoh-tokoh dunia terdahulu. Sikap mereka jauh bertolak belakang dengan apa yang sudah diperlihatkan oleh para pemimpin dan orang-orang besar saat ini. Sebut saja contohnya, Socrates. Ia lupa mengurus dirinya lantaran ia terlalu banyak berfikir untuk memperbaiki manusia. Dan begitu juga dengan Jamaluddin Al Afghani, karena ia begitu antusias untuk memperbaiki umat Islam di seluruh dunia, maka ia lupa memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak beristeri dan membangun rumah tangga, meninggalkan keturunan yang akan disebut-sebut di belakang hari. Jelaslah sudah, bila kita hendak meninggikan derajat dan harga diri bangsa kita, mari kita bersama-sama sebagai bangsa Indonesia menegakkan akhlak yang baik dalam semua sendi kehidupan kita. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia - A Central University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110139280332261529?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110139280332261529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110139280332261529' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110139280332261529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110139280332261529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/11/bangsa-bernama-bangsa-berakhlak.html' title='Bangsa Bernama Bangsa Berakhlak'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110084592290492378</id><published>2004-11-18T22:26:00.000-08:00</published><updated>2004-11-18T23:17:41.076-08:00</updated><title type='text'>Hatiku Bergetar Bersama Takbir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI itu, Senin (15 November 2004), sehabis menunaikan sholat Subuh, aku diam terpaku di atas hamparan sajadahku sambil mengingat masa kecilku yang selalu merayakan hari raya Idul Fitri bersama kedua orang tuaku, adik-adikku serta nenek dan kakekku. Sebagaimana lazimnya dalam keluargaku, begitu sholat Subuh usai, aku dan adikku langsung bersimpuh di hadapan kedua orang tuaku serta dihadapan kakek dan nenekku guna memohon maaf dari mereka yang sangat ku cintai. Begitu pula bapak dan ibuku juga akan bersimpuh memohon maaf dihadapan kakek dan nenekku sembari menyalami dan menciumi tangan mereka sebagai tanda penghormatan terhadapnya. Aku dan adik-adiku yang setiap hari raya Idul Fitri selalu mengenakan baju teluk belanga kembali melintas dalam bayanganku. Bilakah kebahagianku seperti masa kecilku itu bisa ku raih kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu suasana di New Delhi sudah mulai terasa sejuk. Meski dinginnya air juga terasa menembus tulangku, aku dan dua rekanku Khairurrazi Nadwi dan bung Fatih tidaklah ragu untuk mandi di pagi itu, dengan niatan Lillahi Ta’ala, hanya mengharap ridho Allah semata. Getaran takbir, tahmid dan tahlil di hatiku telah menghangatkan air mandiku di hari itu. Setelah mandi secara bergiliran, aku dan dua rekanku itu, Khairurrazi Nadwi dan bung Fatih segera mengenakan pakaian selayaknya dengan perfume seperlunya. Berangkat dari bilikku di jalan C-13/140, Zakir Nagar, Okhla menuju lapangan tennis Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi, dimana sholat Id dilaksanakan, telah menghabiskan perjalananan selama 45 menit lamanya dengan menggunakan Bajaj atau Threewhillers, sebagaimana masyarakat India biasa menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan itu, aku tak banyak bersuara dan berkata. Aku hanya ingin segera sampai ke arena sholat Id di KBRI itu. Tanpa terasa, Bajaj atau Threewhillers yang membawa kami itu tibalah di depan pintu gerbang KBRI. Begitu memasuki kawasan KBRI, gema takbir dan tahmid serta tahlil yang dipimpin oleh teman-teman yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India telah terdengar dengan indahnya. Rasa sejuk dan panas berkumpul menjadi satu di dalam tubuhku. Hamparan sajadah yang membentang memenuhi lapangan tennis itu telah membuatku sadar bahwa hari itu aku sedang berhari raya di tempat yang terpisah dari kedua orang tuaku dan adik-adikku. Sambil mengikuti irama dan alunan takbir, tahmid dan tahlil yang menggema ke seluruh tubuhku, air mataku menitik membasahi telapak tangaku. Bibirku hanya bisa berucap: “Ibu, ayah, dan adiku-adikku, maafkan aku. Tak ada yang paling membahagiakanku di pagi ini kecuali pemberian maaf darimu. Karena itu, maafkan aku ya ibu, ayah dan adik-adikku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 8.30, sholat Id yag diimami oleh H. Jusman Masga, MA itu didirikan. Selepas sholat, H. Muchlis Zamzami, MA langsung berdiri mengambil posisi sebagai khatib Id guna melengkapi sholat Id di pagi itu. Tenang, khusyu’ dan khidmat. Itulah suasana dan gambaran yang diperlihatkan oleh jamaah Id yang bukan hanya berasal dari masyarakat Indonesia di New Delhi saja, tetapi juga ada juga yang berasal dari negara jiran seperti Malaysia dan Brunai Darussalam. Hidup rukun, damai dan tenteram tanpa pernah memandang asal bangsa yang negara yang semacam inilah yang mesti terus kita bina dan kita pertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas khatib membacakan khutbah lebih kurang 20 menit lamanya, selanjutnya diteruskan dengan acara salam-salaman. Saat itu, tak ada lagi perbedaan diantara kita. Semua berbaur menjadi satu, saling meminta maaf dan bersalaman. Ucapan “Selamat Hari Raya” adalah kata-kata yang selalu menghiasi setiap bibir kita semua di pagi itu. Akrab dan bersabahat benar kita saat itu. Mampukah kita mempertahankan nuansa akrab dan bersabahat semacam itu? Aku yakin kita mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan foto bersama telah menambah suasana keakraban sesama kita di pagi itu. Acara “Open House” di kediaman Bapak Dubes Indonesia telah membuka kesempatan bagi sesama kita untuk saling berkenalan dengan saudara-saudari kita yang berasal dari negara jiran tadi. Mereka yang berasal dari Malaysia dengan logat Melayu dan baju teluk belanganya telah mengingatkan aku nuansa berhari hari raya di kampungku, Riau. Satai ayam dan lontong serta berbagai jenis makanan dan buahan lainnya pada acara “Open House” sebagai pengganti ketupat, lemang dan gelamai yang biasa ku nikmati di pagi hari raya semasa di Riau dulu itu telah meyakinkan aku bahwa kini benarlah bahwa aku bukan sedang bermimpi, tapi benar-benar berhari raya Idul Fitri di New Delhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai “Open House” di Wisma Duta, keluarga besar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India juga mendapat undangan dari keluarga Bapak Brook untuk bersilaturrahmi ke rumahnya. Bapak Athan KBRI telah memberikan fasilitas transportasi kepada rekan-rekan PPI menuju kediaman Bapak Brook ini. Tak banyak yang bisa ku sampaikan kepada Bapak Athan selain ucapan terima kasihku. Selama lebih kurang dua jam di rumah Bapak Brook, rekan-rekan PPI meneruskan silaturrahmi ke kediaman Ibu Niniek dan Bapak Sis. Selepas silaturrahmi dari kediaman Ibu Niniek dan Bapak Sis ini, rekan-rekan PPI meneruskan acara silaturrahmi ke kediaman Bapak Suhadi yang masih berada di lingkungan KBRI juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari kediaman Bapak Suhadi jugalah rekan-rekan PPI meneruskan perjalanannya ke Kamani Auditorium untuk menyaksikan pertunjukan seni yang dibawakan oleh aktor-aktor profesional asal Bali. Sebelum pertunjukan seni ini usai, aku dan saudaraku Khairurrazi Nadwi memilih untuk balik ke bilikku duluan. Mengingat semakin larut malam, semakin sulit untuk mendapatkan Threewhillers yang mau mengantarkan kami ke kawasan Zakir Nagar, Okhla. Sehari penuh aku berjalan, sungguh besar nikmat Allah yang kurasakan. Aku tak lagi mampu untuk menghitung sudah berapa besar nikmat dari Allah yang ku rasakan. Aku hanya bermohon kepada Allah, kiranya aku termasuk orang-orang yang pandai bersyukur tehadap nikmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah ...., sudah berkali-kali Idul Fitri ku lewati. Tapi, aku masih merasa belum pernah berbuat apa-apa untuk agama, bangsa dan negaraku. Ku bermunajat kepada-Mu, berikanlah hidayah dan petunjuk-Mu kepadaku hingga akhirnya aku menjadi manusia yang bisa membawa manfaat dan kemashlahatan bagi orang banyak. Bukan menjadi pembawa bencana dan malapetaka bagi orang lain. Maha besar Allah. Segala puji hanyalah untuk Allah. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Amien Allahumma Amien. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Pelajar Melayu asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia – A Central University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110084592290492378?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110084592290492378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110084592290492378' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110084592290492378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110084592290492378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/11/hatiku-bergetar-bersama-takbir.html' title='Hatiku Bergetar Bersama Takbir'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011570465226088</id><published>2004-11-10T11:24:00.000-08:00</published><updated>2004-11-10T11:41:44.653-08:00</updated><title type='text'>Mengenal dan Menghargai Pahlawan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI ini 10 November 2004, kita kembali diingatkan pada satu peristiwa penting dalam catatan sejarah perjalanan negeri ini yang bernama Indonesia, itulah peringatan Hari Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Bagimana tidak, rasanya mustahil bagi kita bisa tinggal di negeri ini tanpa adanya perjuangan, banting tulang, peras keringat dan genangan darah dari bapak ibu kakek dan nenek-nenek kita dalam merebut kemerdekaan republik ini dari tangan penguasa zhalim yang bernama Belanda. Sungguh tak terbayangkan oleh kita bagaimana nasib dan bentuk kehidupan para pejuang Indonesia waktu itu dimana mereka dijajah habis-habisan selama tiga setengah abad lamanya. Maka sudah sepantasnya bagi kita generasi penerus pejuang bangsa untuk mengenang dan mengabadikan nilai-nilai perjuangan mereka dalam catatan sejarah sebagai hari pahlawan nasional republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak bangsa kita harus mengakui bahwa yang selama ini terjadi adalah bahwa asumsi mengenai pahlawan tersebut hanya tertuju kepada mereka yang telah berjuang dalam merebut kemerdekaan republik Indonesia saja, karena hanya sebatas itulah  ilmu sejarah yang kita peroleh dari guru-guru kita. Dan nama-nama para pejuang itupun masih sebatas pejuang dengan ruang lingkup yang umumnya berasal dari luar daerah (Riau). Sehingga yang terjadi adalah kita lebih mengenal para pejuang dari luar Riau dari pada para orang-orang yang lebih berjasa banyak terhadap Riau itu sendiri. Memang tidak ada salahnya kita mempelajari sejarah tentang Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, dan lain-lain sebagainya, karena tanpa perjuangan yang mulia dari mereka, kita juga tidak mungkin hidup dalam negeri yang begitu besar ini, dan dengan perjuangan mereka juga, maka Indonesia ini dapat terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi yang terjadi selama ini adalah bahwa seolah-olah yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia ini hanyalah orang-orang dari luar Riau saja. Padahal mereka tersebut juga tidak pernah mengadakan perlawanan atau memimpin perlawanan di wilayah Riau. Dan mereka hanya memimpin perlawanan di daerah mana ia berada saja. Hal ini bisa terjadi karena memang para penulis sejarah itu masih didominasi oleh orang-orang yang berada dari luar daerah Riau. Sehingga tidaklah mengherankan jika nama-nama pahlawan dari Riau tidak tercantum dalam buku-buku sejarah pahlawan nasional yang pernah kita pelajari pada tingkat sekolah menegah (SLTP/MTs) dan lanjutan atas (SMU/Aliyah) atau yang sederajat dengannya. Karena itu putra-putri Riau memiliki kewajiban untuk menulis buku yang berkaitan dengan sejarah para tokoh-tokoh pahlawan yang telah menumpahkan darahnya demi mempertahankan wilayah Riau ini. Dengan demikian para generasi selanjutnya bisa mengetahui sejarah pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia ini dari dua sisi, yaitu para pejuang asal Riau dan pejuang asal luar Riau. Jika hal ini dapat kita laksanakan, maka nama Tuanku Tambusai tak lagi akan terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut kita pertanyakan sekarang adalah apakah upacara peringatan Hari Pahlawan tersebut hanya sebatas “acara ritual” saja? Sebab jika upacara yang kita selenggarakan setiap tahun tersebut hanya sebatas melepas kewajiban sebagai warga negara, maka kita termasuk orang yang telah berkhianat kepada para pejuang tersebut. Saya katakan berkhianat karena dalam setiap upacara kita selalu mendengar dan dituntut untuk menghargai jasa para pahlawan-pahlawan tersebut, tapi begitu ucapara selesai, maka sedikitpun nilai-nilai perjuangan dari pahlawan tersebut tidak berbekas dalam kepribadian kita. Apalah artinya sebuah upacara bila pada kesempatan tersebut kita hanya bisa menghadiahkan bacaan Al-Fatihah pada saat kita mengheningkan cipta. Sebab hal itu juga bisa dilakukan diluar waktu upacara. Permasalahannya sekarang, adakah kita sebagai seorang warga negara pernah mengheningkan cipta untuk para pahlawan kita diluar upacara tersebut sesaat saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan republik ini, sebenarnya masih ada pahlawan yang juga tidak kalah pentingnya dalam mengisi kemerdekaan tersebut. Mereka adalah para guru, dokter dan wartawan atau jurnalis dan penulis. Guru tersebut adalah pahlawan dalam melawan kebodohan, akan tetapi kita sering melupakannya. Kita tidak dapat memungkiri bahwa kita bisa masuk SD itu adalah berkat jasa ibu dan ayah (guru dalam keluarga). Seterusnya kita bisa melanjutkan ke jenjang SLTP/MTs juga berkat jasa guru kita di SD, kemudian kita melanjutkan ke kenjang SMU/Aliyah atau yang sederajat juga karena jasa guru kita di SMP/MTs. Sampai akhirnya kita masuk ke jenjang Perguruan Tinggi, kemudian ada yang menjadi Presiden, menjadi Gubernur, menjadi Bupati, menjadi Camat, menjadi Insinyur, menjadi wartawan, menjadi dokter dsb., semua itu tidak terlepas dari jasa guru. Karena itu gurupun pantas menyandang gelar sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan seseorang yang berprofesi sebagai dokter. Ia pun juga merupakan seorang pahlawan kesehatan. Dalam masalah ini, saya kembali teringat dengan salah satu bait dalam syair Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya seorang dokter dan guru tidak akan memberikan ilmunya yang akan bermanfaat bagi kita, jika kita tidak menghormatinya dan menghargainya”. Yang ingin saya katakan disini adalah bila seorang pelajar atau penuntut ilmu ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat dari gurunya maka hormatilah guru. Dan guru yang baik tentunya adalah guru yang senang bila melihat muridnya menjadi orang yang berhasil, dan merasa prihatin bila tidak berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang  yang sakit akan datang memenui dokter serta akan minta bantuannya dalam menyembuhkan penyakit yang ia derita. Namun bila orang yang sakit tersebut tidak mengindahkan dan menghargai nasehat dari sang dokter, maka alamat penyakit sulit disembuhkan. Seorang dokter akan memberikan obat kepada yang sakit tersebut disertai dengan aturan makan atau minumnya. Ini merupakan salah-satu bentuk kasih dan sayangnya seorang dokter. Sebab obat yang diberikan dokter tanpa diikuti dengan aturan makan dan minumnya tidaklah berfungsi menyembuhkan penyakit, akan tetapi bisa menambah penyakit. Sehingga memperhatikan nasehat dokter adalah perlu dalam hal kesehatan, karena dalam masalah kesehatan ini, dokterlah pahlawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari pahlawan-pahlawan yang telah penulis sebutkan diatas, kita bangsa Indonesia pada umumnya seringkali melupakan dan tidak menghargai jasa para wartawan, jurnalis ataupun para penulis. Padahal mereka ini merupakan para pahlawan wawasan dan intelektual. Kita tidak bisa menikmati berita-berita aktual dan terkini tanpa adanya jasa para wartawan ataupun para jurnalis. Dan adalah mustahil bagi kita bisa menjadi orang pintar bila kita tak pernah membaca buku. Dan terbentuknya buku itupun berkat jasa para penulisnya. Sebagai anak jati Melayu Riau, kita patut berbangga memiliki media cetak seperti Harian Riau Pos, sebab kehadiran Riau Pos itu tentunya untuk menambah wawasan khususnya bagi masyarakat Riau, dan niat tulus Riau Pos dalam membentuk masyarakat yang berwawasan luas tersebut telah tercermin dalam mottonya “Bangun Negeri Bijakkan Bangsa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sering menjadi dilemma ditengah masyarakat kita Indonesia umumnya adalah bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang alergi baca atau malas baca. Sehingga apabila ada pelajar, siswa atau mahasiswa yang malas membaca, maka statusnya patut dipertanyakan. Padahal salah satu bentuk penghargaan kita kepada para wartawan, jurnalis ataupun para penulis adalah dengan membaca karya-karya mereka. Dan yang menjadi sumber kebodohan itu adalah dari sifat malas baca, dan dari sini pula akan muncul rasa kurang menghargai, karena memang kita tidak memahami manfaat dari membaca tersebut. Berbeda dengan di Barat, dimana penulis menempati posisi terhormat, karena itu tidak heran bila pada saat ini segala bentuk kemajuan Barat dapat kita nikmati melalui tulisan-tulisan mereka. Karena adanya bentuk penghargaan dari pemerintah dan masyarakatnya yang tinggi tersebut, maka setiap mereka termotivasi untuk menuangkan segala ilmunya dalam bentuk tulisan. Sering kita dengar bahwa kebiasan orang Indonesia bila bepergian dengan memakan waktu perjalanan yang agak lama, maka kesempatan tersebut digunakan untuk tidur, sedangkan orang-orang Barat memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersempena dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional Republik Indonesia tahun ini, maka sudah saatnya untuk melepaskan atribut-atribut buruk yang selama ini melekat pada diri kita. Bagi yang biasa berkorupsi-ria, suka berkolusi dan gemar dengan nepotismenisasi sudah waktunya untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Yang belum hobi membaca, inilah saat yang tepat untuk menjadikan baca sebagi salah-satu hobi dan begitu juga kepada yang belum memulai menulis (terutama sejarah para pahlawan Riau), maka dengan semangat pahlawan ini, penggarapannya boleh dimulai. Hormati guru, dengar nasehat dan ikuti saran dokter serta biasakan diri membaca, karena yang demikian itulah merupakan salah-satu bentuk penghargaan kita kepada mereka. Di hari ini pula, kita luangkan waktu sejenak guna mengheningkan cipta untuk para pahlawan yang telah mengalirkan darahnya demi bangsa Indonesia. Dan untukmu wahai para syuhada, &lt;em&gt;wa lahum Al-Faaatihah. ***&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Ma&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;hasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India; alumni Pondok Pesantren Darul Hikmah Pekanbaru.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011570465226088?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011570465226088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011570465226088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011570465226088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011570465226088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/11/mengenal-dan-menghargai-pahlawan.html' title='Mengenal dan Menghargai Pahlawan'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011328688196431</id><published>2004-11-08T10:55:00.000-08:00</published><updated>2004-11-10T11:01:26.883-08:00</updated><title type='text'>Mereformasi Semangat Pemimpin Bangsa </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;BAIK disadari ataupun tidak, yang jelas pada saat perang merebut kemerdekaan republik Indonesia tahun 1945 juga tidak telepas dari perjuangan para ulama atau kyai dan santri. Hal ini dapat kita lihat dari balik sejarah ketika Jepang yang mewajibkan semua pemuda untuk ikut perang melalui propaganda perang suci "Perang Asia Timur Raya" yang dimulai dari tahun 1943 sampai tercapainya kemerdekaann bumi pertiwi ini. Karena pada saat itu sekolah harus dinonaktifkan, maka proses belajar-mengajar dilaksanakan di rumah-rumah para kyai secara sembunyi-sembunyi. Dan pada malam harinya barulah para kyai dan santri turun bergerilya masuk dalam rombongan Hizbullah atau Sabilillah. Proses pembelajaran yang dilaksanakan antara kyai dan santri tersebut, kini telah membuahkan hasil yang juga tidak kalah pentingnya dalam mengisi kemerdekaan republik ini. Sehingga keberadaan ulama ataupun kyai yang kita kenal sekarang ini adalah merupakan hasil dari produk pembelajaran antara kyai dan murid yang masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dahulu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada hari Kamis lalu, 28 Oktober 2004 kita kembali diingatkan pada suatu peristiwa besar dalam perjalanan sejarah negeri ini, dimana 76 tahun yang silam tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, Bung Karno dan beberapa pemuda Indonesia lainnya telah membulatkan satu tekad demi terwujud Indonesia ini sebagimana yang tercantum di dalam "Sumpah Pemuda". Sejak itu pemuda Indonesia telah mengikraran diri dalam Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu hanya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM sejarah perjalanan Indonesia sejak kemerdekaan hingga saat ini, kita harus mengakui bahwa Indonesia jika dilihat dengan menggunakan pandangan mata luar, telah banyak menunjukkan berbagai macam bentuk keberhasilan. Ini tentunya tidak terlepas dari peran pemerintahan yang berkuasa dalam setiap periode itu. Kita bangga memiliki "orang besar" sekaliber Bung Karno. Kita juga harus bangga memiliki "orang kuat" segagah Soeharto. Kita juga cukup bangga manakala Soeharto menjadi figur yang paling dihomati di Asia. Tapi sayang, sudah banyak pemimpin-pemimpin negeri ini yang mencekamkan kakinya ke dalam istana negara, akan tetapi semua amanat yang diembankan tersebut hanyalah digunakan untuk mengelabui masyarakat Indonesia, bukan untuk memajukan Indonesia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada pemimpin-pemimpin negeri ini yang mengakhiri jabatannya secara terhormat. Mereka semua telah menggoreskan catatan hitam dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia. Kita tahu bahwa praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau yang lebih masyhur dikenal dengan KKN, merupakan penyakit Indonesia pada masa kekuasaan orde baru. Sehingga kita berharap agar pemimpin-pemimpin Indonesia berikutnya adalah pemimpin-pemimpin yang seyogyanya sudah harus alergi dengan penyakit tersebut. Kita bangsa Indonesia telah terpedaya dengan kata-kata yang selalu meneriakkan anti KKN dan lain sebagainya. Kita terperosok kedalam jurang kehancuran. Kondisi ekonomi Indonesia menjadi hancur lebur, praktek perpolitikan Indonesia menjadi berantakan, suasana keberagamaan menjadi rancu, reformasi yang telah dihembus-hembuskan menjadi abu dan debu. Kita bangsa Indonesia telah mengkhianati para pejuang revolusi dan pejuang reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah menaruh banyak harapan besar kepada semua pemimpin Indonesia pasca reformasi agar bangsa kita yang bernama Indonesia bisa keluar dari kemelut yang tak berkesudahan ini, namun tampaknya mereka yang telah diberikan amanah untuk memegang jabatan sebagai kepala negara itu belum ada yang menunjukkan kearah perbaikan. Sehingga panyakit KKN yang semestinya ia harus alergi, malah sebaliknya KKN pula yang direformasi. Maka jadilah KKN yang dulunya dilakukan secara diam-diam, kini KKN telah dilakukan ditempat terbuka dan terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBOBROKAN Indonesia telah kita rasakan dari segala arah, masing-masing diri memproklamirkan diri sebagai pahlawan. Tapi dari kepemimpinan Habibie, Abdurrahman Wahid hingga Megawati, belum ada yang memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengangkat kesejahteraan yang hakiki bagi seluruh masyarakat Indonesia, apalagi untuk mengangkat martabat Indonesia di dunia internasional. Lantas, kepada siapa lagi kita harus menyerahkan tampuk kepemimpinan Indonesia ini? Pemuda. Dan wajah Indonesia itu ada di tangan pemuda. Itulah jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMUDA bukan terletak dari umur dan wajah, akan tetapi pemuda terletak pada jiwa dan semangatnya. Berapa banyak kita saksikan orang-orang tua di sekeliling kita yang masih banyak mempelihatkan keteguhan jiwa dan kekuatan semangatnya. Sebaliknya berapa banyak pula pemuda yang jiwa dan semangatnya sudah bertolak belakang dari yang sebenarnya. Dari segi umur mungkin kita mengaku sebagai pemuda, tapi dari segi jiwa dan semangat, kita tidak menunjukkan ciri-ciri dan tipikal seorang pemuda. Hal ini dapat kita saksikan sendiri dengan mata kita, berapa banyak diantara pemuda kita yang melakukan hal-hal yang sudah luar batas kewajaran. Apakah yang begini disebut pemuda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP tokoh intelektual, politikus, edukasionis, ekonom, seniman dan budayawan memiliki solusi tersendiri dalam memperbaiki kerusakan dan kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Seorang politikus akan mengatakan bahwa untuk menyembuhkan penyakit Indonesia, maka Indonesia harus memakan tablet demokrasi, dan politikus tersebut meyakini benar bahwa dengan tablet demokrasi Indonesia akan sembuh. Berbeda dengan pendapat seorang ekonom. Seorang ekonom akan mengatakan bahwa untuk menjamin kesehatan Indonesia, maka Indonesia dianjurkan untuk meminum kapsul ekonomi, dan ia meyakini bahwa dengan peningkatan dari segi ekonomilah, maka Indonesia dapat disembuhkan. Begitu pula dengan seorang budayawan, senimanan, dan tokoh intelektual lainnya, mereka memiliki pendapat tersendiri terhadap solusi dalam memperbaiki Indonesia. Tak ketinggalan pula seorang tokoh atau pemuka agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing akan menilai dan berpendapat bahwa Indonesia hanya bisa keluar dari kemelut yang berkepanjangan ini sesuai dengan kemampuan akal dan disiplin ilmu yang mereka bidangi pula. Tidak jarang terjadi perselihan dan adu pendapat bahkan sampai pada tingkat menyalahkan pendapat orang lain. Padahal seharusnya hal yang demikian itu tak perlu sampai terjadi, apabila kita sebagai manusia yang memiliki otak (pikiran) dan hati (perasaan) ini benar-benar seorang "tokoh". Tokoh dalam segala hal atau bidang dan disiplin ilmu. Karena semua solusi yang ditawarkan oleh politikus, edukasionis, ekonom, seniman, budayawan dan agamawan tersebut adalah benar. Akan tetapi "kebenaran" solusi itu bukanlah solusi yang mutlak benar. Kebenaran tersebut masih berada pada tingkat "sub-folder solution", dan masih ada solusi utama yang lebih benar dan lebih mutlak dalam menjamin kesembuhan penyakit Indonesia, siapakah yang bisa menawarkan solusi utama atau "main folder solution" tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG pemimpin yang benar-benar berjiwa dan bersemangat pemuda dalam membentuk Indonesia maju, seyogyanya memiliki komitmen yang jelas dan memiliki wawasan yang luas, sehingga ia akan memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, memiliki hubungan yang bagus dengan tokoh ekonom dan orang-orang kaya atau hartawan yang dengan hubungannya itu bisa membuat sorang hartawan yang pelit menjadi pemurah. Sehingga dengan jiwanya yang pemurah itu bisa membantu rakyat Indonesia yang lain untuk meningkatkan taraf hidup dalam bidang ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti bahwa kedekatan dengan para hartawan tersebut digunakan untuk meraup keuntungan bagi diri sendiri, walaupun sebenarnya ini merupakan fenomena yang banyak terjadi dalam lingkungan kita. Namun perlu untuk diketahui bahwa yang demikian itu akan membuat diri seorang pemimpin tersebut menjadi rendah dan tak bernilai dihadapan para hartawan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDUA, merangkul dan menjaga hubungan baik dengan pemuka-pemuka agama. Untuk meredam perselisihan yang terjadi antar umat beragama, pemerintah tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan hukum atau undang-undang yang telah ditetapkan. Akan tetapi dengan merangkul dan menjaga hubungan baik dengan para tokoh agama tersebut akan lebih efektif dalam memberikan solusi terhadap konflik yang terjadi antar umat agama tersebut. Sebab bila masing tokoh agama saling menghargai, maka dalam tradisi masyarakat Indonesia, para pengikutnya pun akan saling menghargai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIGA, mendekati tokoh-tokoh masyarakat, seperti seorang Faqih, Buya atau Kyai. Karena mereka ini memiliki pengaruh yang sangat kuat di mata masyarakat. Masyarakat desa misalnya, akan lebih mau mendengarkan saran seorang Faqih atau Kyai dari pada mengikuti saran dari pemerintah yang kehidupan sehari-hari kalangan pejabat pemerintah itu tidak mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEEMPAT, mengarahkan orang-orang kuat, gagah dan perkasa. Dalam hal ini tentunya mengarahkan pihak TNI dan Polri. Mengapa demikian? Seorang pemimpin negara harus berjiwa mampu mengarahkan dan mengerahkan pasukannya. Sebab, kita sering mendengar keluhan dari masyarakat terhadap tindakan dari oknum aparat tersebut. Ketika kita ingin menumpas tempat-tempat maksiat, misalnya, ternyata ada oknum aparat yang berdiri dibelakangnya. Penebangan hutan sembarangan, juga ada oknum aparat yang melindunginya. Begitu juga dengan berbagai kasus yang terjadi di masyarakat, mulai dari razia KTP hingga kasus terorisme, selalu saja ada oknum aparat yang ingin mempolitisi kasus-kasus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi penyalahgunaan kekuatan dan kesempatan. Pasukan TNI/Polri itu seharusnya mempertahankan negara dari serangan musuh, namun ada sebagian dari mereka menggunakan kekuatan mereka untuk memerangi rakyat sendiri yang pada akhirnya menimbulkan permusuhan antara sesama bangsa Indonesia. Kesempatan diberikan untuk menjaga keamana rakyat, malah ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Bahkan kita sering mendengar banyak wanita yang diperkosa juga atas nama oknum aparat. Sungguh kita telah mengkhianati makna yang terkandung didalam Sumpah Pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELIMA, merangkul kaum pemuda, dalam hal ini tentunya kaum mahasiswa dan mahasiswi yang merupakan simbol generasi intelektual. Dalam memperingati hari Sumpah Pemuda tahun ini, sudah seyogyanya bagi setiap kita untuk merenungkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda itu sendiri. Sebagai mahasiswa, kita akan selalu mengaumkan reformasi, namun jika kita dalam sholat Subuh saja masih sering menjemur qunut (bagun pagi kesiangan), maka tak ada gunanya berteriak reformasi. Reformasi diri sendiri, setelah itu baru mereformasi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, 20 Oktober 2004, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla resmilah sudah menjadi presiden dan wakil presiden republik Indonesia untuk masa lima tahun ke depan. Janji-janji telah mereka taburkan. Kita hanya menunggu hasil kepemimpinan mereka. Adakah nilai-nilai seperti berjiwa dan bersemangat pemuda itu terkandung di dalam diri mereka atau tidak? Jika masih ada, berarti mereka memang layak dan pantas untuk memimpin bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;adalah mahasiswa asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di website resmi PPI India [ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ppi-india.uni.cc/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;www.ppi-india.uni.cc&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; ] edisi 07 November 2004.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011328688196431?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011328688196431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011328688196431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011328688196431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011328688196431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/11/mereformasi-semangat-pemimpin-bangsa.html' title='Mereformasi Semangat Pemimpin Bangsa '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011593388449624</id><published>2004-10-16T11:43:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:45:33.883-08:00</updated><title type='text'>Ramadhan dan Winter Tiba Bersamaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;BERSYUKUR kita kepada Allah Ta'ala karena kita masih diberi umur yang panjang sehingga kita masih bisa menikmati indahnya bulan Ramadhan 1425 H ini. Tahun ini adalah tahun yang ketiga kalinya saya berpuasa Ramadhan di negeri Gandhi ini, India bagian utara, tepatnya di New Delhi. Di India, puasa Ramadhan tahun ini dimulai hari Sabtu (16/10). Jadi, lebih dulu satu hari di Indonesia. Dan yang patut kita syukuri juga bahwa permulaan puasa di Indonesia telah dimulai secara serempak pada tanggal 15 Oktober 2004. Kita berharap, agar kekompakan semacam ini bisa terus dijaga pada tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gema dan semarak menyambut kedatangan bulan Ramadhan inipun juga tak kalah jauh meriahnya bila dibandingkan dengan semarak menyambut kedatangan bulan Ramadhan di negeri kita Indonesia. Bila di Indonesia berbagai perayaan menyambut kedatangan bulan Ramadhan diisi dengan acara menziarahi kubur, mandi belimau, belimau kasai dll; maka di India hal-hal yang semacam ini tak akan ditemukan. Di India, acara menyambut kedatangan bulan Ramadhan ditandai dengan keluarnya semua lelaki muslim, mulai dari anak-anak hingga orang yang sudah lanjut usia menuju mesjid untuk melaksankan solat Maghrib secara berjamaah. Setelah Maghrib usai, tampak sesama warga saling memaafkan dan saling memberikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1425 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam pertama melaksanakan sholat Tarawih, mesjid Jami' yang terletak di Zakir Nagar, New Delhi, sebuah kawasan Muslim dimana saya tinggal selama mengikuti pendidikan di Jamia Millia Islamia ini, sesak dipadati oleh jama'ah. Mesjid yang mampu menampung lebih kurang 3.000 jamaah tersebut tidak hanya ramai pada malam bulan Ramadhan, tapi juga ramai pada setiap sholat lima waktu. Suasana Ramadhan memang benar-benar terasa di sini. Toko-toko baru dibuka pada pukul 10.00 pagi. Dan di waktu sore, kita akan melihat para pedagang yang menjual berbagai macam jenis makanan sebagai pembuka puasa. Mulai dari buah-buahan hingga goreng-gorengan. Asyik dan nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat Tarawih, kita akan menyaksikan banyak jamaah yang masih tetap beri'tikaf (berdiam diri) di mesjid, membaca Al-Quran dan melaksanakan sholat sunnat-sholat sunnat lainnya. Hanya saja, hampir di seluruh mesjid di India tidak menyediakan ruang untuk wanita. Sehingga, sudah tiga tahun saya berada di India, saya belum pernah menemukan ada wanita yang melaksanakan sholat di mesjid, baik itu secara sendiri apalagi berjamaah. Akan tetapi, setiap orang tua Muslim di India telah membiasakan diri anak laki-lakinya untuk melaksanakan sholat secara berjamaah di mesjid sejak mereka masih kecil, berusia tujuh tahun. Tak heran, bila setiap orang tua akan selalu membawa anak laki-lakinya ke mesjid untuk melaksanakan sholat secara berjamaah. Suatu pemandangan yang cukup indah dilihat dan patut ditiru oleh setiap orang tua Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan masyarakat Muslim Indonesia di India? Alhamdulillah di kawasan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi juga ada Mushalla yang diberi nama Musholla Baiturrahman. Di Musholla Baiturrahman ini, selain dihadiri oleh jamaah yang terdiri dari diplomat, staff KBRI dan masyarakat Indonesia, juga dihadiri oleh diplomat dan staff Kedutaan Besar Malaysia, Singapura, Brunai. Begitu juga ketika pelaksanaan sholat Eid, mahasiswa Muslim asal Thailand pun biasanya ramai yang melaksanakan sholat Eidnya bersama kita masyarakat Muslim Indonesia di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sudah menjadi tradisi rutin di kalangan masyarakat Muslim Indonesia di India, bahwa berbuka puasa hari pertama dilakukan di kediaman Bapak Duta Besar RI. Acara buka puasa di kediaman Bapak Duta Besar ini dihadiri oleh semua masyarakat Indonesia di New Delhi dan sekitarnya. Acara ini juga digunakan sebagai ajang untuk bersilaturrahmi dan saling bermaafan. Kebersamaan betul-betul terasa. Setelah berbuka puasa, kemudian dilanjutkan dengan sholat Maghrib secara berjamaah. Setelah itu barulah diteruskan dengan acara makan malam. Usai acara makan malam, barulah diteruskan dengan sholat Isya dan sholat Tarawih secara berjamaah di Musholla Baiturrahman, yang jaraknya lebih kurang 20 meter dari kediaman Bapak Duta Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis melaksanakan sholat Tarawih, juga diisi dengan pengajian singkat yang berkaitan dengan keislaman. Mulai dari persoalan seputar sholat, Al-Quran dan masalah-masalah keislaman lainnya. Pengajian yang semacam ini diisi oleh rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang belajar di India. Tentunya juga tak terlepas dari dukungan yang diberikan oleh pihak pengurus Musholla Baiturrahman dan KBRI New Delhi serta masyarakat Indonesia di India pada umumnya. Dalam setiap kesempatan di pengajian itu, terlihat para jamaah baik bapak-bapak maupun ibu-ibu begitu antusias mengikuti setiap materi yang disampaikan dan para jamaahpun juga tak segan-segan untuk bertanya atau memberikan komentar. Suasana pengajian semacam ini benar-benar terasa hidup dan berjiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, puasa di India kali ini juga tiba bersamaan dengan musim dingin atau winter, tapi belumlah se-dingin pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, pada pukul 21.30 malam, ketika hendak pulang dari musholla Baiturrahman ini menuju kediaman kita masing-masing, kita sudah mesti mempersiapkan baju tebal. Hal ini kita lakukan sebagai langkah antisipasi menghindari penyakit yang biasanya kerap muncul menjelang permulaan musim dingin. Namun, sebagai umat Islam, kita harus bangga dan menyadari bahwa dalam ibadah puasa ini, selain menjalankan perintah dari Allah SWT, puasa juga memiliki alasan dari sisi saintifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Alan Cott, seorang ahli obat-obatan Amerika yang bertempat tingal di Texas mengatakan bahwa: "Berpuasa itu dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit migren (sakit kepala) hingga penyakit tekanan darah tinggi, penyakit tulang dan penyakit anemia." Masih menurut Dr. Cott bahwa 99 persen masyarakat yang terkena penyakit tersebut disebabkan oleh kelebihan makan (overeating). Puasa juga dapat berfungsi untuk membersihkan diri para peminum minuman keras. Disamping itu, Dr. Yuri Nikolayev (mantan USSR) menyebutkan bahwa puasa tersebut juga terbukti cukup ampuh untuk mengobati penyakit jiwa (Schizophrenia) dan penyakit mental lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpuasa, kita berharap semoga Allah menjauhkan segala penyakit dari diri kita, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani. Insya Allah dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan ini, kita memperoleh kesehatan sehingga kita masih bisa berbuat yang terbaik untuk agama, bangsa dan negara kita Indonesia pada hari-hari mendatang. ***&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia – A Central University, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011593388449624?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011593388449624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011593388449624' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011593388449624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011593388449624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/10/ramadhan-dan-winter-tiba-bersamaan.html' title='Ramadhan dan Winter Tiba Bersamaan'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011255144534479</id><published>2004-10-15T10:43:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:08:27.776-08:00</updated><title type='text'>Membangun Toleransi Menuju Kebersamaan </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah tidak perlu disangkal lagi, praktik toleransi dalam berhubungan sesama manusia baik secara khusus ataupun umum, merupakan sikap positif dan kesadaran terhahdap toleransi senantiasa diharapkan tumbuh dalam setiap diri manusia selaku makhluk hidup yang bersosial. Jika kita mau mencermati tentang pentingnya sikap toleransi serta dampak positif yang muncul darinya, baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat luas, niscaya umat Islam akan memberikan perhatiannya secara serius dalam masalah yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia beragama, prinsip dasar dalam membangun toleransi dapat penulis simpulkan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebagai makhluk bernama manusia, kita dituntut memiliki kesadaran. Kita sama seperti manusia lainnya, terlepas dari ragam suku, bangsa dan agama yang dianut. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia adalah negara yang terdiri atas berbagai suku, agama dan aliran kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang terdapat dalam diri manusia baik dari warna kulit, bahasa dan bangsa, tidak mengharuskan ia bersikap angkuh yang pada akhirnya selalu menganggap remeh dan memandang rendah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menyadari perbedaan akidah yang dianut setiap manusia merupakan perkara alami dalam kehidupan kita sebagai manusia berakal. Allah SWT menciptakan manusia. Setiap manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Berbeda dengan penciptaan makhluk Nya yang bernama malaikat, yang senantiasa beribadah dan tunduk pada Nya. Begitu pula dengan penciptaan makhluk Nya yang bergelar Iblis yang senatiasa membangkang dan mendurhakai Rabbal ?alamin. Penciptaan manusia juga berbeda dengan penciptaan binatang darat atau pun laut. Binatang diciptakan tanpa ada tuntutan untuk tunduk dan beribadah kepada Nya. Sedangkan manusia diciptakan dengan segala tuntutan untuk selalu beribadah dan mengabdi kepada Nya. Sebagai manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan. Memilih ?jalan malaikat? atau ?jalan iblis?. Yang jelas, Allah SWT memberikan akal yang dengan kemampuannya kita memilih jalan hidup terbaik bagi diri kita. Kita mungkin pernah bertanya, apakah saya yang menganut agama ini sudah merupakan ketentuan dari Allah SWT? Secara umum dapat penulis katakan, keberagamaan kita di Indonesia pada umumnya masih mengikuti agama asal orangtua kita. Jika sekiranya kita dilahirkan dari keluarga yang sama sekali tidak menganut agama tertentu, maka kemungkinan besar sampai hari ini kita juga belum memiliki agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang muncul pertanyaan, mengapa kita harus beragama. Atau apa ruginya agama jika kita tidak menganutnya? Di sinilah sifat/naluri kemanusian itu muncul. Pengaruh akal sungguh memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menentukan sikap manusia selanjutnya. Akal jua yang membuat sesorang beragama atau tidak. Seseorang yakin terhadap suatu agama, manakala ia merasa ?takut?. Dalam hal ini, takut terhadap siksaan di hari lain selain hari-hari di dunia. Kemudian dari perasaan takut ini, muncul perasaan untuk mencari tempat berlindung, mengadu dan atau meminta bantuan. Itulah Tuhan, Dzat yang Serba Maha atas segala-segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita harus mencari dan meminta bantuan Tuhan? Kita akui atau tidak, akal kita mengatakan, kita sebenarnya lemah. Masih banyak perkara dalam kehidupan kita yang kita sendiri tidak sanggup menyelesaikannya. Ini bukti nyata, kita sebagai manusia adalah lemah. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan agama sebagai jawaban atas semua persoalan yang dihadapi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tetap menciptakan manusia berbeda-beda (dalam agama). Karena, kelak dari sini nantinya Allah akan memperlihatkan kasih dan sayang Nya pada hari ?Pemisahan? dan ?Pembalasan?. Saat itu akan jelas mana manusia yang menggunakan akalnya untuk memilih ?jalan malaikat? atau ?jalan iblis? sebagai acuan dalam hidupnya yang sangat fana dan sementara ini. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah akan menghukumi di antara kamu pada hari kiamat nanti, terhadap apa (agama) yang padanya kamu berbeda-beda" (QS An-Nahl: 124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengetahui dan meyakini kepercayaan (iman) terhadap agama apa pun tidak akan pernah menjadi sempurna dan benar. Kecuali jika iman (kepercayaan) itu bersumber dari keyakinan yang sempurna, di mana kita merasa puas dengan keyakinan yang kita anut. Keyakinan itu juga tidak pernah dimasuki unsur tekanan, desakan atau paksaan pihak lain. Bila mana seseorang dipaksa untuk meyakini suatu agama, lantas ia kembali kepada keyakinan pertama yang ia anut, maka semuanya itu terserah kepadanya tanpa ada sanksi yang menyertainya. Dalam hal ini, Islam memberikan contoh toleransi (QS Al-Baqarah: 256, QS Yunus: 96, QS Al-Qashash: 56). Dari prinsip ketiga ini diharapkan muncul sikap untuk menghindari pemaksaan agama terhadap orang lain serta akan membuka peluang untuk selalu menghargai pendapat dan pandangan orang lain. Dengan demikian, di mana pun kita hidup, maka masyarakat akan selalu menerima kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mengetahui manusia itu adalah makhluk Tuhan yang pada hakikatnya bisa baik dan bisa pula buruk. Perbedaan aliran kepercayaan dan agama, bahasa dan warna kulit, suku bangsa yang berbilang-bilang, semuanya merupakan dalil bahwa manusia berasal dari jenis yang sama, memiliki tabi?at yang sama, berambisi dan memiliki hasrat yang sama. Nah, dari sifat alami manusia yang selalu sama ini, mengharuskan manusia untuk saling mengenal dan membantu atau bekerja sama secara kuat dan solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, adanya kesadaran kolektif dari segenap masyarakat bahwa kerja sama atau saling menolong dalam kebaikan akan membuahkan hasil, semua masyarakat Indonesia akan memetik hasilnya. Semua cita-cita Indonesia hanya akan mengapung di udara dan tidak akan berhasil jika masyarakat belum menyadari arti penting kerja sama ini. Wajar jika kita selalu mendengar, untuk menyukseskan Indonesia sebagai negara yang aman, misalnya, maka semua masyarakat dituntut berperan aktif. Menurut penulis, salah satu bentuk peran aktif bagi masyarakat awam yang dimaksud, minimal sikap toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Indonesia mencanangkan programnya itu, hendaknya tidak ada lagi di antara kita ?membuat ulah? yang akhirnya bisa menghambat proses pelaksanaan dalam menjalankan visi dan misi tersebut. Artinya, tidak pantas lagi jika masih ada individu atau kelompok yang mencari keuntungan dengan mengatasnamakan untuk menjalankan program tertentu. Karena hal ini akan dapat mengaburkan kembali sikap toleransi masyarakat yang selama ini terbina dengan baik. Sedangkan toleransi antara pemimpin dengan rakyatnya, bukan berarti pemimpin itu bebas dari segala macam bentuk kontrol dan kritikan masyarakat. Kritikan masyarakat hanya lahir berdasarkan pertimbangan akal yaitu perasaan cinta, sebab kritikan muncul sebagai tanda masyarakat masih mencintai pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini juga sangat berkaitan erat antara pemimpin dengan masyarakatnya, sebab untuk membentuk sikap toleransi publik, tidak akan terlepas dari kebijakan yang dibuat pemimpinnya. Tuhan memerintahkan setiap pemimpin untuk selalu bersikap adil. Akan tetapi adil saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan berbuat baik dan mau berkorban demi rakyat yang dipimpinnya. Di sini dapat pula kita katakan, sekiranya seorang pemimpin menggemari silaturahmi (baca: memperhatikan, mengunjungi dan membenahi semua daerah terpencil di Indonesia), maka minimal masyarakat bisa saling memberikan senyuman bila berpapasan. Bukan seperti selama ini, ketika seorang anak desa datang ke kota dan berjalan di sekitar terminal atau pusat perbelanjaan, seperti ada harimau yang selalu mengintai di belakangnya. Inilah prinsip dasar dalam membangun toleransi di segala bidang kehidupan manusia. Semua prinsip itu akan dapat kita terapkan dalam keseharian kita tanpa harus merasa terbebani dan memberatkan, jika kita memang benar-benar mendambakan kehidupan yang aman, tentram, damai dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kita bahkan sering bertanya kepada saudara muslim kita, apakah ia muslim NU atau muslim Muhammadiyah. Walaupun secara lahiriah pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi secara psikologis dampaknya cukup besar. Sebagai contoh, beberapa tahun belakangan ini sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan NU dan Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tapi kita tidak pernah berbeda pendapat dalam menentukan bulan Hijriyah yang lain. Karena itu, jika perbedaan selama ini hanya dikarenakan untuk menjaga kegengsian antarorganisasi, maka seyogyanya hal seperti ini tidak lagi terjadi dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang selama ini memiliki dendam dan kecurigaan yang tinggi terhadap Islam, melihat Islam tak ubahnya sebagai singa yang siap menerkam mereka dalam setiap detik. Satu hal yang sangat kita sayangkan adalah tentang aksi peledakan bom yang terjadi di Indonesia selama tiga tahun belakangan ini, di mana penegak hukum dan keadilan di Indonesia terlalu cepat mengambil keputusan bahwa pelaku utamanya dibintangi ?aktor Islam?. Yang ingin penulis sampaikan adalah, jika benar pelaku peledakan itu kelompok yang mengatasnamakan dirinya dengan Islam, maka sewajarnya mereka mendapatkan balasan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut kita catat adalah radikalisme dan tindakan terorisme tidak hanya ada dalam agama Islam, tapi ia juga bisa saja terjadi di dalam semua agama. Karena itu, penulis mengimbau seluruh rakyat Indonesia, bila kita ingin menjadi seorang penegak hukum atau keadilan yang benar-benar ingin mendapat ridha dari Allah, maka jadilah penegak hukum dan keadilan yang beriman kepada Allah. Siapa mereka? Mereka itu adalah orang-orang yang cirinya sudah diterangkan Allah melalui firman Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang apabila disebut Allah, maka hatinya bergemetar dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, maka bertambah imannya, sedangkan mereka itu senantiasa bertawakal kepada Tuhannya." (QS Al Anfaal: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menciptakan Indonesia damai yang selama ini kita nantikan, marilah kita mempelajari kembali ajaran yang disampaikan agama kita. Sebab, tidak satu pun dari agama yang ada menganjurkan pengikutnya berbuat kejahatan. Semua agama menganjurkan pengikutnya berbuat kebaikan. Akan tetapi, karena kedangkalan pemahaman kita terhadap agama yang kita anut, maka hal itu sebenarnya pemicu untuk berbuat tindakan yang nyata-nyata dilarang Allah SWT, salah satu di antaranya tindakan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap dengan adanya pergantian kepemimpinan di bumi pertiwi ini, kelak Indonesia mampu memberikan contoh kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi toleransi. Akhirnya lahirlah Indonesia sebagai Baldatun wa Rabbun Ghofur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;adalah mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini penah dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi Kamis, 14 Oktober 2004 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011255144534479?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011255144534479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011255144534479' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011255144534479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011255144534479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/10/membangun-toleransi-menuju-kebersamaan.html' title='Membangun Toleransi Menuju Kebersamaan '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011601978574432</id><published>2004-10-05T11:27:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:46:59.786-08:00</updated><title type='text'>Islam: Kini Berlinang Air Mata </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA kita mengingat-ingat kembali ketika kita masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah atau sederajat, bahwa guru agama (Islam) kita pernah mengajarkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para saudagar atau pedagang Gujarat, India. Karena itu, sebelum penulis meneruskan tulisan ini, ada baiknya kita melirik sejenak tentang pekembangan Islam di India itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat bahwa kebudayaan Islam yang dibawa oleh orang-orang Arab ke India memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan Islam di India. Dan pengaruh dari kebudaayaan Islam ini telah tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat Muslim India semenjak awal kedatangan Islam di negeri sub kontinen itu. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Islam yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan perputaran waktu dari masa ke masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India, kita akan melihat masyarakat Muslim yang benar-benar menikmati kehidupan yang sangat sementara ini dengan penuh gairah dan semangat yang tinggi. Sehingga tidaklah mengherankan jika kita banyak menjumpai masyarakat dengan identitas Muslim, baik itu orang tua, remaja bahkan anak-anak yang benar-benar menjalani kehidupan ini secara Islami. Kehidupan yang Islami ini tercermin dalam perilaku dan sikap mereka sehari-hari. Umat Islam di India secara kuantitas boleh dikatakan seimbang dengan jumlah umat Islam di Indonesia, namun jumlah masyarakat Muslim di India ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang beragama Hindu, yang merupakan pengikut agama terbesar di India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengamatan penulis selama ini bahwa yang sering melakukan tindakan-tindakan kriminal itu adalah orang Islam sendiri, baik itu pencurian, perampokan, pemerasan dan pemerkosaan. Padahal dalam agama Islam tidak ada bahkan tidak akan pernah ada satu ayat dalam al-Qur'an dan satu hadist dan sekian ribu hadist Nabi Muhammad saw yang mengajarkan dan menganjurkan untuk berbuat demikian. Nah, mengapa hal ini bisa terjadi di Indonesia, bukankah Indonesia itu merupakan negara yang mayoritas umatnya beragama Islam? Bukankah dengan jumlah yang begitu besar, kesepatan dan peluang untuk menerapkan kehidupan yang Islami itu jauh lebih besar dan lebih terbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Islam di India&lt;br /&gt;Salah-satu faktor yang ikut memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan Islam di India adalah adanya kesadaran kolektif masyarakat Muslim untuk meningkatkan citra kehidupan masyarakat Muslim itu sendiri dalam segala bidang. Bahkan para pemikir ulung di India ini juga sudah melihat adanya perkembangan yang begitu cepat dalam Islam itu sendiri. Hal itu dapat dilihat dari adanya perkembangan baik dari segi budaya, kehidupan sosial bermasyarakat, ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam Islam juga tidak mengenal adanya sesembahan khusus dengan prediket yang paling tinggi, seperti dewa Brahma dalam agama Hindu (Albaas el-Islami Magazine, Vol. 48 No. 8 Juli 2003). Dan Islam hanya mengenal satu tuhan saja yaitu Allah swt., maka Muslim apapun dia, dari golongan Islam mana saja, dan dari kelas, gelar atau jabatan apapun yang disandangnya, tetap menyembah Tuhan yang sama yaitu Allah swt. Karena itu masyarakat Muslim India menganggap bahwa semua umat yang beragama Islam adalah bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut kita ketahui juga bahwa orang-orang non-Muslim di India juga memiliki sikap toleransi yang cukup tinggi, dan sikap toleransi ini juga hanya dimiliki oleh mereka yang memang telah mengetahui Islam itu secara benar. Melalui sikap toleransi ini pula, maka perselisihan antar suku, golongan atau agama dapat dihindari, terlebih lagi menghindari prasangka buruk yang ada dibenak orang-orang yang non- Muslim, khususnya bagi mereka yang beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyebar di India sejak dibawa oleh Muhammad bin Qasim as-Tsaqfi dibagian Selatan India pada tahun 92 H. (711 M.). Dan penyebaran Islam semakin meluas dibawah kesultanan Mahmud al-Ghaznawi. Penyebaran Islam semakin berkembang dengan pesat karena didukung oleh keberanian Sultan-sultan Delhi, dan diantara Sultan tersebut adalah Sultan Fairuz Shah (752-790 H/351-1388 M). Diantara faktor lain yang juga sangat mempengaruhi perkembangan Islam di India adalah setelah Shah Rukh as-Shairazi mengadakan penyebaran Islam di Kalikut (tahun 1441 M). Dan yang lebih istimewanya lagi, pada masa Sultan Shah Rukh as-Shairazi ini penduduknya terkenal dengan ketaqwaaannya, sikap wara' dan senang untuk berbuat kebaikan. Inilah yang membuat orang-orang semakin banyak yang mendapat hidayah untuk menerima Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;India sebagai negara yang paling demokrasi di dunia tidak penah membiarkan penduduknya untuk menjadi seorang penganggur. Sebab dengan tingginya tingkat pengangguran, maka kesempatan untuk melakukan tindakan kriminal tersebut jauh lebih terbuka lebar. Itulah sebabnya di India tidak akan ditemukan para pemuda yang duduk-duduk santai di sekitar terminal, stasiun kereta api bahkan di airport (bandara). Sebab bagi mereka kegiatan duduk santai tersebut merupakan tindakan dan aktivitas yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain juga yang sangat mendukung perkembangan Islam di India adalah bahwa umat Islam India tidak mengenal adanya kasta-kasta pemisah, sebagaimana yang terjadi dalam agama mayoritas di India yaitu agama Hindu. Meskipun didalam masyarakat Muslim India kita menjumpai masyarakat yang bergelar Sayyid, Khan, Faruqi, Ansari dll., akan tetapi gelar-gelar tersebut tidaklah menyebabkan renggangnya hubungan mereka sesama Muslim. Dan di India ini juga, hubungan antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah boleh dikatakan cukup harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Indonesia, kita bahkan sering bertanya kepada saudara Muslim kita, apakah ia Muslim NU atau Muslim Muhammadiyah, walaupun secara lahiriah pertanyaan tersebut kelihatan sangat sederhana, akan tetapi secara psikologis dampaknya cukup besar. Sebagai contoh, beberapa tahun belakangan ini sering terjadi perbedaan di kalangan NU dan Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tapi kita tidak pernah berbeda pendapat dalam menentukan bulan-bulan Hijriyah yang lain. Karena itu, jika perbedaan selama ini hanyalah dikarenakan untuk menjaga kegengsian antar organisasi, maka seyogyanya hal-hal yang seperti ini tidak lagi terjadi dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Agama Islam&lt;br /&gt;Posisi agama Islam sekarang dimata orang-orang yang selama ini sudah memiliki dendam dan kecurigaan yang tinggi tehadap Islam, mereka itu melihat Islam tak ubahnya sebagai singa yang selalu siap menerkam mereka dalam setiap detik waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat kita sayangkan adalah tentang aksi-aksi peledakan bom yang terjadi di Indonesia selama dua tahun belakangan ini dimana para penegak hukum dan penegak keadilan di Indonesia terlalu cepat untuk mengambil keputusan bahwa pelaku utama peledakan tersebut dibintangi oleh “aktor-aktor Islam”. Yang ingin penulis sampaikan adalah, jika benar bahwa pelaku peledakan tersebut adalah benar-benar dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya dengan Islam, maka sudah sewajarnya mereka mendapatkan balasan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang patut kita catat adalah bahwa radikalisme dan tindakan terorisme tidak hanya ada dalam agama Islam, tapi ia juga bisa saja terjadi didalam semua agama. Karena itu, penulis menghimbau seluruh rakyat Indonesia, bila kita ingin menjadi seorang penegak hukum, atau penegak keadilan yang benar-benar ingin mendapat ridha dari Allah swt, maka jadilah penegak hukum dan penegak keadilan yang beriman kepada Allah swt. Siapa mereka? Mereka itu adalah orang-orang yang ciri-ciri sudah diterangkan oleh Allah swt melalui firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang apabila disebut Allah, maka hatinya bergemetar, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, maka bertambah imannya, sedangkan mereka itu senantiasa bertawakkal kepada tuhannya.” (QS. Al Anfaal: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menciptakan Indonesia damai yang selama ini sudah lama kita nanti-nantikan, marilah kita mempelajari kembali ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh agama kita, sebab tidak satupun dari agama-agama yang ada menganjurkan pengikutnya untuk berbuat kejahatan, semuanya pasti menganjurkan pengikutnya untuk berbuat kebaikan. Akan tetapi, karena kedangkalan pemahan kita terhadap agama yang kita anut, maka hal itulah sebenarnya pemicu untuk berbuat tindakan yang nyata-nyata sudah dilarang oleh Allah swt., salah-satu diantaranya tindakan terorisme. Hanya di dunia inilah kita bisa berinteraksi antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lainnya, sebab di akhirat kelak kita sudah tidak mungkin untuk bersua dan bersama lagi, dan tamankanlah dalam setiap diri pribadi kita bahwa “Dengan agama kita menjadi banyak, namun sebagai manusia kita adalah satu.” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011601978574432?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011601978574432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011601978574432' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011601978574432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011601978574432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/10/islam-kini-berlinang-air-mata.html' title='Islam: Kini Berlinang Air Mata '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011214245102181</id><published>2004-09-27T10:38:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T10:54:48.176-08:00</updated><title type='text'>Mengaplikasikan Al-Qur’an Dalam Kehidupan </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR-akhir ini di Indonesia muncul kelompok-kelompok Islam yang mengempanyekan Islam Pembebasan, Islam Pluralisme dan berbagai nama lainnya yang tetap mengatasnamakan Islam. Tak jarang, ide-ide yang diusung dan dikembangkan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam ini membuat resah masyarakat. Wabil khusus masyarakat kita yang belum mampu memisahkan mana pengajaran Islam yang dibawa dari “Timur” dan pengajaran Islam yang dibawa dari “Barat.” Tak tanggung-tangggung, kelompok-kelompok yang mengusung ide-ide Islam Pembebasan, Islam Pluralisme dan sejenisnya itu langsung menohok sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam tulisan ringkas ini, penulis ingin membahas sekelumit tentang sejarah al-Qur’an dan sejarah singkatnya, yang menegaskan bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar kalamullah yang tiada cacat dan celanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah kita mafhumi bersama bahwa dasar utama hukum Islam adalah al-Qur’an, kumpulan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril secara bertahap lebih kurang selama 23 tahun lamanya. Kata al-Qur’an diambil dari bahasa Arab Qa-ra-a yang artinya ‘membaca.’ Nama lain dari al-Qur’an adalah ‘al-Furqan,’ juga berasal dari bahasa Arab Fa-ra-qa yang bermakna ‘pemisah atau pembeda.’ Pemisah atau pembeda antara yang hak dan yang batil. Al-Mushaf, nama lain al-Qur’an juga bermakna kumpulan dari lembaran-lembaran kalamullah yang sebelum dibukukan terlebih dahulu ditulis di tulang-tulang unta, kulit-kulit unta dan pelepah-pelepah kurma. Rasulullah SAW mengingatkan para sahabat agar tidak menulis ucapan-ucapannya, akan tetapi Rasulullah menganjurkan para sahabat agar menulis setiap kali turun ayat-ayat Allah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Allah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril adalah QS. al-‘Alaq: 1-5 ketika Nabi Muhammad SAW sedang bertahannus di gua Hira’ pada malam bulan Ramadhan bertepatan dengan malam Lailatul Qadar di awal abad VII. Sebelum QS. al-‘Alaq: 1-5 ini dibacakan kepada Nabi Muhammad, terlebih dahulu malaikat Jibril meminta Muhammad untuk membaca: “Iqra’, bacalah!” Rasulullah kemudian menjawab: “Maa ana bi qaari, Aku tidak bisa membaca.” Selama ini kita sering mendengar bahwa kalimat ‘Maa ana bi qaari’ diartikan dengan ‘Aku tidak bisa membaca.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini penulis ingin memberikan arti lain dari kalimat ‘Maa ana bi qaari’ ini dengan makna ‘Apa yang harus aku baca?’ Mendengar jawaban ini, maka malaikat Jibril pun memeluk Muhammad dengan sekuat-kuatnya sehingga sekujur tubuhnya menggigil ketakutan. Perihal Jibril mengajukan perintah untuk membaca ini, kemudian tetap dijawab oleh Muhammad dengan jawaban seperti semula sehingga Jibril kembali memeluknya ini berulang sampai tiga kali. Setelah malaikat Jibril melepaskan pelukannya yang ketiga kalinya itu, barulah Jibril melanjutkan ayat Allah, yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara turunnya ayat-ayat Allah kepada Nabi Muhammad SAW ini menurut Imam Suyuthi dalam kitabnya ‘Al-Itqan’ ada lima cara. Pertama, malaikat Jibril membawakan wahyu ini kepada Nabi Muhammad seperti suara bel atau lonceng; kedua, malaikat Jibril membisikkan ayat Allah tersebut ke dalam hati Nabi Muhammad; ketiga, malaikat Jibril datang membawa ayat Allah tersebut kepada Muhammad dengan menyerupai bentuk manusia; keempat, Jibril datang kepada Muhammad ketika Muhammad sedang tidur; dan kelima, adanya komunikasi langsung antara Allah SWT dengan Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataan ayat-ayat Allah ke dalam bentuk mushaf al-Qur’an sebagaimana yang kita pegang saat ini tidak pernah ada pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Dan sebelum Rasulullah wafat, beliau pernah membacakan ayat-ayat al-Qur’an tersebut secara berurutan dimulai dari QS. al-Fatihah hingga QS. an-Naas selama dua kali Ramadhan. Dan dari sinilah yang dijadikan dasar penyusunan al-Qur’an tersebut sebagai mana yang kita pegang saat ini. Munculnya ide untuk membukukan ayat-ayat Allah tersebut adalah pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq. Ketika itu, sejumlah para sahabat yang hafal al-Qur’an banyak yang wafat dalam peperangan Yamamah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saidina Umar bin Khattab pun menyarankan agar Khalifah Abu Bakar as-Siddiq memerintahkan para Huffadz (penghafal al-Qur’an) dan sahabat-sahabat yang menyimpan tulisan ayat-ayat Allah di tulang-tulang unta, kulit-kulit unta dan pelepah-pelemah kurma tersebut untuk mengumpulkannya kepada Khalifah Abu Bakar as-Siddiq yang selanjutnya akan dibukukan. Pada awalnya ide Umar bin Khattab ini ditentang oleh Abu Bakar as-Siddiq, namun setelah didesak oleh Umar bin Khattab, Khalifah Abu Bakar as-Siddiq pun menyetujuinya. Dan proyek penulisan ayat-ayat Allah SWT ini dipercayakan kepada sahabat Zaid bin Tsabit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masih ada tujuh orang Imam pembaca al-Qur’an dimana bacaan mereka tersebut diyakini memiliki tingkat otoritas bacaan yang sangat kuat dan lagi pula bisa dijadikan sebagai bacaan standar. Dalam dalam ilmu Qira’at (ilmu membaca al-Qur’an), bacaan tujuh orang Imam ini disebut dengan al-Qira’at as-Sab’ah atau ‘tujuh jenis bacaan al-Qur’an.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa diantara alasan yang dijadikan dasar membaca al-Qur’an dengan menggunakan tujuh qira’at tersebut berdasarkan hadits Rasullullah. (lihat Al-‘Asqalani, Fathul Bari, juz 10, Mustafa al-Baby, 159, hal 398-399). Kristina Nelson juga telah mengupas masalah qira’at ini dalam bukunya The Art of Reciting the Quran (1985). Namun tujuh jenis bacaan (qira’at) tersebut juga tidak hanya sampai disitu saja. Bukan berari kata “tujuh” itu langsung dinisbatkan kepada nama-nama ulama Qurra saja, akan tetapi tujuh orang Imam Qira’at tersebut dan tujuh huruf seperti yang ada didalam hadits Rasulullah itu hanyalah suatu kebetulan saja keduanya itu bersamaan dalam angka tujuh. Yang jelas, dengan adanya kelonggaran dalam membaca al-Qur’an dengan salah satu qira’at diantara tujuh qira’at tersebut, diharapkan semua suku dan lidah bangsa Arab dan seluruh umat Islam dapat membaca al-Qur’an dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengenal al-Qur’an melalui pemaparan singkat diatas, marilah kita bersama-sama menjadikan al-Quran sebagai pegangan dan pedoman dalam setiap sendi kehidupan kita. Kita tingkatkan gairah kita dalam memahami dan mendalami ilmu al-Qur’an serta kita aplikasikan perintah Iqra’ (membaca) terhadap alam berserta isinya yang tak lain tak bukan juga merupakan ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dengan menjadi masyarakat yang Qur’ani, kiranya negeri yang baik, aman dan sentosa yang kita dambakan selama ini dapat segera kita rasakan. Insya Allah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di website resmi PPI India [ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ppi-india.uni.cc/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;www.ppi-india.uni.cc&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; ] edisi 26 September 2004. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011214245102181?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011214245102181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011214245102181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011214245102181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011214245102181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/09/mengaplikasikan-al-quran-dalam.html' title='Mengaplikasikan Al-Qur’an Dalam Kehidupan '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011551654983336</id><published>2004-09-20T11:35:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:38:36.550-08:00</updated><title type='text'>Isra’ Mi’raj: Antara Wahyu dan Akal </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMAHAMI Islam adalah penting, dan apabila kita salah dan keliru dalam memahaminya, maka resiko yang akan muncul sangat besar. Ia tidak hanya merusakkan citra dan kualitas keislaman diri kita sebagai seorang Muslim, akan tetapi yang lebih parahnya lagi adalah bisa ‘menggugurkan’ identitas kita selaku Muslim, sehingga tidak jarang berakibat kepada murtad atau kekufuran. Semua ini berpunca dari tindakan kita yang salah dalam memahami Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemahaman terhadap wahyu dan akal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu dapat dipahami sebagai firman atau kalamullah yang sudah pasti datang dan bersumber dari Allah SWT. Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta termasuk didalamnya manusia. Sedangkan akal (bahasa Arab: ‘Aqala, dan Isim mashdarnya ‘Aqlun) yang artinya adalah ‘daya pikir’ atau kekuatan berpikir (dalam memahami sesuatu) yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai makhluk yang lemah. Dari penjelasan singkat diatas dapat kita ambil suatu kesimpulan yang bisa kita pahami bahwa wahyu adalah milik Allah SWT, sedangkan akal adalah kepunyaan manusia yang senantiasa memerlukan bimbingan wahyu. Akal dan wahyu tidak boleh dipisahkan, sebab wahyu juga merupakan sumber dan landasan syariat Islam, sementara akal berfungsi sebagai alat untuk memahami syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemisahan antara akal dan wahyu akan berakhir pada pengingkaran terhadap wahyu itu sendiri, dan yang lebih tragisnya lagi akan berakibat pada pengingkaran terhadap Islam. Sehingga tidaklah mengherankan tatkala akal telah mengalahkan wahyu, maka lahirlah kelompok-kelompok yang mempertuhankan akal, karena dasar mereka dalam menggunakan akal hanyalah sebatas percobaan dan logika (experiment and logical). Kelompok orang-orang yang hanya menggunakan akal semata dengan mengenyampingkan wahyu disebut sebagai kelompok ‘Aqlaniyyah. Kelompok ‘Aqlaniyyah telah ada semenjak zaman Nabi Muhammad SAW yang dipimpin oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya. Dan kelompok ‘Aqlaniyyah ini juga telah banyak melahirkan para sarjana dan tokoh yang terus akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman pula, dan mereka senantiasa siap merubah cara pandang orang-orang Islam dari ‘dalam’, maksudnya, berapa banyak orang yang tidak memiliki pondasi yang kokoh terhadap keislamannya, banyak yang menjadi murtad dikarenakan ulah kelompok ‘Aqlaniyyah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah kelompok ‘Aqlaniyyah ini memiliki dampak yang sangat besar sekali bagi umat Islam, terlebih lagi bagi mereka yang minim pengetahuan terhadap keislaman serta ditambah lagi dengan kekurangan atau minim dari segi ekonomi, karena itu, Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa: “Kefakiran bisa membawa seseorang kepada kekufuran”. Pada awalnya kelompok yang seperti ini hanya mengajak seseorang untuk menerima dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan apa yang menurut akal bisa diterima, kemudian kelompok yang seperti ini juga mengarahkan seorang Muslim kepada penyelesaian terhadap suatu permasalahan yang ada dalam agama Islam sesuai dengan batas kemampuan kita dan bisa diterima oleh akal tanpa terlebih dahulu melihat wahyu. Kelompok ‘Aqlaniyyah telah mendorong munculnya kemusnahan yang berkepanjangan dipermukaan bumi ini. Sebab, kemampuan akal yang terbatas ini tidak akan mampu menghadapi persoalan umat manusia ini tanpa bimbingan dari wahyu. Persoalan yang dihadapi oleh banyak manusia ini tidak akan mampu untuk diatasi bila kita hanya memfokuskan diri pada pengunaan akal semata dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;menafikan keberadaan wahyu.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Isra’Mi’raj dengan balantika sejarahnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan fenomena yang telah mengundang kontroversial bagi semua orang sampai pada zaman dewasa ini, termasuk umat Islam. Kontroversi tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu tidak akan muncul jika kita mau memahaminya dengan akal yang sehat serta dibarengi dengan wahyu Allah SWT sebagai pembimbingnya. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj  terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 dari kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa agung dan menakjubkan itu telah terekam dalam al-Quran sebagaimana Allah SWT berfirman: “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil-Haraam (di Mekah) ke Masjidil-Aqsa (di Palestina), yang Kami berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Israa’: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah akan muncul “perang intelektual” antara orang-orang yang hanya berpedoman kepada akal saja (‘Aqlaniyyah) dengan orang-orang yang memahami ayat al-Quran tersebut dengan akal serta dituntun oleh wahyu (Qur’aniyyah). Keimanan kaum Muslimin terhadap keabhsahan peristiwa Isra’dan Mi’raj pada saat itu hingga kaum Muslimin pada zaman dewasa ini terus diuji, terlebih lagi menyinggung perkara perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Sidratul Muntaha dilangit ketujuh. Pertanyaan yang selalu menggelinding pada setiap benak kita adalah, apakah Isra’ dan Mi’raj tersebut dilakukan beliau hanya dengan ruhnya saja; atau beserta dengan jasadnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ‘Aqlaniyyah telah menguji kebenaran peristiwa tersebut yang diawali langsung oleh Abu Jahal dan kaum kuffar jahiliyah yang lain. Abu Jahal menyuruh Nabi untuk mengangkat kedua-dua belah kakinya, namun Nabi tidak melakukannya sebagimana yang disuruh oleh Abu Jahal. Hal ini telah memperkuat keyakinan mereka untuk terus mengingkari kebenaran ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah selama-lamanya. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya terhadap peristiwa Isra’ dan Mi’raj, sedangkan Rasul tidak mampu untuk mengangkat kedua-dua belah kakinya. Akhirnya, karena Abu Jahal  memahami peristiwa tersebut hanya bersandar pada kemampuan logikanya, maka Abu Jahal dan kaum kuffar jahiliyyah yang sependapat dengannya mengklaim bahwa Nabi telah melakukan pembohongan terhadap masyarakat karena bagi mereka peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi sudah diluar batas kemampuan logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini, dalam menghadapi peristiwa Isra’ dan mi’raj, semua pihak lebih-lebih bagi mereka yang merasa memiliki tingkat kemampuan intelektual yang tinggi merasa terpanggil untuk mengkaji secara lebih jauh lagi akan “bentuk” Isra’ dan mi’raj ini, sehingga mendapatkan suatu jabawan konkrit yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun, saya hanya berpesan bahwa selagi Anda wahai para pengkaji dan penelaah peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini hanya berbekal akal saja, atau masuk kedalam kelompok ‘Aqlaniyyah, maka apa yang diusahakan itu akan menemui kegagalan semata. Jangan pula menutup mata terhadap keberadaan wahyu, terlebih lagi berburuk sangka terhadap wahyu Allah, karena daya intelektual dan kemampuan kita dalam berpikir memang sangat terbatas dalam menangani permasalahan yang timbul ditengah masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan kita sebagai Muslim benar-benar dituntut terhadap kebenaran peristiwa ini, karena memang peristiwa tersebut sangat berat untuk diterima oleh akal manusia, akan tetapi kebenaran terhadap peristiwa tersebut hanya dapat ditafsirkan melalui keimanan yang teguh. Peristiwa yang telah memberikan keistimewaan tersendiri bagi bulan Rajab yang kemudian kita kenal sebagai Sahr Allah (Bulan Allah) tersebut  merupakan satu perjalanan Ilahiyah (perjalanan yang didasari pada kemauan dan kehendak Allah SWT) dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mukjizat dan lambang kebesaran dan kemuliaan Rasulullah SAW dan hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi setelah Rasullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk memahami Isra’ dan Mi’raj yang bersandarkan kepada akal, yang kemudian dituntun oleh wahyu (kelompok Quraniyyah) adalah seperti apa yang telah dicontohkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar tetap memiliki keutuhan keyakinan meskipun peristiwa tersebut terjadi diluar batas logika manusia. Hal yang semacam ini bisa terjadi karena Abu Bakar tetap berpegang teguh kepada wahyu Allah SWT. Sebenarnya, jika kita mau menilik ayat tersebut dengan membuka mata, membuka hati dan membuka pikiran dan perasaan, maka adalah mudah untuk meyakini kebenaran peristiwa tersebut. Pada awal ayat (QS. al-Israa: 1), Allah SWT telah mengawali dengan kalimat pujian yang indah terhadap kesucian diri-Nya. Tidak tanggung-tanggung, sehingga kalimat pujian yang digunakan oleh Allah SWT adalah kalimat ‘Subhaana’ (bahasa arab) artinya “Maha Suci (Allah)”. Sebenarnya masih banyak kata pujian yang bisa digunakan, namun kalimat ‘Subhaana’ ini telah menunjukkan bahwa Dzat yang akan memjalankan hamba-Nya di waktu malam tersebut adalah ‘Dzat yang Maha Suci’. Maka ‘Perjalanan Suci’ atau perjalanan Ilahiyah ini akan diberikan kepada jiwa yang suci pula. Beliaulah baginda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat ‘Asraa’ (bahasa Arab) yang artinya ‘men-jalan-kan’. Namun yang penting untuk kita ketahui juga bahwa sebenarnya masih banyak padanan kata didalam bahasa Arab yang dapat dan boleh digunakan untuk memperoleh makna ‘memper-jalan-kan’ ini seperti kalimat ‘Adzhaba’ atau kalimat ‘Asfara’ , akan tetapi kedua kalimat tersebut (kalimat ‘Adzhaba’ atau kalimat ‘Asfara’) tidaklah menunjukkan makna suatu ‘perjalanan jauh’ sebagaimana yang diinginkan oleh Allah SWT. Nah, setelah kita memahami ayat ini dan mau mengakui bahwa ayat ini adalah benar wahyu Allah SWT, maka selanjutnya barulah kita lihat makna kalimat ‘Asraa’ yang artinya ‘men-jalan-kan’ itu tadi. Kata ‘men-jalan-kan’ membuktikan bahwa dalam peristiwa tersebut ada yang sifatnya ‘aktif’ dan ada yang bersifat ‘pasif’. Dalam peristiwa ini Allah SWT bersifat aktif, sedangkan Rasulullah saw. bersifat pasif. Sehingga, ketika Allah SWT bersifat aktif, maka apapun yang diinginkan dan dikehendaki oleh Allah SWT termasuk dalam perkara ‘men-jalan-kan’ hamba-Nya (Muhammad SAW) secara ruh dan jasad, itu semua bisa saja terjadi atas izin-Nya, dan kita tidak perlu lagi untuk mengingkarinya. Sedangkan Rasulullah sendiri yang sifatnya pasif tidak pernah berencana untuk melakukan Isra’ dan Mi’raj tersebut. Allah SWT yang punya kehendak. Kalau Allah SWT yang punya kehendak, maka tidak ada yang mustahil di sisi-Nya. Dan hikmah dari peristiwa Isra' Mi'raj ini tidak akan pernah berakhir selagi kita mau mengkajinya dan menelaahnya, namun yang terpenting untuk kita ingat adalah jangan tinggalkan wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang lazimnya diketahui banyak orang bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan perjalanan horizontal dari masjidil Haraam di Mekkah sampai ke masjidil Aqsha di Palestina, perkara perjalanan vertikal  Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha dilangit ketujuh disebut sebagai perjalanan yang sifatnya spiritual. Disini jelaslah sudah bahwa Rasulullah SAW dalam ber-Isra’ dan Mi’raj memang benar-benar dijalankan Allah SWT bersamaan dengan jasadnya. Dan yang dimaksud dengan ‘spiritual’ adalah sisi esensial manusia yang hanya bisa tumbuh menjadi dewasa lewat perilaku yang bersifat eksistensial. Beda halnya dengan pikiran, imajinasi atau hayalan yang bisa mengembara ke mana saja tanpa jasad. Oleh karena itu, dalamnya lautan hikmah yang terkandung didalam luasnya makna dibalik peristiwa yang bersejarah itu menuntut kita untuk selalu berpikir, sungguhpun demikian, ada pesan utama yang tidak boleh untuk diabaikan, itulah ibadah sholat. Dan ini pulalah pesan utama dan sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan mengapa Rasulullah di panggil oleh Allah SWT untuk ber-Isra' dan Mi'raj kehadapan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sia-sia jika kita umat Islam mengadakan peringatan Isra' dan Mi'raj setiap tahunnya, kita bahas peristiwa Isra' dan Mi'raj tersebut baik dari sisi rasionalitas atau dari sisi spritualitas, jika, ibadah sholat kita tidak menunjukkan kepada peningkatan kualitas. Ibadah sholat merupakan bentuk atau respon “kehangatan” hubungan kita dengan Allah SWT. Dan sempurnya dzikir seorang Muslim terhadap pencipta-Nya dapat terlihat dari ibadah sholatnya. Dengan memperingati peristiwa agung Isra' dan Mi'raj pada tahun ini, mari kita kembangnya daya pikir kita, kita tingkatkan daya keintelektualitasan kita dalam memahami suatu kasus peristiwa, terutama dalam menghadapi cabaran globalisasi masa kini. Namun yang lebih penting kita tingkatkan mutu dan kualitas sholat kita. Hanya dalam ibadah sholat kita dapat berinteraksi dan berdialog dengan Tuhan, Dialah Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta termasuk diri kita yang sangat lemah dan tiada berdaya. Wallahua’lam.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;adalah mahasiswa asal Riau pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011551654983336?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011551654983336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011551654983336' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011551654983336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011551654983336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/09/isra-miraj-antara-wahyu-dan-akal.html' title='Isra’ Mi’raj: Antara Wahyu dan Akal '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011497243757977</id><published>2004-08-29T11:23:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:29:32.436-08:00</updated><title type='text'>Islam: Mau Dibawa Kemana? </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA kita mengingat-ingat kembali ketika kita masih duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah atau SLTP, bahwa guru agama (Islam) kita pernah mengajarkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M, meskipun ada yang berpendapat bahwa Islam sebenarnya sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. Walau bagaimanapun, yang jelas, Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para saudagar/pedagang Gujarat, India. Karena itu, sebelum saya meneruskan tulisan ini, ada baiknya kita melirik sejenak tentang pekembangan Islam di India itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat bahwa kebudayaan Islam yang dibawa oleh orang-orang Arab ke India memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan Islam di India. Dan pengaruh dari kebudaayaan Islam ini telah tercermin dalam segala aspek kehidupan masyarakat Muslim India semenjak awal kedatangan Islam di negeri sub kontinen itu. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Islam yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan perputaran waktu dari masa ke masa. Di India, kita akan melihat masyarakat Muslim yang benar-benar menikmati kehidupan yang sangat sementara ini dengan penuh gairah dan semangat yang tinggi. Sehingga tidaklah mengherankan jika kita banyak menjumpai masyarakat dengan identitas Muslim, baik itu orang tua, remaja bahkan anak-anak yang benar-benar menjalani kehidupan ini secara Islami. Kehidupan yang Islami ini tercermin dalam perilaku dan sikap mereka sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus, dalam mengisi waktu-waktu kosong, penulis sering mengadakan diskusi kecil-kecilan bersama teman-teman Muslim lainnya, apa sebenarnya yang membuat masyarakat Muslim India ini begitu menikmati dengan Islamnya. Mereka sering manjawab bahwa, kalau bukan orang Islam sendiri yang menjaga Islam itu, apakah mungkin orang non-Muslim di India ini yang akan menjaga Islam tersebut. Karena itu, kata mereka, beruntunglah anda hidup di negeri yang mayoritas umatnya adalah Islam. Meskipun umat Islam di India secara kuantitas boleh dikatakan seimbang dengan jumlah umat Islam di Indonesia, namun jumlah masyarakat Muslim di India ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang beragama Hindu, yang merupakan pengikut agama terbesar di India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengamatan penulis selama empat tahun tinggal di Pekanbaru, dan satu tahun berada di Jakarta, bahwa yang sering melakukan tindakan-tindakan kriminal itu adalah orang Islam sendiri, baik itu pencurian, perampokan, pemerasan dan pemerkosaan. Padahal dalam agama Islam tidak ada bahkan tidak akan pernah ada satu ayat dalam al-Qur'an dan satu hadist dan sekian ribu hadist Nabi Muhammad saw yang mengajarkan dan menganjurkan untuk berbuat demikian. Nah, mengapa hal ini bisa terjadi di Indonesia, bukankah Indonesia itu merupakan negara yang mayoritas umatnya beragama Islam? Bukankah dengan jumlah yang begitu besar, kesepatan dan peluang untuk menerapkan kehidupan yang Islami itu jauh lebih besar dan lebih terbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktor perkembangan agama Islam di India&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah-satu faktor yang ikut memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan Islam di India adalah adanya kesadaran kolektif masyarakat Muslim untuk meningkatkan citra kehidupan masyarakat Muslim itu sendiri dalam segala bidang. Bahkan para pemikir ulung di India ini juga sudah melihat adanya perkembangan yang begitu cepat dalam Islam itu sendiri. Hal itu dapat dilihat dari adanya perkembangan baik dari segi budaya, kehidupan sosial bermasyarakat, ekonomi dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam Islam juga tidak mengenal adanya sesembahan khusus dengan prediket yang paling tinggi, seperti dewa Brahma dalam agama Hindu (Albaas el-Islami Magazine, Vol. 48 No. 8 Juli 2003). Dan Islam hanya mengenal satu tuhan saja yaitu Allah swt., maka Muslim apapun dia, dari golongan Islam mana saja, dan dari kelas, gelar atau jabatan apapun yang disandangnya, tetap menyembah tuhan yang sama yaitu Allah swt. Karena itu masyarakat Muslim India menganggap bahwa semua umat yang beragama Islam adalah bersaudara. Dengan demikian, manakala kita datang ke India dengan membawa nama Indonesia, maka respek mereka cukup tinggi sekali. Dan secara umum masyarakat India juga memiliki concern yang cukup tinggi terhadap kesejahteraan para pendatang di negeri ‘Ghandi’ itu. Dan faktor itu jualah yang menyebabkan India termasuk kedalam salah-satu negara yang banyak dikunjungi oleh wisatawan  dari berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut kita ketahui juga bahwa orang-orang non-Muslim di India juga memiliki sikap toleransi yang cukup tinggi, dan sikap toleransi ini juga hanya dimiliki oleh mereka yang memang telah mengetahui Islam itu secara benar. Melalui sikap toleransi ini pula, maka perselisihan antar suku, golongan atau agama dapat dihindari, terlebih lagi menghindari prasangka buruk yang ada dibenak orang-orang yang non- Muslim, khususnya bagi mereka yang beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyebar di India sejak dibawa oleh Muhammad bin Qasim as-Tsaqfi dibagian Selatan India pada tahun 92 H. (711 M.). Dan penyebaran Islam semakin meluas dibawah kesultanan Mahmud al-Ghaznawi. Penyebaran Islam semakin berkembang dengan pesat karena didukung oleh sifat keberanian Sultan-sultan Delhi, dan diantara Sultan tersebut adalah Sultan Fairuz Shah (752-790 H/351-1388 M). Diantara faktor lain yang juga sangat mempengaruhi perkembangan Islam di India adalah setelah Shah Rukh as-Shairazi mengadakan penyebaran Islam di Kalikut (tahun 1441 M). Dan yang lebih istimewanya lagi, pada masa sultan Shah Rukh as-Shairazi ini penduduknya terkenal dengan ketaqwaaannya, sikap wara' dan senang untuk berbuat kebaikan. Inilah yang membuat orang-orang semakin banyak yang mendapat hidayah untuk menerima Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, setelah dua tahun penulis berada di India, khususnya di New Delhi, belum ada tindakan kriminal yang dilakukan oleh masyarakat Muslim. Hal ini bisa saja terjadi, sebab pemerintah India, pemerintah paling demokrasi di dunia (Albaas el-Islami Magazine, Vol. 48 No. 8 Juli 2003) tidak penah membiarkan penduduknya untuk menjadi seorang penganggur. Sebab dengan tingginya tingkat pengangguran, maka kesempatan untuk melakukan tindakan kriminal tersebut jauh lebih terbuka lebar. Itulah sebabnya di India kita tidak akan menemukan para pemuda Muslim yang duduk-duduk santai di sekitar terminal, stasiun kereta api bahkan di airport (bandara). Sebab bagi mereka kegiatan duduk santai tersebut merupakan tindakan dan aktivitas yang memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain juga yang sangat mendukung perkembangan Islam di India adalah bahwa umat Islam India tidak mengenal adanya kasta-kasta pemisah, sebagaimana yang terjadi dalam agama mayoritas di India yaitu agama Hindu. Meskipun didalam masyarakat Muslim India kita menjumpai masyarakat yang bergelar Sayyid, Khan, Faruqi, Ansari dll. Akan tetapi gelar-gelar tersebut tidaklah menyebabkan renggangnya hubungan mereka sesama Muslim. Dan di India ini juga, hubungan antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah boleh dikatakan cukup harmonis. Hal ini dapat penulis rasakan sendiri dimana pemilik rumah yang muslim Syi'ah yaitu tempat penulis sekarang berada cukup simpati sekali, begitu juga ketika penulis mengadakan kunjungan ke Lucknow (Uttar Paradesh), sebuah state atau provinsi dimana disana itu merupakan basis umat Islam Syi'ah, lihat: Philip W. Goetz (Editor in Chief), The New Encyclopaedia Britannica, Vol. 22, Chicago (1768). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Indonesia, kita bahkan sering bertanya kepada saudara Muslim kita, apakah ia Muslim NU atau Muslim Muhammadiyah, walaupun secara zhahir pertanyaan tersebut kelihatan sangat sederhana, akan tetapi secara psikologis dampaknya cukup besar, sehingga pada tahun-tahun belakangan ini sering terjadi perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tapi kita tidak pernah berbeda pendapat dalam menentukan bulan-bulan Hijriyah yang lain. Karena itu, jika perbedaan selama ini hanyalah dikarenakan untuk menjaga kegengsian antar organisasi, maka seyogyanya hal-hal yang seperti ini tidak lagi terjadi pada tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Posisi Islam saat ini&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Posisi agama Islam sekarang dimata orang-orang yang selama ini sudah memiliki dendam dan kecurigaan yang tinggi tehadap Islam, mereka itu melihat Islam tak ubahnya sebagai singa yang selalu siap menerkam mereka dalam setiap detik waktu. Karena itu, peristiwa peledakan atau aksi terorisme yang terjadi di seantaro dunia ini pasti didalangi oleh umat Islam. Hal ini sebenarnya sudah diingatkan oleh Allah swt melalui firmannya: “Tidak akan pernah ridha/suka orang-orang Yahudi dan Nashrani itu kepada engkau, kecuali kalau engkau mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah: 120). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat kita sayangkan adalah tentang aksi peledakan bom yang terjadi di JW Marriott Hotel tanggal 5 Agustus yang lalu, dimana para penegak hukum dan penegak keadilan di Indonesaia terlalu cepat untuk mengambil keputusan bahwa pelaku utama peledakan tersebut juga “dibintangi oleh aktor-aktor Islam”. Tuduhan yang seperti ini bisa terjadi karena melihat dan didasari bahwa jenis bahan peledak dan bentuk peledakan yang terjadi di Marriott Hotel tesebut adalah mirip dengan peledakan yang terjadi di Bali, maka secara otomatis bahwa pelakunya juga sama. Yang ingin saya sampaikan adalah, jika benar bahwa pelaku peledakan tersebut adalah benar-benar dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya dengan Islam, maka sudah sewajarnya mereka mendapatkan balasan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika yang melakukan peledakan tersebut adalah orang-orang yang berada di luar kelompok Islam, maka secara tidak langsung para penegak hukum dan penegak keadilan di Indonesia juga sudah melakukan terror terhadap rakyatnya yang  sebenarnya tidak tahu-menahu dengan aksi peledakan tersebut. Jika demikian adanya, maka Islam, yang dikenal dengan agama yang penuh dengan kedamaian, mau dibawa kemana lagi oleh kita yang telah mengikrarkan diri sebagai umat Islam ini? Dan yang patut kita catat adalah bahwa radikalisme dan tindakan terorisme tidak hanya ada dalam agama Islam, tapi ia juga bisa saja terjadi didalam semua agama. Karena itu, saya ingin menghimbau seluruh rakyat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Riau khususnya, jika kita ingin menjadi seorang penegak hukum, atau penegak keadilan yang benar-benar ingin mendapat ridha dari Allah swt, maka jadilah penegak hukum dan penegak keadilan yang beriman kepada Allah swt. Siapa mereka? Mereka itu adalah orang-orang yang ciri-ciri sudah diterangkan oleh Allah swt melalui firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang apabila disebut Allah, maka hatinya bergemetar, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, maka bertambah imannya, sedangkan mereka itu senantiasa bertawakkal kepada tuhannya.” (QS. Al Anfaal: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain, jika sekiranya pelaku peledakan atau aksi terorisme tersebut adalah benar orang-orang di luar kelompok Islam, akan tetapi tuduhan telah dilemparkan kepada kelompok Islam, maka hal yang seperti ini bisa menyuburkan “anak pinak” terorisme itu sendiri, sebab pelaku yang sebenarnya telah “selamat” dari cengkaram maut yang pada awalnya sudah mereka sadari. Maka selanjutnya yang timbul pada diri pelaku yang sebenarnya adalah terus merancang dan merancang tempat, daerah dan wilayah mana lagi yang siap untuk dijadikan mangsa selanjutnya. Sebab tindakan terorisme ini bisa saja terjadi baik ketika kita berada di dalam Istana, di kantor, di rumah maupun di rumah ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, guna menciptakan suasana yang damai yang selama ini sudah lama kita nanti-nantikan, cobalah untuk tidak memaksakan suatu agama kepada orang yang sudah beragama. Selanjutnya, kepada seluruh pemeluk agama-agama, silakan mempelajari kembali ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh agamanya, sebab tidak satupun dari agama-agama yang ada menganjurkan pengikutnya untuk berbuat kejahatan, semuanya pasti menganjurkan pengikutnya untuk berbuat kebaikan. Akan tetapi, karena kedangkalan pemahan kita terhadap agama yang kita anut, maka hal itulah sebenarnya pemicu untuk berbuat tindakan yang nyata-nyata sudah dilarang oleh Allah swt., salah-satu diantaranya tindakan terorisme. Dan ingatlah bahwa hanya di dunia inilah kita bisa berinteraksi antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lainnya, sebab di akhirat kelak kita sudah tidak mungkin untuk bersua dan bersama lagi, dan tamankanlah dalam setiap diri pribadi kita bahwa “Dengan agama kita menjadi banyak, namun sebagai manusia kita adalah satu.” Wallahu A’lamu Bishshawaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa Program S1 pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110011497243757977?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110011497243757977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110011497243757977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011497243757977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110011497243757977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/08/islam-mau-dibawa-kemana.html' title='Islam: Mau Dibawa Kemana? '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110010474698814717</id><published>2004-07-13T08:31:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T08:41:56.286-08:00</updated><title type='text'>Presiden: Antara Pemimpin dan Penyanyi </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Dalam salah satu kaidah Ushulul Fiqh itu ada disebutkan begini: &lt;em&gt;"Idza ta'aaradhaani mafsadataani ru'iya a'zhamahuma dhiraaran bi-irtikaabi akhaffihimaa."&lt;/em&gt; Artinya: "Apabila bertemu dua kerusakan (baca: sesuatu yang membuat salah satunya rusak), maka dahulukanlah (untuk mengerjakan, untuk memilih) yang mudharatnya lebih kecil atau lebih ringan." Dan Albert Einstein, sebagaimana disebut oleh Stephen Hawking didalam bukunya `A Brief History of Time' menyatakan bahwa &lt;em&gt;"Equations are more important to me, because politics is for the present, but an equation is something for eternity."&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Ahad malam (4/7) pekan lalu, penulis sempat menonton sebuah acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta tanah air yang menampilkan para kandidat presiden dan wakil presiden yang akan berlaga pada Pemilihan Umum presiden dan wakil presiden (Pilpres) pada besok harinya (Senin, 5/7) dalam Pilpres yang sudah sama-sama kita lalui pada pekan lalu itu. Pada malam tersebut, masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden juga menyatakan sikapnya bila pada Pilpres tersebut pada kenyataannya pasangan mereka belum beruntung untuk menduduki kursi di Istana presiden dan wakil presiden.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Setiap capres dan cawapres yang hadir kala itu menyebutkan bagaimana nantinya sikap mereka bila memang pasangan mereka tidak terpilih menjadi pasangan presiden dan wakil presiden republik Indonesia pada Pilpres tahun 2004 ini. Capres Amien Rais, misalnya, ia mengatakan bahwa ia akan kembali berkonsentrasi didalam dunia pendidikan. Bila kata-katanya ini benar-benar direalisasikannya, maka alangkah bijaknya seoarang Amien Rais, seorang ilmuan dan intelektual yang cukup terpandang di negeri ini. Berbeda dengan cawapres (maaf, kalau saya tak salah) Jusuf Kalla yang menyebutkan bahwa ia akan lebih memilih `pulang kampung' saja bila memang pasangannya tidak terpilih dalam Pilpres tersebut. Jawaban ini serempak membuat hadirin tertawa panjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Yang tak kalah menariknya, malam itu, masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden juga diminta untuk membawakan lagu kesayangannya. Sayapun ikut terpesona tatkala cawapres Solahuddin Wahid mengalunkan lagunya dimana saya juga melihat bahwa capres Amien Rais juga turut menikmati lagu yang dibawakan oleh Solahuddin Wahid tersebut. Para isteri capres dan cawapres yang berhadir di malam itu turut pula membuat liukan-liukan kecil mengikuti irama lagu yang dibawakan oleh Solahuddin Wahid, cawapres dari partai Golkar tersebut. Sungguh indah benar suasana di malam itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Sampai saat ini, nuansa Pilpres tersebut masih terasa, apalagi masing-masing kita masih dalam penantian, siapakah diantara capres dan cawapres yang ada tersebut yang pada akhirnya berhak untuk duduk di singgana kursi RI 1 dan RI 2 itu nantinya. Atau, pasangan siapa sajakah yang berhak untuk melaju ke Pilpres putaran kedua pada bulan September mendatang? Yang jelas, mereka para capres dan cawapres yang belum berkesempatan untuk menduduki kursi RI 1 dan kursi RI 2 ataumelaju ke Pilpres putaran kedua itu nantinya, pantaslah disebut putra-putri terbaik bangsa ini. Bagaimana tidak, mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia untuk maju bersaing dalam Pilpres tahun 2004 ini. Adapun hasilnya, itu semua sudah menjadi suratan dari Yang Maha Esa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Itulah sebabnya, penulis memandang optimis bahwa siapapun yang terpilih menjadi presiden republik ini akan bisa membawa bahtera besar yang bernama Indonesia ini menuju Indonesia yang lebih maju lagi asalkan saja presiden dan wakil presiden yang terpilih tersebut nantinya benar-benar memegang janji yang sudah ia ucapkan dan juga siap untuk menjalankan semua program kerja yang sudah mereka buat. Begitu pula dengan capres dan cawapres yang belum beruntung, sudah seyogyanya pula turut memberikan dukungannya kepada pasangan terpilih, dengan demikian Indonesia akan memulai hidup baru dalamsejarah kepemimpinan di Indonesia. Akan tetapi, kalau program kerja-program kerja itu hanya sebatas tulisan saja, serta capres dan cawapres yang belum bernasib baik tidak memberikan dukungannya, alamat kapal …. , alamat kapal Indonesia ini akan tenggelam. Aduhai, akan tenggelam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Kita sebagai rakyat Indonesia harus siap menerima siapapun pasangan presiden dan wakil presiden yang terpilih dalam Pilpres 5 Juli lalu serta masuk kedalam Pilpres putaran kedua mendatang, meskipun pasangan capres dan cawapres yang kita andalkan saat ini, misalnya, pada kenyataannya kurang bernasib baik. Tak ada gunanya kita menangis ataupun memilih jalur golongan putih (golput) saja pada Pilpresputaran kedua nanti. Apalagi sampai terjadi perselisihan dan persengketaan hanya dikarenakan capres dan cawapres pilihan yang kita jagokan dinyatakan kalah dengan capres dan cawapres pilihan yang diandalkan oleh teman dan sahabat kita dinyatakan memang. Bila hal yang semacam ini sempat terjadi, alangkah sempitnya cara pandang dan ruang berfikir masyarakat Indonesia yang seperti itu. Karena itu, dari pada surat suara kita disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan, maka alangkah baiknya bila kita bersedia meluangkan waktu lima menit saja untuk memilih pasangan capres dan cawapres pada Pilpres putaran kedua pada bulan September mendatang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Guna memantapkan hati kita terhadap pasangan capres dan cawapres yang akan bersaing pada Pipres putaran kedua itu nanti, meskipun secara kasat mata bahwa tak satupun capres dan cawapres yang ada itu dinilai "bersih", maka kita sebagai putra-putri dan anak bangsa Indonesia sudah sepatutnya pula untuk memilih pasangan presiden dan wakil presiden yang sedikit lebih bersih dan memiliki dampak mudharat yang lebih ringan dari pasangan capres dan cawapres yang ada. Maka disinilah perlunya kita itu memberikan hak suara kita dalam Pilpres September mendatang. Walau barangkali kita merasa kecewa, akan tetapi Ushul Fiqh sendiri menyarankan agar kita mengutamakan untuk memilih pasangan yang mudharatnya lebih kecil atau lebih ringan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya bila kita merenungkan sejenak kata-kata yang diucapkan oleh Einstein seperti yang telah penulis kutip diawal tulisan ini, dimana menurut Einsteins bahwa &lt;em&gt;"Equations are more important to me, because politics is for the present, but an equation is something for eternity."&lt;/em&gt; Segala kesetaraan itu memang sangat perlu bagiku, karena memang politik itu hanya berlaku pada saat itu saja, sementara kesetaraan itu sendiri merupakan sesuatu yang abadi (baca: menjadi dambaan dan idaman setiap masyarakat berbangsa dan bernegara.) Dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan, mari kita bangun Indonesia yang lebih maju, lebih bermartabat dan lebih terhormat. ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Sekretaris Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India; Mahasiswa di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110010474698814717?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110010474698814717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110010474698814717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010474698814717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010474698814717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/07/presiden-antara-pemimpin-dan-penyanyi.html' title='Presiden: Antara Pemimpin dan Penyanyi '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110010609798382818</id><published>2004-07-10T08:52:00.000-07:00</published><updated>2005-05-12T13:10:17.660-07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Stigma Islam Fundamentalis*</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;AKHIR-akhir ini sudah tak asing lagi di telinga kita bahwa kini di dunia Islam berkembang pemikiran-pemikiran seperti transcendent unity of religions, theology of liberation, religious pluralism, global ethic dan lain sebagainya, dan Islam sendiri pada akhirnya juga telah distigmanisasikan atau dilabeli dalam beberapa bagian ataupun kelompok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam tulisan ini, penulis hanya ingin memfokuskan diri pada Islam yang dilabeli dengan istilah Islam fundamentalis saja. Hal ini penulis lakukan agar semua kita memahami secara tepat tentang apa yang dimaksud dengan Islam fundamentalis itu sendiri. Dan sebelum kita melangkah lebih jauh, penulis hendak mengajak pembaca semua untuk memahami arti fundamentalime dan asal-muasal fundamentalisme dalam hubungannya dengan agama Islam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Fundamentalisme adalah suatu bentuk aliran yang disandarkan pada prinsip-prinsip dasar suatu ajaran agama atau aliran keyakinan melalui penafsiran terhadap kitab suci agama tersebut secara rigid dan literalis. Dan penggunaan kata fundamentalis ini pada dasarnya hanyalah dimunculkan dan kemudian dikembangkan oleh para teolog Kristen yang cukup berpengaruh di Amerika Serikat pada abad ke-19. Mulai dari tahun 1909 hingga tahun 1915 para teolog ini juga mempublikasikan sejumlah selebaran yang diberi nama: &lt;em&gt;"The Fundamentals: Testimony to the Truth."&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Didalam selebaran itulah mereka menyatakan bahwa apa yang mereka tuliskan itu semua merupakan keyakinan mereka yang benar-benar bersumber dari Bible (baca: Alkitab). Dan pada tahun 1920-an, kepada mereka yang mendukung usaha yang dilancarkan oleh para teolog ini untuk mengembalikan umat Kristiani kedalam ajaran agama Kristen yang sebenarnya pada akhirnya disebut sebagai seorang 'fundamentalis.' Dan istilah fundamentalisme dalam Islam baru mulai merebak ke permukaan pada seperempat terakhir abad ke-20. Untuk itu, istilah Islam fundamentalisme ini sebenarnya bukanlah berasal dari perbendaharaan kata dalam Islam. Dan yang sangat kita sesalkan adalah bahwa penggunaan istilah Islam fundamentalisme ini dijadikan sebagai kamera untuk memotret atau merekam aktivitas dan realitas yang diperlihatkan oleh sebagian masyarakat Islam saat ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Meskipun kita telah mengetahui bahwa penggunaan kata fundamentalisme ini sebenarnya berasal dari perbendaharaan kata didalam literatur agama Kristen dan kemudian istilah fundamentalisme ini juga semakin 'familiar' didalam agama Islam, akan tetapi di kalangan para sarjana agama baik sarjana Kristen ataupun Islam sendiri masih berbeda pendapat mengenai stigmanisasi atau pelabelan fundamenatalisme ini terhadap suatu ajaran agama tertentu. Dalam menyikapi kaum fundamenatalis ini, sebagian orang menyikapinya melalui beberapa cara dan pendekatan. Mereka yang menyikapinya secara antagonistik akan melihat kaum fundamentalis ini sebagai ancaman yang akan menghambat keberlangsungan kehidupan beragama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai mana yang penulis janjikan di muka tadi, bahwa penulis hanya ingin membatasi pada Islam fundamentalis saja, maka dalam hal ini penulis ingin menyampaikan bahwa Islam fundamentalis ini akan ditemukan dalam dua bentuk pergerakan yang berbeda. Pertama, Ikhwanul Muslimim, yang didirikan oleh Hasan Al-Bana pada 1950-an di Mesir. Dan kedua, kelompok Islam yang ingin mengembalikan Islam kepada dasar-dasar utama ajaran Islam seperti yang dikembangkan oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke-14. Gerakan ini lebih masyhur dengan sebutan Salafi atau Wahabi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebagai kelompok yang bergerak dalam bidang dakwah, Ikhwanul Muslimin bertujuan untuk memperkenalkan Islam sebagai agama yang sempurna, kaffah dan utuh serta terlepas dari semua bentuk keragu-raguan di dalamnya dimana Islam tidak hanya berurusan dengan perkara rukun Islam saja, akan tetapi juga bersinggungan dengan seluruh aspek kehidupan sosial bermasyarakat baik dalam bidang ekonomi maupun politik dsb. Apa yang menyebabkan Ikhwanul Muslimin ini dianggap sebagai gerakan yang akan membawa bencana bagi keberlangsungan kehidupan beragama? Tak lain dantak bukan karena Ikhwanul Muslimin ini juga mengedepankan wacana pembentukan negara Islam. Dan dalam pembentukan negara Islam pun, Ikhwanul Muslimin sama sekali tak pernah mengedapankan cara-cara keji dan pendekatan-pendekatan radikal seperti menteror dan kekerasan untuk membentuk negara Islam itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ikhwanul Muslimin, untuk membentuk negara Islam itu harus melewati beberapa tahapan diantaranya: Pertama, pembentukan pribadi-pribadi Muslim (As-Syakhsiyah al-Islamiyah); kedua, pembentukan keluarga-keluarga Muslim (Al-Usroh al-Muslimah); ketiga, pembentukan masyarakat Muslim (Al-Ijtima'iyah al-Islamiyah). Dengan melewati tahapan-tahapan tersebut, maka pembentukan negara Islam itu akan berdiri secara otomatis tanpa adanya praktek-praktek yang bisamerugikan pihak lain. Hasan Al-Bana pernah mengatakan bahwa: "Jika setiap orang sudah menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya, secara otomotis negara Islam tersebut akan berdiri dengan sendirinya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sedangkan kelompok yang kedua adalah Salafi atau Wahabi. Gerakan Wahabi ini didirikan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab, lahir di desa Ayenah, Najad pada tahun 1691 M. Muhammad Ibn Abdul Wahhab sendiri mendapat didikan Islam berdasarkan mazhab Hanbali. Tujuan dari gerakan Wahabi ini adalah untuk memurnikan kembali ajaran Islam yang kala itu sudah banyak bercampur dengan praktek-praktek yang sudah tidak Islami lagi, seperti bid'ah, khurafat, meminum minuman keras (beralkohol) yang sudah dianggap biasa, penggunaan emas dan sutra bagi laki-laki, yang semuanya itu benar-benar sudah keluar dan menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Karena itulah gerakan Wahabi hadir untuk mengembalikan Islam kepada Islam yang sebenarnya berdasarkan al-Quran dan al-Hadits Rasullullah Muhammad s.a.w. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin ini masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an bersamaan dengan kembalinya para sarjana alumni Timur Tengah yang notabene selama mereka mengikuti pendidikan di Timur Tengah tersebut mereka telah mempelajari pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin bentukan Hasan Al-Bana itu. Para aktivis Islam di kampus-kampus dan organisasi-organisasi remaja Mesjid di Indonesia cukup antusias menerima kehadiran gerakan Ikhwanul Muslimin ini mengingat pemikiran-pemikiran para tokoh Ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al-Bana, Sayid Qutb, Sayid Hawa sudah cukup bersahabat dengan para aktivis Islam itu sendiri. Apalagi buku-buku dan karya-karya mereka tersebut sudah banyak ditemukan dalam versi bahasa Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan gerakan ini juga mendapat sambutan hangat dari umat Islam dan lambat laun berkembang secara pasti dimana saat ini faham Wahabi ini telah menjadi mazhab resmi di Arab Saudi dan di beberapa negara Teluk paska keruntuhan kerajaan Utsmaniyah Turki. F. A. Klein menyebutkan didalam bukunya &lt;em&gt;"The Religion of Islam" (1985)&lt;/em&gt; mengenai Wahabi ini bahwa orang-orang Wahabi tersebut menyebut diri mereka sebagai "Unitarians" atau pemersatu. Sedangkan umat Islam yang lainnya disebut sebagai orang-orang yang Musyrik. Orang-orang Wahabi juga menolak karya yang dihasilkan oleh empat tokoh Islam Sunni seperti Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. Penulis sendiri menolak dan tidak sepakat dengan F. A. Klein ini mengingat bahwa orang-orang yang berfaham Wahabi juga memegang prinsip bahwa "Innal mukminuna ikhwatun," semua orang-orang Islam itu bersaudara. Apalagi seperti yang telah penulis singgung diatas tadi bahwa Muhammad Ibn Abdul Wahab sendiri juga mendapat didikan Islam berdasarkan mazhab Hanbali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selama ini ada anggapan yang berkembang ditengah masyarakat kita Indonesia bahwa Islam fundamentalis menolak demokrasi. Padahal jika kita mau mencermati sejenak bahwa demokrasi pun sebenarnya juga berasal dari Islam. Ketika Rasullulah akan mengakhiri nafas terakhirnya, sama sekali Rasulullah tidak menunjuk siapa yang akan menggantikan posisi sebagai khalifah yang akan mengemban risalah Islam selanjutnya. Beliau wafat tanpa meninggalkan pesan mengenai orang yang akan menduduki posisi kekhalifahan tersebut. Disini Rasulullah sudah mengajarkan kepada kita bahwa untuk urusan kekhalifahan ini nanti biarlah diserahkan kepada umat sepeninggalnya saja. Karena barangkali disinilah letak fungsi haditsnya yang masyhur itu: &lt;em&gt;"Antum a'lamu bi umuri dunyaakum,"&lt;/em&gt; (Kamu sekalian lebih faham tentang urusan duniamu). Akhirnya setelah melakukan pemilihan dan sesuai dengan kesepakatan bersama, maka yang terpilih dan akhirnya disetujui pula untuk mengemban amanah sebagai khalifah pertama setelah Rasulullah wafat adalah Abu Bakar as-Siddiq. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Leo Kwarten, seorang pakar Arab Belanda menyebutkan dalam tulisannya di "de Volkskrant" bahwa kaum fundamentalis juga mencintai demokrasi, tokoh-tokoh fundamentalis lain seperti ditulis Leo Kwarten adalah Rasyid Ghanusyi, pemimpin Islam fundamentalis An-Nahda, partai oposisi utama di Tunisia serta Al-Turabi dari Sudan. Walau Rasyid Ghanusyi ini tidak sepakat dengan demokrasi yang digembor-gemborkan oleh Barat, akan tetapi Rasyid Ghanusyi ini menyatakan bahwa: "Islam adalah demokrasi." Berbeda dengan Leo Kwarten, Henk Muller seorang intelektual Belanda lain yang menyatakan Islam dan demokrasi tidak bisa bertemu. Pendapat Muller memang mewakili pendapat mayoritas. Pendapat ini semakin diterima setelah salah seorang pemimpin Islam fundamentalis di Aljazair, Ali Belhaj secara tegas mengatakan demokrasi sebagai "penghinaan terhadap Tuhan." Didalam kitab &lt;em&gt;"Fiqh ad-Daulah fil Islam,"&lt;/em&gt; DR. Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa secara substansi demokrasi tidak bertentangan dengan Islam bahkan "Demokrasi justru berasal dari Islam." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setelah memahami asal-muasal fundamentalis serta Islam fundamentalis ini, diharapkan kepada semua kita agar tidak memandang sebelah mata terhadap keberadaan Islam fundamentalis wabil khusus di Indonesia. Mengingat gejala dan pandangan umum yang sering berkembang dan sepertinya sudah mengakar didalam benak kita bangsa Indonesia saat ini bahwa segala bentuk tindakan dan aksi kekerasan dan praktek-praktek radikal lainnya langsung diarahkan kepada kaum Islam fundamenatalis tanpa pernah menyadari bahwa kaum Islam fundamenatalis adalah saudara kita juga, saudara sebangsa dan setanah air. Menyongsong pemilihan umum Presiden Indonesia yang akan digelar pada 5 Juli 2004 mendatang, mari kita perkokoh rasa persaudaraan kita sesama bangsa Indonesia. Bersama membangun bangsa dan menegakkan keadilan, bangkitlah Indonesia. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India; Alumni Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru, Riau.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Tulisan ini sudah pernah dimuat di Harian Sriwijaya Post, Palembang pada hari Jum'at, 09 Juli 2004. Link masih ada di: &lt;a href="http://www.indomedia.com/sripo/2004/07/09/0907hot1.htm"&gt;http://www.indomedia.com/sripo/2004/07/09/0907hot1.htm&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110010609798382818?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110010609798382818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110010609798382818' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010609798382818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010609798382818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/07/meluruskan-stigma-islam-fundamentalis.html' title='Meluruskan Stigma Islam Fundamentalis*'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110010646473716729</id><published>2004-06-27T09:03:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T09:07:44.736-08:00</updated><title type='text'>Dapat Apa Rakyat Pasca Pilpres Nanti?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;DALAM QS. Al-Baqarah: 133, Allah berfirman yang artinya: "Adakah kamu menyaksikan ketika Ya'qub mendekati kematian tatkala ia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemilihan umum presiden (Pilpres) yang akan diselenggarakan pada 5 Juli 2004 tinggal beberapa hari lagi. Dan kampanye para capres sudah hampir tiga pekan berlalu. Tak ada perubahan yang terlalu prinsipil mengenai janji-janji para capres dalam setiap kampanye yang merekaadakan tersebut. Telinga-telinga bangsa Indonesia hanya diisi dengan nyanyian lama seperti pemberantasan KKN, pendidikan gratis dan penyediaan lapangan pekerjaan. Semua ini memang merupakan suatu kata dan janji yang paling ringan untuk diucapkan, akan tetapi palingberat untuk direalisasikan dan dibuktikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam mengkampanyekan dirinya, berbagai cara yang dilakukan oleh pasangan capres dan cawapres beserta tim suksesnya. Ada yang menggunakan pasar sebagai sarana untuk memperkenalkan diri mereka, ada pula yang menggunakan pentas Akademi Fantasi Indosiar (AFI) untuk memperlihatkan wajah-wajah mereka. Dan tak kalah pentingnya, media televisi di tanah air kita juga ramai dipenuhi oleh kampanye masing-masing capres dan cawapres tahun 2004 ini. Yang membuat penulismerasa sedih adalah, bahwa dalam pemilihan umum langsung inipun masih ada para capres dan cawapres atau tim sukses pasangan capres dan cawapres yang berani melakukan politik uang. Hal ini sebenarnya hanya akan menurunkan "nilai jual" capres dan cawapres yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Diantara pendukung capres dan cawapres yang melakukan politik uang selama masa kampanye pemilihan presiden tersebut adalah tim sukses Wiranto, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono (Gatra.com, 29 Juni 2004). Dan yang lebih menyedihkan lagi, beredar isu bahwa uang-uang yang disebarkan kepada masyarakat selama kampanye tersebut hanyalah uang palsu. Oleh karena itu, kita sebagai warga masyarakat hendaknya berhati-hati dalam menerima uang cuma-cuma dari siapapun dan dalamjumlah berapun, apalagi dalam masa kampanye ini uang-uang palsu itu berkeliaran. Dan apabila ada yang menerima uang palsu tersebut, kiranya dapat melaporkan uang palsu tersebut kepada Bank Indonesia (BI), bank umum atau kepada pihak kepolisian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;* * *   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selama lebih kurang 59 tahun, kita bangsa Indonesia hanya berpresidenkan orang-orang yang dipilih melalui mekanisme perwakilan di lembaga yang kita kenal dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR). Oleh karena pada tahun ini, kita bangsa Indonesia akan mengadakan pemilihan presiden secara langsung, maka sudah selayaknya pulalah kita harus mengenali tokoh, visi dan misi serta program-program yang akan dijalankannya bila nantinya orang yang kita pilih tersebut ditakdirkan untuk duduk di kursi RI 1 dan RI 2 sebagai presiden dan wakil presiden di republik Indonesia ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengenali tokoh beserta visi dan misi serta program-programnya ini adalah penting, karena dengan demikianlah tujuan mulia demokrasi itu bisa tercapai. Bila kita perhatikan, karakter bangsa Indonesia itu dapat dibagi kedalam dua kategori. Pertama, masyarakat perkotaan. Masyarakat ini boleh dikatakan sebagai masyarakat yang "mampu membaca" perpolitikan di tanah air. Hal ini tentunya disebabkan oleh kemampuan nalar masyarakat kota yang bisa menyerap gejolak perpolitikan di Indonesia, entah itu melalui media koran, televisi, radio ataupun internet. Sedangkan kategori yang kedua adalah masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan ini boleh dikatakan sebagaimasyarakat yang "buta" terhadap politik. Karena secara umum masyarakat pedesaan hanya bersikap masa bodoh saja terhadap siapapun yang akan menjadi presiden maupun wakil presiden. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Gejala yang sering diperlihatkan oleh masyarakat pedesaan adalah bahwa masyarakat desa ini lebih melihat kepada siapa tim sukses ataupun orang yang mencalonkan presiden itu sendiri. Mereka padaumumnya lebih mempercayai orang yang akan mengajukan calon presiden atau wakil presiden dari pada tokoh yang akan menjadi presiden ataupun wakil presiden tersebut. Karena itu bila tim sukses ini mampu meyakinkan calon yang diunggulkannya di mata masyarakat pedesaan, niscaya mereka akan berhasil menuai kemenangan pada pemilu presiden mendatang, karena kita harus mengakui bahwa suara-suara rakyat di pedesaan itu sungguh sangat signifikan sekali bagi siapapun calonpresiden dan wakil presiden yang akan memenangkan pemilu presiden secara langsung ini. Dan keberhasilan meraup kemenangan pemilu dengan memperhatikan suara-suara masyarakat pedesaan telah pula dibuktikan oleh India dalam pemilu pada 10 Mei 2004 yang baru saja berlalu dimana partai oposisi Kongres yang dipimpin oleh Sonia Ghandi berhasil mengalahkan partai pesaingnya BJP (Bharatiya Janata Party) dimana mantan Perdana Menteri Atal Bihari Vajpayee berasal dari partai ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;* * * &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam konteks pilpres Indonesia saat ini, apapun isi kampanye atau metode yang digunakan oleh para kontestan kandidat presiden dan wakil presiden dalam berkampanye tersebut, kita patut dan layak bertanya, Apakah yang akan didapat atau diperoleh oleh rakyat Indonesia ini pasca pilpres Indonesia nanti? Itulah sebabnya penulis mengimbau semua komponen masyarakat Indonesia untuk mengetahui apa dan siapa para calon tersebut beserta visi, misi dan programnya dimana secarapribadi penulis yakin saat ini informasi mengenai apa dan siapa para calon tersebut beserta visi, misi dan programnya sudah ada dan tersedia di KPUD dan atau pada KPPS setempat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Karena itu, kepada KPUD dan atau pada KPPS harus memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, juga sekaligus menyebarluaskan selebaran mengenai apa dan siapa para calon presidendan calon wakil presiden beserta visi, misi dan programnya yang diterbitkan oleh KPU Pusat atau bisa juga dengan men-download-nya dari situs resmi KPU Pusat yang beralamatkan di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kpu.go.id/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;www.kpu.go.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;. Karena dengan mengenal calon-calon yang akan kita pilih pada pilpres nanti, setidaknya pengenalan kita itu akan mengantarkan kita semua untuk mencapai tujuan luhur demokrasi itu sendiri. Dan dengan itu pulalah, kita akan dapat merasakan "manis"nya buah demokrasi itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mengakhiri tulisan singkat menjelang hari bersejarah pemilihan umum presiden dan wakil presiden langsung ini, penulis mengajak pembaca semua untuk merenungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 133 diatas, dimana disitu disebutkan bahwa tatkala nabiullah Ya'qub mendekati kematian, ia bertanya kepada anak-anaknya, "Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?" Dan dalam menyikapi pilpres ini, sudah sepatutnya dan sewajarnya pula kita kembali bertanya, "Apa yang akanrakyat (baca: kita) peroleh sepeninggal pemilu presiden nanti?" *** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Sekretaris Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India; Mahasiswa pada Department of Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110010646473716729?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110010646473716729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110010646473716729' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010646473716729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010646473716729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/06/dapat-apa-rakyat-pasca-pilpres-nanti.html' title='Dapat Apa Rakyat Pasca Pilpres Nanti?'/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110010724311510977</id><published>2004-06-24T09:20:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T09:24:07.090-08:00</updated><title type='text'>Harapan Futuristik Pendidikan di Indonesia </title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;PEMILIHAN umum presiden yang akan diselenggarakan pada 5 Juli 2004 tinggal beberapa hari lagi. Dan kampanye para capres sudah hampir tiga pekan berlalu. Tak ada perubahan yang terlalu prinsipil mengenai janji-janji para capres dalam setiap kampanye yang mereka adakan tersebut. Telinga-telinga bangsa Indonesia hanya diisi dengan nyanyian lama seperti pemberantasan KKN, suatu kata dan janji yang paling ringan untuk diucapkan, akan tetapi paling berat untuk direalisasikan dan dibuktikan.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada tanggal 12 April 2002 silam, Presiden India APJ Abul Kalam mengadakan pertemuan dengan para pelajar SMU di Anandalaya High School. Dalam kesempatan tersebut, Abul Kalam mengajukan beberapa pertanyaan, diantaranya: "Who is our enemy?" (Siapakah musuh kita?). Beraneka jawaban muncul, ada yang mengatakan bahwa musuh kita (baca: India) adalah Pakistan, ada lagi yang mengatakan bahwa musuh India itu adalah AS dan sebagainya. Dari berbagai jawaban tersebut, jawaban yang paling mengena dan berkesan di hati Abul Kalam adalah bahwa "Our enemy is poverty" (Musuh kita adalah kemiskinan). Jawaban demikian dilontarkan oleh Snehal Thakkar, pelajar kelas 12 (setingkat kelas 3 SMU) di Anandalaya High School tersebut.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bila kita cermati sepak terjang para capres atau cawapres yang sedang berkampanye tersebut, sepertinya para capres dan cawapres kita belum mengenal betul tentang kondisi fisikologis masyarakat yang sedang mereka hadapi tatkala berkampanye. Hal ini menyebabkan mereka terlalu gampang untuk menaburkan benih-benih janji seenaknya saja. Namun, guna meraih simpati rakyat, mereka rela mengucapkan janji-janji tersebut tanpa pernah mau menyadari bahwa setiap kata yang mereka lontarkan tersebut akan senantiasa terngiang-ngiang di telinga anak bangsa ini yang selama ini memang sudah lama menantikan kebenaran dan pembuktian konkret dari setiap janji-janji itu.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setidaknya ada beberapa poin janji yang selalu diketengahkan oleh para capres maupun cawapres yang sedang berkampanye, diantaranya: pemberatasan KKN, pendidikan gratis, pemberatasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja. Namun tak jarang juga sebagian capres ataupun cawapres yang selalu mengangkat isu agama dalam kampanyenya. Penulis tidak bermaksud untuk mengajari apalagi menggurui, bahwa mengangkat isu agama dalam kampanye capres maupun cawapres hanya akan menjadi batu sandungan bagi pasangan capres dan cawapres yang bersangkutan, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan terdiri dari berbagai agama dan ditambah dengan kondisi masyarakat Indonesia yang mudah terprovokasi oleh sentimen-sentimen agama.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemberantasan kemiskinan dan pendidikan gratis seperti yang selalu dilontarkan oleh para kandidat presiden dan wakil presiden RI tersebut perlu mendapat perhatian serius dari kita semua. Meski diatas kertas, Indonesia dikenal sebagaibangsa yang kaya raya, subur dengan hasil alam yang melimpah ruah, akan tetapi dilapangan penduduk Indonesia masih banyak yang tidur di emperan toko, di pinggir jalanan, dipinggir rel kereta api. Mereka tidur dengan diiringi musik klasik iring-iringan mobil atau suara erangan kereta api dan nada-nada yang dialunkan oleh anak-anak pengamen jalanan.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada kesempatan yang sama, pembesar-pembesar di negeri ini asyik dengan menabur janji yang entah kapan janji tersebut bisa ditunaikan dan ditepati. Tidakkah ada rasa malu untuk melewati gerumulan anak-anak jalanan, orang-orang miskin di negeri ini manakala pembesar tersebut berlalu dengan angkuhnya? Mereka hanya mampu menyaksikan para pembesar itu berlalu sambil menikmati wanginya farfum yang tersisa bersama angin lalu. Ini adalah bukti nyata bahwa bangsa Indonesia adalah miskin. Karena itulah, penulis ingin pula mengatakan kepada bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sedang berkembang sebagaimana India, bahwa kemiskinan ini adalah musuh kita juga.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Yang sangat menyedihkan lagi, bahwa bangsa Indonesia tak hanya miskin secara ekonomi, tapi juga miskin dalam bidang pendidikan. Sehingga bersatunya dua-kemiskinan ini telah melengkapi daftar derita anak bangsa Indonesia bahkan bisa berlanjut sampai kapanpun bila kita tak pernah mengantisipasinya sejak dini. Sebenarnya, kemampuan bangsa Indonesia untuk memperbaiki nasib pendidikan itu ada, tapi keinginan untuk memperbaiki itulah yang tidak ada.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Memasuki Indonesia yang semakin demokratis ini, bangsa Indonesia akan senantiasa mengikuti jejak langkah pemimpin republik ini. Bila kran demokrasi yang selama masa orba tersumbat rapat, dan kini telah terbuka lebar, maka siapapun yang menjadi pemenang dalam presiden mendatang harus memiliki telinga yang tebal karena secara bebas masyarakat Indonesia akan menagih kembali semua iming-iming yang pernah ditawarkan. Kondisi keterbukaan itulah yang akan mengantarkan kita bangsa Indonesia kepada "manisnya demokrasi".     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seperti yang telah kita ketahui, peletak batu pertama pendidikan di Indonesia itu adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Beliaulah orang yang pertama memikirkan masalah dunia didik-mendidik di bumi pertiwi ini. Sayangnya, sejak batu pertama pendidikan itu diletakkan hingga hari ini, sistem pendidikan kita di Indonesia belum menemukan formulasi yang tepat dan mantap untuk diterapkan di Indonesia. Tak jarang, kebijakan-kebijakan dalam masalah pendidikan ini selalu berubah sesuai dengan selera orang-orang yang mengurus masalah pendidikan (baca: menteri pendidikan) tersebut. Atau lebih jelasnya, berubah menteri yang mengurus pendidikan ini, maka sudah bisa dipastikan pula kebijakan-kebijakan mengenai pendidikan secara spontan akan turut berubah pula.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jika di Indonesia tadi kita memiliki Ki Hadjar Dewantara, maka India juga mempunyai Rabindranath Tagore, seorang pujangga dan filsuf terkemuka sekaligus peletak batu utama dasar pendidikan di India. Antara Ki Hadjar Dewantara dan Rabindranath Tagore ini sepertinya sama-sama memiliki persamaan sikap yaitu menaruh perhatian yang cukup tinggi dalam masalah pendidikan. Bedanya, jika kita di Indonesia masih saja mengurus masalah sistem pendidikan yang ingin diberlakukan di Indonesia, India tidak lagi mengurusi masalah sistem yang ingin diterapkan. Hal ini menurut penulis bahwa India telah menemukan jati dirinya dalam membentuk sistem yang baku, sehingga India tak lagi dibingungkan lagi untuk mencari format terbaik yang akan diterapkan di India tersebut. Meskipun menteri bertukar, akan tetapi sistem dan format pendidikan di India tetap saja sama.    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di Indonesia, pergantian buku-buku panduan yang tidak terlalu prinsipil dalam setiap jenjang pendidikan itu sebenarya adalah cara-cara yang paling ampuh untuk menghambat perkembangan pendidikan kita. Paling tidak, praktek gonta-ganti buku tersebut telah memusingkan kepala orang tua murid yang ekomoninya kelas menengah ke bawah, akan tetapi dalam praktek gonta-ganti buku itu pulalah terletak keuntungan para penguasa pendidikan dimana setiap proyek yang dikerjakan, akan menjadikan penguasa-penguasa pendidikan bagaikan tersiram "hujan uang."    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kiranya, kita sebagai anak bangsa Indonesia sudah selayaknya menaruh harapan, mudahan-mudahan setelah pemilu presiden nanti, dengan kepemimpinan Indonesia yang baru, Indonesia akan menemui jati dirinya dalam menangani masalah pendidikan ini, dan tidak lagi diombang-ambingkan oleh sistem pendidikan yang ingin diterapkan. ***    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Zamhasari Jamil,&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Sekretaris Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India; Mahasiswa di Jamia Millia Islamia, New Delhi, India. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9098911-110010724311510977?l=e-tafakkur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/feeds/110010724311510977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9098911&amp;postID=110010724311510977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010724311510977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9098911/posts/default/110010724311510977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-tafakkur.blogspot.com/2004/06/harapan-futuristik-pendidikan-di.html' title='Harapan Futuristik Pendidikan di Indonesia '/><author><name>e-tafakkur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13677109685379127248</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_D7Kjn6GgbEg/R7io6YyHdYI/AAAAAAAAAEY/bphVKzCjMjQ/S220/13526371032474l.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9098911.post-110011108271215966</id><published>2004-06-03T10:11:00.000-07:00</published><updated>2004-11-10T11:05:10.323-08:00</updated><title type='text'>Merangkul Teroris Dalam Kesabaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Oleh: Zamhasari Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Beberapa hari yang lalu, AS telah memperingati suatu peristiwa yang tak terlupakan yaitu "tumbangnya" Twin Tower atau yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11, sungguh hari itu adalah hari yang bersejarah bagi Amerika Serikat, karena peristiwa yang telah menjatuhkan marwah dan martabat serta sangat memalukan itu pasti akan tercatat di dalam "diary hitam" perjalanan sejarah demokrasi di Amerika Serikat. Dan dalam rangka memperingati 2 (dua) tahun peristiwa tersebut, AS telah memperingati "hari duka"nya itu dengan mengadakan upacara yang dipimpin langsung oleh presiden George W Bush di tanah bunda pertiwinya Amerika. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hanya saja, yang sangat kita sayangkan dari peristiwa tersebut adalah adanya ketidak seimbangan kebijakan yang dimunculkan oleh AS terhadap pandangan masyarakat dunia, sehingga sebagai akibat dari serangan tersebut, rupanya AS pada akhirnya mengklaim dengan menjadikan kelompok Islam radikal sebagai "singa utama" yang sesegera mungkin harus dilenyapkan dari permukaan bumi bagi menjamin keselamatan dunia internansional di awal abad Millenium ini. Dan suasana keberagamaan di Indonesia pun yang jumlah penduduknya mencapai 216 juta jiwa dimana mayoritas penduduknya beragama Islam menjadi suram, karena Islam Indonesia diyakini oleh lawan-lawannya juga termasuk dalam deretan daftar sarang teroris untuk kawasan Asia Tenggara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Asumsi bahwa Indonesia diyakini oleh pemerintah Indonesia itu sendiri sebagai tempat bercokolnya para teroris diperkuat setelah peristiwa peledakan bom Bali yang menghiasi perjalanan akhir tahun 2002 di Indonesia dan kemudian terjadinya pengeboman di JW Marriott Hotel pada tanggal 5 Agustus 2003 dimana pengeboman tersebut juga merupakan "hiasan" bagi republik ini dalam rangka menyambut HUT RI Ke-58. Dan pemerintah Indonesaia dalam hal ini memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mengembalikan citra baik Indonesia di mata internasional bahwa Indonesia itu bebas dari segala macam bentuk tindakan terorisme. Dan sudah barang tentu pula bahwa setiap Duta dan Diplomat di setiap perwakilan Indonesia di Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesaia (KBRI) juga memiliki tugas yang sama dalam mengembalikan citra baik Indonesia di mata negara mana ia ditempatkan dan ditugaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Al-Qur'an jangan dipermainkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu sikap yang aneh lagi yang ditunjukkan oleh orang Barat adalah bahwa akhir-akhir ini pun sudah ada diantara para penulis Barat yang mulai "berani" menyelewengkan makna-makna yang yang terkandung didalam ayat suci Al-Qur'an tersebut secara terangan-terangan. Mereka mengatakan bahwa anjuran untuk memerangi orang yang non-Muslim itu sudah ada didalam Al-Qur'an, sehingga sebenarnya tidaklah mengherankan jika banyak diantara masyarakat Muslim tersebut yang memiliki perasaan benci terhadap orang Barat, khusunya AS. Sebagai contoh, mereka misalnya mengambil salah satu dari ayat Al-Qur'an dimana Allah SWTberfirman: "Janganlah kamu ikuti orang-orang yang kafir dan berjuanglah terhadap mereka dengan perjuangan yang besar". (QS. Al-Furqan: 52).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nah, disini penulis berpendapat bahwa ayat ini hanyalah ditujukan untuk orang-orang yang telah memerangi umat Islam. Kita lihat sekarang, munculnya rasa benci terhadap Barat, khususnya AS, itu hanya tidak lain dan tidak bukan dikarenakan oleh ketidakadilan kebijaksanaan luar negeri AS itu sendiri terhadap umat Islam di dunia. Seperti di Bosnia, Chehnya, Palestina, termasuk Khasmir yang sampai hari ini masih dalam posisi tarik-ulur antara India dan Pakistan. Dan sikap inilah yang telah menyulut dan membakar semangat umat Islam lainnya sehingga terjadilah hal-hal yang sebenarnya sangat tidak kita inginkan. Dan sebutan terhadap sikap perlawanan balik tersebut kini telah populer dengan sebutan terorisme. Walaupun sebenarnya tindakan tersebut tidak hanya bisa terjadi bagi umat yang mengatasnamakan dirinya beragama Islam. Akan tetapi tindakan tersebut bisa saja terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang bukan beragama Islam. Karena memang, rasa ingin "membalas kembali" terhadap ketidakadilan itu sudah merupakan sifat alami yang dimiliki oleh semua manusia. Dengan demikian tidak salah jika Allah swt menurunkan firman-Nya yang berbunyi: "Perangilah olehmu pada jalan Allah terhadap orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah kamu melampui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas". (QS. Al-Baqarah: 190)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tumbuhnya pergerakan-pergerakan yang tak ubahnya bagaikan jamur di musim hujan dari kalangan umat Islam yang selalu menyuarakan anti-Barat, itu tidak lain dan tidak bukan karena ketidakadilan sudah tidak bisa lagi ditegakkan di seantaro dunia yang terbentang luas ini. Ketidakadilan itu sendiri terlihat dari sikap arogansi AS ketika AS dengan keperkasaannya selalu meneriakkan perang terhadap teroris dimana semua bentuk perang yang digembar-gemborkan itu selalu mengarah kepada umat Islam, disisi lain, manakala Islam meneriakkan "perang" melawan ketidakadilan itu sendiri, maka umat Islam tersebut dicap telah berbuat teror. Adalah wajar jika kita sering mendengar suara-suara lantang yang selalu meneriakkan Jihad. Semangat jihad ini akan terus terbakar seiringan dengan firman Allah SWT yang berbunyi: "Dan bunuhlah mereka, diman
